
Aku melihat bulan purnama yang sangat terang dari balik jendela yang terbuka itu. Tiba - tiba terdengar suara yang tidak asing lagi bagiku.
"Sia! Sia, putriku, kemarilah, Sayang"
Sebuah suara yang terdengar lemah memanggil namaku.
"Iya, mama. Sia disini. Sia selalu disini bersamamu, Mama" Ucapku membalas suara itu.
"Sia, putri mama yang paling baik dan cantik. Mama ingin memberikan tugas yang besar untukmu. Maukah kamu berjanji untuk menerimanya?"
"Tentu saja, Ma. Sia pasti bisa melakukan tugas itu. Tapi... tugasnya apa, Ma?"
"Hmm...tugasnya tidak sulit, kok. Kamu cuma perlu jagain Papa dan adikmu, Alexa selama Mama pergi. Bisa, kan?"
"Bisa, Ma. Serahkan tugas ini kepada Sia. Tetapi sebenarnya, Mama mau pergi kemana? Pergi jauhkah?"
"Mama mau pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Tempat bintang-bintang berada. Dan dari sana Mama akan mengawasi Sia, Alexa, dan Papa. Jadi, berjanjilah pada Mama. Kamu akan terus jadi anak yang baik, ya?"
"Iya, Mama. Kapan Mama akan pulang?" Ucapku sambil menganggukan kepala.
"hmm... Mama juga tidak tahu. Tapi, Mama selalu percaya bahwa kita pasti akan bertemu dan berkumpul lagi" Ucap Mama hingga ia meneteskan air mata.
"Mama, jangan menangis! Tenang saja, Sia pasti jadi anak baik dan akan jagain Alexa dan Papa selama mama pergi. Jadi, jangan khawatir, Ma!" Kuusap air matanya yang membasahi pipinya.
"Mama percaya padamu, Sia. Coba kamu berikan tanganmu pada mama"
"Ini, Ma" Jawabku sambil menyodorkan tangan kananku.
" Ini adalah pita kesayangan Mama. Mama mau kamu menyimpannya. Ini adalah lencana yang Mama berikan pada Sia yang sudah mau berjanji untuk menjaga Alexa dan Papa" Kata mama sambil memberikan pita berwarna merah kepadaku.
"Wah, sangat indah. Sia janji akan jaga pita ini sampai Mama kembali" Jawabku penuh bangga.
"Mama, mau istirahat dulu, ya. Kamu juga mari tidur sini sama Mama, ya" Ucap mama sembari membuka lebar pelukannya yang hangat.
"Baik, selamat malam, Ma" Jawabku terus melompat ke dalam pelukannya.
"Selamat malam juga, Sayang"
Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah percakapan terakhir sekaligus kenangan yang aku ingat bersama mama. Tepatnya delapan tahun yang lalu saat aku masih berusia lima tahun. Keesokan harinya, ketika aku bangun dari tidurku, aku sudah berada di pelukan papa yang tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Jujur saat itu aku bingung. Aku hanya melihat mama sedang tertidur pulas di ranjangnya. Aku bertanya-tanya pada diriku, kenapa semua orang menangis? Mungkin karena saat itu aku masih belum tahu apa-apa tentang itu. Yang aku tahu bahwa aku harus menepati janjiku pada mama.
"tiiittt....tiiit....tiittt..." Suara alarm yang menunjukkan pukul lima pagi.
"Hoammm, selamat pagi dunia. Ayo, harus semangat. Tolong kerjasamanya hari ini"
Aku bangun dari tidurku dengan penuh semangat sembari membuka jendela kamarku. Angin sejuk di pagi hari memang yang terbaik, gumamku. Kurapikan tempat tidur terus bergegas keluar dari kamar. Bangun lebih pagi sudah jadi rutinitas bagiku. Bangun tidur lalu bergegas menyiapkan bekal dan sarapan untuk papa dan adikku.
"Lalalala...." Senandungku yang menemaniku berjalan menuju dapur.
Tiba-tiba, langkahku terhenti di lorong kamar.
"Selamat pagi, mamaku tersayang. Terus awasi aku, ya. Tapi lain kali tolong kirimkan kekuatan untukku supaya aku lebih semangat lagi, hehe.." Ucapku sambil melihat foto mama yang diletakkan di atas meja.
"Dan selamat pagi juga untukmu, Jellyfishku. Ini makananmu. Tolong temani mama selama kami pergi, ya" Celotehku sambil memberi makan ikan peliharaanku yang berada di akuarium kecil di sebelah foto mama.
Kulanjutkan langkahku menuju dapur. Hari ini sungguh spesial. Aku tidak pernah merasa energi positif yang begitu besar daripada hari ini. Aku menyiapkan bekal dan sarapan dengan penuh cekatan. Menu bekal hari ini adalah nasi goreng dengan irisan omelette diatasnya. Sedangkan untuk sarapan, aku menggoreng telur mata sapi yang diletakkan di atas roti dan diberi topping saus tomat dan mayones. Hmm.... terlihat lezat, gumamku. Selagi asik menata tempat bekal, jam dinding pun berdentang enam kali.
"Ohh... ternyata sudah pukul enam. Waktunya membangunkan Papa dan Alexa"
Aku pun mengambil langkah seribu menuju kamar Papa.
"Papa, bangun. Sudah pukul enam. Bukannya hari ini ada apel pagi?"
"Iya, Alessia. Papa segera bangun" Jawab Papa yang terdengar masih mengantuk.
Setelah itu, Aku beranjak menuju kamar adikku, Alexa. Kami berdua sebenarnya cuma beda setahun. Tapi dia selalu saja bersikap manja.
"Alexa, cepatlah bangun. Mau sampai kapan alarmmu berbunyi terus. Bahkan, suaranya terdengar sampai keluar"
"Sebentar lagi, Kak. Sepuluh menit lagi"
"Tidak ada pakai sepuluh menit lagi, tapi sekarang juga. Hari ini adalah hari pertama sekolah semester baru. Apakah kamu mau terlambat di hari pertama?" Balasku ketus.
"Iya, iya, kakakku yang bawel. Aku segera bersiap" Jawab Alexa yang terdengar tidak suka dengan bawelanku.
Akhirnya, semua sudah dibangunkan. Sekarang giliranku juga untuk bersiap. Dua puluh menit kemudian, semua sudah siap di meja makan.
"Selamat pagi, putri- putri Papa! Mari kita sarapan dulu" sapaan Papa yang terdengar bersahaja.
"Selamat pagi juga, Papa" Sontak Aku dan Alexa menbalas sapaan Papa.
"Alessia, Papa minta maaf karena tidak bisa mengantarmu ke sekolah di hari pertama masuk sekolah. Papa harus bertugas pagi sekali hari ini"
"Ya, gak apa-apa, Papa. Alessia kan sudah besar dan bisa berangkat sendiri. Papa antar Alexa saja soalnya kan masih searah sama kantor Papa"
"Ahh, putriku memang benar-benar pengertian. Kalau begitu kamu baik-baiklah sekolah di sana. Papa doakan kamu selalu sukses dalam mengejar cita-citamu"
"Amin, Papa. Papa juga semangat kerjanya"
"Jangan lupa kotak bekalnya, Pa"
"Terima kasih sudah mengingatkan papa,Alessia"
"Sampai jumpa nanti malam, Pa. Hati-hati di jalan"
"Iya, Nak. Kamu juga hati- hati, ya"
"Kak, Aku juga berangkat, ya!"
"Iya, yang rajin belajarnya, Alexa"
Setelah mengantarkan mereka pergi, aku bergegas ke kamarku untuk mengambil tas. Sebelum pergi, aku menyempatkan untuk menata pakaianku sambil berkaca di depan cermin.
" Sudah siap semuanya. Tapi sepertinya masih ada yang kurang" Ucapku agak ragu.
" Ohh, iya pita rambutku!" Seruku.
Aku mencarinya di laci mejaku.
"Ohh, disitu kamu rupanya." Ucapku sambil meraih pita rambut merah yang tergeletak di laci meja.
Aku selalu memakai pita merah pemberian mamaku itu kemanapun aku pergi. Aku percaya selama aku memakainya, mama akan terus besertaku.
"Ya, ini baru namanya lengkap. Ayo, segera berangkat nanti telat lagi" Ucapku penuh semangat.
Kulangkahkan kakiku dengan perasaan bahagia. Bagaimana tidak bahagia, Aku bisa diterima di salah satu sekolah swasta yang elit dan favorit di kotaku, Dandelion Junior High School. Tidak sembarang orang yang bisa bersekolah di sana. Hanya golongan konglomerat, golongan orang dengan status sosial tinggi di masyarakat, dan golongan anak-anak berprestasi yang bisa masuk ke sana. Tentu saja aku masuk ke golongan ketiga karena dari segi keuangan, tidak mungkin Papa bisa menyekolahkan aku di sana yang mana Papa hanya seorang anggota polisi tanpa jabatan apapun. Biaya sekolah di sana sangatlah mahal. Aku hanya bisa mengandalkan kecerdasanku saja untuk itu. Prestasi yang kutorehkan selama di sekolahku dulu ternyata tidak sia-sia hingga akhirnya mengantarkanku masuk ke sekolah yang sekarang dengan beasiswa penuh.
Aku sudah lama memimpikannya.
Aku berjalan cukup santai karena jarak sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Tiba-tiba, terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Sebuah sepeda melaju kencang dari arah belakang hingga menyipratkan genangan air di jalan selepas hujan semalam. Aku terkejut dan hanya bisa menutup mataku.
"Ahh, tidak. Aku benar-benar sial hari ini. Rok baruku kotor. Bagaimana ini?" Kataku sembari mencoba membersihkan rokku yang telah ternodai dengan air bercampur lumpur dari jalanan itu.
Ketika aku sibuk dengan kesialan ini, terdengar suara yang sangat lembut datang mendekatiku. Aroma tubuhnya pun tercium sangat hangat.
"Hai, kamu! Kamu tidak apa-apa. Maafkan aku karena membuatmu kaget" Sapa seorang anak laki-laki yang telah menyebabkan kesialan ini.
Ohh, tidak rokmu kotor karenaku. Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Sepertinya hari ini aku terlalu bersemangat karena ini adalah sepeda pertama dari ayahku. Sebagai permintaan maaf dariku, aku berjanji akan membayar biaya binatunya, ya" Katanya sambil menunjukkan ekspresi rasa bersalahnya.
"Tidak perlu, aku bisa membersihkannya sendiri. Di lap sedikit saja dengan air bersih, nodanya pasti juga hilang" Balasku menolak tawarannya.
"Jangan, ini kan salahku. Untuk sementara, pakai ini untuk mengelapnya." Ucapnya sembari mengeluarkan sebuah saputangan miliknya dan memberikannya padaku.
"Terima kasih. Aku akan mencuci dan mengembalikannya padamu nanti."
"Ehh, bukannya ini milikmu?" Ucapnya sembari memungut sesuatu di jalan.
"Itu pita rambutku" Sontakku langsung merebut pita itu dari tangannya.
Aku melihatnya tiba-tiba tersenyum padaku.
"Hmm... rambutmu jadi berantakan" Ucapnya sambil menahan senyumannya.
"Ahh, rambutku. Aku butuh sepuluh menit untuk merapikannya pagi ini" Ucapku agak kesal sambil berusaha menata ulang rambut yang kusut.
Dia tersenyum senang melihatku seperti itu. Entah apa yang merasukinya, dia tiba-tiba mengelus kepalaku dengan lembut.
Perasaanku yang awalnya kacau tiba-tiba berubah. Apa yang dilakukannya itu membuat jantungku berdebar-debar tak menentu hingga aku tidak bisa berkata-kata.
"Gadis yang manis, maaf, aku buru-buru. Aku harus pergi sekarang" Ucapnya sambil melihat jam tangannya dan beranjak pergi dari hadapanku.
"Maaf, Bagaimana caranya aku mengembalikan saputanganmu?" Tanyaku sebelum dia benar-benar pergi.
"Tenang saja, kita pasti akan bertemu lagi. Sampai bertemu lagi di sekolah!" Jawabnya sembari mengayuh pedal sepedanya dan pergi meninggalkanku.
Bagaimana kita bisa bertemu lagi kalau kamu tidak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi ataupun alamat rumah-pikirku. Bahkan, aku tidak tahu namamu. Aku pun melihat-lihat saputangan pemberiannya dan menemukan sesuatu. Ternyata di saputangan itu tertulis sebuah nama.
"Alexander. Hmm...mungkinkah ini namanya?" Tanyaku dalam hati.
"Tunggu dulu. Bukannya seragamnya sama dengan aku? Iya, benar. Aku tidak salah lihat. Itu logo sekolah Dandelion School!" Ucapku menyadari bahwa ternyata kami satu sekolah.
Kalau dipikir-pikir betapa bodohnya aku hari ini. Mungkin ini yang dia maksud dengan sampai bertemu lagi di sekolah.
Kemudian aku melihat jam tanganku.
"arghh....tidak. Tinggal sepuluh menit. Aku hampir terlambat. Sial! Semua ini gara-gara anak laki-laki itu." Celotehku sembari berlari menuju sekolah.
Quello è stato il mio primo incontro con lui!