Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Empat Warmth in early Spring



Pagi itu suasana hatiku kurang baik karena adanya sedikit insiden tidak menyenangkan. Ya, benar! Anak laki-laki yang sekarang duduk di sebelahku. Aku hanya bisa berusaha mengabaikannya dengan membelakanginya dengan punggungku dan membuka jendela di sampingku. Aku membiarkan angin sejuk


musim semi yang baru saja dimulai itu masuk dan menjernihkan kembali pikiranku yang sempat panas karena anak laki-laki menyebalkan yang duduk di sampingku. Sebuah pemandangan rumah kaca yang berada tepat di sebelah kelasku pun menyambutku dengan keindahannya. Aku menikmati panorama itu dengan antusias. Benar-benar sekolah impianku- gumamku.


Sementara aku sibuk bermain dalam pikiranku, masuklah seorang wanita separuh baya dari pintu dan tersenyum sambil menyapa dengan penuh ramah.


"Hai, anak-anak! Selamat pagi untuk semuanya."


"Selamat pagi juga,Bu" Sontak seluruh siswa membalas salamnya.


" Ibu ucapkan selamat datang untuk kalian semua. Perkenalkan nama saya, Clara Austin. Kalian bisa panggil saya, Ibu Clara. Mulai hari ini sampai tiga tahun ke depan, Ibu akan menjadi wali kelas kalian." Ucapnya sambil memperkenalkan diri.


Ibu Clara terlihat sangat ramah dan memiliki paras yang cantik. Sepertinya dia akan menjadi wali kelas yang baik-pikirku.


"Nah, Ibu kan sudah memperkenalkan diri. Sekarang giliran kalian, ya. Ibu akan panggil sesuai absen. Yang pertama, Alessia Belleza. Silakan maju, Nak!" Tiba-tiba namaku dipanggil.


Aku tidak percaya bahwa aku berada di absen pertama.Tidak heran karena aku juga absen pertama di sekolah lamaku.


"Iya, Bu" Sahutku menjawab panggilan Ibu Clara.


Kemudian aku pun maju dan berdiri di depan kelas. Sebenarnya, hal ini cukup mudah bagiku. Tapi, entah kenapa aku tiba-tiba gugup. Padahal aku sudah sering berdiri di depan banyak orang sebelumnya. Aku pun menyakinkan diri untuk memulainya.


"Hai, Teman-Teman! Perkenalkan namaku Alessia Belleza Baker. Kalian boleh memanggilku Alessia. Salam kenal semuanya!" Ucapku sambil membagikan senyumanku.


"Hai juga, salam kenal, Alessia!" Jawab mereka bersemangat.


"Ohh, jadi nama kamu Alessia Belleza Baker. Kamu yang menerima beasiswa karena memperoleh peringkat satu nilai tertinggi tingkat sekolah dasar se-kota Venice. Ibu juga dengar kamu juga pernah menang dalam olimpiade sains tingkat nasional. Wah, hebat, Alessia! Ibu kagum padamu. Anak-anak, coba berikan applause untuk keberhasilan yang telah dicapai oleh teman baru kalian ini!"


Semua siswa memberikan tepuk tangan yang meriah. Aku tidak percaya kalau Ibu Clara mengenalku. Aku benar-benar bangga dengan usahaku selama ini.


"Nah, mungkin kalian ada pertanyaan nih buat Alessia. Kalau ada, Kalian bisa angkat tangan dan ajukan pertanyaan!" Ucap Ibu Clara membuka sesi pertanyaan.


"Saya, Bu!"


Aku mencari anak yang memiliki suara itu. Ternyata, dia adalah anak laki-laki yang tadi. Entah apa yang berusaha dia rencanakan untuk menggangguku.


"Hmm, Alessia. Sebenarnya sejak kapan kamu tidak mencuci pita rambutmu itu? Dari tadi aku begitu terganggu dengan baunya. Sepertinya itu perlu diganti dengan yang baru karena sudah terlihat usang." Ucapnya sambil tertawa.


Seluruh kelas pun ikut tertawa bersamanya. Kepercayaan diriku yang sudah kokoh tadi seketika sirna karenanya. Dia benar-benar keterlaluan. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya bisa memakinya dalam hati.


"Nak, kamu tidak boleh menggoda temanmu! Itu tidak baik. Alessia, kamu boleh duduk, Nak! Oke, selanjutnya Alexander Scott !" Ucap Ibu Clara memotong tawa mereka dan menegurnya.


Aku berterima kasih pada Ibu Clara karena telah menolongku dari situasi yang memalukan itu. Jujur memang benar bahwa aku jarang mencucinya karena pita itu sudah lama. Aku takut akan merusaknya. Tapi pita itu tidak berbau sama sekali. Dia memang mau mencari masalah denganku.


Aku pun kembali menuju tempat dudukku.


Ketika aku ingin duduk, dia berdiri dan menghalangi jalanku. Dia menatapku sambil tersenyum jahat.


"Minggir! Aku mau duduk. Jangan coba-coba menghalangiku, Pengganggu!" Ucapku ketus.


"Siapa juga yang mau menghalangimu. Hei, Gadis Pita Merah, jangan terlalu percaya diri begitu! Aku berdiri karena namaku dipanggil. Ini giliranku maju ke depan." Ucapnya sambil menepuk pundakku dan pergi maju ke depan kelas.


Dia benar-benar membuatku sangat kesal. Akhirnya, aku pun duduk kembali ke tempat dudukku. Aku membuang muka ke arah jendela karena tidak mau melihatnya berceloteh di depan.


"Hai, Teman-Teman. Senang bertemu dengan kalian semua. Perkenalkan


namaku Alexander Scott yang tampan. Salam kenal semuanya!" Ucapnya yang kedengarannya terlalu percaya diri.


"Nah, Anak-Anak. Alexander ini juga sama seperti Alessia tadi. Dia juga mempunyai prestasi, yaitu juara satu dalam olimpiade matematika dan juara satu lomba basket tingkat kota. Mari semua berikan applause untuk teman kita ini!" Ucap Ibu Clara menceritakan prestasi yang diraihnya.


Semua siswa pun memberikan tepuk tangan yang meriah. Setelah memamerkan dirinya, dia kembali ke tempat duduknya dengan ekspresi menjengkelkan. Dan jujur aku tidak peduli sama sekali.


Ketika aku mendengar namanya memang sebenarnya aku sudah tidak merasa asing. Seperti sudah pernah mendengarnya sebelumnya. Ternyata, dia pemenang olimpiade matematika itu. Saat itu aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku pikir orangnya mungkin akan memiliki sikap yang baik dan juga ramah. Tapi kenyataannya, dia itu sangat menyebalkan.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya sesi perkenalan diri pun selesai. Aku benar-benar tidak sabar dengan sesi selanjutnya.


"Anak-Anak, sekian dari sesi perkenalan kita. Setelah ini adalah sesi bebas untuk kalian sampai waktu pulang. Kalian bisa saling berkenalan lebih lanjut atau pergi melihat-lihat suasana sekolah. Maaf, Ibu tidak bisa menemani kalian karena harus mengikuti rapat tahun ajaran baru. Ohh, ya hampir lupa. Sebelum pergi, Ibu mau menunjuk Alessia dan Alexander sebagai Ketua dan Wakil Ketua Kelas Dandelion Knight untuk sementara. Apa kalian bersedia?" Ucap Wali Kelasku itu.


Sebenarnya aku tidak masalah dengan itu karena aku sudah cukup berpengalaman menjadi ketua kelas sebelumnya. Tapi, yang menjadi masalah kenapa harus dia yang menjadi wakilku. Dia benar-benar merusak hariku.


Aku tidak bisa menolak tawaran itu. Aku harus menunjukkan kemampuanku untuk mempertahankan beasiswaku. Dengan perasaan terpaksa, aku pun menyetujuinya.


"Iya, Bu! Saya bersedia." Kataku bersedia.


"Iya, Bu! Saya juga pasti bersedia." Ucapnya dengan ekspresi mengejeknya.


"Baguslah! Terima kasih untuk kalian berdua karena sudah bersedia ditunjuk. Kalau begitu, tolong kalian berdua pergi mengambil buku pelajaran yang akan segera kita pakai untuk belajar besok sekarang juga, ya. Ibu takut kalau ditunda-tunda, nanti perpustakaan jadi ramai karena pasti banyak yang akan mengambil buku juga. Jadi, susah mengambilnya nanti. Kalian bersedia, kan?"


Ucap Ibu Clara sambil memberi tugas pada kami berdua.


" Iya, Bu! Kami bersedia!" Jawab kami secara bersamaan.


"Baiklah! Ini absen kelas kita. Nanti sebelum dibawa ke kelas, bukunya harus ditulis nama dan nomornya satu-persatu, ya. Oke, sekarang boleh Ibu tinggal, ya. Ibu percayakan pada kalian berdua." Lanjut Ibu Clara sembari pergi meninggalkan kelas.


"Hahh... benar-benar hari yang payah!" Ucapku agak lemas.


Aku langsung mengambil pena dan buku absen di atas meja guru. Kemudian aku pun beranjak keluar meninggalkan kelas.


"Hei, Gadis Pita Merah, kamu mau pergi kemana?" Tanyanya padaku.


"Tentu saja pergi melaksanakan tugas yang diberikan Bu Clara tadi. Kalau tidak berniat membantuku, sebaiknya tidak usah ikuti aku, oke?" Jawabku agak ketus.


"Tidak bisa gitu. Aku adalah wakil ketua kelas. Jadi, aku harus ikut denganmu." Balasnya.


Dia pun mengejarku yang sudah berada di depan pintu. Lalu kami pun pergi keluar bersama-sama.


Selama perjalanan, dia terus-terusan mengajak berbincang-bincang. Namun, aku benar-benar tidak peduli.


"Gadis Pita Merah, apa kamu punya rencana mengganti pitamu itu?"


Aku menoleh dan menatap tajam matanya.


"Ohh... Oke..Oke...aku ganti topik. Hmm...ohh, iya rokmu sudah terlihat bersih. Kamu benar-benar membersihkannya dengan baik." Ucapnya sambil mengacungkan jempol.


"Tentu saja bersih. Aku kan sudah menggantinya dengan rok cadangan." Jelasku.


" Ohh, begitu. Kalau begitu kenapa kamu pakai pita yang sudah usanggggg....." Aku tiba-tiba berhenti dan menghentikan pertanyaannya.


"Ahh.. aku lupa! Bagaimana mau pergi ke perpustakaan kalau tempatnya saja aku tidak tahu. Dasar bodoh! Harusnya tadi tanya Ibu Clara." Ucapku agak gusar.


"Kalau gitu, tinggal tanya orang yang lewat." Usulnya.


"Seandainya saja itu masuk akal. Sekarang ini kan jam belajar tentu tidak ada yang berkeliaran di luar kelas. Tuh, lihat saja semuanya sepi. Bahkan, petugas kebersihan pun tidak kelihatan." Ucapku sambil melihat keadaan sekeliling.


Ketika kami berdua sedang berdebat satu sama lain, tiba- tiba terdengar suara yang memanggil namaku dari arah belakang.


"Alessia...Alessia, bukan? Hai, ketemu lagi nih."


Aku pun menoleh ke belakang dan melihatnya.


"Wah, Kak Nico. Iya, ketemu lagi, ya, Kak. Ohh, Kakak mau kemana nih? Sahutku membalas sapaannya.


"Ehmm, aku ada urusan sebentar ke ruang OSIS. Jadi, aku pergi ke sana sekarang. Ngomong-ngomong, kalian berdua mau kemana? Bukankah ini jam pelajaran,ya?"


Jelasnya sambil tersenyum cerah.


"Kami mau ke perpussss....." Tanganku langsung menutup mulut si pengganggu itu.


"Ehh, gini, Kak. Bu Clara, wali kelasku menyuruhku untuk mengambil buku pelajaran di perpustakaan. Tapi, aku belum tahu benar dimana letaknya karena hari ini kan hari pertamaku di sekolah.Jadi, apakah Kakak bisa membantuku?" Jawabku malu-malu.


"Tentu saja. Lagipula ruang OSIS juga bersebelahan dengan perpustakaan. Kalau begitu, kalian ikut aku saja, yuk!" Ajak Kak Nico.


"Wah, terima kasih, Kak" Jawabku sambil tersenyum.


Aku pun langsung berjalan di samping Kak Nico dan mengabaikan Si Pengganggu di belakang. Sepertinya dia terlihat kesal sekali. Kak Nico juga mengajakku berbincang-bincang. Akhirnya, kami pun sampai di depan perpustakaan.


"Nah, kita sudah sampai. Alessia, masuklah! Di dalam ada Ibu Emery, Ibu penjaga perpustakaan. Kamu bilang saja maksudmu, nanti dia pasti mengarahkanmu. Aku harus segera ke ruang OSIS nih. Aku pamit dulu dan sampai ketemu lagi, Alessia dan Alex tentu saja." Kata Kak Nico sembari pergi dan melambaikan tangannya.


Kak Nico memang benar-benar orang yang ramah. Tidak seperti orang yang menyebalkan di sebelahku ini. Ngomong-ngomong, dari mana kakak itu tahu namanya Alex. Aneh. Tapi untuk apa aku peduli tentang itu.Yang terpenting sekarang bagiku adalah mengambil buku di perpustakaan dan segera kembali ke kelas.


Kami berdua pun masuk ke perpustakaan dan mendapati lorong yang penuh dengan rak buku. Bukunya banyak sekali. Setiap rak pun dinomori satu-persatu berdasarkan jenisnya. Aku merasa telah mendapat tempat terbaik keduaku setelah ruang kelasku.


Kami mondar-mandir di meja piket, tapi tidak menemukan seorangpun yang berjaga. Kami memilih untuk menunggu dan duduk sambil membaca buku yang kami ambil dari rak.


"Hei, Gadis Pita Merah. Sejak kapan kamu akrab dengan Kak Nico?" Ucapnya membuka keheningan.


"Itu urusanku. Kamu tidak perlu ikut campur. Lagipula sepertinya kamu dan Kak Nico juga sudah saling kenal. Sebenarnya apa hubungan kalian?" Balasku sambil melihat-lihat judul buku di rak.


"Itu urusanku. Kamu tidak perlu tahu. Hehe..." Jawabnya sambil mengejek.


"Ya, sudah. Lagipula aku tidak perlu mengetahuinya darimu."


Di tengah perdebatan itu, aku tidak sengaja melihat buku yang berjudul "


Journey of Fashion". Sebagai penggila fashion, tentu aku tertarik untuk membacanya. Namun, letak buku itu terlalu tinggi. Aku tidak bisa menjangkaunya. Aku pun mencoba melompat-lompat. Tapi tetap saja tidak bisa.


"Aku beri saran padamu. Jangan terlalu akrab dengannya!" Tiba-tiba dia bicara agak serius.


"Memangnya kenapa? Kak Nico kelihatannya baik dan juga ramah. Lagipula aku tidak butuh izinmu untuk mengakrabkan diri dengan siapa saja."


Selagi aku mencoba meraih buku itu, entah sesuatu mendorongku dari belakang dan membuatku terjepit ditengah. Aku pun membalikkan badanku. Ternyata si pengganggu itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku agak keras.


"Mengambil buku yang dari tadi tidak bisa kamu ambil. Ini, bukan? Yang penting aku udah peringatkan padamu. Ya, kalau ada apa-apa jangan datang kepadaku karena pasti merepotkan" Ucapnya sambil berbisik di telingaku.


Jarak di antara kami saat itu sangatlah dekat. Aku sedikit merasa tidak nyaman.


"Tentu saja. Terus bisakah kamu menyingkir dari hadapanku. Ini terlalu dekat. Dan jangan bicara denganku lagi!"


Jawabku agak grogi.


"Oke, ini bukumu! Dan kupikir wajahmu tidak perlu merona seperti itu, Gadis Pita Merah!" Katanya sambil tersenyum.


Dia meletakkan buku itu di tanganku dan pergi dari hadapanku.


"Yaa... siapa juga yang merona? Hei, mau kemana kamu? Dasar Pengganggu!" Ucapku agak ketus.


Pertama kalinya dalam sejarah hidupku, aku berada di situasi aneh seperti itu. Bahkan, aku tidak bisa mendeskripsikan secara jelas.


Ketika mata kami saling bertatapan dan jarak di antara kami sangat dekat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat. Aku juga tidak bisa menyangkal kalau jantungku juga berdetak kencang saat itu. Selain itu, aku bisa mencium aroma tubuhnya yang harum. Hatiku benar-benar merasa hangat saat itu.


Sai che fa molto caldo!