
Hari ini benar - benar hari yang cerah. Kuhirup udara segar dari balik jendelaku yang terbuka lebar itu dan membiarkan sinar matahari yang hangat itu menerpaku. Aroma bunga krisan dan serbuk bunga matahari yang tertiup angin berhembus menyambutku tanpa henti dari taman kecil di sebelah kamarku itu. Aku berlama - lama di dalam kamar dan menikmati waktu sendiriku karena hari ini adalah hari minggu yang berarti libur. Tentu aku tidak boleh menyia-nyiakan waktuku yang berharga.
Tepat pukul tujuh, aku keluar dari kamar dan membereskan rumah yang berantakan itu. Karena setiap hari sekolah, pagi hingga sore, aku tidak benar - benar punya waktu lebih selain hari minggu untuk membereskannya. Jadi, setiap pagi sebelum melakukan hal lainnya, sudah jadi kebiasaanku membereskannya sebelum semuanya bangun. Kalau di hari minggu, Papa dan Alexa pasti bangun telat. Jadi, itulah kesempatanku untuk melakukannya.
Aku bersihkan setiap sudut rumah dari debu yang menempel. Tidak lupa juga membuat sarapan pagi untuk semuanya. Tepat pukul sembilan, aku sudah selesai mengerjakan semuanya. Jujur, aku sudah terlatih untuk bekerja cepat dan tepat waktu sehingga pekerjaan yang banyak sekalipun, pasti selesai sesuai dengan target.
Setelah selesai bersih - bersih rumah, waktunya membersihkan diri. Kurang dari dua puluh menit, aku telah selesai mandi dan bergegas sarapan. Aku ambil satu piring sarapan dan segelas susu coklat. Kemudian kubawa ke teras depan rumah karena biasanya aku selalu menikmatinya disana. Tidak lupa dengan majalah fashion mingguanku yang sudah menempel di tanganku. Benar - benar hari yang sempurna untuk bersantai - Gumamku.
Belum sempat aku meneguk susu coklatku, muncul sebuah mobil Maybach Exelero dan berhenti di depan pagar rumahku. Aku terkejut setengah mati sampai - sampai menumpahkan susu coklat yang masih agak panas ke bajuku.
"Aduh...panas, panas! Benar - benar sial! Sebenarnya itu siapa, ya? Kenapa tiba - tiba parkir di depan rumah?" Ucapku keheranan.
Selagi sibuk membersihkan bajuku, keluarlah seorang pria memakai jas dan kacamata hitam dari mobil tersebut. Kemudian dia datang menuju pintu pagarku dan melihatku berdiri di teras.
"Selamat pagi, Nona! Apa benar ini adalah rumah dari Alessia Baker?" Tanya pria itu.
Aku pun datang menghampirinya yang sedang berbicara di luar pagar.
"Benar, ini dengan saya sendiri. Ada perlu apa, ya, Pak?" Jawabku.
"Perkenalkan saya, James Clinton. Saya datang untuk menjemput Nona atas perintah dari Tuan Muda Scott. Silakan lewat sini dan ikut saya!" Ucapnya sembari mengajakku pergi.
"Maaf, Pak! Yang anda maksud itu, Alexander Scott, bukan?" Tanyaku ragu.
"Iya, benar, Nona! Bukankah Nona sudah berjanji akan menemani Tuan Muda pergi makan malam bersama di rumah Tuan Besar?" Ucapnya.
Aku baru ingat tentang janji makan malam dengan Alex. Aku belum melakukan persiapan sama sekali. Aku juga tidak tahu harus menyiapkan apa saja.
"Iya, benar! Tapi, seingat saya dia akan menjemput saya sekitar jam enam sore sedangkan sekarang kan masih jam sepuluh pagi. Bukankah terlalu cepat, ya? Sebenarnya,saya juga belum bersiap - siap." Jawabku kebingungan.
"Nona tidak perlu khawatir soal itu! Tuan Muda sudah menyuruh kami untuk mempersiapkan segala keperluan untuk Nona. Jadi, Nona cukup ikut dengan kami sekarang sehingga kami bisa segera menyiapkannya." Jelasnya.
"Baiklah kalau begitu! Tolong tunggu sebentar, Pak! Saya izin dulu sama orang di rumah kalau saya mau pergi. Saya akan segera keluar! Saya masuk dulu!" Ucapku sambil berlari masuk ke rumah.
Aku segera menuju kamar Papa dan mengetuk pintunya.
"Tok...tok...tok"
"Papa, ini Alessia!" Ucapku memanggil Papa.
"Ada apa, Alessia? Tidak biasanya kamu membangunkan Papa di hari minggu." Ucap Papa yang masih mengantuk.
"Papa, Alessia mau pergi ke rumah teman. Apa boleh?" Ucapku agak ragu.
"Ke rumah teman? Teman yang mana? Mau ngapain?" Tanya Papa bertubi - tubi.
" Ke rumah Alex, Pa! Jadi, ceritanya dia mengundang aku makan malam bersama dengan keluarganya. Kenapa harus pergi sekarang karena kata Alex, meski ini hanya makan malam keluarga, tapi tetap harus berdandan dengan rapi sebab keluarganya sangat memperhatikan tata krama. Makanya aku sudah dijemput sekarang supaya bisa bersiap. Boleh kan, Pa? Soalnya Alessia sudah janji dengan Alex. Alessia janji sama Papa, nanti langsung pulang kalau sudah selesai." Ucapku sambil memohon.
"Baiklah, Papa izinkan! Tapi, dengan syarat kamu harus segera pulang setelah makan malam itu selesai dan berikan nomor telepon Alex pada Papa sekarang. Kalau ada apa - apa, Papa bisa menghubungi Alex." Ucap Papa mengizinkan.
"Terima kasih, Papa! Papa yang terbaik. Aku akan menulis nomornya di atas kertas dan meletakkannya di meja telepon. Oke, aku mau bersiap dulu, Papa!" Ucap sembari pergi ke kamar untuk bersiap.
"Jangan lupa mengangkat telepon dari Papa, ya, Alessia!" Ucap Papa.
"Oke, Papa!" Balasku.
Aku langsung cepat - cepat bersiap dan segera pergi.
"Papa! Alessia berangkat, ya! Sampai jumpa nanti malam!" Ucapku.
"Iya, hati - hati, Nak!" Ucap Papa sambil mengantarku pergi.
Dia pun membukakan pintu mobil untukku.
"Silakan masuk, Nona!" Ucapnya.
"Terima kasih, Pak!" Balasku.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa naik mobil mewah seperti ini. Selama ini aku pernah naik mobil patroli Papa milik kantornya. Luar dalamnya benar - benar membuatku takjub. Bahkan, aku takut untuk menyentuhnya sedikitpun. Keluarga Scott benar - benar luar biasa kaya. - Pikirku.
Setelah kurang lebih dua puluh menit, akhirnya kami pun sampai di sebuah rumah mewah yang sangat luas. Jarak dari pagar ke rumahnya saja harus di tempuh dengan kendaraan. Kalau tidak, pasti sangat melelahkan jika harus berjalan kaki. Seluruh sudut rumah dikelilingi dinding beton yang sangat tinggi sehingga tidak ada seorangpun yang bisa melihat ke dalam. Rumah itu terlihat seperti sebuah istana kerajaan. Aku bertanya - tanya dalam hati, apa ini benar rumah Alex? Kalau ini rumah Alex, terus rumah ayahnya mau sebesar dan semewah apa lagi? Aku benar - benar heran dan tercengang melihatnya.
Sampailah aku tepat di muka pintu utama rumah itu. Pak James keluar dan membukakan pintu mobil untukku lagi. Aku melihat ada dua orang pelayan yang sudah menungguku di depan rumah itu.
"Silakan, Nona! Tuan Muda sudah menunggu di dalam." Kata Pak James sambil membukakan pintu mobilnya.
"Terima kasih, Pak!" Jawabku.
"Nona, biar kami yang mengantar ke dalam!" Kata kedua pelayan itu sembari menuntunku.
Akhirnya, aku memasuki rumah Alex itu. Aku benar - benar tercengang dengan segala isinya. Mataku benar - benar sibuk menjelajahi setiap sudut rumah itu. Dua pelayan itu membawaku menuju sebuah ruang tamu yang sangat luas. Aku melihat Alex yang sedang sibuk dengan seperangkat alat gamenya sehingga dia tidak menyadari kedatanganku.
"Maaf, Tuan Muda! Nona Alessia sudah datang!" Ucap pelayan itu.
"Mana? Alessia, kamu sudah datang! Aku sudah menunggumu dari tadi." Ucap Alex dengan senyumannya.
"Iya, Alex! Maaf membuatmu menunggumu!" Ucapku.
"Duduklah di sini dulu! Kalian semua tolong tinggalkan kami sendiri!" Ucap Alex kepada pelayannya.
"Baiklah, Tuan Muda!" Ucap pelayan itu.
Kedua pelayan itu pun pergi meninggalkan kami berdua disitu.
"Alessia, kamu sudah sarapan?" Tanyanya.
"Belum. Aku baru saja mau sarapan, tapi Pak James sudah datang menjemputku." Jawabku.
"Ohh gitu! Kalau begitu makan ini dulu sebagai pengganjal karena sebentar lagi makan siang. Kita main game dulu saja! Nanti sekitar jam dua, desainer pribadiku akan datang. Jadi, kita bersantai saja dulu!" Ucapnya sambil menyodorkan sepotong roti padaku.
Aku memakan roti itu dengan lahap karena perutku benar - benar tidak pandang toleransi lagi.
"Alex, apakah kamu hanya sendiri di rumah ini?" Tanyaku penasaran.
"Iya! Tapi tidak juga. Ada kepala pelayan, pengawal dan supirku yang juga tinggal di sini. Meski bukan di dalam rumah ini juga. Mereka punya rumah sendiri yang khusus di belakang rumah ini." Jelasnya.
"Berarti itu sama saja kamu tinggal sendiri disini. Pasti kamu benar - benar kesepian tinggal di rumah yang besar ini." Ucapku merasa kasihan padanya.
"Kalau kamu kasihan padaku, datanglah lebih sering ke rumahku ini! Kita bisa menghabiskan waktu bersama. Soalnya aku juga merasa bosan main sendiri. Jujur, kamu adalah tamu pertama yang kubawa ke rumah ini. Jadi, maaf aku belum benar - benar menyambutmu dengan baik karena aku belum mengerti cara menyambut teman ke rumah!" Ucapnya.
"Tidak apa - apa, kok, Alex! Aku sudah senang kamu membawaku kesini. Aku janji akan lebih sering mengunjungimu!" Ucapku sambil tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita main game dulu! Yang kalah harus menuruti keinginan yang menang!" Ajaknya.
"Dasar Pengganggu! Itu tidak adil. Kan aku baru pertama kali memainkannya." Ucapku tidak terima dengan syaratnya.
Meski begitu, aku tetap ikut bermain bersamanya. Aku tidak ingin dia merasa kesepian dan tidak diinginkan. Aku tidak menyangka bahwa keadaannya sungguh mengkhawatirkan. Rumah ini mungkin benar - benar lebih nyaman dari rumahku. Hampir semuanya ada dan tersedia untuknya. Tapi aku merasa suasananya tidak sehangat seperti di rumahku. Disini begitu dingin dan juga sepi. Aku tidak percaya dia bisa menahannya seorang diri. Di rumahku, aku masih memiliki papa dan adikku yang selalu menemani dan mendukungku. Sedangkan dia hanya seorang diri dalam kesendiriannya di dalam rumah yang terasa tidak ada kehidupan ini. Sebagai seorang teman yang dipercayainya, aku tidak bisa tinggal diam melihatnya seperti itu. Setidaknya mulai dari sekarang, aku akan berusaha membuat hidupnya lebih berwarna lagi dan mengusir segala rasa kesepiannya selama ini. Aku akan menemani dan mendukungnya selalu hingga dia tidak merasa sepi lagi dan dapat merasakan kehangatan. Benar! Sebuah kehangatan.
Ti darĂ² quel calore!