
Sudah lima belas menit yang lalu, Pak James pergi untuk mengantar Pak Dokter itu pulang dan sampai sekarang masih belum kembali. Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rasa kantuk pun menyerangku hingga rasanya ingin jatuh. Aku benar - benar perlu istirahat sejenak. Sedari tadi, aku sudah duduk di atas sofa sambil memandangi seisi rumah. Suasananya sangat dingin dan hening tanpa suara apapun. Para pelayan pun tidak terlihat satupun batang hidungnya. Aku bisa merasakan kesepian yang meliputi rumah ini. Kemudian aku teringat pada Alex yang sudah tertidur di kamarnya. Kuangkat badanku dan memilih untuk menghampiri dan melihat sendiri keadaannya.
Aku berjalan menyusuri tangga yang dingin itu dan akhirnya berhenti di depan sebuah kamar. Ada sedikit keraguan dalam hatiku. Antara ingin masuk atau tidak. Tapi, jujur, aku juga penasaran. Aku memegang daun pintu itu dan membuka secara perlahan sembari berusaha masuk tanpa menimbulkan suara yang mengganggu.
Akhirnya, aku bisa melihatnya. Lalu, aku duduk di ranjang untuk melihatnya lebih dekat. Dia terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Bahkan, dia tersenyum manis dalam tidurnya. Aku mengusap sedikit keringat yang membasahi wajahnya. Tanpa sadar, aku sudah memandangi wajahnya sekitar lima belas menit. Dia terlihat sangat tampan saat tertidur- Gumamku seraya tersenyum malu. Entah apa yang barusan aku pikirkan.
Aku memandanginya lebih lama lagi dan sesekali menyentuh wajahnya itu. Tiba - tiba, muncullah tangan yang memegang dan meraih tanganku.
"Alessia, mau sampai kapan kamu akan memandangiku? Apa kamu begitu mengagumi ketampananku sehingga kamu tidak bisa berhenti menyentuh wajahku?" Ucap Alex yang terbangun dari tidurnya.
Aku berusaha menarik tanganku. Namun, dia tetap memegangnya kuat dan akhirnya tanganku itu mendarat di atas dadanya.
"Maafkan aku karena mengganggu tidurmu! Aku hanya ingin melihatmu sambil mengusap keringatmu. Bagaimana perasaanmu sekarang?" Ucapku menanyakan keadaannya.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya. Semuanya itu karena kamu ada di sisiku, Alessia!" Ucapnya sambil menutup kedua matanya.
"Sepertinya aku benar - benar mengganggu tidurmu! Sebaiknya aku pergi tidur juga ke kamar sebelah!" Ucapku sambil berdiri.
Ketika aku mencoba berdiri, tiba - tiba dia menarikku lagi dengan kuat. Kali ini seluruh tubuhku pun mendarat di atas ranjangnya. Dia membuatku berbaring di sampingnya dengan posisi saling berhadapan dengannya dan akhirnya memelukku dengan hangat.
"Jangan pergi, Alessia! Tetaplah di sini bersamaku! Tidurlah bersamaku malam ini saja! Bukankah kamu sudah berjanji tadi?" Bisiknya.
"Tapi maksudnya tidak satu ranjang juga. Aku akan tidur di kamar lain. Jadi, lepaskan aku!" Ucapku berusaha melepaskan diri.
"Sebentar lagi! Sebentar lagi akan kulepaskan! Sudah lama aku tidak merasakan pelukan yang hangat seperti ini! Ibuku selalu memelukku ketika tidur dan mencium keningku sebelum aku tidur. Rasanya sangat nyaman." Ucapnya.
Jarak di antara kami sangat dekat dan saling bersentuhan. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang bercampur dengan bau obat - obatan. Aku tidak pernah tahu kalau dia selama ini sebenarnya sakit. Dia benar - benar pandai menyembunyikannya atau aku ini memang bodoh sejak awal.
Tidak terasa sudah hampir dua puluh menit dia memelukku. Bahkan, dia tidak bersuara sama sekali. Aku hanya mendengar suara napasnya yang silih berganti. Detak jantungnya yang saling bersahutan seirama dengan detak jantungku.
"Alex! Kapan kamu akan melepasku?" Ucapku.
Tapi, dia tidak memberikan jawaban sama sekali. Aku pikir sepertinya dia sudah terlelap dalam tidurnya. Kali ini aku mencoba melepaskan diri darinya. Secara perlahan aku mencoba mengangkat tangannya yang menjeratku dan meletakkannya ke atas tubuhnya. Kemudian aku menarik tubuhku dan akhirnya aku terbebas dari jeratannya. Aku langsung membalikkan badanku ke arah yang berlawanan. Namun, tiba - tiba terjadi sesuatu yang tidak terduga. Dia kembali memelukku dari arah belakang. Dagunya pun langsung mendarat tepat di bahu kananku.
"Alessia, kamu barusan bertanya padaku,kapan aku akan melepaskanmu? Jawabanku adalah tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah melepasmu kapanpun juga. Meski, kamu berusaha melarikan diri dariku, aku pasti akan menemukan dan menangkapmu lagi hingga kamu tidak punya pilihan selain tinggal selamanya bersamaku. Jadi, jangan coba - coba meninggalkan aku, ya!" Ucapnya.
"Alex, tanpa kamu minta sekalipun, aku akan tetap bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita kan sudah berjanji soal itu. Meski seandainya aku harus pergi suatu saat nanti untuk semata - mata mengejar impianku di masa depan, tentu aku pasti mengingat dan membawamu bersamaku di dalam hatiku. Dan pasti aku akan kembali kepadamu. Jadi, jangan terlalu khawatir dan bersikap seperti ini! Aku akan menjadi teman yang selalu mendukungmu tapi bukan berarti aku harus mengabaikan hidupku. Aku juga mempunyai impian yang ingin kucapai. Sama seperti dirimu. Kita akan mencapai impian kita masing - masing dengan saling mendukung dan selalu bersama dalam suka dan duka. Dan kamu juga harus berjanji untuk melakukan hal yang sama, ya? Jangan pernah meninggalkan temanmu ini!" Ucapku.
" Iya, aku janji. Jujur, aku memang mengerti soal itu! Tapi, sebenarnya, bukan itu yang aku maksud. Hehe... Kamu ini benar - benar tidak peka, ya, Dasar Bodoh!" Ucapnya sambil tertawa mengejek dan berusaha mengacak - acak rambutku.
"Sekarang kamu berani memanggilku Bodoh, ya, Dasar Pengganggu! Jadi, maksud perkataanmu tadi itu apa? Jelaskan padaku sekarang juga!" Ucapku marah sambil membalikkan badanku sehingga berhadapan dengannya.
"Aku tidak ingin mengatakannya padamu. Itu akan menjadi rahasia kecilku! Jadi, jangan tanya lagi, Gadis Pita Merah!" Ucapnya sambil menjentikkan jarinya ke hidungku.
"Ahhh...Alex, aku akan mengganggumu hingga kamu tidak bisa tidur malam ini kalau kamu tidak memberitahuku segera! Kamu membuatku jadi penasaran, tahu!" Ucapku kesal sambil menendang - nendang kakinya.
" Aduh, sakit, Alessia! Ampun! Ampun!" Ucapnya sambil meringis kesakitan.
"Maaf, maaf, yang mana yang sakit?" Ucapku khawatir.
"Tapi, bohong! Hahaha.." Ucapnya sambil tertawa.
"Kamu mengerjaiku, ya! Dasar Pengganggu, tunggu saja akan kubalas kamu nanti!" Ucapku setengah marah dan kesal.
"Hoaammm.... Sekarang aku sudah ngantuk berat, Alessia! Sudah - sudah main tendang - tendangnya, ya! Besok dilanjutkan kalau mau! Besok kan kita harus pergi ke sekolah. Jadi, harus bangun lebih pagi." Ucapnya sambil merangkul dan memelukku.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, aku boleh tidur di sini?" Kataku.
"Iya, tidurlah di sini bersamaku malam ini!. Selamat malam, Alessia!" Ucapnya sambil menatapku.
"Tunggu dulu, Alex!" Ucapku sambil mencium dahinya.
"Ciuman di kening dulu, kan sebelum tidur? Kalau begitu, selamat malam, Alex! " Ucapku sambil tersipu malu.
"Selamat malam juga, Alessia! Semoga mimpi indah untukmu!" Ucapnya sambil membalas ciuman ke keningku juga.
Akhirnya aku menyerah padanya malam itu. Aku pun tertidur lelap dalam dekapannya sepanjang malam. Bahkan, aku masih sempat melihatnya tersenyum manis dalam tidurnya sebelum akhirnya terlelap. Kami menutup hari yang panjang dan melelahkan itu dengan sebuah pelukan yang hangat dan ciuman di kening kami masing - masing. Benar - benar sungguh kenangan yang manis yang tidak akan terlupakan.
Quei ricordi sono davvero dolci!