
Aku bangun pagi cukup awal hari ini dan merasa segar. Padahal, malam sebelumnya, aku benar - benar menghabiskan waktuku hanya di atas kanvas. Bahkan, aku tertidur di atas meja karena berusaha menyiapkan konsep untuk karyaku yang akan dipajang dalam pameran festival. Aku juga pikir sepertinya aku sedikit berlebihan. Tapi, ini yang benar - benar aku inginkan. Di saat seperti ini biasanya Papa akan merasa cemas karena kebiasaanku yang terlalu bersemangat hingga lupa waktu.
"Tok...tok...tok" Suara pintu kamarku diketuk.
"Alessia! Ini Papa. Kamu sudah bangun?"
Suara Papa memanggilku.
Aku pun membuka pintu kamarku.
"Ohh...Papa sudah pulang, ya. Iya, Alessia baru mau bersiap - siap pergi ke sekolah.Papa langsung tidur saja. Pasti sangat lelah karena dinas malam." Jawabku membalas panggilan Papa.
"Nak, semalam kamu tidur, kan? Papa tahu kamu sangat bersemangat untuk acara sekolahmu itu. Tapi Papa khawatir padamu. Beberapa hari ini, Papa perhatikan kamu sering sekali telat makan, begadang, bahkan tidak tidur semalaman. Papa izinkan kamu melakukan semua itu tapi pikirkanlah juga kesehatanmu! Semua itu akan percuma kalau ujung - ujungnya kamu jatuh sakit." Ucap Papa terdengar sangat khawatir.
"Iya, Papa. Alessia minta maaf karena membuatmu khawatir. Kalau begitu, Alessia janji akan mengubahnya dan berusaha membagi waktu." Kataku untuk mengurangi rasa khawatirnya.
"Baiklah, Alessia. Papa percaya padamu. Kamu sudah besar jadi pintar - pintarlah membagi waktu. Kalau kamu perlu apa - apa untuk tugas karyamu, beri tahu Papa, supaya Papa belikan"
"Terima kasih, Papa"
"Kamu langsung bersiap saja. Papa sudah beli makanan untuk bekal dan sarapan kita. Ngomong - ngomong, teman kamu sudah menunggumu di depan pagar. Siapa dia? Pacarmu?" Ucap Papa.
"Bukan, Papa. Aku tidak mungkin pacaran dengannya. Dia adalah kakak kelasku, Kak Nico. Kami hanya berteman, kok." Kataku menolak pertanyaan Papa.
"Iya, iya, sana cepat bersiap! Tidak enak kalau membuat orang menunggu."
Aku pun cepat - cepat pergi bersiap. Setelah lima belas menit, akhirnya aku selesai dan langsung keluar untuk berangkat ke sekolah.
"Selamat pagi, Alessia! Ayo, berangkat!" Ucap Kak Nico menyapaku.
"Selamat pagi juga, Kak Nico! Pasti sudah lama menunggu, ya! Maaf, ya!" Ucapku.
"Tidak lama, kok. Aku memang sengaja datang kepagian sekalian olahraga sepeda. Kalau gitu, ayo berangkat, yuk!" Ajaknya.
"Ayoo..." Jawabku bersemangat.
Sudah tiga hari ini, aku selalu diantar jemput Kak Nico pergi dan pulang sekolah. Sebenarnya, awalnya aku menolaknya karena aku takut merepotkannya. Tapi dia memaksa ingin mengantarku. Jadi, akhirnya kami selalu pergi bersama ke sekolah. Alasan sebenarnya karena aku juga menjadi koordinator kelas satu dandelion knight untuk festival musim semi nanti sehingga kami jadi sering bertemu dalam rapat.
Sesampainya di sekolah, kami pun langsung berpisah di depan gerbang.
"Alessia, kita sudah sampai nih!" Ucapnya.
"Terima kasih tumpangannya untuk hari ini, Kak. Maaf, aku harus segera ke kelas karena ada yang harus aku lakukan. Sampai bertemu lagi di rapat nanti sore" Jelasku.
"Oke, oke, cepatlah pergi! Sampai jumpa lagi!" Balasnya sambil menyuruhku pergi.
Aku langsung beranjak dari tempatku berdiri menuju kelasku. Hari ini adalah batas pengumpulan formulir. Jadi, aku harus membuat salinan dan menagih kepada teman yang belum mengumpulkan.
Saat aku berjalan menuju kelas, tiba - tiba ada yang menarik tangan dan rambutku dari belakang. Mereka menarikku ke suatu tempat.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mereka ada tiga orang sedangkan aku sendiri. Tempat ini dekat dengan parkiran. Tapi, tetap saja tidak ada yang mungkin akan lewat.
"Tunggu dulu! Kita bisa bicarakan baik -baik!" Jawabku untuk memberi jeda.
"Bicara katamu? Kamu pikir sekarang kamu sedang berbicara dengan siapa? Hah? Harusnya gadis miskin sepertimu berkacalah sekali - kali. Kamu mau tahu siapa aku? Aku adalah Chelsea Blark, putri Walikota Venice." Sambungnya.
Awalnya, aku benar - benar tidak mengenalinya sama sekali. Ternyata, dia benar - benar putri walikota Venice, William Blark.
"Maaf, aku tidak mengenalimu! Tapi, tetap saja kita harus bicarakan ini baik - baik tanpa kekerasan! Aku tidak bisa menerima tuduhanmu tadi padaku! Aku tidak pernah menggoda siapapun! Aku dan Kak Nico hanyalah teman biasa." Lanjutku membela diri.
"Ehmm....kamu pikir aku tidak punya mata! Aku sering lihat kalian itu sering jalan dan ngobrol bersama. Bahkan, kalian pergi dan pulang bersama." katanya dengan suara keras.
"Kamu salah paham soal itu. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kak Nico hanya mencoba membantuku." Itulah pembelaan terakhirku.
"Untuk apa aku percaya dengan kata - katamu, Dasar Pembohong! Jadi, itu sama saja kamu meragukan penglihatanku. Pokoknya kamu harus diberi pelajaran hari ini!'" Ucapnya yang kelihatan sinis.
Dia menyuruh kedua temannya untuk memegangiku. Kemudian aku melihatnya memegang sebuah telur. Dia ingin melempariku dengan telur itu.
"Lihat saja, apa kamu masih bisa menggodanya setelah ini? Atau mungkin Kak Nico akan merasa kebauan kalau melihatmu?" Katanya sambil melemparkan telur itu padaku.
Aku hanya bisa menutup mataku saat dia melemparkan telur itu ke arah wajahku.
"Ptaaaakkkkk"
Aku terkejut dengan suara itu. Aku pikir itu suara telur terbentur sesuatu.Tapi itu bukan wajahku. Aku pun membuka kedua mataku.
"Alessia, kamu tidak apa - apa?" Suara seseorang yang tidak asing bagiku.
Ternyata, dia adalah Alex. Dia yang berusaha melindungiku dari lemparan telur itu. Dia merangkul dan memelukku serta membiarkan punggungnya menjadi tameng untuk melindungiku dari lemparan itu. Aku melihat mereka melemparnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Aku hanya bisa diam dalam pelukannya. Aku hanya bisa meminta maaf padanya dalam hati. Akhirnya, mereka berhenti melempar kami setelah telur mereka habis.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan ini?" Kata Alex pada mereka.
"Kami hanya mau memberinya pelajaran. Memangnya kenapa? Siapa suruh dia menggoda Kak Nico. Kuperingatkan padamu sekali lagi, Gadis Miskin! Jika kamu masih saja mencoba akrab dengan Kak Nico, aku bisa melakukan hal yang lebih parah dari ini. Dan kamu, Alexander Scott! Jangan sok jadi pahlawan, deh! Kamu lupa, ya! Meski kamu itu putra dari Edmund Scott, Kolongmerat terkaya di Venice, bukan berarti itu mengubah statusmu di depan mata kami. Status kamu itu tetap saja anak haram. Meski kamu berusaha mengubahnya dengan segala cara. Jadi, jangan cari gara - gara denganku!" Katanya penuh arogan.
"Aku tidak perlu mendengar apapun darimu. Kamu tidak punya hak melarang seseorang untuk berteman dengan siapa saja. Lagipula memangnya kenapa jika aku anak haram? Itu sama sekali bukan urusanmu. Setidaknya, aku masuk ke sekolah ini karena murni dari usahaku bukan karena ayahku. Bukan sepertimu, yang menyuruh ayahnya mengemis dan menjilat sekolah agar bisa diterima disini. Haha, sungguh lucu, bukan?" Jawab Alex membalas kata - katanya.
"Kamu sudah berani bicara seperti itu apalagi padaku?"
"Maaf, kami tidak punya cukup waktu untuk mendengar ocehanmu, putri walikota yang manja dan berotak kosong! Alessia, ayo pergi dari sini!" Ucap Alex sambil menarik tanganku pergi.
"Hei, dasar orang - orang tidak berguna. Kalian berani mengabaikanku! Awas saja kalian!" Teriaknya.
Alex menggenggam dan menarik tanganku serta membawaku pergi dari tempat itu meninggalkan mereka yang telah membully kami. Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana. Aku juga ragu untuk memulai pembicaraan dengannya setelah apa yang telah terjadi tadi. Aku memutuskan untuk mengikutinya saja kali ini. Dari raut wajahnya terlihat bahwa dia sangat marah dan kesal. Siapapun yang mendapat perlakuan seperti itu pasti akan bersikap sepertinya yang sekarang. Ya, satu hal lagi yang baru aku ketahui tentang hidupnya. Meski, aku belum yakin seratus persen tentang itu. Tapi, lebih baik aku mendengar cerita itu darinya daripada orang lain. Dia yang menjadi pahlawanku hari ini.
Tu sei il mio eroe!