He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh satu



Happy Reading!


Author POV


Keesokan harinya, Zanetta datang ke restoran tempat Oxel bekerja, berniat untuk sarapan dan tentu saja untuk bertemu Oxel sebagai bonusnya.


Seperti yang ia katakan sebelumnya, jika dia tidak akan menyerah begitu saja. Baginya, Oxel adalah lelaki idamannya yang ia cari selama ini.


Memang sifat Zanetta yang tidak akan puas jika menyangkut dengan pria atau pasangan, dia pasti akan mencari yang lebih, tak jarang ia kerap kali bergonta-ganti pria.


Pagi ini ia sudah duduk di meja pengunjung berada di dekat jendela dengan pemandangan kota, dia memasang senyum manisnya kepada para pelayan dan beberapa juru masak di sana.


Kali ini dia menggunakan strategi menjadi wanita yang anggun dan terkesan kalem, supaya Oxel merubah pandangan terhadapnya dan tertarik padanya.


“Selamat pagi Oxel," sapa Zanetta, begitu melihat Oxel masuk.


“Zanetta?" beo Oxel sedikit terkejut. Dia memang jarang bertemu Zanetta semenjak insiden dia menolak wanita itu.


“Iya, ini aku. Apa kabar?" tanya Zanetta.


“Uhm... Baik," jawab Oxel yang merasa canggung.


“Ya ampun. Kau tak perlu gugup dan canggung begitu, aku hanya mampir kemari untuk sarapan, bisakah, kau membuatnya untukku?" pinta Zanetta.


“Apa yang kau inginkan?" tanya Oxel.


“Sebuah sandwich dengan telur dan bacon," sebut Zanetta.


Oxel mengangguk, “Lalu untuk minumnya?"


”Latte, please!" jawab Zanetta.


“Hanya itu?" tanya Oxel sambil menaikkan satu alisnya.


“Itu saja sudah membuatku kenyang, Oxel," jawab Zanetta dengan senyum manisnya.


“Wanita memang luar biasa! Hanya makan itu saja sudah merasa kenyang," ujar Oxel.


“Tentu saja, wanita berbeda dengan pria. Pria memiliki porsi makan yang lebih dari wanita, kau mungkin sudah tahu itu dengan baik, Oxel," jelas Zanetta.


Oxel hanya mengangguk, mengiyakan. Hal itu memang benar.


“Baiklah, aku akan ke dapur dulu untuk bersiap dan membuat pesananmu, kuharap kau tak keberatan menunggu." ujar Oxel langsung melesat pergi ke dapur.


“Aku harus mempertahankan image ini, agar Oxel jatuh kepelukanku," batin Zanetta. Sebuah seringai tercetak jelas di wajah ayunya.


Mereka tidak menyadari jika interaksi keduanya dilihat oleh Michelle di seberang jalan restoran itu.


“Kau benar-benar serius dengan ucapanmu, Netta? Baiklah kita lihat nanti, siapa yang akan mendapatkan Oxel." gumamnya lalu pergi dari situ.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Oxel datang sembari membawa pesanan Zanetta.


“Pesanan datang. Sebuah sandwich dengan telur dan bacon, dengan segelas latte," ujar Oxel, yang disambut senyuman manis oleh Zanetta.


“Terima kasih, Chef. Masakanmu memang yang terbaik!" seru Zanetta dengan riang.


“Kau memujiku? Terdengar seperti ada udang di balik batu," ujar Oxel sembari terkekeh.


“Aku tulus memuji, tidak ada maksud lain. Kau membuatku terdengar seperti orang jahat," ujar Zanetta dengan wajah cemberutnya yang dibuat-buat.


“Aku hanya bercanda," kata Oxel kemudian.


Zanetta tersenyum lebar, merasa mendapatkan jackpot yang tak pernah ia duga, Ia merasa beruntung.


“Tumben sekali kau sendirian, tak bersama kedua temanmu, biasanya kalian selalu bersama?" tanya Oxel.


“Jimmy sedang sibuk berpacaran dengan berkasnya, sedangkan Michelle, mungkin juga demikian. Mereka berdua benar-benar workholic, aku kadang heran, apa mereka punya waktu bersantai atau tidak?" jelas Zanetta.


Oxel mengangguk lagi, dia masih setia mendengarkan keluh kesah Zanetta jika Zanetta ingin.


“Aku permisi dahulu, masih ada pekerjaan membersihkan dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan diolah nanti." pamit Oxel undur diri pada Zanetta.


“Silahkan," jawab Zanetta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Michelle uring-uringan di pagi hari, padahal pagi hari ini amatlah cerah, berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang mendung.


“Apa dia berniat mencuri start dariku, huh?" gerutunya sambil mondar-mandir bak seterika.


“Jika itu benar, dia curang sekali?"lanjutnya lagi.


“Sepertinya Zanetta ingin bermain-main denganku, baiklah kalau begitu, akan kutunjukkan siapa Michelle Pauline yang sebenarnya," ucapnya dengan sebuah seringaian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zanetta telah sampai di kantor ia langsung duduk di mejanya. Senyum manis terukir di bibirnya, karena kejadian pagi tadi.


“Ternyata dia bisa mengobrol santai seperti itu, senyumnya semakin manis saja dari hari ke hari," batin Zanetta kegirangan.


Jimmy, datang dia menengok ruangan Zanetta lebih dulu dan mendapati Zanetta tengah tersenyum sejuta Watt.


“Apa dia baru saja memenangkan lotere?" pikirnya dalam hati.


Karena rasa penasarannya semakin besar, akhirnya dia mendekati Zanetta.


“Ada apa denganmu, senyum-senyum sendiri, kau masih sehat, bukan?" tanya Jimmy.


“Aku baik-baik saja Paman tua dan aku juga sangat sehat, jadi jangan menggangguku," ujar Zanetta


“Kau mengobral senyumanmu dan itu membuatku agak sedikit takut. Apa kau tidak takut gigimu akan kering nantinya?" tanya Jimmy dengan wajah tanpa dosa.


Setelah ia mengucapkannya, Jimmy berlari menjauhi Zanetta karena tiba-tiba semua barang yang ada di meja Zanetta melayang menghujani tubuhnya.


“PERGI KAU DARI SINI! DASAR PAMAN TUA!!" teriak Zanetta.


“Astaga suaranya seakan membuatku tuli, kenapa wanita sangat hobi sekali berteriak?" batin Jimmy meringis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel masih saja mendekam di dapur dengan segala kesibukannya, sampai temannya menepuk pundaknya dan bertanya, “Ini sudah jam istirahat, kau tak makan siang?"


“Oh, apa ini sudah menunjukkan jam istirahat?" tanya Oxel balik.


“Kami semua sudah istirahat secara bergiliran, hanya kau yang belum," jawab temannya.


“Baiklah aku akan beristirahat sejenak, tolong kau urus sisanya, ya!" ujar Oxel.


“Baik" jawab temannya.


Oxel segera ke ruang istirahat pegawai sejenak, dia merasa tubuhnya sangat lelah karena bekerja tanpa henti dan para pelanggan juga terus berdatangan silih berganti.


Tanpa sadar dia malah tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di rumah, Maria sedang menikmati uang yang sedang ia pegang saat ini.


“Jika mendapatkan uang semudah ini, aku pasti sudah melakukannya dari dulu," ucapnya dengan senyum sumringah.


Tidak sadarkah Maria, jika apa yang telah ia lakukan membuat Oxel semakin tersiksa nantinya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jimmy memasuki ruangan Michelle, akan tetapi ada satu hal yang membuat ia terkejut. Ya ruangannya seperti kapal pecah, layaknya dihantam sebuah badai besar.


“Aku tidak ingat kapan terjadi badai topan terakhir kali. Apa terjadi hari ini?" tanya Jimmy dengan kening yang berkerut.


“Diamlah Pak tua atau kujahit mulutmu. Aku sedang frustasi," jawab Michelle dengan kondisi mengenaskan.


Rambut yang acak-acakan, tak ada pancaran semangat di matanya, Jimmy menjadi heran, ada apa dengan kedua sahabatnya, mengapa hari ini mereka bertingkah aneh?


“Frustasi soal apa? Bukankah proyek kita aman terkendali?" tanya Jimmy heran.


“Ini bukan soal proyek, tapi soal pria," jawab Michelle.


“Pria?" beo Jimmy, Michelle hanya mengangguk lemah.


“Kau mulai jatuh cinta?" tanya Jimmy.


“Entahlah, tapi saat bertatapan dengannya, jantungku berdegup keras sekali, aku tak mampu menatapnya lebih dari 2 detik," jelas Michelle terdengar lemah.


Jimmy hanya mengangguk saja, sudah Jimmy duga, sahabatnya ini pasti sedang jatuh cinta dan jangan katakan ia jatuh cinta dengan orang yang sama yang sedang disukai oleh sahabatnya yang satu lagi.


“Jimmy," panggil Michelle.


“Hmm..."


“Kau pernah berkencan dengan lawan jenis bukan?"


“Memang kapan aku pernah berkencan dengan yang sejenis?" tanya Jimmy sinis. Ya ampun sahabatnya ini sedang menghinanya atau apa?


“Jimmy," panggil Michelle lagi.


“Apa?" jawab Jimmy bertanya balik.


“Ajari aku memikat lawan jenis," pinta Michelle tiba-tiba.


“Huh?"


Author POV end