Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Sebelas Who Are You? You're My Best Friend



Sudah hampir setengah hari, kami menghabiskan waktu di rumah musik. Selain mencoba - coba instrumen yang ada, kami juga mencoba membersihkan rumah itu dari debu yang menempel. Aku juga mencoba menyelesaikan tugas salinan formulir yang telah dikumpulkan selama tiga hari ini.


"Ohh, iya, Alex! Apakah kamu sudah mengisi formulir yang kemarin? Soalnya aku mau membuat salinannya dan rencananya mau dikumpulin ke panitia setelah pulang sekolah." Ujarku.


"Ohh, aku hampir saja lupa. Tunggu dulu sebentar! Masih ada yang perlu aku isi." Balasnya sambil merogoh isi tasnya.


Alex pun mengisi formulirnya dengan cepat dan langsung memberikannya padaku. Aku pun langsung melihat formulir miliknya.


"Sepertinya kamu benar - benar sudah memantapkan hati, ya. Bahkan, kamu sudah memilih sebuah lagu untuk dibawakan. Aku sungguh bangga padamu!" Ucapku sambil tersenyum.


"Tentu saja! Festivalnya kan sebulan lagi. Jadi, aku harus menentukannya dari sekarang. Memangnya ada apa dengan konsep lukisanmu? Bukankah sudah dari kemarin kamu membuatnya?" Tanyanya.


"Iya, nih, aku payah sekali. Aku membuat beberapa konsep dan pada akhirnya aku sendiri bingung memilihnya. Tapi, tenang saja, hari ini pasti selesai, kok. Ngomong - ngomong, aku belum pernah mendengar lagu ini?" Ucapku.


"Ternyata kamu jeli juga. Sepertinya pengetahuanmu tentang musik klasik juga sangat luas. Iya, tentu saja kamu belum pernah mendengarnya karena lagu ini sepenuhnya karya buatanku. Aku sendiri yang menggubahnya. Sebenarnya lagu inilah yang ingin kutampilkan saat acara orkestra pada saat itu. Setidaknya, kali ini aku akan menampilkannya dengan percaya diri untuk pertama kalinya." Jelasnya.


"Ohh, benarkah? Aku tidak menyangka kamu sehebat itu. Bahkan, sudah bisa menulis lagu di usia sangat muda. Aku yakin kamu akan menjadi komposer terkenal nantinya." Ucapku sambil mengacungkan kedua ibu jariku.


"Terima kasih doanya. Aku yakin kamu juga pasti menjadi desainer terkemuka di dunia. Jadi setelah kamu menjadi desainer nantinya, kamu harus membuatkan desain satu stel jas untukku. Janji, ya?" Ucapnya.


"Iya, iya, itu sudah pasti. Ngomong - ngomong, apa arti dari judul lagu ini?" Kataku penasaran.


" Judulnya "lampada della vita" yang artinya pelita kehidupan. Pesan yang disampaikan dalam lagu ini adalah kasih seorang ibu pada anaknya bagaikan pelita yang akan terus menerangi hidup bagi anaknya sepanjang masa. Jadi, sebenarnya lagu ini secara khusus aku persembahkan untuk mendiang ibuku yang tidak pernah berhenti menjadi pelita hidupku." Jelasnya.


"Maknanya benar - benar sangat menyentuh. Ibumu pasti sangat baik sehingga kamu benar - benar sangat mencintainya. Beliau pasti sangat senang mendengarnya." Balasku memujinya.


"Oleh karena itu, aku tidak boleh menyerah! Aku akan menampilkan yang terbaik. Oleh sebab itu, aku butuh bantuanmu."


"Bantuanku? Apa itu?" Tanyaku.


"Maukah kamu mengiringiku dengan piano saat aku memainkan biola seperti yang tadi? Kurasa akan lebih bagus kalau lagu ini dibawakan juga dengan alunan piano." Ucapnya meminta bantuanku.


"Aku bukannya ingin menolaknya. Hanya saja aku tidak bisa janji akan bermain bersamamu nantinya karena saat itu aku juga akan sibuk menjaga stand lukisanku di pameran nanti. Selain itu, aku tidak tahu lagu ini dan permainan pianoku masih termasuk amatir. Jadi, aku tidak yakin bisa membantumu, Alex.Maaf, ya!" Ucapku merasa bersalah.


"Tidak apa - apa, kok, Alessia. Aku memang tidak seharusnya memberikan permintaan seperti itu karena kamu juga sibuk dengan karyamu. Oleh karena itu, kamu cukup fokus saja pada karyamu dan jangan khawatirkan aku! Aku pasti bisa sendiri, kok!" Katanya sambil tersenyum.


"Aku sedikit merasa bersalah padamu, Alex! Padahal, aku yang menawarkan diri untuk membantu. Malah aku yang mengingkari." Ucapku agak sedih.


Alex pun terdiam dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Alessia, bagaimana kalau kamu mengiringiku selama latihan saja? Kurasa itu sudah cukup untuk menyempurnakan nada yang akan dibawakan sekaligus aku juga mau coba menggubahnya sekali lagi. Bagaimana maukah?" Ucapnya memberi solusi.


"Selama latihan saja? Baiklah, kalau begitu. Tentu saja aku mau. Sekalian aku mau belajar bermain piano lagi." Jawabku sambil tersenyum cerah.


"Kalau begitu, malam ini aku akan buat salinan lembaran musiknya supaya kamu bisa mempelajarinya juga."


"Baiklah, Alex! Ngomong - ngomong, sekarang sudah jam tiga lebih empat puluh lima menit. Lima belas menit lagi waktunya pulang. Aku harus segera ke ruang OSIS untuk mengantar formulir - formulir ini. Apakah kamu mau ikut bersamaku sekalian kita keluar bersama?" Ajakku sambil membereskan tasku.


"Ayo, sekalian aku temani kamu ke ruang OSIS."


Kemudian dia pergi membereskan tasnya dan mengembalikan biola ke dalam tempatnya. Setelah itu, kami pergi meninggalkan rumah musik dan keluar dari taman itu. Sepanjang jalan, kami banyak berbincang - bincang sambil bersenda gurau.


Akhirnya, kami menemukan keberadaan kami di depan ruang OSIS.


"Alex, kamu tunggu di luar saja! Biar aku masuk sendiri. Tidak lama, kok. Hanya menyerahkannya saja terus langsung keluar." Ucapku.


"Baiklah, aku tunggu disini, ya!" Jawabnya.


Aku langsung mengetuk pintu dan kemudian dipersilahkan masuk oleh salah satu panitia festival.


"Hai, Kak, selamat sore! Saya ingin menyerahkan formulir festival dari kelas satu dandelion knight." Ucapku sembari menyerahkan formulir itu.


"Ohh, baiklah. Terima kasih sudah mengantarnya. Ngomong - ngomong, nama kamu Alessia, kan? Kamu yang dari kemarin pulang bareng dengan Nico?" Ucap Kakak itu.


"Iya, Kak. Ada apa, ya?" Tanyaku penasaran.


"Dari tadi dia tanya terus, apakah kamu sudah datang mengantar formulirnya atau belum. Kemudian dia titip pesan kalau dia akan menunggumu di parkiran. Baru saja dia keluar!" Jawabnya.


"Ohh, begitu, ya, Kak. Kalau begitu saya pamit pulang, ya, Kak!" Jawabku.


Sebelum aku benar - benar pergi, muncul sebuah pemikiran yang terlintas di kepalaku. Aku membalikkan badan dan kembali untuk menanyakan sesuatu kepada kakak panitia itu.


"Ohh, tentu saja boleh. Tapi karena waktunya sudah sangat dekat yaitu sebulan lagi sehingga sekolah menyarankan hanya satu saja untuk setiap siswa. Tapi, kalau siswa tersebut mampu mempersiapkan dan menampilkan lebih dari satu karya, juga tidak menjadi masalah. Ya, intinya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan masing - masing." Jelasnya.


"Ohh, begitu, ya, Kak. Terima kasih atas informasinya. Tapi misalnya saya ingin menambahkan cabang seni lagi dalam formulirnya, apakah masih bisa?" Tanyaku lebih lanjut.


"Tentu. Sekarang pun masih bisa. Batas perubahan pada formulirnya sampai pada pukul tujuh pagi pada hari festival dengan melapor ke panitia. Setelah itu tidak akan ada perubahan lagi."


"Baiklah, Kak. Sekali lagi terima kasih. Saya pamit pulang, ya, Kak. Selamat sore!" Ucapku sembari pergi keluar dari ruangan itu.


Aku pun keluar dari ruang OSIS. Aku melihat Alex bersandar di dinding sambil menungguku.


"Alex! Ayo, kita pulang!" Ucapku sambil berjalan menuju gerbang sekolah.


"Ayo, tapi kenapa lama sekali sih keluarnya?" Ucap Alex sambil menggerutu.


"Tadi aku berbincang - bincang sedikit dengan panitianya seputar festival. Jangan marah, ya!" Ujarku menggodanya.


"Siapa juga yang marah!" Ucapnya dengan ekspresi yang imut.


Akhirnya, kami pun sampai di depan gerbang sekolah.


"Alex, kita berpisah disini, ya! Sampai jumpa besok! Daah..." Ucapku sambil melambaikan tangan.


Belum sempat Alex membalas ucapanku, Kak Nico lewat dan memanggilku.


"Alessia! Ayo, pulang bersama! Aku sudah menunggumu dari tadi." Ujar Kak Nico sambil tersenyum kepadaku.


Aku tidak bisa berkata - kata mengingat apa yang telah terjadi pagi ini. Aku juga merasa tidak enak untuk menolak ajakannya. Mengingat sebenarnya Kak Nico sama sekali tidak bersalah. Dia hanya berusaha membantuku. Tapi, tetap saja mulai sekarang aku harus menjaga jarak dengannya.


"Alessia, kenapa diam saja? Apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Kak Nico yang semakin menekanku.


Mau tidak mau aku harus menjawabnya. Cepat atau lambat.


"Maaf, Kak Nico. Aku..." Ucapku terpotong.


Tiba - tiba, ada seseorang memegang tanganku.


"Hari ini dan seterusnya, Alessia akan pulang dan pergi bersamaku. Aku yang akan mengantarnya. Jadi, kamu urus saja sana, penggemar gilamu itu! Dan jangan ganggu Alessia lagi kalau bukan hal yang penting! Sekian. Ayo, Alessia, ikut aku!" Ujar Alex tiba - tiba meraih tanganku.


"Alex, apa maksud dari perkataanmu tadi? Penggemar gila? Aku tidak mengerti. Dan, Alessia tidak terlihat ingin ikut denganmu." Balas Kak Nico.


Alex kemudian mengedipkan matanya seolah - olah memberi aba - aba padaku. Dia mau aku memutus pembicaraan itu dengan memberikan penjelasan pada Kak Nico.


"Kak Nico, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan Kakak kepadaku selama ini. Aku pikir sebaiknya mulai sekarang kakak tidak perlu memberiku tumpangan lagi. Aku tidak mau ada pandangan orang lain yang salah paham dengan itu. Lagipula Alex sudah menawariku tumpangan dan kami juga sekelas. Jadi, Kakak tidak perlu khawatir, ya. Aku minta maaf dan mohon Kakak menghormati keputusanku. Jadi, kami mohon permisi! Sampai jumpa lagi, Kak!" Jawabku sambil menunduk dalam.


"Tapi, Alessia..." Ujar Kak Nico melihat kami pergi meninggalkannya.


Alex langsung menarik tanganku dan membawaku menuju parkiran. Alex pun mengambil sepedanya kemudian menghampiriku.


"Tidak usah dipikirin lagi! Kita tahu sebenarnya dia tidak salah. Hanya saja posisinya sekarang bisa jadi bumerang bagi orang yang berada di dekatnya. Contohnya seperti yang kamu alami tadi pagi. Jadi lebih baik jangan mencoba terlalu akrab dengan orang seperti dia! Sekarang naiklah biar aku antar kamu pulang!" Ujar Alex.


"Baiklah..." Jawabku.


Ketika aku mau naik, ternyata sepedanya tidak ada tempat duduk di belakangnya.


"Alex, bagaimana aku bisa naik kalau tempat duduknya saja tidak ada? Memangnya aku duduk di bannya." Ujarku menggerutu.


"Memangnya siapa yang suruh duduk di belakang? Sini berikan tasmu dan duduk di depan!" Ujar Alex sambil menarik tasku.


Aku tidak punya banyak pilihan. Lebih baik aku turuti saja perintahnya.


" Iya, iya, Pokoknya bawa sepedanya pelan - pelan!" Ujarku.


"Iya, Dasar Bawel!" Balasnya.


Hari ini banyak sekali hal yang terjadi. Seperti runtutan peristiwa yang sangat aneh tapi nyata. Meski begitu, hari ini benar - benar mengesankan. Aku juga berpikir bahwa yang terjadi di hari ini adalah pengalaman baru yang tidak terduga dan merupakan awal dari perjalanan hidupku ke depannya yang jauh lebih menantang dan penuh dengan problematika kehidupan. Meski aku tidak tahu ke depannya akan seperti apa, tapi setidaknya aku tidak akan menghadapinya sendirian. Sekarang aku memiliki seorang teman.


Ya, dia terlihat sangat usil tapi sebenarnya dia adalah teman yang baik. Dan akhirnya, kami mengakhiri hari ini dengan senyuman terbaik.


Sei il mio migliore amico!