Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Tiga Puluh Meet With His Stepbrother Part 2 (I Think You Misunderstood Him)



Tubuhku masih saja beku dari tadi. Otakku juga seakan berhenti bekerja. Aku masih tertegun menatapnya tanpa mengatakan apa - apa.


"Halo! Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi setelah bertemu kemarin di rumahku! Meski begitu, kita belum sempat berkenalan kemarin karena ada sedikit masalah yang terjadi. Maafkan ibuku, ya yang sudah salah paham padamu! Kalau begitu, perkenalkan namaku Leonardo Scott. Kamu bisa panggil aku, Leo!" Ucapnya menyapaku.


Tapi, aku masih saja bingung dan terdiam tanpa mengatakan apapun. Aku tahu kalau Alex benar - benar tidak menyukainya. Aku tidak ingin Alex marah padaku jika aku berinteraksi dengan kakak tirinya itu.


"Hai, kamu tidak apa - apa?" Ucapnya lagi sambil mengayunkan tangannya di depan wajahku.


"Ahh...maafkan aku! Perkenalkan juga, namaku Alessia Baker. Kakak bisa pangil aku, Alessia saja! Terima kasih sekali lagi karena sudah membantu mengambilkan sheet musik ini!" Ucapku sambil menunduk.


"Ahh... tidak apa - apa! Kamu tidak perlu sungkan begitu! Ohh... aku baru ingat! Ayahku mengatakan bahwa permainan pianomu benar - benar mengagumkan saat festival waktu itu. Sayangnya, hari itu aku tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak. Mungkin lain kali aku punya kesempatan untuk melihat permainan pianomu! Aku juga seorang pianis sepertimu, tahu! Jadi, aku sangat antusias menantikannya! Sepertinya kamu sangat tertarik dengan karya Chopin ini! Apakah kamu salah satu penggemarnya? Jujur, aku juga sangat mengagumi karya - karyanya. Aku selalu membawakan lagunya pada acara - acara penting perusahaan." Ucapnya bersemangat.


Aku pikir sebelumnya kalau kakak tirinya ini memiliki sikap yang kurang baik. Ternyata, dia memiliki pesona untuk membuat orang lain tidak berhenti memandangnya. Aku tidak terlalu jelas melihatnya kemarin. Ternyata, parasnya benar - benar tampan dan juga tinggi. Dia mempunyai cara bicara yang sopan dan lembut. Bahkan, aku juga bisa menilai cara berpakaiannya yang sederhana tapi tetap terlihat mewah dan berkelas. Bahkan, aku tidak menyadari bahwa sekarang mataku hanya terfokus untuk memandanginya saja.


"Ahh... kamu terlalu memujiku, Kak! Sebenarnya aku baru saja mau memulai untuk belajar! Kemampuan pianoku masih di bawah rata - rata. Jadi, aku ingin mencoba berlatih dengan lagu - lagu lama!" Tandasku.


"Hmm... kalau kamu baru mau belajar, harusnya kamu jangan langsung memulainya dengan karya Chopin ini! Soalnya lagu ini memiliki ritme yang cepat dan jedanya pun sedikit. Nantinya, kamu akan merasa kesulitan mengikuti tempo dan alurnya! Kalau begitu, bagaimana kalau aku kasih saran yang bagus untuk pemula sepertimu? Mari ikut aku!" Ucapnya sambil tersenyum dan menarik tanganku.


Tangannya terasa halus seperti tangan bayi. Dia menggenggam tanganku dengan begitu lembut dan membawaku ke sebuah rak yang bertuliskan "Kumpulan Karya Ludwig van Beethoven". Kemudian dia mengambil sebuah sheet musik dari rak itu.


"Kurasa karya Beethoven ini yang paling tepat untukmu yang menyukai tantangan! Kamu pasti sudah tahu, kan, karyanya yang berjudul "Fur Elise"?" Ucapnya.


"Iya, aku sudah pernah mendengarnya! Itu termasuk karyanya yang terkenal, bukan?" Balasku.


"Benar sekali! Lagu ini kedengarannya cukup mudah. Tapi, sebenarnya, lagu ini juga mempunyai kesulitan di beberapa titik tertentu. Selain itu, untuk membuatnya menjadi sebuah penampilan yang sempurna, diperlukan perasaan yang begitu dalam dari pianisnya agar nada - nada yang dihasilkan juga bisa menyampaikan makna yang secara utuh." Jelasnya.


"Waahh... Kakak benar - benar hebat dan mengerti tentang musik sampai ke akar - akarnya! Aku benar - benar sangat menghargainya! Aku akan pinjam ini juga untuk latihan di rumah! Terima kasih, Kak!" Ucapku sambil tersenyum dan memberikan dua ibu jariku padanya.


"Ahh..ini pertama kalinya aku mendapat pujian yang begitu meriah seperti ini! Terima kasih kembali, ya, Alessia!" Ucapnya tersipu malu sambil menggaruk kepalanya.


Baru saja kami saling berbincang - bincang, tiba - tiba dia terbatuk - batuk tiada henti.


"Uhuk...uhuk...uhuk" Suara batuknya yang terdengar parah.


"Aku tidak apa - apa! Aku memang sudah biasa batuk seperti ini! Uhuk...uhuk..." Ucapnya terbata - bata sambil menutup mulutnya dengan sebuah saputangan yang diambilnya dari sakunya.


Dia mengatakan bahwa dia tidak apa - apa. Tapi, aku tidak buta. Aku bisa melihat wajahnya yang pucat sejak tadi. Ditambah lagi, aku mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan bau obat - obatan. Dia pasti sedang sakit. Aku rasa batuknya itu bukanlah batuk biasa.


"Sepertinya Kakak benar - benar sakit! Kakak tunggu disini, ya! Aku akan memanggil seseorang untuk menolongmu!" Ucapku sambil berbalik dan berusaha mencari bantuan.


Tapi, langkahku pun terhenti. Kak Leo menarik pergelangan tanganku hingga aku tidak bisa melangkah maju. Kemudian dia meletakkan kepalanya di bahuku dan bersandar di punggungku seraya berbicara dengan nada pelan sambil menahan sakitnya.


"Aku sudah bilang aku tidak apa - apa, Alessia! Tetaplah disini dan jangan tinggalkan aku! Aku mohon sebentar saja!" Ucapnya.


Tapi, yang membuatku benar - benar berhenti bukanlah Kak Leo melainkan orang yang sedang berdiri di hadapanku. Dia adalah Alex yang baru saja kembali setelah membeli minuman untuk kami. Dia menatapku dan melihat tanganku yang sedang digenggam oleh kakaknya. Seketika wajahnya pun berubah menjadi merah. Bahkan, dia menjatuhkan makanan dan minuman yang dibawanya ke lantai. Aku terkejut setengah mati kemudian seluruh tubuhku merasa gemetar dan berkeringat tidak karuan hingga tidak bisa bergerak lagi. Alex langsung menghampiriku dengan cepat dan berusaha memisahkan kami. Dia merebut tanganku lalu mendorong Kak Leo dengan kuat hingga jatuh ke lantai. Kemudian dia kembali menghampirinya dan menarik kerah bajunya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Apa kamu masih belum puas dengan apa yang sudah kamu dapatkan? Sekarang kamu berniat mengambil seorang lagi yang berharga bagiku. Tidak! Kali ini, aku tidak akan membuka sedikit kesempatan sedikitpun untukmu untuk mengambil Alessia dariku! Dia adalah milikku untuk selamanya!" Ucap Alex menyeringai.


Aku melihat Alex yang sudah naik pitam itu mulai melayangkan tangannya. Aku takut dia akan mencoba untuk memukul Kak Leo. Sebelum itu terjadi, aku harus berusaha menghentikannya.


"Alex, hentikan! Jangan memukulnya! Dia sedang sakit. Kamu hanya akan membuatnya menjadi lebih parah!" Teriakku sambil berusaha melepaskan genggamannya dari kerah baju Kak Leo.


"Alessia, apa kamu membelanya? Apa yang sudah dia katakan padamu hingga kamu memihaknya sekarang? Katakan padaku sekarang!" Ucapnya sambil berteriak padaku.


"Aku tidak sedang membelanya! Aku hanya mencoba agar kamu tidak membuat masalah yang lebih serius! Kamu tidak perlu mengotori tanganmu dengan cara memukulnya! Apakah kamu tidak melihat orang - orang sedang melihat kita? Mari kita pergi saja sekarang! Ayo, Alex! Lepaskan tanganmu darinya!" Ucapku.


Akhirnya, aku berhasil membuatnya berhenti. Dia pun melepaskan genggamannya meski terlihat agak kasar. Aku langsung merangkul lengannya dan menariknya untuk menjauhi Kak Leo.


"Leonardo Scott, aku peringatkan padamu sekali lagi! Jangan pernah lagi berusaha mengusikku dengan mendekati Alessia! Mungkin kamu sudah berhasil mendapatkan perhatian yang lebih dari orang - orang di luar sana yang melihatmu khususnya ayah kita,dengan menjadikan penyakit palsumu itu sebagai senjatamu! Tapi, aku tidak akan membiarkan Alessia juga tertipu oleh tipu muslihatmu itu! Kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini! Bagiku, kamu bukanlah siapa - siapa lagi sekarang! Jadi, usahakan untuk tidak muncul lagi di hadapanku! Jika kamu masih saja berusaha muncul, mungkin hari itulah kamu akan melihat dunia ini untuk terakhir kalinya!" Ucap Alex yang langsung memegang tanganku dan membawaku pergi bersamanya.


Aku tidak bisa berkata - kata lagi setelah itu. Aku hanya bisa melihat kemarahan yang terpancar dari wajah Alex dan memilih untuk mengikutinya kemanapun dia akan membawaku. Sesekali aku melihat ke belakang untuk memastikan kakak tiriya itu sudah mendapatkan pertolongan atau tidak. Untung saja, banyak orang yang melihat kejadian itu langsung bergegas menghampirinya. Setidaknya, meski Alex membencinya, tetap saja benar - benar tidak manusiawi jika kita tidak mencoba menolongnya. Mungkin karena Alex tidak tahu kalau kakaknya itu benar - benar sedang sakit sekarang dan ditambah lagi dengan bumbu kebenciannya yang mendarah daging itu. Jadi, dia berusaha mengabaikannya begitu saja tanpa melirik dan peduli sedikitpun. Kak Leo juga tidak merespon apapun tentang apa yang Alex katakan barusan. Tapi, aku melihat dengan jelas dari wajahnya kalau dia mempunyai kerinduan untuk berdamai. Aku tidak tahu masalah apa yang membuat mereka saling bermusuhan. Tapi, aku yakin pasti ada kesalahpahaman di antara mereka yang belum terpecahkan. Ya, aku yakin sekali itu!


Dimmi la verità!