
Happy Reading!
Author POV
Oxel sudah sampai di restoran tempat dia bekerja, beberapa pegawai tampak sedang membersihkan meja dan lantai serta merapikannya.
Oxel langsung berjalan menuju dapur, tak lupa dia mengucapkan selamat pagi pada pegawai lain.
Senyuman menawan Oxel sangat disambut hangat oleh para pegawai restoran tersebut, terutama kaum hawa.
Saat sampai di dapur, Oxel disambut oleh rekannya.
“Sayangku, kau datang juga akhirnya, tidak biasanya kau datang siang?" tanya rekan Oxel.
“Aku sedang berkunjung ke makam orang tuaku, dan membuat buket bunga."
“Kau bertemu dengan teman wanitamu hari ini?" tanya rekannya dengan antusias.
“Tidak. Dia belum datang saat aku datang. Aku sedang buru-buru, jadi aku harus cepat-cepat supaya tidak terlambat," jelas Oxel.
Mereka mengakhiri percakapan karena bersiap, sebentar lagi restoran akan buka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini, Michael sedang berjalan-jalan. Dia sudah berjanji pada teman-temannya, hanya untuk sekedar hang out bersama.
“Maaf aku baru saja tiba, apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Michael dengan teman-temannya.
“Kupikir, kau tak akan datang, tapi ternyata Bos kita ini menepati janjinya," ujar temannya tersebut.
“Ha-ha-ha... Aku tak mungkin ingkar janji. Itu bukan ciri laki-laki yang baik. Ya, sudah kalian memesan menu apa, soal tagihan serahkan padaku," ujar Michael.
Ada yang bertanya di mana Michael saat ini? Jawabannya adalah mereka sedang berada di tempat karaoke. Ya, Michael memang suka berlagak menjadi bos saat sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Mereka semua sudah menyewa ruangan. Ditemani oleh dua orang pemandu karaoke dan dua botol minuman beralkohol, mereka mulai berkaraoke ria.
Terkadang Michael juga merayu dan bersikap seperti Don Juan pada pemandu karaoke, agar mereka jatuh ke dalam pesonanya, tak ayal juga, dia menjadi royal jika mengeluarkan uang dan memanjakan mereka.
Siapa wanita yang akan menolak pria, jika mereka mampu memenuhi apa yang kalian inginkan? Tentu saja tidak ada.
Para wanita pasti akan senang dengan Michael, karena Michael akan menuruti apa yang mereka mau. Membelikan barang ini dan itu, memberikan uang secara cuma-cuma, terkadang dengan bonus bermain dan menghabiskan malam panas.
“Kau sungguh hebat, kawan. Mampu menarik wanita seperti dia untuk jatuh dalam pelukanmu,"ujar temannya.
“Tentu saja, karena aku kaya, wanita mana yang tak suka pria kaya?" jawab Michael congkak.
“Ha-ha-ha... Baiklah-baiklah mari kita nikmati kesenangan kita hari ini!" ujar teman Michael.
Mereka pun melanjutkan karaoke.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel sedang sibuk dengan pekerjaannya hingga peluh bercucuran. Pengunjung restoran sangat padat.
“Ah, sangat melelahkan hari ini, pelanggan terus meminta menu baru yang pernah kau promosikan," ujar salah satu rekannya.
“Kau hebat, banyak sekali idemu untuk memajukan cafe kecil ini, dan sekarang menjadi sebesar ini, bahkan dari yang aku dengar, pemilik akan membuka cabang restoran," ujar rekan yang satunya lagi.
“Kau pasti akan ditunjuk sebagai penyeleksi nantinya," katanya lagi.
Oxel tersenyum mendengar ucapan teman-temannya, ia belum tahu perihal itu sejujurnya, jadi ia memilih diam saja.
“Aku belum tahu untuk itu, apa aku yang menyeleksi mereka atau tidak, itu semua tergantung pemilik restoran," ujar Oxel.
“Tapi aku yakin tugasmu akan bertambah kawan," kekeh temannya.
“Itu urusan nanti," jawab Oxel.
Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba ada seorang pelayan masuk dan mengejutkan kru dapur dengan suara melengkingnya.
“Oxelku yang tampan Yuhuuuuu! Ini ada pesanan lagi menantimu," ujar pelayan itu dengan nada dan pandangan genit. Membuat kru dapur yang melihatnya bergidik ngeri.
Oxel hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia seketika merasa canggung.
”Terima kasih, kau bisa meletakkannya di sana seperti biasanya, nanti aku akan membuatkannya," jawab Oxel dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Kapan kau mengiyakan ajakanku untuk makan malam, tampan?" tanya sang pelayan dengan nada mendayu.
“Eh? En-entahlah aku tak bisa berjanji, karena pekerjaanku yang menumpuk, hehe," ujar Oxel tertawa canggung.
“Baiklah. Aku akan setia menunggu kau mengiyakan ajakanku." ujar pelayan itu lalu melenggang pergi meninggalkan dapur.
“Dasar wanita agresif, kau kuat sekali menghadapi orang seperti dia," kata rekannya pada Oxel.
“Karena dia wanita, aku tak mungkin jika harus berbuat kasar padanya, mungkin aku akan menjaga jarak saja," jawab Oxel.
Sedikit merinding juga kalau ia dikejar-kejar oleh wanita.
Lalu Oxel mengambil kertas pesanan dan mulai bekerja, begitu juga dengan timnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michelle dan sang ayah sedang bercengkrama santai disela-sela kesibukan mereka.
“Sayang, berapa umurmu? Apa kau berniat melajang seumur hidupmu?" tanya Brian.
“Dad, Michelle belum memiliki tambatan hati, sebagai putri seorang Brian Frederick, sudah seharusnya Michi selektif dalam memilih calon pendamping hidup, kan? Aku tak ingin jika calon pendampingku hanya mengincar harta saja," ujar Michelle.
Sang ayah hanya mengangguk. Putrinya benar-benar berwatak tegas dan keras, seperti dirinya.
Dia tak ingin menjadi orang tua kolot, yang rela menjodohkan anaknya hanya demi kepentingan bisnis.
”Asal calonmu itu memiliki tata krama yang baik dan bisa diandalkan, mungkin Daddy akan setuju," ujar Brian.
“Aku masih mencari tapi entah kapan, Dad,"ujar Michelle pada sang ayah, entahlah dia merasa dia takut salah dalam memilih.
“Jika kau sudah memiliki niat, carilah perlahan saja, sayang," ujar sang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maria sedang sibuk berkumpul dengan teman-temannya saat ini, ya, mereka sedang mengadakan arisan antar ibu-ibu sosialita.
“Kau tahu anakku baru saja memberiku hadiah mobil mewah, seri keluaran terbaru, ini dia mobilnya." ujar salah satu teman Maria sambil memamerkan foto mobil mewahnya yang ada di galeri ponselnya.
Maria yang melihatnya hanya mampu tersenyum kecut sekaligus iri dengan apa yang dimiliki temannya.
“Kalau anakku kemarin membelikan jam tangan mewah berlapis emas dan berlian, nih lihat!" kata teman yang satunya lagi sembari memamerkan tangannya yang mengenakan jam tangan super mewah.
“Wah, kau benar, jam tangan ini tampak mewah, ah aku jadi iri melihatnya, aku ingin juga," sahut ibu-ibu lain.
“Cih, dasar tukang pamer, aku juga bisa seperti itu," batin Maria bersungut-sungut.
“Maria, bukan, kah kau memiliki seorang putra? Di mana putramu bekerja?" tanya salah seorang dari mereka pada Maria.
“A-ah... I-itu tentu saja anakku sudah sukses, bahkan saat ini dia memegang jabatan penting di perusahaan kontruksi," bohong Maria. Ia tak mau terlihat kalah dengan kawan-kawannya yang lain.
“Wah! Benarkah?" tanya ibu-ibu lain dengan antusias.
“Sebentar, tapi kenapa kau tak membawa mobilmu? Ke mana mobil mewahmu itu?" tanya temannya.
“Aku sedang malas membawa mobil. Ya, kau tahu lah sekarang jalanan sering macet karena banyaknya kendaraan. Aku ke sini menggunakan transportasi umum, aku sedang berusaha mengurangi polusi udara dan suara," jawab Maria beralasan.
“Begitu rupanya, aku tidak percaya kau sekarang beralih menjadi orang yang sangat memedulikan lingkungan," kata temannya.
“Apa kau menjadi aktivis lingkungan sekarang?" tanya temannya yang lain.
“Aku belum pantas untuk menjadi aktivis, aku hanya melakukan sebagian kecil," jawab Maria beralasan.
Dan berlanjutlah perbincangan mereka semua dengan Maria yang sedang menahan umpatan dan kesal dalam hati karena rasa iri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel sudah selesai membuat hidangan pesanan pelanggan. Panasnya dapur tak menyurutkan semangatnya dalam bekerja.
“Ada juga seseorang yang memesan es krim warna hitam begitu?" tanya rekannya.
“Tentu saja ada, ini buktinya," jawab Oxel.
“Menu usulanmu memang selalu aneh, Oxel," ujar rekannya.
“Justru itu yang menarik minat pelanggan untuk datang ke restoran kita dan kita bisa untung banyak," jawab Oxel.
“Sayangnya memang benar, kita tengah berkembang saat ini," sahut rekannya yang lain.
Oxel memanggil pelayan dengan membunyikan bel.
Author POV end
Pesanan yang dibuat Oxel