He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Lima



Happy Reading!


Author POV


Oxel sudah merasa lebih baik, setelah meminum obat pemberian dari Dara. Oxel melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda.


Dara melihat Oxel yang sedang serius dengan pekerjaannya. Wajahnya terlihat sangat tampan bak seorang dewa. Walaupun ada sebuah luka di wajah tampannya saat ini, namun itu tak mengurangi kadar ketampanan seorang Oxel.


Kulitnya yang seputih susu, dagu runcing, mata bulat besar bagai mutiara hitam, rambutnya yang halus dan lembut berwarna hitam kelam, sekelam malam, bibir berwarna pink, dan hidung yang begitu mancung semuanya terasa pas di wajahnya.


Oxel memang benar-benar pahatan Tuhan yang sangat sempurna menurut Dara.


"Mau sampai kapan kau hanya memandangnya dari jauh?" sebuah suara mengagetkan Dara, membuat acara mari kita mengagumi dan memandang Oxel dari jauh itu menjadi terganggu.


Dara merengut kesal akibat ulah jahil temannya itu.


"Kau mengangguku tahu?" sungut Dara.


"Tidak," jawab temannya yang bernama Sean itu.


"Dasar menyebalkan, kembalilah bekerja, sana!" usir Dara.


"Dara, Oxel adalah orang yang tidak peka, jika kau tak bersikap agresif, mungkin kau akan kehilangannya." ujar Sean kemudian berlari meninggalkan Dara.


Sepeninggal Sean, Dara menghela nafas kasar, “Apa gelagatku memang tak terlihat di matamu, Oxel?"


Sean berlari dan menghampiri Oxel. Dia melihat Oxel sedang serius menggarap pekerjaannya menata bunga untuk karangan bunga yang dipesan oleh pelanggan.


“Apa karangan bunganya sudah selesai?"


“Ah, Sean. Sedikit lagi akan selesai. kau mungkin bisa mengantarkan pesanannya sebentar lagi," jawab Oxel.


“Okay, baiklah," jawab Sean sambil memandang Oxel dengan tatapan gelisah, seakan-akan ada yang ingin ditanyakan tapi ia merasa ragu.


“Oxel," panggil Sean yang hanya dijawab gumaman saja oleh Oxel.


“Menurutmu, Dara itu bagaimana?" tanya Sean lagi.


“Bagaimana, apanya yang bagaimana?" jawab Oxel bingung.


“Wajahnya dan sifatnya mungkin?" ujar Sean lagi terdengar tidak yakin.


“Dara, dia wanita yang cantik, lembut, dan sangat perhatian dia juga wanita yang baik," jelas Oxel.


“Oh," jawab Sean singkat.


Oxel merasa ada yang janggal saat berbincang dengan Sean, maka dari itu dia bertanya, “Kenapa kau bertanya tentang Dara? Apa kau menyukainya?"


Mendengar pertanyaan Oxel membuat Sean gelagapan, “T-tidak, aku hanya ingin tahu dan bertanya saja."


Oxel tersenyum, dia yakin jika kawannya ini memiliki perasaan lain pada Dara.


“Jika kau suka, maka nyatakanlah perasaanmu, sebelum dia dimiliki orang lain." ujar Oxel tanpa melihat Sean karena sedang sibuk berkutat dengan bunganya.


Sean menghela nafas kemudian berkata, “Ya, aku memang menyukai Dara, tidak lebih tepatnya mencintai, Dara. Akan tetapi Dara sudah memiliki pria lain yang dicintainya."


Oxel menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh pada Sean.


“Dara mencintai orang lain dan kau mengetahuinya? Wah, kenapa dia tak pernah cerita padaku? Kau tahu siapa seseorang yang dicintai Dara?"tanya Oxel, yang dibalas anggukan oleh Sean.


“Siapa? Apa aku mengenalnya, atau melihat wajahnya barangkali?" tanya Oxel.


“Seseorang yang benar-benar dekat dengan kita," jelas Sean lalu meninggalkan Oxel.


“YAH SEAN!!! YAH!!! Aish.. dia selalu seenaknya datang dan pergi," gerutu Oxel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karangan bunga sudah jadi dan sudah diantar kepada pelanggan. Oxel sedikit merasa lega karena bisa beristirahat sejenak.


“Kau tidak pulang dan memasak untuk keluargamu seperti biasanya?" tanya Dara yang tiba-tiba duduk di samping Oxel.


“Untuk hari ini tidak, uang yang selalu kuberi sudah habis lagi, katanya," jawab Oxel.


“Habis lagi? kukira kau tidak hanya bekerja di satu tempat, kau bahkan bekerja di salah satu cafe," heran Dara.


“Untuk arisan dan kebutuhan mereka katanya," jelas Oxel sembari memejamkan matanya.


“Arisan?" beo Dara.


“Huum."


“Ibumu benar-benar keterlaluan ya, Oxel. Bagaimana bisa kau kerja keras banting tulang sedangkan ibu dan adik-adikmu malah foya-foya?" Dara tidak habis pikir.


“Ya, begitulah keluargaku. Kau tak perlu merasa heran. Mereka terlalu dimanjakan oleh harta. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kehidupan mereka sebelumnya, sebelum ayah membawanya ke rumah," jelas Oxel.


“Kenapa kau masih mau bertahan di keluarga yang seperti sarang iblis itu?"


“Sayangnya hanya merekalah yang aku miliki. Meski perlakuan mereka sangat buruk terhadapku dan membenciku, aku tetap merasa bersyukur, setidaknya mereka tidak langsung membunuhku hanya karena rasa benci," jelas Oxel panjang.


“Aku tak tahu lagi dengan jalan pikiranmu. Mereka memang tidak membunuhmu tapi mereka menyiksamu," ujar Dara.


“Darimana kau tahu jika aku mendapatkan perlakuan seperti itu? Aku merasa tak pernah memberitahukan padamu sebelumnya?"tanya Oxel.


“Maaf karena aku dan Sean tak sengaja mendengar percakapan antara kau dan bibi waktu itu," jawab Dara jujur.


“Aku membawa bekal hari ini, ini untukmu." ujar Dara kemudian untuk mengusir suasana canggung itu.


“Wah! Tumben sekali? Kau membuat bekal itu sendiri?" tanya Oxel terlihat antusias.


“Ya, aku membuat bekal itu sendiri, karena aku tidak ingin kalah darimu. Cobalah," ujar Dara.


Dara membawa dimsum untuk bekal hari ini, dan ini murni buatan sendiri.


Oxel membuka kotak bekal itu dan mengambil sumpit bambu, kemudian mencicipi dimsum tersebut.


“Uhm."


“Bagaimana rasanya?" tanya Dara. Dia harap-harap cemas.


“Lumayan, ini enak, tapi sausnya agak terlalu manis," komentar Oxel.


“Kau menyukainya?" tanya Dara lagi.


“Tentu. Makanan apa saja pasti aku akan menyukainya, asalkan rasanya enak," jawab Oxel dengan senyum lima jarinya.


Dara mendengus melihat ekspresi wajah Oxel.


“Bagaimana jika masakanku tidak enak?"


“Aku tidak akan memakannya," jawab Oxel ringan.


“YAH! Aku, kan baru belajar. Wajar bukan jika tidak enak? Masa kau tidak ingin makan masakanku? Tega sekali," sungut Dara.


“Ha-ha-ha... Aku hanya bercanda. Aku tetap akan makan masakanmu, meski rasanya tidak enak sekalipun. Kau, kan sahabat baikku," ucap Oxel seraya tersenyum.


Nyuuut......


Hati Dara berdenyut nyeri kala Oxel mengatakan bahwa Dara adalah sahabat baiknya.


“Sekedar sahabat? Ha-ha-ha... Dara seharusnya kau sadar diri, bahwa Oxel tak akan pernah melirikmu barang sedetik pun," batin Dara ngilu.


Melihat Dara yang tiba-tiba terdiam, membuat Oxel mendadak bingung.


“Apa aku salah bicara?" batin Oxel.


“Dara, kau tak apa?" tanya Oxel.


“Ah, aku tak apa. Maaf aku melamun," jawab Dara.


“Tapi raut wajahmu mengatakan sebaliknya," ucap Oxel.


Mereka berdua sama-sama terdiam. Tiba-tiba suasana canggung menyelimuti mereka.


“Maafkan aku jika aku salah bicara. Dan terima kasih untuk bekalnya." ujar Oxel lalu pergi meninggalkan Dara yang termenung.


Oxel melanjutkan pekerjaannya memotong tangkai bunga supaya lebih rapi dan indah, lalu menata semua pot bunga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya Oxel pulang ke rumah untuk bersiap-siap kerja paruh waktu di tempat lain. Dia telah sampai di rumahnya. Di ruang tamu sudah ada Christian yang memandangnya kesal.


Oxel hanya membalas pandangan datar.


“KAU! KAKAK TAK BERGUNA. BERANI-BERANINYA KAU PULANG TERLAMBAT DAN MEMBIARKAN KAMI KELAPARAN. DIMANA OTAKMU, HUH?!" amuk Christian.


“Aku lembur karena uang yang dipegang oleh ibu kalian sudah habis, dan aku tidak memasak karena tak memiliki uang. Bukankah kalian semua sudah makan tadi pagi? Mengapa kalian masih mengeluh?" tanya Oxel.


“Kau tahu, kan jika aturan di rumah ini kami harus makan 3 kali dalam sehari?" Michael menyahut.


”Dan kau juga tahu bukan jika keuangan kita itu tidak selancar saat ayah masih hidup. Hanya aku yang menjadi tulang punggung keluarga saat ini. Kalau kalian ingin makan enak, setidaknya kau juga membantuku dengan mencari pekerjaan," balas Oxel.


“YAH! SIAPA KAU BERANI MENYURUH KAMI?!" teriak Michael dan Christian murka.


“Memang kalian berdua siapaku, berani menyuruhku memasak untuk kalian?" balas Oxel lagi.


Christian dan Michael yang kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun merasa kalap, lalu Michael mendorong Oxel hingga terjatuh. Diikuti oleh Christian yang memukuli Oxel tanpa ampun.


Mereka terus memukul, menendang, bahkan menginjak Oxel hingga Oxel tak berdaya. Fisik Oxel sedang tidak baik-baik saja. Dia sedang merasa tidak sehat hari ini. Ditambah dengan kecelakaan yang menimpanya pagi tadi.


Puas menganiaya sang kakak, Christian lalu mengguyur tubuh Oxel dengan air bekas cuci piring.


BYUUUURRR........


“Ha-ha-ha... rasakan itu," ujar mereka berdua, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Oxel yang tergeletak.


“Ya Tuhan apa salahku? kenapa penderitaan ini terasa tak berujung, Tuhan? ibu, aku mohon jemputlah aku," mohon Oxel dalam batinnya. Tak lama kemudian Oxel pun tak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bibi pemilik toko merasa gelisah, ia juga tak tahu apa penyebabnya, tapi ia mempunyai firasat buruk kali ini.


“Tuhan, aku mohon lindungilah Oxel. Semoga Oxel baik-baik saja," batin bibi.


Author POV end


Dominic Sean