Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Tiga Puluh Satu You Are So Special (Than Me)



Kakiku sama sekali tidak berhenti melangkah sejak dia menarik dan membawaku pergi meninggalkan kakaknya di lantai dua perpustakaan itu. Kami menuruni tangga tanpa sepatah katapun yang terucap. Bahkan, kami melewati begitu saja seorang petugas resepsionis yang memanggil kami.


Sesampainya di luar perpustakaan, dia pun langsung menyuruhku masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan dan kami pun pergi. Aku tidak tahu dia mau membawaku pergi kemana. Selama di mobil pun dia tidak berkata apa - apa. Dia hanya memandang keluar dari jendela mobil yang terbuka dengan tatapan kosongnya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Sikapnya saat ini benar - benar sulit ditebak. Aku takut ketika aku bicara nanti, dia akan meledak - ledak seperti tadi. Dia benar - benar terlihat menyeramkan kalau sedang marah. Aku pikir jantungku tidak akan kuat kalau harus menghadapi amarahnya lagi. Oleh karena itu, aku memutuskan diam untuk sementara waktu.


Untuk mengusir kebosananku, aku pun melihat ke arah luar dari balik jendela mobil yang ada di sebelahku. Aku melihat banyak sekali bangunan pertokoan yang sedang buka dan benar - benar terlihat ramai dikunjungi orang. Selain itu, aku melihat sesuatu yang begitu menarik perhatianku. Sebuah maskot iga sapi raksasa yang terpampang jelas di depan sebuah restoran steak. Seketika itu air ludahku pun mengalir masuk ke kerongkongan. Benar - benar terlihat sangat lezat dan menggiurkan.


Tiba - tiba, terdengar sebuah bunyi yang agak keras yang berhasil membuat Alex serta Pak James terkejut.


"Kruuukk...kruukk..."


"Suara apa itu barusan?" Ucap Alex yang berusaha mencari sumber bunyinya.


"Hmmm...itu, Alex! Sebenarnya itu bunyi suara perutku yang sedang kelaparan! Hehe..." Ucapku merasa sangat malu.


"Hahaha...kamu lucu sekali, Alessia!" Tawa Alex yang membuatku sedikit kesal.


"Dasar Pengganggu! Aku benar - benar sudah kelaparan sekarang karena tadi pagi aku hanya minum segelas susu, tahu! Lalu, aku harus mencari sheet musik di perpustakaan tadi sambil berdiri selama tiga jam. Apa kamu tidak melihatku sudah hampir mati kelaparan dan kehausan? Siapa suruh kamu menjatuhkan semua makanan dan minuman yang sudah kamu beli di perpustakaan tadi! Humph!" Ucapku kesal.


"Iya, iya, maaf, aku salah karena sudah membuat perutmu itu kelaparan! Sebagai gantinya, aku akan belikan semua yang mau kamu makan hari ini! Bagaimana?" Ucapnya sambil menepuk - nepuk kepalaku seraya tersenyum cerah.


"Benarkah, Alex? Kalau begitu, aku mau makan steak sapi di restoran yang baru saja kita lewati itu!" Ucapku sambil tersenyum penuh semangat.


"Alessia, sepertinya kamu tahu sekali makanan yang mahal dan enak, ya! Oke, baiklah! Pak James kita putar balik ke restoran tadi, ya?" Ujarnya.


"Baik, Tuan Muda!" Jawab Pak James yang tersenyum terus sejak tadi melihat tingkah kami.


Pak James langsung memutar kemudi mobilnya ke arah sebaliknya dan menuju ke restoran steak yang aku lihat tadi. Akhirnya, kami pun singgah di restoran itu untuk makan siang.


"Pak James, mari makan siang bersama kami?" Ucapku mengajak Pak James.


"Tidak usah, Nona! Saya sudah makan siang duluan tadi! Saya akan tunggu di sini saja!" Tandasnya.


Aku tahu kalau Alex tidak mengizinkannya untuk makan bersama. Aku bisa melihatnya mengedipkan mata untuk memberikan isyarat kepada Pak James.


"Kalau begitu, Pak James bisa menunggu kami di dalam sambil minum segelaaasss...." Ucapku terpotong karena Alex langsung menarikku masuk.


"Ayo, masuk, Alessia! Katamu kamu sudah lapar, kan! Kita kan masih harus memesan steaknya dulu! Pak James tunggu di luar saja sambil mengawasi mobilnya!" Ucapnya tergesa - gesa.


"Baik, Tuan Muda! Selamat menikmati makan siangnya!" Ucap Pak James menunduk sembari kembali masuk ke dalam mobil.


Alex menggenggam tanganku dengan erat dan menarikku masuk ke dalam restoran.


"Selamat datang di restoran Alamanda Steak! Apakah Anda mau memesan tempat, Tuan?" Ucap seorang Pelayan restoran itu.


"Iya, saya pesan tempat untuk dua orang, ya!" Ucap Alex.


"Baiklah, Tuan! Mari ikut dengan saya! Saya akan tunjukkan tempatnya!" Ucap Pelayan itu.


"Silakan duduk di sini, Tuan dan Nona!" Ucap Pelayan itu.


"Terima kasih!" Ucapku sambil tersenyum.


Kami pun segera duduk saling berhadapan. Aku baru pertama kali mencicipi makanan di restoran. Jadi, aku hanya bisa memgedipkan mata pada Alex agar dia membantu mengurus semuanya untukku, yaitu memesan makanannya. Dia memang yang terbaik. Alex membuka dan melihat buku menu yang lumayan tebal itu yang isinya hanya steak dengan berbagai varian dan beberapa pasta.


"Apa Anda sudah siap memesan, Tuan?" Ucap Pelayan itu.


"Sebelum itu, saya penasaran dengan promo yang ini!" Ucap Alex menunjuk sesuatu dari buku menu itu.


"Ohh...ini adalah promo dari restoran kami hari ini! Berhubung restoran ini baru buka dua hari yang lalu, kami ingin memberikan promo gratis steak dan minuman bagi pasangan yang datang!" Ucapnya menjelaskan.


"Kalau begitu tunggu apa lagi! Kami kan pasangan!" Ucap Alex dengan kedipan matanya padaku.


Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan kedipannya. Apakah kita sudah jadi pasangan sebelumnya? Pasangan apa yang dimaksud pelayan ini? Karena aku yang masih polos, akhirnya dia datang dan duduk di sampingku sambil merangkulku.


"Alessia, kita pasangan, kan?" Ucap Alex padaku.


Dia melihatku dengan tatapan penuh harapnya. Kami saling bertatapan dan bertukar oksigen yang kami hirup bersama karena jarak di antara kami yang dekat itu. Semua pasang mata yang ada di restoran itu menjadi fokus melihat kami. Dia membuat kami menjadi pusat perhatian. Akhirnya, aku tersadar dari kebingungan dan lamunanku itu. Aku tersadar bahwa itu hanyalah taktiknya untuk tidak membayar apapun hari ini. Aku langsung mengikuti alur permainannya saja yang sudah terlanjur basah. Tapi, mungkin aku sedikit berlebihan.


"Tentu saja, Alex! Aku adalah pasanganmu satu - satunya!" Ucapku tersenyum sambil menyentuhkan keningku hingga menempel pada kening Alex.


Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya nampak realistis. Tapi, Alex malah menambahkan sesuatu yang sama sekali tidak aku duga. Dia menatapku sambil tersenyum lalu memegang tengkuk leherku dan menariknya kemudian mencium pipiku. Seketika itu juga wajahku mulai merona. Jantungku tidak berhenti berdegup kencang. Belum pernah aku merasakan sesuatu yang seperti ini sebelumnya. Setelah itu, dia cepat - cepat membuang mukanya dan kembali berbicara pada pelayan itu.


"Bagaimana? kami sudah menunjukkan bahwa kami adalah pasangan! Tolong segera dihidangkan!" Ucap Alex yang merasa sudah yakin pasti berhasil dengan rencananya.


Aku yang masih syok dan tidak percaya dengan perlakuan Alex tadi hanya bisa terus melihatnya saja seperti ingin mendapatkan penjelasan mengenai ciuman itu.


"Maaf, Tuan! Kami tidak bisa menghidangkannya jika syaratnya tidak terpenuhi!" Ucap Pelayan itu.


"Kalau begitu, katakan saja apa syaratnya?" Tanya Alex.


"Tuan dan Nona harus mempunyai benda pasangan seperti cincin, pakaian atau yang lainnya. Tapi, sejak masuk tadi, saya tidak melihat adanya benda yang memiliki kesamaan. Oleh karena itu, saya tidak menawarkannya sejak awal." Jelasnya.


"Siapa bilang kami tidak memilikinya! Keluarkan kalungmu, Alessia!" Ucap Alex.


Kami berdua langsung mengeluarkan kalung kunci Armonia itu dan memperlihatkannya pada pramuniaga itu.


"Maafkan saya, Tuan! Karena saya kurang jeli melihatnya jadi saya meragukan hubungan Tuan dengan Nona ini! Kalau begitu saya akan segera menghidangkannya secepat mungkin! Saya permisi sekarang! Selamat menikmati waktunya!" Ucap Pelayan itu sambil pergi dengan tergesa - gesa.


Aku hanya bisa terus menatap wajah Alex dengan perasaan yang campur aduk. Antara kesal, marah dan satu perasaan yang tidak bisa aku deskripsikan dengan begitu jelas. Mungkinkah sekarang aku mulai jatuh hati padanya? Jantungku berdegup begitu kencang dan rasanya ingin meledak. Tapi, hatiku berkata lain. Aku tidak bisa menyukainya karena dia adalah sahabatku. Aku tidak boleh mencintainya yang begitu spesial daripada aku yang bukan siapa - siapa ini. Aku tidak pantas untuk dia yang benar - benar spesial!


Perché mi baci ?