He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Dua belas



Happy Reading!


Oxel POV


Hari itu adalah hari terberat dalam hidupku. Yah, aku memutuskan untuk tidak bekerja lagi di toko bunga bibi, karena aku mengambil tawaran untuk menjadi juru memasak di cafe tempatku biasa bernyanyi. Ini adalah keputusan berat yang harus kuambil.


Mengingat kebaikan bibi yang sudah sangat perhatian dan sayang pada diriku seperti ibu sendiri, tak hanya bibi, Dara dan Sean pun sudah aku anggap seperti saudara.


Mereka semua selalu baik padaku, aku merasa berat jika harus berpisah. Memang, mereka tahu cafe tempatku bekerja, tapi kita pasti juga tak bisa bertemu setiap hari.


Semua ini terpaksa kulakukan demi memenuhi kebutuhan hidup. Bicara soal hidup, hidupku belum ada perubahan sama sekali. Malah, Maria dan anak-anaknya makin menjadi-jadi.


Terkadang aku merasa miris sendiri, bagaimana bisa kisahku nyaris seperti seorang Cinderella? Mempunyai ibu dan saudara tiri, selalu diperlakukan tidak adil, serta dijadikan pembantu?


Hanya saja bedanya, Cinderella pada akhirnya akan bertemu dengan cinta sejatinya yaitu pangeran dari kerajaan. Sedangkan aku?


Bagaimana mau menemukan putri pujaan hati jika waktunya hanya terfokus untuk kerja?


Hah.. hidup ini terkadang memanglah tidak adil.


Sebagai perpisahan hari terakhir, aku, bibi, Sean, Dara akan mengadakan makan bersama di rumah bibi hari ini.


Sebenarnya aku ingin sekali menolak rencana ini, karena aku akan mengurus keluargaku, terlebih dahulu.


Mereka pasti belum makan malam dan masih menungguku pulang, agar aku memasakkan mereka menu makan malam hari ini.


“Bibi," panggilku.


“Ada apa, Oxel?" jawab bibi.


“Bagaimana jika mereka marah padaku? Aku yakin mereka belum makan malam, dan pasti mereka semua menungguku," jelasku pada bibi.


“Mereka akan mendapatkan bagiannya, jika mereka bersedia menunggumu, pulang dari rumahku, Oxel," jawab bibi lagi.


Jawaban bibi justru membuatku makin cemas. Aku bahkan tidak sanggup memikirkan, hukuman apalagi yang aku terima dari Maria.


“Kau masih khawatir dengan reaksi ibumu, nanti?" tanya bibi sambil tersenyum.


“Aku bahkan tak sanggup, apalagi yang akan kudapatkan darinya," jawabku pada bibi.


“Kau terlalu baik. Jika aku jadi kau, aku pasti akan mengusir mereka dari rumahku," sahut Sean.


“Aku juga sependapat dengan Sean mengenai hal ini. Jika aku jadi kau, aku bahkan tak Sudi mengenal mereka, bahkan aku akan membiarkan mereka kelaparan," sambung Dara.


“Kalian terlalu kejam. Jika aku berbuat seperti yang kalian katakan. Lalu bagaimana mereka bisa hidup?" tanyaku.


“Apakah mereka pantas hidup, jika hanya merepotkan dan menyiksa orang lain?" sinis Dara.


“Oxel. Seharusnya kau mampu lebih unggul dari wanita itu. Kau ini laki-laki, dan kau juga yang menjadi tulang punggung keluarga. Seharusnya kau bisa lebih tegas," nasehat Sean.


“Bukankah laki-laki tidak boleh kasar terhadap perempuan?" tanyaku.


“Bukankah seorang ibu tidak boleh berbuat buruk pada anaknya, meskipun tidak ada pertalian darah? Jika dia bisa menerima ayahmu, seharusnya dia bisa menerimamu." balas Sean sambil memotong daging.


Apa yang Sean katakan itu benar. Seharusnya jika Maria menerima ayahku, dia juga menerimaku.


“Maria tidak sepenuhnya menerima ayahku, akan tetapi dia hanya menerima harta ayahku dan menghabiskannya bersama kedua anaknya," jelasku dengan pandangan sendu.


“Cinta karena harta, ya? Pantas saja. Seharusnya, dia cari pria haus perhatian di luar sana, jika dia memang mengincar harta ayahmu. Bukannya merepotkanmu," jelas Sean lagi.


“Memang pria itu mau menerima Maria dan dua anak iblisnya?" tanyaku sinis.


“Pertanyaan ini tidak perlu jawaban, bukan?" tanya Dara dengan cengirannya.


Kami melanjutkan makan malam kami. Yah, walaupun terkesan sangat sederhana, tetapi kebersamaan inilah yang membuatku merasa hangat dan nyaman.


“Oxel, masakanmu sungguh luar biasa! Terima kasih telah membantu Bibi memasak hari ini," puji bibi padaku.


“Aku senang jika kalian menikmati dan menyukai masakanku. Aku hari ini akan menjadi anak baik untukmu, Bi," jawabku.


”Wah, kalau kau berhenti bekerja di toko bunga, kami tidak bisa menikmati masakanmu lagi," ujar Dara.


“Jika jam istirahat makan siang, aku akan membawakan kalian bekal makan siang," kataku.


“Oxel kita memang baik," puji Sean padaku.


“Cepat selesaikan, sebelum malam semakin larut. Aku tak ingin Oxel manis kita mendapatkan hukuman," peringat bibi pada kami.


Astaga aku jadi ingin menangis. Bibi sangat pengertian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas makan bersama di rumah bibi, kami pulang ke rumah masing-masing. Tak lupa aku membawa sedikit makanan untuk mereka, aku sudah membayangkan bagaimana wajah mereka nanti.


Tepat ketika aku mengetuk pintu, muncullah Maria dengan wajah garang.


“Dari mana saja kau, anak tidak tahu diri?" tanyanya padaku. Hah.. dia bahkan tak bisa bicara dengan baik-baik.


“Aku dari rumah bibi pemilik toko bunga, kami semua di suruh berkunjung ke rumahnya, akan terlihat buruk jika aku tak bisa datang sendiri, sementara yang lain bisa datang," jelasku.


“Apa kau memang sengaja membuat kami mati kelaparan, huh?" tanyanya lagi.


“Aku tak pernah ada niatan seperti itu. Jika aku memang menyimpan niatan itu, mungkin aku sudah melakukannya dari dulu," jawabku dengan datar.


“Apa bergaul dengan mereka sangat menyenangkan bagimu? Setelah banyak bergaul dengan mereka, kau menjadi semakin kurang ajar padaku," ucap Maria mulai lagi berdrama.


Demi Tuhan. Dia selalu berprasangka buruk terhadap seseorang. Merasa dirinya paling baik dan benar saja.


“Tidak biasanya kau ingin tahu dengan siapa aku berteman dan menilai. Apa urusanmu, Nyonya?" tanyaku masih dengan ekspresi dan nada suara yang datar.


Setelahnya aku masuk ke kamar untuk berganti baju dan mandi sebelum berangkat kerja lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini aku hendak menyanyi lagi di cafe biasanya. Mungkin ini adalah hari terakhir aku menyanyi sebelum besok berganti haluan.


Kulihat Maria dan anak-anaknya memandang sinis ke arahku.


“Kau tidak membawakan kami makan, setelah membiarkan kami kelaparan?" tanya Christian. Bocah itu semakin besar semakin menyebalkan saja.


Padahal semasa ia masih bayi aku juga yang menggantikan popoknya ketika bayi sialan itu buang air kecil ataupun besar.


“Apa penglihatanmu sudah tidak berfungsi, Christian? Lalu jika yang ada di dalam plastik bukan sebuah makanan lantas apa namanya?" jawabku dengan sedikit sindiran.


Christian segera meraih plastik dan membuka makanan yang aku bawa, bersama Michael dan Maria, mereka makan malam.


“Lain kali gunakan matamu untuk melihat dengan benar, sebelum kau marah. Juga jika kau tidak ingin makan, makananmu setidaknya kalian bekerja dan cari makan sendiri. Bukan hidup seperti parasit." kataku lalu pergi meninggalkan mereka.


Terserah mereka ingin memakiku seperti apa mungkin sampai mulut mereka mengeluarkan busa.


Oxel POV END


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author POV


Oxel sudah sampai di cafe tempat ia bekerja sebagai penyanyi. Di sana sudah disambut oleh kawan-kawannya.


“Hari ini kau datang agak terlambat, kau pergi ke mana?" tanya teman Oxel.


“Hari ini kami ada makan bersama selepas pulang dari bekerja," jawab Oxel.


“Kau makan bersama? Dengan siapa? Temanmu yang kemarin itu, si cantik?" tanya temannya lagi secara beruntun.


“Si cantik?" beo Oxel tak mengerti.


“Itu yang pernah mengantarmu dengan teman laki-lakinya," jelas temannya.


“Oh, Iya aku juga makan dengannya. Kami memang dekat," jelas Oxel pada mereka.


“Kau berpacaran dengannya? Wah! aku tak sangka," ujar kawan lainnya takjub.


“Bukan.. bukan dekat yang seperti itu. Kami memang dekat tapi tidak berpacaran. Hanya dekat biasa. Aku pikir dia telah menyukai seorang pria," jelas Oxel.


“Dan kau patah hati?" celetuk salah seorang dari mereka.


“Patah hati? Tidak... Aku tidak patah hati, aku tidak ada perasaan yang seperti itu. Lagipula, tak mungkin juga jika ia suka padaku. Ha-ha-ha," jelas Oxel sambil tertawa.


“Kau yakin jika dia tak menyimpan perasaan, padamu? Dari yang kemarin kulihat, cara dia menatapmu sangat berbeda, seperti ada pancaran sinar lain," jelas temannya.


“Jika itu memang benar, aku tak bisa membalas perasaannya," jawab Oxel.


“Kenapa?" tanya mereka.


“Karena aku juga mengerti jika sahabatku mencintainya. Seperti katamu. Ada pancaran sinar lain saat sahabatku memandang si cantik," jelas Oxel.


“Kau tak ingin terlibat dalam cinta segitiga?"


“Aku hanya tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, aku tak punya waktu untuk memikirkan wanita," jawab Oxel.


“Kaku sekali," ledek teman-temannya.


“Sudahlah, mari kita bersiap untuk pertunjukan musik kita, malam ini," ujar Oxel pada teman-temannya.


Dan seperti biasa, Oxel menghibur para pengunjung dengan suara merdunya.


Lagu demi lagu, dia bawakan dengan merdu dan sangat bagus. Hingga selesai dia menyanyikan lagu terakhir, dia menghela nafasnya sejenak.


“Mohon perhatiannya sebentar semuanya!"ujar Oxel.


Para pengunjung diam dan mulai memusatkan atensinya pada Oxel.


“Mungkin ini adalah hari terakhir aku menghibur kalian semua dengan suaraku, karena mulai besok aku tidak akan menyanyi lagi,"jelas Oxel.


Bisik-bisik pengunjung pun terdengar. Oxel pun segera melanjutkan perkataannya.


“Aku tetap bekerja di sini, bukan sebagai penyanyi, tapi sebagai juru masak di cafe ini mulai besok. Jadi, jangan lupa datang ke cafe ini, ya. Aku tidak menghibur kalian lagi dengan suaraku, tetapi aku mengenyangkan perut kalian dengan masakanku," jelas Oxel.


“Terima kasih atas perhatiannya, selamat malam," ucap Oxel menutup pertunjukan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Jadi kau akan bekerja sebagai juru masak di sini?" tanya seorang temannya.


“Ya," jawab Oxel.


“Lalu bagaimana dengan kami?" tanyanya lagi.


“Suaramu juga merdu. Kenapa tidak dirimu saja yang menyanyi? Kau juga banyak penggemar," jelas Oxel lagi.


“Tapi selama ini kau adalah vokalis utama, suaraku tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu."


“Kau hanya belum mencobanya. Sudah ya, aku mau pulang dahulu. Aku percaya padamu jika kau bisa bernyanyi dengan merdu dan membius para pengunjung cafe." ujar Oxel sembari menepuk pundak kawannya dan kemudian bergegas pulang.


Author POV end