
Sudah tiga hari sejak hari itu. Kakiku yang terluka kemarin perlahan sembuh meski saat berjalan masih terasa nyeri di pergelangan kaki. Ini berkat perhatian Papa dan Alexa yang banyak membantuku dalam proses penyembuhan. Meski awalnya Papa sangat khawatir dan sedikit rewel karena kecerobohanku, tapi Papa tetap merawatku dengan baik. Sebenarnya, Alex juga turut andil dalam hal ini. Dia mengirimkan tukang pijat ke rumahku tepat di hari berikutnya. Hanya saja dia tidak datang hingga hari ini. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang. Aku berpikir memang sebaiknya kita berdua perlu waktu sendiri untuk menenangkan diri.
Jujur, aku merasa bosan karena harus berada di tempat tidur sepanjang hari terlebih sekarang ini adalah waktunya untuk berlibur. Tapi, aku tidak kehabisan akal. Aku berusaha mengisi waktu luangku dengan melukis beberapa lukisan. Selain itu, berhubung kemarin saat kami pergi dari perpustakaan dengan terburu - buru, aku tidak sengaja membawa semua sheet musik yang aku pegang dan akhirnya sheet musik itu sekarang bertengger di kamarku. Aku baru menyadari mengapa petugas perpustakaan itu memanggil kami hari itu. Pasti karena sheet musik ini. Karena sudah terlanjur terjadi, sebaiknya aku mencoba untuk mempelajari sekaligus melatih otot jariku yang mulai kaku ini. Aku juga membuat salinannya untuk disimpan sebagai arsipku.
Untuk pertama kalinya sejak delapan tahun lalu, aku membuka lagi piano yang penuh kenangan tentang dirinya. Piano yang sangat berharga bagi ibuku ini sekarang tampak berdebu dan tidak terawat karena diletakkan di dalam gudang. Aku langsung mengambil lap dan membersihkannya dari seluruh debu tebal yang menempel. Setelah hampir setengah jam, akhirnya aku bisa melihat wujudnya seperti sedia kala. Lalu, aku berpikir lagi sejenak. Aku rasa sepertinya piano ini harus dipindahkan ke tempat yang bisa terlihat dan dijangkau. Jadi, setelah melihat - lihat tempat yang mungkin sesuai, akhirnya aku memutuskan untuk memindahkannya ke ruang keluarga. Aku pun mulai mendorong piano itu dengan sekuat tenaga. Alhasil, piano itu tidak bergerak sama sekali karena pianonya benar - benar berat dan ditambah dengan kakiku yang masih sakit. Jadi, sekarang aku harus berusaha mencari cara untuk memindahkannya.
Ketika aku sibuk berpikir, Papa yang baru pulang kerja dan melewati lorong di depan gudang, akhirnya menghampiriku.
"Alessia, apa yang sedang kamu lakukan?" Ucap Papa kebingungan.
"Ahh...ini, Papa! Aku ingin memindahkan pianonya ke ruang keluarga!" Ucapku.
"Untuk apa kamu memindahkannya? Lagipula tidak ada yang akan memainkannya!" Balasnya.
"Aku, Pa! Aku mau belajar main piano lagi! Soalnya sudah sebulan ini, aku bergabung dalam klub piano di sekolah. Tapi, karena kemampuanku yang masih kurang sehingga aku kesulitan mengikuti teman yang lain. Jadi, aku ingin mengasahnya dan mencoba berlatih sendiri di rumah. Lagipula, kebetulan piano mama masih ada dan berfungsi dengan baik. Jadi, aku ingin memanfaatkannya. Boleh, kan, Pa?" Ucapku memohon.
"Entah sejak kapan kamu mengubah haluanmu dari melukis ke musik? Tapi, apapun itu Papa akan selalu mendukung semua keputusanmu! Kalau begitu, Papa akan minta paman Delon untuk membantu memindahkan piano itu karena memindahkannya perlu alat khusus dan paman Delon yang memilikinya." Ucap Papa sambil tersenyum.
"Benarkah? Terima kasih, Papa! Kapan pianonya akan dipindahkan?" Ucapku penasaran.
"Kalau paman Delon tidak sibuk, mungkin Papa akan memintanya untuk datang hari ini juga sekaligus Papa juga mau berbincang dengannya karena kita sudah lama tidak bertemu." Ucapnya.
"Horee... Papa memang yang terbaik! Kalau begitu, aku mau izin pergi ke perpustakaan kota sekarang, ya, Pa!" Ucapku.
"Apa yang ingin kamu lakukan di sana? Bukankah kakimu masih sakit? Apakah kamu akan pergi dengan Alex juga?" Ucap Papa yang mulai khawatir.
"Aku ingin meminjam sheet musik sekaligus mengambil kartu anggota yang tidak sempat aku ambil kemarin di perpustakaan. Kakiku sudah baik - baik saja, Pa! Buktinya hari ini aku sudah bisa mencoba mendorong piano ini meski tidak berhasil! Dan untuk hari ini aku akan pergi sendiri soalnya Alex sepertinya lagi sibuk. Jadi, aku tidak ingin mengganggunya dulu. Jadi, aku boleh pergi, ya?" Ucapku dengan mata berkaca - kaca.
Aku tidak bisa mengatakan pada Papa kalau hubunganku dengan Alex agak kurang baik akhir - akhir ini. Jadi, aku lebih baik mengatakan dia sedang sibuk agar Papa tidak terlalu curiga dan khawatir padaku.
"Baiklah! Tapi, hati - hati, ya! Kamu sewa taksi saja! Ini uangnya! Kamu boleh bersemangat seperti ini, hanya saja jangan lupa waktu! Pulanglah sebelum pukul enam sore, ya, Alessia!" Ucapnya sambil mengelus rambutku.
"Baik, Pa! Aku pasti hati - hati dan pulang tepat waktu! Kalau begitu, aku pergi sekarang, ya, Pa! Sampai jumpa! Aku sayang Papa!" Ucapku sembari pergi.
Aku pergi ke kamarku untuk berganti pakaian lalu meraih sheet musik yang kemarin terbawa olehku dan memasukkannya ke dalam tas ranselku kemudian membawanya di punggungku. Setelah itu, aku langsung beranjak pergi ke kamar adikku, Alexa untuk menitipkan sesuatu.
"Alexa, kakak mau pergi ke perpustakaan kota,ya! Kakak sudah masak untuk makan siang dan menaruhnya di kulkas. Kalau mau makan nanti, kamu panaskan dulu di kompor! Kemudian kalau paman Delon datang, tolong buatkan kopi untuknya! Pokoknya jangan bersembunyi di kamar terus! Keluarlah dan berbaurlah sedikit! Kakak tahu kamu itu sangat berambisi dalam belajar. Tapi, ada baiknya kamu menikmati sedikit waktu liburmu itu!" Ucapku.
"Iya, Kakakku yang cantik! Selamat bersenang - senang di perpustakaan, ya!" Ucapnya dengan ekspresi mengejeknya.
"Jangan salah paham dulu! Kakak ke perpustakaan dengan tujuan untuk melakukan hobi baru Kakak bukan untuk belajar, tahu! Ya, sudah itu saja pesan dari Kakak! Lanjutkan belajarnya dan jangan lupa istirahat! Sampai jumpa nanti sore, Alexa!" Ucapku.
"Oke, Kak! Sampai jumpa juga!" Ucap Alexa yang matanya tidak henti - hentinya menatap buku.
Alexa memang benar - benar ambisius kalau sudah terobsesi dengan sesuatu. Terkadang aku sedikit khawatir dengannya. Aku takut dia tidak memiliki teman satupun. Meski begitu, selama yang dilakukannya itu benar dan positif, aku sebagai kakaknya akan terus mendukungnya.
Setelah dari kamar Alexa, aku langsung bergegas pergi ke perpustakaan. Sebelum itu, aku juga berpamitan dengan Papa. Aku
menemuinya di teras depan yang sedang menyeruput kopi panasnya.
"Papa, Aku pergi dulu, ya!" Ucapku sembari menuruni tangga teras.
"Iya, hati - hati, ya, Nak!" Balas Papa sambil tersenyum.
Akhirnya, aku benar - benar pergi. Aku memanggil taksi dan langsung menaikinya.
"Pak, tolong antar saya ke perpustakaan kota, ya?" Ucapku.
"Baik, Nona!" Balas Supir taksi itu.
Kali ini, aku benar - benar menikmati waktu sendiriku. Selama perjalanan, aku juga menikmati suasana kota Venice yang begitu bercahaya dan juga panas. Meski cuacanya sedikit panas, hal itu tidak menyurutkan semangatku untuk berburu di perpustakaan nantinya.
Sekitar lima belas menit, akhirnya aku sampai di perpustakaan kota.
"Ohh...benar! Terima kasih, Pak! Ini uangnya!" Ucapku.
"Terima kasih, Nona! Semoga hari Nona menyenangkan!" Ucapnya sambil tersenyum.
Aku pun keluar dari taksi dan kemudian berjalan masuk ke dalam perpustakaan itu. Aku langsung menuju tempat resepsionis dan bertemu dengan petugas yang sama seperti tiga hari yang lalu.
"Selamat siang, Bu!" Sapaku sedikit ragu.
"Selamat siang, Nona! Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya membalas sapaanku.
"Eung...itu! Maaf, saya adalah orang yang tidak sengaja membawa sheet musik tiga hari yang lalu tanpa melaporkan dulu ke resepsionis. Saya mohon maaf sebesar - besar! Soalnya saya lagi terburu - buru kemarin!" Ucapku sambil menunduk dalam dengan perasaan tidak karuan.
"Ohh...kamu yang kemarin bersama Tuan Muda Scott, ya! Tenang saja, Nona, Tuan Muda sudah membayar semuanya! Bahkan, dia sudah menunggu dari tadi! Kalau begitu, saya panggilkan dulu, ya!" Ucapnya sembari pergi meninggalkan aku sendiri di meja resepsionis.
"Ehh... Bu! Tunggu, maksud Ibu, Tuan Muda yang mana?" Ucapku sembari berusaha mencegatnya tapi tidak berhasil.
Aku memutuskan untuk menunggunya. Tidak berselang lama, akhirnya dia pun kembali bersama seseorang yang tidak asing lagi bagiku. Aku kira dia mungkin adalah Alex. Ternyata, dia adalah Kakaknya, Leo. Seharusnya aku menghindarinya. Malah aku sendiri yang mendatanginya. Aku benar - benar sial. Aku tidak tahu kalau dia akan sering ke sini.
"Alessia, apa kabar? Aku minta maaf soal yang kemarin!" Ucapnya menyapaku.
"Kabarku baik, Kak! Terima kasih sudah membayarkan tagihanku! Aku akan menggantikannya sekarang juga! Berapa jumlah tagihan saya yang kemarin, Bu?" Ucapku sambil membuka dompetku.
"Ohh, itu tergantung berapa lama anda meminjamnya dan apa jenis barang yang dipinjam, Nona! Tuan Muda sudah memasukkannya ke dalam tagihan bulanannya. Jadi, saya hanya tinggal menunggu Anda mengembalikannya lalu menghitungnya dan memasukkannya ke tagihan Tuan Muda. Apakah anda akan mengembalikannya hari ini?" Jelasnya.
"Iya, Bu!" Jawabku sambil menyerahkan sheet musik yang aku pegang kepadanya.
Petugas itu pun menghitungnya dengan sebuah kalkulator dan mencetak struknya lalu memberikannya padaku.
"Ini, Nona! Semua totalnya sepuluh euro! Apakah mau dibayar cash atau pakai kartu?" Ucapnya.
Mataku benar - benar terbelalak tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Mengapa bisa semahal ini? Meski uang yang kubawa masih cukup untuk membayarnya, tapi tetap saja aku tidak memiliki ongkos lagi untuk pulang dengan taksi. Dia melihatku seperti orang yang kebingungan dan akhirnya dia memyadari sesuatu.
"Alessia, biar aku yang membayar tagihan ini! Kamu tidak perlu menggantinya! Lagipula, ini semua karena kesalahanku! Biarkan aku menebusnya! Tolong masukkan ke tagihanku saja, Bu Claire!" Ucap Kak Leo.
"Terima kasih banyak atas bantuannya! Ahh...aku tidak merasa enak, Kak! Aku pasti akan menggantinya lain waktu!" Ucapku.
"Sudah aku katakan kamu tidak perlu menggantinya!" Ucapnya.
"Tapi..." Ucapku tidak enak hati.
"Aku tidak menerima pengembalian sesuatu yang sudah aku berikan! Kalau kamu memaksa, bagaimana kamu temani aku minum jus di cafe seberang sana? Maukah?" Ucapnya.
"Ahh... itu!" Ucapku ragu.
"Tenang saja, Alessia! Hanya sebentar, kok! Alex tidak akan tahu soal ini! Kita rahasiakan di antara kita berdua saja! Bagaimana?" Ucapnya.
"Baiklah! Tapi, saya hanya bisa sebentar, Kak! Soalnya saya masih ada urusan di rumah!" Balasku.
"Oke, tidak masalah!" Ucapnya.
"Ohh, iya, Nona! Ini kartu anggotanya yang kemarin sudah dicetak! Terima kasih sudah berkunjung! Semoga datang kembali!" Ucap petugas resepsionis itu.
"Ahh...iya, terima kasih! saya pasti kembali lagi! Selamat siang!" Ucapku sambil tersenyum.
"Ayo, kita ke sana sekarang juga!" Ajak Kak Leo.
"Baiklah, Kak!" Balasku.
Aku tidak tahu apa yang aku lakukan ini benar atau tidak. Di satu sisi, aku takut jika Alex sampai tahu aku menemui kakaknya tanpa sepengetahuannya, dia pasti akan marah padaku. Tapi, di sisi lain, aku tidak bisa menolak ajakan Kak Leo yang sudah berbaik hati untuk membayar tagihanku. Selain itu, aku juga memiliki rasa ingin tahu mengenai sesuatu di balik senyuman manis dari Kakaknya Alex ini serta sikapnya yang berusaha akrab denganku. Apakah itu tulus atau tidak? Aku juga belum bisa memastikannya. Aku tidak tahu sebenarnya ada motif apa di belakang sikapnya itu. Hanya saja saat ini, aku sudah punya firasat yang tidak baik tentangnya.
Mostra cosa c'è dietro il tuo sorriso!