
Kejadian tadi malam masih terngiang - ngiang di kepalaku. Hanya itu yang kupikirkan sepanjang malam hingga terbawa ke dalam mimpi. Aku teringat kembali dia menarikku pergi dari rumah ayahnya. Bahkan, tanganku masih terasa sakit karena cengkeramannya yang terlalu kuat. Dia mengantarku pulang sampai depan rumah tanpa mengatakan apapun. Jujur, aku tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi seperti ini. Rasanya kalau diam saja, sepertinya bukanlah tindakan bijak. Tapi, kalau berusaha ikut campur, nanti malah takutnya tambah memperkeruh keadaan. Entahlah! Ini membuatku benar - benar pusing. Bahkan, hari ini pun dia tidak masuk sekolah tanpa ada kabar sama sekali. Padahal, hari ini adalah hari pertama belajar intensif karena harus mengejar ketertinggalan. Baru kali ini aku merasa seperti ada yang kurang. Rasanya agak sepi dari hari - hari sebelumnya. Sepertinya aku rindu ocehannya yang mengesalkan itu.Mungkin sebaiknya aku ke rumahnya saja sepulang sekolah nanti untuk menanyakan keadaannya. Sekarang aku fokus saja dulu pada pelajarannya. Ini lebih penting. Lagipula, jujur aku sekarang dalam suasana hati yang bahagia. Kenapa tidak, aku baru saja menerima kabar baik yang sudah kutunggu - tunggu. Ya, aku menjadi juara pertama dalam cabang seni lukis dalam festival musim semi kemarin. Benar - benar sangat mengejutkan. Awalnya, aku tidak percaya akan mendapat juara pertama. Meski, aku sedikit kecewa karena lukisan yang menang bukan lukisan pertama tapi lukisan keduaku. Lukisan yang berjudul "Miracle of Passion". Sedangkan lukisan pertama hanya menduduki posisi kelima. Ya, setidaknya aku bersyukur karena sudah menang. Selain untuk mempertahankan beasiswaku, aku juga bisa menorehkan prestasi dan pamorku pada semua pasang mata di sekolah ini khususnya orang - orang yang sentimen padaku. Ditambah lagi, aku juga mendapatkan uang saku yang lumayan. Rasanya aku seperti menang undian berhadiah. Ternyata, kerja kerasku selama ini tidak sia - sia. Benar - benar membuahkan hasil. Terima kasih kepada tanganku yang berbakat dan Alex sebagai model lukisanku. Mungkin setelah ini aku harus meneraktirnya sesuatu.
Baru saja aku berusaha untuk melupakan sejenak tentang masalah semalam, malah sekarang harus dihadapkan dengan masalah yang baru. Hari ini adalah hari yang sial bagiku.
Ketika pelajaran di kelas sedang berlangsung,
tiba - tiba masuklah seorang guru laki - laki ke kelas. Dia terlihat tergesa - gesa dan langsung menghadap Bu Amelie yang sedang mengajar matematika pada jam itu. Kemudian, mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu dan sepertinya sangat serius. Lalu, mereka menyelesaikan pembicaraan itu dan guru itu pergi meninggalkan kelas kami. Sejak awal aku sudah merasa ada yang tidak beres dari tatapan mereka kepadaku sejak tadi. Ditambah lagi, Bu Amelie menunjukku beberapa kali. Rasanya benar - benar tidak nyaman.
"Alessia, tolong maju ke depan sebentar! Ibu mau membicarakan sesuatu!" Ucap Bu Emelie memanggilku.
"Baiklah, Bu!" Ucapku membalas panggilan itu.
Jujur, itu sangatlah menarik perhatian orang khususnya teman - teman di kelas ini. Mereka menatapku seakan aku telah melakukan sebuah kesalahan. Daripada mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, sebaiknya aku pergi dulu ke depan untuk mengetahui topik dari pembicaraan yang akan dibahas.
"Jadi, begini, Alessia! Ibu baru saja mendengar kabar dari Pak Julian tadi kalau kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah sekarang. Namun, Ibu pikir sekarang kan sedang jam pelajaran, jadi Ibu memutuskan agar kamu baru boleh pergi setelah jam pelajaran Ibu selesai karena Ibu tidak ingin kamu ketinggalan pelajaran ini soalnya pelajaran ini sangatlah penting. Selain itu, Ibu ingin memberi tahu sesuatu padamu." Ucap Bu Emelie menjadi lebih serius.
Aku juga terkejut dan bertanya - tanya dalam hati. Mengapa aku bisa dipanggil ke ruang kepala sekolah. Padahal, sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apapun.
"Apa itu, Bu?" Tanyaku ingin tahu.
"Pertama, Ibu mau tanya sama kamu! Apakah kamu mempunyai masalah dengan Alexander Scott? Soalnya kan anak itu duduk semeja denganmu." Tiba - tiba Bu Emelie melontarkan pertanyaan kepadaku.
"Aku tidak memiliki masalah dengannya, Bu! Kami hanya berteman seperti biasanya!" Jawabku.
"Benarkah seperti itu? Ibu juga tidak tahu alasannya mengapa kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah hari ini. Soalnya dari melihat dan mengamati kejadian di sekolah ini, hanya ada dua alasan mengapa seorang siswa dipanggil ke ruang kepala sekolah. Alasan yang pertama adalah karena siswa itu adalah anak bermasalah yang tidak mempunyai prestasi baik akademik maupun non akademik di sekolah ini. Jadi, sudah pasti dipanggil untuk dikeluarkan paksa dari sekolah. Tapi, Ibu rasa untuk kasusmu, itu tidak mungkin karena kamu sangat berprestasi. Jadi, itu sudah pasti alasan yang kedua. Alasan yang kedua adalah karena siswa itu berurusan dengan keluarga pemilik yayasan sekolah ini, Keluarga Scott dan yang paling mungkin dicurigai adalah tentu saja, Alexander Scott karena dia satu - satunya yang bersekolah di sini sekarang. Bahkan, hari ini dia tidak masuk sekolah tanpa kabar sama sekali. Sebelumnya Kakaknya juga pernah berbuat onar ketika bersekolah di sini dan akhirnya keluarganya memutuskannya untuk belajar di rumah. Apapun yang terjadi, sekolah akan tetap memihak pada keluarga itu. Jadi, Ibu sarankan berhati - hatilah dalam berbicara nantinya! Itu saja pesan dari Ibu! Kamu boleh duduk kembali ke tempat dudukmu, Alessia!" Jelas Bu Emelia yang peduli terhadapku.
"Baiklah, Bu! Terima kasih atas sarannya yang berharga!" Jawabku sembari kembali ke tempat dudukku.
Selama sisa waktu pelajaran itu, aku tidak henti - hentinya memikirkan masalah itu. Aku tidak bisa fokus sama sekali. Pikiranku tertuju pada kejadian semalam dan berusaha menyambungkan dengan kejadian yang terjadi hari ini. Namun, tetap saja masih buntu.
Akhirnya Bu Emelie menutup pelajarannya hari ini dengan lancar. Aku langsung bergegas pergi menuju ke ruang kepala sekolah untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Tok...tok...tok..." Aku mengetuk pintu.
Lalu, pintu itu terbuka dan aku dipersilahkan masuk oleh seorang ibu dan dia langsung mengarahkan aku ke ruangan kepala sekolah. Aku langsung bertemu dengannya dan menyapanya duluan.
"Selamat pagi, Pak! Nama saya Alessia Baker. Saya menerima kabar bahwa Bapak memanggil saya tadi. Sebenarnya, ada apa ya , Pak?" Ucapku.
"Selamat pagi! Ohh... kamu Alessia, ya! Silakan duduk dulu, Nak!" Ucap Bapak Kepala Sekolah.
Selain kami berdua disitu, ada seorang laki - laki berjas hitam yang duduk agak jauh dari kami. Tapi, keliatannya dia sepertinya ikut mendengarkan pembicaraan kami.
"Jadi, Begini, Nak! Sebenarnya tidak ada masalah yang begitu mendesak. Hanya saja Bapak menerima telepon dari pemilik yayasan, Tuan Besar Scott yang meminta Bapak agar mengizinkanmu untuk meluangkan waktu menemuinya. Oleh sebab itu, Beliau mengirim seorang pengawal untuk menjemputmu sekarang. Bapak juga tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi. Jadi, Bapak harap kamu mau menemuinya dan selesaikan masalahnya agar tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Bapak akan segera mengurus surat izin untukmu. Jadi, kamu bergegaslah pergi sekarang supaya tidak membuat Beliau menunggu terlalu lama!" Jelas Bapak Kepala Sekolah.
"Baiklah, Pak! Terima kasih atas penjelasannya! Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat pagi!" Balasku sembari beranjak pergi.
Pengawal itu langsung mengarahkanku keluar dan menuju sebuah mobil. Dia mempersilahkan aku naik dan membawaku menemui Ayahnya Alex. Sepanjang perjalanan, aku bertanya - tanya dalam hati. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Bagaimana keadaan Alex sekarang? Mengapa ayahnya tiba - tiba ingin menemuiku?
Sikap Alex juga tadi malam itu benar - benar ambigu. Aku tidak bisa menebak apapun sekarang. Keadaanku sekarang benar - benar dilema.
"Maaf, Tuan! Nona Alessia telah sampai! Saya pamit pergi!" Ucap pengawal itu sembari pergi keluar dari restoran itu.
"Ohh...sudah datang! Saya ucapkan selamat datang, Nona Alessia! Terima kasih sudah bersedia menemui saya hari ini! Silakan duduk dulu! Mari makan siang bersama hari ini!" Ucapnya sambil tersenyum.
Aku pun langsung duduk dan langsung menanyakan sesuatu.
"Sebenarnya, saya terpaksa menemui anda, Tuan Scott. Terima kasih atas tawaran makan siangnya. Tapi itu perlu. Lebih baik Tuan langsung saja pada pokok pembicaraan kita hari ini. Sebenarnya apa alasan Tuan memanggil saya ke sini?" Tanyaku tegas.
"Tidak perlu terburu - buru, Nona! Maaf, sudah membuat kesan yang buruk sejak tadi malam. Saya mengundang kalian makan malam, tapi tidak ada makanan yang sempat kalian cicip tadi malam. Bahkan, kamu mendapat penghinaan yang tidak benar dari istri saya. Saya benar - bensr minta maaf sedalam - dalamnya. Sebagai gantinya, saya ingin menawari makan siang bersama meski Alex tidak di sini sekarang. Kita bisa membicarakannya pelan - pelan saja!" Ucapnya dengan ekpresi sedih.
"Baiklah, Tuan! Saya akan menuruti keinginan Tuan hari ini!" Ucapku menerima tawarannya.
Beliau pun memesan makanan dan sembari menunggu, dia menanyakan satu dua hal kepadaku.
"Nona Alessia, sepertinya kamu sangat dekat dengan Alex, putraku?" Ucapnya membuka pembicaraan.
"Iya, Tuan! Setidaknya kami sudah mulai berteman sejak awal masuk sekolah dan akhirnya kami bersahabat sampai sekarang. Alex itu adalah teman yang periang dan selalu bersemangat. Meski terkadang dia sedikit nakal dan menggangguku. Tapi, sebenarnya dia itu adalah teman yang baik dan pengertian. Entah kenapa dari sikapnya yang periang itu, ternyata dia menyimpan rasa sakit yang begitu dalam. Entah harus kagum atau merasa prihatin dengan sikap tegarnya itu. Sebagai teman, aku hanya berusaha membantunya untuk mengurangi rasa sakitnya itu. Setidaknya, aku harap dia bisa bahagia suatu saat nanti." Jawabku menjelaskan kepadanya.
"Sepertinya kamu benar - benar mengenali putraku lebih dari saya yang merupakan ayahnya sendiri. Jujur, sebagai ayah kandungnya, saya telah gagal menjadi ayah yang baik untuknya. Sejak kematian ibunya, saya melihatnya semakin kehilangan semangatnya untuk mencapai cita - citanya, yaitu bermain biola. Bahkan, saya berusaha sekuat tenaga agar bisa membangkitkan semangatnya lagi, namun semua pupus tidak berguna. Melihatnya sekarang yang sudah mulai berani memegang biolanya lagi, membuat saya penasaran dengan orang yang berhasil membuatnya luluh. Sebagai ayahnya yang gagal, saya mengucapkan terima kasih sedalam - dalamnya kepada Nona Alessia yang sudah menemani Alex di sisinya selama ini." Ucapnya sambil menunduk dalam.
Jujur, aku sedikit tercengang karena ternyata Tuan Besar Scott bisa menunduk pada orang lain. Sepertinya dia memang menyayangi putranya, Alex. Tapi ada sesuatu yang mengganjalnya untuk menaruh perhatian pada putranya itu.
"Sebenarnya, saya tidak memerlukan rasa terima kasih dari Tuan karena jujur, saya tulus ingin membantu sebagai seorang teman yang baik untuk Alex. Saya juga tidak peduli dengan alasan Tuan yang berusaha mengabaikan Alex selama ini. Jadi, Tuan tidak perlu khawatir lagi karena saya tidak akan mengabaikannya seperti yang telah Tuan lakukan kepadanya. Jadi, intinya jika Tuan tidak ingin Alex berada di lingkaran kehidupan keluarga Tuan yang penuh dengan polemik yang rumit itu, Sebaiknya Tuan melepaskan Alex seutuhnya. Biarkan dia menentukan sendiri apa yang diinginkan. Jangan menariknya lagi dalam masalah. Kurasa sudah cukup dia menderita hingga saat ini. Tuan hanya cukup pura - pura tidak tahu. Seolah - olah tidak terjadi apa - apa karena sejak awal Tuan sudah melakukan hal yang sama kepada ibunya dengan menutup kedua mata Tuan dan mengabaikannya. Saya hanya berharap Tuan menyerahkan Alex kepada saya dan biarkan saya yang mengurusnya sekarang." Jelasku dengan suara lantang.
"Saya rasa yang kamu katakan itu benar. Sudah seharusnya saya melepaskannya dan berhenti membuatnya menderita. Saya yang tidak mampu membuatnya bahagia ini tidak pantas mempertahankannya. Oleh sebab itu, saya ingin menyerahkannya seutuhnya padamu, Nona Alessia! Saya mempercayakan semuanya padamu seperti dia yang percaya padamu. Bahkan, dia juga sudah memberikan hatinya padamu sejak awal melalui kalung itu.Saya sudah menyadarinya sejak kamu mengenakannya semalam. " Ucapnya sambil menatap dan menunjuk kalung yang aku kenakan.
Aku juga tidak sadar kalau aku mengenakannya hari ini. Itu kalung yang diberikan Alex padaku semalam. Sepertinya aku lupa melepasnya tadi pagi.
"Hmm...soal Taman Armonia, saya minta maaf karena sudah memasukinya. Seharusnya saya tidak boleh masuk ke taman rahasia milik keluarga Scott itu. Tapi, sebenarnya Alex yang memaksaku." Ucapku agak takut.
"Sepertinya kamu juga sudah mendengar cerita tentang taman itu dari Alex, bukan? Iya, memang taman itu sengaja dibangun khusus untuk keluarga Scott. Tapi, jujur saya sudah mempercayakan taman itu pada ibunya Alex. Saya sendiri yang memberikan kunci taman itu padanya. Hanya itu yang bisa saya berikan kepadanya sebagai tanda cinta saya pada mendiang karena ketidakmampuan saya untuk melindunginya sampai akhir hayatnya. Kini kalung itu sudah berpindah padamu dan saya yakin, Alex pasti mempunyai alasan yang kuat untuk memberikannya padamu." Balasnya.
Sepertinya Tuan Scott tidak tahu kalau kalung ini sudah diduplikasikan oleh Alex. Aku juga tidak ingin membicarakannya karena aku sendiri tidak ingin berlama - lama di sini. Aku ingin segera pergi secepatnya.
"Tuan Scott, boleh saya mengajukan satu permintaan?" Ucapku mengajukan sesuatu.
"Silakan, Nona! Saya akan mendengarkannya!"
Balasnya.
" Saya ingin Tuan melepas dan menyerahkan Alex seutuhnya kepada saya dan berjanji untuk tidak mengambil dan menariknya kembali, apapun alasannya. Namun, tetap dengan syarat, Tuan masih punya kewajiban untuk membiayainya hingga dia dewasa. Anggaplah itu sebagai wujud rasa bersalah Tuan kepadanya. Apakah Tuan bersedia dengan perjanjian ini? "Ucapku.
"Baiklah, saya bersedia menyerahkannya dan saya akan tetap menjalankan kewajiban saya untuk membiayainya." Ucapnya.
Itulah hari dimana sebuah perjanjian diciptakan. Kami menutupnya dengan makan siang bersama tanpa sepatah kata pun yang terucap. Meski hari itu juga dia menawari untuk mengantarku, tapi aku memilih untuk pulang dengan taksi agar tidak memunculkan kesan yang aneh. Biarlah itu menjadi tanda dari perpisahan yang sebenarnya dan sebaiknya seperti itu adanya agar benar - benar terlihat kerasannya sebuah arti dari perpisahan itu sendiri. Menyakitkan.
Dio, rafforzaci!