Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Prolog Il Mio Primo Amor



Pernahkah kamu merasakan rasanya jatuh cinta? Dan mengalami apa artinya itu cinta pertama?


Kata kebanyakan orang, cinta pertama itu adalah pengalaman saat kita mencintai seseorang untuk pertama kalinya dalam hidup dan tidak mungkin akan terlupakan. Entah apakah pernyataan itu benar-benar didukung dari segi pengalaman saja berdasarkan pengakuan orang yang pernah mengalaminya atau juga dibumbui dengan sederet cerita roman picisan belaka yang merupakan karangan para pujangga kasmaran. Menurutku, pernyataan itu ada benarnya. Tapi, yang menjadi pertanyaan besar bagiku, sebenarnya kapan kita menyadari bahwa saat itu kita sedang merasakan cinta pertama. Apa ada tanda-tandanya?


Kata orang, rasa kagum sama rasa suka atau cinta itu kadang bisa dibilang beda tipis. Ya, itu memang masih menjadi teka-teki.


Tapi apapun itu, kita tidak bisa memukul rata semua kenyataan, bukan? Ungkapan tidak akan terlupakan bisa juga berarti bermacam-macam tergantung siapa yang mengalami dan merasakannya.


Ada yang berhasil ,tapi ada juga yang gagal. Terkadang ceritanya terdengar manis semanis gelato rasa vanilla dan permen kapas. Tapi terkadang juga terasa pahit sepahit kopi tanpa gula. Kedengarannya sungguh klise, tapi itu kenyataannya.


Terus terang, cinta pertamaku telah mengalami hal keduanya. Manis dan juga pahit. Hanya indah diawalnya saja. Tapi, pada akhirnya meninggalkan luka tidak berdarah pada hati yang rapuh ini. Rasa sakitnya tidak pernah hilang. Tidak pernah sembuh. Selalu meninggalkan jejak tapi tidak pernah menunjukkan arah yang benar. Jejak yang bercabang tanpa titik temu. Dan bagiku cinta pertamaku itu adalah sebuah tragedi yang ingin kulupakan. Sebuah cuplikan dari kehidupanku yang ingin kuhapus. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Seandainya waktu bisa dibalik, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu dan mengubah semuanya itu. Ingin aku singkirkan dan menghempasnya ke luar angkasa. Namun, sebesar apapun usahaku tuk melupakannya, semakin besar juga kebencianku terhadapnya dan membekas dalam hatiku yang paling dalam yang membuat rasa sesak tak tertahankan. Kebencian akibat rasa sakit yang diterima tanpa henti. Detik ke menit. Menit ke jam. Hatiku meronta - ronta meminta pertolongan kepada siapa saja. Terkadang aku berpikir, mungkin dengan membenturkan kepalaku pada dinding beton bisa membuatku lupa akan dia. Mungkin saat itu juga aku sudah menjadi gila karenanya.


Di saat yang bersamaan, selalu muncul kerinduan untuk bertemu dengannya. Ingatan akan manisnya masa-masa itu terkadang memperdayaku dalam angan-angan. Senyumnya, tawanya, candanya, air matanya. Semua yang ada padanya.Yang dia berikan hanya untukku. Aku rindu. Semua telah terlanjur meresap ke dalam hati. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah semua itu juga berarti baginya? Apakah dia sedang memikirkanku di tempatnya sekarang? Masih ingatkah dia akan janji yang telah disematkannya ke hatiku? Aku tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu.


Namun, dalam sekejap mata, ingatan pahit pun bermunculan tanpa pandang bulu. Sebuah perpisahan yang penuh dengan tanda tanya yang mendorongku untuk menyusuri lorong jalan yang tak berujung. Meluapiku dengan kegelapannya tanpa memberi celah sebias cahaya sedikitpun.


Hatiku terasa sesak. Aku kacau. Seperti tertusuk mata belati yang tajam. Air mata menetes tanpa henti membasahi pipiku hingga kering tanpa menyisakan satu tetes lagi untuk yang lain. Seakan berharap aku tak pernah mengenalnya. Tak pernah jatuh hati padanya.


Meski telah berlalu, aku masih bisa merasakan kehadirannya di dalam hatiku, yang diam-diam menutup rapat hingga tiada celah bagi siapapun untuk masuk. Masih banyak pertanyaan dan teka-teki yang belum terjawab. Seperti bagian - bagian puzzle yang hilang. Meski kucoba mencari, tapi tetap saja tak dapat kuraih. Aku berusaha menyusun keping demi keping, tapi tetap saja berakhir buntu. Tanpa jawaban. Tanpa alasan yang jelas. Tanpa penyelesaian. Seperti perasaan yang tergantung. Hanyalah penyesalan dan kebencian yang tersisa.


Keadaanku terlalu lemah. Aku berada di titik terbawah dari dimensi kehidupan. Sebenarnya dimana titik kesalahannya? Dimana titik temunya? Mengapa sangat sulit untuk menemukannya? sangat sulit untuk dicapai?


Dia seperti menggenggam hidupku. Mengikatku dengan kenangannya. Memborgolku dengan janji yang dia ucapkan.


Mengurungku dengan sikap diamnya itu.


Aku tidak pernah bilang tentang hal ini ke siapa-siapa. Hanya aku dalam kesendirian. Tahu, kan, di lubuk hatiku yang terdalam aku tahu bahwa suatu hari aku akan menemukan seseorang lagi yang dapat mengisi kekosongan ini. Melepaskan aku dari ikatan dan borgol yang membelengguku. Ketika itu, kuharap tiada lagi kekecewaan ataupun rasa sakit yang menyelimuti. Hanyalah kebahagiaan dan kedamaian. Aku ingin bahagia. Ingin hati ini merasa damai. Perasaan itu yang ingin kuberitakan kepada dunia. Ya, hanya itu yang kuinginkan. Aku yakin takdir itu akan memanggil. Sesuatu yang megah akan terjadi. Cepat atau lambat, sesuatu itu akan datang dalam hidupku. Dan aku hanya bisa berharap kepada Tuhan, kali ini akan berbeda dari yang sudah-sudah. Kurasa sudah cukup aku menerima kutukan ini. Sudah saatnya aku bangun dan bangkit dari keterpurukan ini. Tiada lagi kata untuk berdiam. Tiada lagi istilah untuk menanti. Menanti sesuatu yang tidak pasti akan datang. Itu hanyalah harapan yang bodoh dan tidak berguna. Sia - sia. Tanpa tujuan yang jelas. Bahkan, menyesatkan hati yang tidak bersalah. Biarlah yang terjadi tetap terjadi meski hati tidak mengharapkannya sama sekali. Setidaknya untuk hidupku yang terus berjalan tanpa henti. Roda waktu yang terus berputar tanpa jeda. Memacu semua insan untuk maju ke depan. Persaingan terjadi dimana-mana tanpa batas toleransi. Semua di luar adrenalin manusia. Bahkan, terlihat seperti fenomena dari insting yang bernyala.


Oleh karena itu, aku bertekad bahwa mulai saat ini aku akan hidup untuk diriku sendiri. Aku mungkin tidak bisa melupakannya begitu saja. Setidaknya dengan mengabaikan kenangan tentang dia sejenak dalam bayang - bayang yang terus menghantui hatiku yang rapuh ini, dapat membuatku merasa lebih hidup lagi. Selagi aku berusaha untuk melanjutkan dan menerima kenyataan hidup yang harus aku jalani sekarang dan untuk seterusnya. Aku juga tidak bisa menjadikannya batu sandungan untuk aku melangkah maju. Itu adalah beban yang terlalu berat untuk aku pikul sendirian. Aku tidak akan mampu. Jadi, aku akan memilih pilihan yang terbaik untuk hidupku.


Oleh sebab itu, aku akan jadikan masa lalu itu sebagai pelajaran untuk mengarungi masa depanku yang cerah. Untuk orang - orang yang mencintaiku. Untuk cita-cita yang ingin kucapai. Untuk mereka yang berada di luar sana yang berhak memperoleh cinta yang tulus dariku. Hanya itu yang kuiinginkan untuk hidupku ini.


Sii felice!