Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Tujuh What's Your Passion?



Hari ini kelas ditiadakan karena semua sibuk untuk persiapan festival musim semi. Akhirnya, setelah mengikuti rapat di ruang guru tadi, aku sekarang berdiri di depan pintu kelas. Kak Nico yang bersamaku tadi juga sudah berpisah denganku di lorong karena dia juga harus segera ke kelasnya. Waktunya bagiku masuk dan memberitakan kabar ini kepada teman - teman.


"Alessia, pasti kamu bisa!" Kataku untuk menyakinkan diriku sambil memegang gagang pintu dan membukanya.


Berbekal informasi yang kudapat, aku pun masuk dengan penuh percaya diri. Ketika aku masuk, suasana kelas terlihat sangat gaduh. Mungkin hal itu dikarenakan hari ini rencananya akan ada praktek bahasa sehingga mereka sibuk untuk mempersiapkannya. Mereka belum tahu kalau hari ini semua pelajaran ditiadakan. Saat aku masuk saja, tidak ada satupun yang peduli. Aku pun memukul papan tulis dengan penghapusnya untuk mendapatkan perhatian dari mereka.


"Tok...tok...tok"


"Perhatian semuanya! Tolong teman - teman yang masih berdiri, segeralah duduk! Aku ingin mengumumkan sesuatu pada kalian." Kataku memecah kegaduhan itu.


Mendengar suaraku, sontak mereka semua kembali ke tempat duduknya masing - masing dan siap mendengarkan pengumuman dariku.


"Selamat pagi, teman - teman! Hari ini aku membawa kabar baik untuk kita semua. Kabar baik yang pertama, yaitu sekolah kita akan menyelenggarakan festival musim semi yang rencananya akan dilaksanakan sebulan lagi dari sekarang. Oleh karena itu, seluruh siswa Dandelion wajib berpartisipasi dalam festival ini. Karena tema dari festival ini adalah seni, maka setiap siswa harus menyiapkan sebuah penampilan seni tanpa terkecuali. Seluruh siswa bebas memilih cabang seni yang ingin ditampilkan. Contohnya seperti teater, musik, tarian, lukis, dan lain - lain. Penampilan boleh sendiri atau berkelompok dengan syarat kalau berkelompok, wajib anggotanya berasal dari satu kelas. Secara khusus bagi siswa - siswi tahun pertama seperti kita, penampilan seni ini akan menjadi penilaian bagi kelayakan menjadi anggota tetap baru kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Jadi, intinya kalau penampilannya bagus, maka otomatis diterima di ekstrakurikuler terkait tanpa tes apapun. Dan kabar gembira yang kedua, untuk hari ini dan seterusnya sampai hari festivalnya, semua kegiatan belajar - mengajar di kelas ditiadakan untuk mempersiapkan festival. Sekian pengumuman untuk hari ini. Terima kasih sudah mendengarkan. " Kataku memberi pengumuman itu.


"Horee...." Teriak mereka bersemangat.


"Ohh, aku juga akan membagikan formulir keikutsertaan dan kegiatan ekstrakurikuler kepada kalian. Harap kalian mengisinya dan bisa mengumpulkannya padaku hari ini atau paling lama tiga hari dari sekarang." Kataku sambil membagikan formulir.


"Siap, Ketua Kelas!" Jawab mereka.


Setelah membagikan formulirnya, aku pergi menuju tempat dudukku. Sesampainya di situ, dia sudah menyambutku dengan senyumannya yang aneh itu.


"Selamat pagi, Gadis Pita Merah!" Sapa Alex sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga! Tapi bisakah kamu berhenti memanggilku seperti itu? Aku kan punya nama. Namaku Alessia." Ucapku membalas sapaanya.


"Hanya saja aku suka memanggilmu begitu. Tapi, sepertinya hari ini kamu terlihat sangat bersemangat. Ada apa nih?" Ucapnya.


"Tentu saja aku bersemangat. Hari ini kan kelas ditiadakan. Jadi, aku bisa melakukan hobi menggambarku yang tertunda terus dari kemarin. Selain itu, berkat diadakannya festival ini, aku bisa menunjukkan passionku dalam bidang lukis. Oleh karena itu, aku harus menyiapkannya secara maksimal. Kalau berhasil, setidaknya aku selangkah lebih maju untuk tujuanku menjadi seorang desainer fashion. Oleh karena itu aku sangat antusias menantikan festival ini. Terlebih festival ini juga akan dihadiri orang - orang penting di kota Venice. Tentu ini adalah peluang dan kesempatan emas untuk membuktikan diri sekaligus mempromosikan bakatku." Jelasku.


"Berarti cabang seni yang akan kamu ambil adalah seni lukis?" Tanyanya.


"Iya, tentu saja. Karya - karya lukisnya akan dipajang di pameran festival. Jadi, mulai sekarang aku harus menyiapkan konsep dan tema lukisanku." Jawabku sambil mengisi formulirku.


"Ngomong - ngomong, bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menentukan cabang seni yang mau ditampilkan?" Tanyaku penasaran.


"Belum dan mungkin tidak ada. Aku tidak punya apa - apa untuk ditampilkan. Aku tidak sepertimu yang sudah memiliki passion. Aku tidak mempunyai sesuatu yang benar - benar ingin kulakukan." Jawabnya dengan ekspresi murung.


Baru kali ini, aku melihatnya seperti itu. Biasanya dia tidak pernah berhenti untuk tersenyum dan kadang menjahiliku.


"Menurutku, itu tidak mungkin karena yang aku tahu, anak konglomerat sepertimu pasti sudah dibekali dengan sebuah bakat. Entah itu bermain alat musik atau apalah itu. Lagipula syarat utama untuk masuk ke Dandelion School adalah setiap siswa harus mempunyai bakat seni. Jadi, tidak mungkin kamu tidak punya. Jadi, pikirkanlah dulu matang - matang! Tapi, jangan terlalu lama karena batas pengumpulannya tiga hari lagi! Jadi, Alex, semangatlah! Aku yakin kamu memiliki sebuah passion. Meski belum ada, pasti kamu akan menemukannya! Aku yakin itu! Selain itu, hal ini bersifat wajib dan harus diikuti seluruh siswa apalagi kita adalah dandelian knight. Tentu saja kiita tidak boleh mau kalah dari kelas sebelah." Ucapku memberi semangat .


"Ini pertama kalinya kamu memanggil namaku. Biasanya kamu selalu memanggilku Pengganggu." Katanya sambil tersenyum.


"Jadi kamu tidak suka aku memanggil namamu?"


"Bukan begitu, aku suka, kok. Hanya saja aku lebih suka dipanggil pengganggu olehmu. Hehee...."


"Ya, penyakit jahilmu datang lagi! Jangan ganggu aku lagi! Aku menyesal sudah menyemangatimu tadi." Jawabku agak kesal.


Dia tertawa terbahak - bahak melihat ekspresi kesalku.


"Tapi, sungguh aku berterima kasih padamu untuk yang tadi. Sudah lama sekali, tidak ada yang benar - benar peduli padaku. Jadi, intinya terima kasih atas semangat ya! Karenamu aku mungkin akan memikirkannya kembali." Ucapnya.


Aku tidak tahu kalau apa yang aku katakan itu benar - benar berarti baginya. Dan untuk pertama kalinya aku menghibur seseorang selain diriku.


"Gadis Pita Merah, apakah aku boleh minta bantuanmu?"


Tiba - tiba, dia mengajukan pertanyaan padaku.


"Hmm... tentu saja boleh. Butuh bantuan apa?" Balasku.


"Kalau itu aku belum bisa memberi tahu sekarang. Aku akan beritahu padamu ketika aku sudah siap. Yang terpenting kamu sudah bersedia membantu. Janji, ya?"


"Iya, aku janji. Asalkan kamu tidak memintaku melakukan hal yang macam - macam seperti merampok atau sejenisnya." Kataku setengah bercanda.


"Hahaha... itu tidak mungkinlah. Kadang - kadang kamu bisa bercanda juga." Ucapnya sambil tertawa karena candaanku.


"Aku akan membantumu apa saja tapi sebatas aku masih mampu melakukannya. Oke?"


"Siappp..." Jawabnya sambil memberikan hormat padaku.


"Ya, sudah lanjutkan kegiatanmu atau isi formulirnya! Kamu boleh membawanya pulang tapi jangan sampai hilang!" Lanjutku.


"Oke, tenang saja." Balasnya.


Itulah percakapan terakhir kami hari itu.


Meski semangat dan senyumnya telah kembali, tapi sikap dan ekspresinya saat mendengarkan ceritaku tentang passion dan cita - cita di masa depan itu menimbulkan tanda tanya besar dalam hatiku. Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya. Aku tidak bisa menafsirkannya sembarangan. Tapi aku juga segan untuk menanyakan hal itu. Terlebih karena kita baru saja kenal. Aku masih tidak tahu banyak hal tentangnya. Meski sikapnya terkadang menjengkelkan bagiku. Namun, sebenarnya jika diperhatikan lebih jauh, dia juga mempunyai sifat yang baik dan juga lembut. Itu juga belum pasti karena mungkin itu hanya perasaanku saja. Tapi, tetap saja semua tentang dia, selalu berhasil membuat aku penasaran. Entah ada apa denganku?


Qual è la tua passione?