He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Sepuluh



Happy Reading!


Author POV


Michelle hanya menepuk pundak Zanetta, berniat memberikan kekuatan untuk sabar. Michelle hanya memandang Jimmy, seolah mereka berbicara melalui tatapan mata.


“Apa Zanetta baru saja ditolak?" begitu kira-kira arti tatapan Michelle ke Jimmy.


“Memangnya dia menyukai lelaki itu?" balas Jimmy melalui isyarat tatapan mata, yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Michelle.


“Netta, ayo kita pulang," ajak Michelle. Zanetta yang tersadar pun mulai berbalik meninggalkan cafe, diikuti oleh Michelle dan Jimmy.


Sementara itu di sisi lain, Oxel, Dara, dan Sean juga tengah menuju ke gubuk kecil Oxel.


“Kau benar-benar tak mau cerita dengan kami?" tanya Sean.


“Bukannya, wanita itu sudah menjelaskan?" jawab Oxel dengan pertanyaan.


“Tapi lihatlah, kau jadi seperti ini gara-gara dirinya," kata Dara.


“Aku tidak apa-apa sungguh! Mungkin kaki ini akan sembuh besok," jawab Oxel.


“Bagaimana jika tidak?" tanya Dara lagi.


“Kau tidak ingin kakiku sembuh, begitu? Yak, kau tega sekali, Dara. Macam ibu tiri saja," cibir Oxel.


“Karena kau begitu mengesalkan," balas Dara dengan tatapan melotot.


“Jika kalian bertengkar seperti ini, aku merasa mempunyai dua anak bayi," celetuk Sean.


“YAAAKK!!!" teriak Dara dan Oxel.


“Ya Tuhan, selamatkanlah telingaku," gumam Sean.


“Tapi omong-omong, tadi lagu yang kau nyanyikan sangat romantis, aku menyukainya," kata Dara tiba-tiba.


“Sayangnya aku bukan menyanyikan lagu itu untukmu, itu untuk pelanggan," jawab Oxel cuek.


“Bisa tidak, kau tak menjawab perkataanku?" ujar Dara sengit. Oxel hanya masa bodoh. Sean pun menahan tawa agar tak meledak.


“Jika ada orang yang bicara, bukankah seharusnya kita menanggapi?" tanya Oxel.


“Kenapa kau selalu punya jawaban atas pertanyaanku?" tanya Dara kesal.


“Setiap pertanyaan simpel, pasti akan mudah dijawab," jawab Oxel.


Sean yang mendengar itu segera menyela ucapan Oxel, ia nampak tak setuju.


“Belum tentu, contohnya saja pertanyaan tentang cinta, meski nyatanya pertanyaan sederhana, tapi jika itu tentang cinta, kadang kita tak bisa menemukan jawabannya," jelas Sean.


Oxel memandang Sean dalam.


“Sejak kapan kau bisa berubah menjadi puitis seperti ini?"tanya Oxel curiga.


“Itu karena—ah lupakan saja. Tidak penting juga," jawab Sean kemudian.


“Kau pernah jatuh cinta? Atau saat ini sedang jatuh cinta?" tanya Oxel sedikit menyeringai.


”Serius?! Dengan siapa kau jatuh cinta?"tanya Dara.


“Yang jelas dengan seorang wanita," jawab Sean, membuat Dara berdecak.


“Memang sejak kapan kau merubah orientasimu?" tanya Dara jengkel. Sementara Oxel sudah terbahak.


“Intinya aku masih berjalan di jalan yang lurus," jawab Sean.


“Terserah kau saja, aku kesal padamu," ucap Dara yang sudah ngambek terlebih dulu.


“Kau membuatnya marah sobat. Kau tahu bukan, wanita jika sudah penasaran bagaimana?" ujar Oxel pada Sean.


“Aku memang menyukainya, tapi sayangnya dia sudah menyukai orang lain," jelas Sean kemudian.


“Kasihan sekali cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Dara.


“Yah, begitulah. Asal aku bisa memandang dia saat tersenyum, aku sudah bahagia," ujar Sean.


“Kau bahagia jika dia bahagia, walaupun bahagianya tidak bersamamu?" tanya Dara.


“Hmm.. bagiku kebahagiaannya yang terpenting, asal dia selalu bahagia, aku pun turut bahagia juga untuknya," jawab Sean.


“Seharusnya kau berusaha lebih keras lagi, buat dia hanya melihatmu," celetuk Oxel.


“Aku tak ingin memaksa, cinta yang terlalu dipaksakan itu tidak baik," jawab Sean.


“Aku akan mencoba," ucap Sean kemudian.


Karena terlalu larut dalam obrolan mereka, mereka bertiga tidak menyadari jika sudah sampai di tempat yang mereka tuju.


“Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang. Kalian berdua hati-hatilah di jalan. Sean, tolong jaga Dara, ya!" ujar Oxel kemudian memasuki rumahnya.


Dara dan Sean kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Baru saja masuk ke dalam rumah, Oxel sudah disambut dengan tatapan tak menyenangkan dari ibu dan kedua saudaranya.


“JANGAN KARENA KAU SEDANG SAKIT, KAU BISA SEENAKNYA, YA?! SEKARANG MASAKLAH UNTUK MAKAN MALAM SANA!" bentak Maria.


“Tidak bisakah aku beristirahat terlebih dahulu? Tenagaku serasa terserap habis," ujar Oxel.


“Enak saja kau meminta istirahat disaat pekerjaan rumah masih banyak. Ini semua sudah menjadi tugasmu, dasar anak pungut," ujar Maria.


“Tapi aku belum makan apapun setelah makan semangkuk bubur pemberian bibi," ujar Oxel memelas.


“KAU PIKIR AKU PEDULI KAU SUDAH MAKAN ATAU TIDAK?" jawab Maria dengan suara meninggi.


“Kau ini mengerti tidak sih, dengan apa yang Ibu kami katakan?" kesal Michael.


“CEPAT MASAK SANA!" perintah Michael sambil mendorong tubuh Oxel dengan keras, membuat tubuh Oxel sedikit terhuyung.


Kemudian Oxel beranjak menuju dapur dan segera mengeluarkan bahan-bahan untuk dimasak sebagai menu makan malam.


Dia mengiris beberapa potong wortel, kol beserta bunganya dan mengolahnya menjadi sup. Tak hanya itu, dia juga menggoreng kerupuk sebagai lauknya.


Oxel memang tak belanja tadi pagi, mengingat ia tidak sadarkan diri dan berakhir terdampar di sebuah klinik kesehatan 24 jam.


Tak butuh waktu lama, sup dan kerupuk sudah tersaji.


Saat semua sudah terhidang di atas meja, Maria dan kedua anaknya menatap tak suka menu makan malam hari itu.


“KAU PIKIR KAMI INI ADALAH REINKARNASI BINATANG, HUH? BAGAIMANA BISA KAU HANYA BISA MENYAJIKAN INI, TANPA ADA DAGING?" bentak Maria.


“Tapi Nyonya, aku belum belanja, ini adalah bahan saat belanja kemarin, hanya bahan ini saja yang tersisa," jawab Oxel.


“Itu salahmu, mengapa kau tak belanja, selagi kau bekerja? Belanja sebentar seharusnya tidak masalah, bukan?" tanya Maria sinis.


“Oh, yang benar saja kau? Kita disuruh makan ini? Ayolah, kami ini sudah lama tidak makan daging dan buah-buahan segar, seperti apel merah misalnya dan daging salmon. Masa kau tidak bisa mengusahakan membeli bahan itu?" tanya Christian tak percaya.


“Tapi aku tak memiliki uang untuk beli makanan mewah, belum lagi untuk membayar sewa rumah ini," jawab Oxel.


“Masa sudah bekerja di dua tempat dan masih ditambah dengan menjadi pengantar koran dan susu, tidak ada hasilnya?" tanya Michael.


“Aku bahkan tidak membawa sepeser pun, ini bukan salahku," jawab Oxel membela diri.


“Jadi menurutmu, semua ini adalah salah kami begitu?" tanya Christian.


“Asal kau tahu, kebutuhan kami itu sangat banyak, wajar jika uang yang kau berikan akan cepat habis, makanya berikan kami lebih banyak uang. Uangmu itu sangat sedikit, untuk apa kau kerja siang-malam jika penghasilan masih minim?" sindir Maria.


“Mencari pekerjaan itu sangat sulit di jaman sekarang," jawab Oxel.


“Ya, seharusnya kau lebih berusaha lagi, dong. Itulah akibatnya jika tingkat pendidikan rendah. Huh, sia-sia aku membesarkanmu. Tidak berguna," cibir Maria.


“Aku juga tidak minta dibesarkan oleh manusia sepertimu," batin Oxel.


“Kesalahan terbesarku adalah menikah dengan ayahmu, yang tidak seberapa kaya itu. Lagipula kenapa juga dia harus meninggal lebih cepat? Aku jadi memiliki beban merawat manusia sepertimu," ujar Maria menohok.


“Justru itu menjadi kesalahan terbesar ayah, bertemu wanita ular sepertimu, yang hidup bagai parasit," batin Oxel menahan amarah.


“AH SUDAHLAH, KAU SANGAT PAYAH. AKU TAK MAU MAKAN, MAKANAN MENJIJIKAN INI!" ujar Michael sambil melempar piring berisi nasi dan sayur itu ke arah Oxel.


Christian pun melakukan hal serupa. Hingga nasi dan sayurnya tumpah dan berserakan mengotori lantai.


“Lebih baik kita makan di luar saja, Bu," usul Christian.


“Baiklah anak-anak, ayo lebih baik kita makan di luar saja. Tinggalkan saja anak tak berguna ini." ujar Maria kemudian ke luar rumah diikuti oleh kedua putranya.


Sementara Oxel hanya terdiam sembari tersenyum perih. Walaupun dia seorang pria tapi dia juga punya hati dan perasaan layaknya wanita.


Hatinya amat sakit mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari ibu dan kedua saudara tirinya.


Rasanya dia ingin berlari dan pergi dari kehidupan yang memuakan ini. Ingin rasanya dia menangis dan mengadu pada dunia, agar dunia tahu apa yang ia rasakan.


Tak terasa setetes kristal bening menetes dari ujung kedua matanya.


“Ibu, aku merindukan ibu sangat," batin Oxel menjerit dalam hatinya.


Author POV end