He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh



Happy Reading!


Author POV


Oxel sedang memasak di dapur setelah tadi sempat menenangkan diri, akibat tingkah Michelle yang kadang tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.


“Kau mengenal wanita tadi?" tanya rekannya penasaran.


“Aku pernah bertemu dia beberapa kali, tapi aku lupa siapa namanya," jawab Oxel.


“Kau sungguh tidak tahu?" tanya rekannya yang dijawab gelengan oleh Oxel.


“Dia itu Michelle Pauline, anak Brian Frederick seorang pengusaha, kalau tidak salah dalam bidang properti, selain itu dia juga mantan model terkenal," jelas rekannya panjang lebar.


“Oh," jawab Oxel singkat.


“Tanggapanmu hanya seperti itu saja?!" rekannya membelalakkan mata tak percaya.


“Lalu aku harus bagaimana?" jawab Oxel dengan pertanyaan.


“Setidaknya kau terkejut supaya aku merasa senang."


“Baiklah, kita ulangi. OH BENARKAH?!" kata Oxel dengan ekspresi pura-pura terkejut.


“Ck.. kau sungguh menyebalkan."


“He-he-he... Ya sudah, kembalilah bekerja!"


“Eh, tunggu dulu!"


“Apa lagi?"


“Aku masih penasaran."


“Penasaran apa?"


“Soal hubunganmu dengan wanita itu dan bagaimana kalian pertama kali bertemu?"


“Aku bertemu dengannya di restoran ini, saat restoran ini masih cafe kecil. Dia melabrakku saat aku menolak memberikan nomor ponselku pada temannya, dia mengira aku sombong dan tak punya perasaan terhadap wanita," jelas Oxel. Temannya itu menyimak dengan seksama.


“Kalau boleh jujur, wajahmu memang terkesan angkuh dan dingin, meski aku tahu kau ini sebenarnya berhati lembut dan baik, tapi untuk orang yang belum terlalu mengenalmu, pasti akan sependapat dengan wanita itu," jelas temannya.


“Wajahku memang di desain seperti ini semenjak aku dalam kandungan ibuku, jadi jangan protes karena aku sendiri juga tidak tahu kalau wajahku akan seperti ini," sahut Oxel.


“Kau membuat kami iri dengan wajahmu, yang seperti bukan wajah manusia, melainkan seperti wajah karakter dalam komik, visual wajahmu seperti bukan manusia pada umumnya dan pastinya digilai para wanita," jelas rekannya yang lain.


“Mungkin juga dengan para pria, banyak yang mengagumimu," sambung rekannya yang lain.


“Apa? Pria? Ada-ada saja kalian ini, tak mungkin lah mereka mengagumiku," sanggah Oxel.


“Oxello Deovanno, tidak sadarkah bahwa dirimu itu seseorang yang berwajah androgini?" tanya temannya.


“Aku setuju, wajahmu memang androgini, bahkan bisa membuat minder para pria dan wanita karena mereka iri akan paras wajahmu. Tampan iya, cantik juga iya," ucap temannya yang lain.


Mendengar pernyataan teman-temannya membuat wajah Oxel merona merah, ia tersipu malu.


“Lihat pipinya memerah!"


“Wah! Dia sangat imut!"


“Manis sekali!"


Dan masih banyak seruan-seruan lainnya, hal itu malah menambah wajah Oxel makin memerah seperti kepiting rebus saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maria pulang dengan perasaan bahagia, berpapasan dengan Michael yang juga hendak pulang ke rumah.


“Ibu dari mana?" tanya Michael heran.


“Ibu baru saja belanja untuk kebutuhan kita, sayang. Ini ada sepatu untukmu dan adikmu, Ah baju-bajunya juga." kata Maria sambil menyerahkan paper bag berisi baju dan sepatu pada Michael.


Michael menerimanya, sedikit tak percaya bahwa ibunya bisa memberikan dia dan adiknya barang mewah.


“Ibu, Inikan barang-barang mahal semua, Ibu tidak salah beli, kan?" tanya Michael.


“Tidak sayang, Ibu memang membelinya untukmu dan juga Christian. Sudahlah jangan banyak bertanya, rezeki tak boleh ditolak." ujar Maria lalu masuk ke dalam rumah.


“Ah, tak tahulah, biar itu menjadi urusan ibu nanti." katanya sambil menyusul ibunya masuk ke dalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


Michelle masih duduk di kursi kebesarannya, ia melamun, pikirannya masih menerawang jauh.


Kejadian di restoran itu, masih menghantui pikirannya. Bayang-bayang Oxel seakan menari-nari di otaknya.


“HUAAAAA.... SADARLAH MICHELLE, SADARLAH! INGAT! TETAP FOKUS, JANGAN BIARKAN IA MENGAMBIL ALIH PIKIRANMU!" katanya pada diri sendiri.


Dia sudah berteriak layaknya orang gila, beruntung ruangannya itu kedap suara.


“Akan tetapi, mengapa dia sangat manis?" batinnya menjerit.


Michelle memukul-mukul kepalanya, bermaksud agar bayangan Oxel segera enyah dari pikirannya.


Saat sedang bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, ternyata Zanetta yang mengetuk pintu tersebut.


“Permisi, apa banyaknya berkas membuatmu menjadi gila sampai memukul kepalanya sendiri?" tanya Zanetta.


“Sejak kapan kau di situ, aku rasa, aku belum memberimu izin untuk masuk?" tanya Michelle heran.


“Apakah izinmu itu penting? Akan tetapi jika kau bertanya baiklah, aku sudah mengetuk pintu sejak 5 menit yang lalu, namun tak ada sahutan darimu. Sepertinya kau sedang sibuk dengan duniamu sendiri, benar?"


Michelle meringis, bisa-bisanya dia ketahuan oleh orang lain ketika bertingkah konyol.


“Lupakan! Ada apa kau kemari?"


“Aku hanya ingin meminta tanda tanganmu untuk laporan berkas ini." jawab Zanetta sambil menyodorkan berkas.


Michelle menerima dan memeriksa berkas laporan itu dengan teliti, kemudian membubuhkan tanda tangannya dan memberikannya kembali pada Zanetta.


“Terima kasih, oh ya, omong-omong apa tadi kau makan siang di restoran itu?" tanya Zanetta basa-basi.


“Tadinya, aku hendak makan di restoran itu, tapi karena juru masaknya sedang tidak berada di tempat, aku membatalkan niatku. Entahlah sepertinya sang juru masak hanya ingin makan gaji buta saja," jelas Michelle.


“Mungkin saja, Oxel memang sedang ada keperluan, lagi pula juru masak di sana bukan hanya Oxel, masih ada yang lain, mengapa kau tak meminta mereka?"


“Karena hanya Oxel yang membuat restoran itu padat pengunjung, jadi wajar jika aku mencari orang yang berpengaruh di restoran tersebut," jawab Michelle.


“Alasan, bilang saja kau sudah terpikat padanya," cibir Zanetta.


“Rumus dari mana itu, aku terpikat padanya? Jangan konyol, sayang. Apa yang membuatku terpikat dengan laki-laki yang super biasa saja sepertinya? Tidak ada, sayang. Tidak ada," Michelle mencoba menyangkal.


“Terserah kau saja, teruslah menyangkal, atau aku akan mendekatinya," kata Zanetta.


Ucapan Zanetta menarik atensi Michelle, ”APA, KAU AKAN MENDEKATINYA?!" kata Michelle terkejut.


“Apa yang salah? Aku hanya ingin mendekatinya saja," jawab Zanetta.


“Perlukah kuingatkan jika kau sudah pernah ditolak olehnya dan itu belum lama, sayang?" tanya Michelle dengan sedikit seringai.


Zanetta hanya menatap Michelle serius sebelum menjawab dengan bisikan, “Selama dia belum dimiliki oleh orang lain, aku akan berusaha hingga akhir, Michelle."


Michelle mengangakan mulutnya tak percaya, kata-kata Zanetta seperti tanda menabuh genderang perang yang ditujukan padanya.


Oh, dia berani bersumpah bahwa Zanetta menyeringai ke arahnya.


“K-kau yakin akan mencoba mendekatinya kembali?" tanya Michelle.


“Tentu, kau sangat mengerti diriku cantik, aku tidak akan tumbang hanya dengan satu atau dua kali penolakan," jawab Zanetta.


“Zanetta akan mendekati Oxel? Tidak-tidak ini tidak boleh terjadi, aku harus menahannya supaya dia tidak berdekatan dengan Oxel." batin Michelle heboh sambil menggelengkan kepalanya.


Tanpa Michelle sadari Zanetta melihat semua pergerakan Michelle. Dia hanya menyeringai.


“Mulai menyukai Oxel, huh?" batin Zanetta.


“Baiklah karena tidak ada lagi keperluan aku pamit undur diri sayang, dadah." ujar Zanetta sambil berjalan meninggalkan ruangan Michelle.


Sepeninggal Zanetta dari ruangannya Michelle berteriak, “TIDAK!!.. INI TIDAK BISA DIBIARKAN DAN TIDAK BOLEH TERJADI!"


Author POV end