Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Lima The Meaning of Your Tears



Aku terdiam sejenak di tempat kuberdiri. Tanpa sadar, aku sedang memikirkannya hingga lupa akan tujuanku kesini.


"Ohh, iya. Buku! Aku sampai lupa. Dasar menyebalkan! Dia meninggalkanku." Sadarku.


Aku segera mengembalikan buku yang ada di tanganku dan mengejarnya. Ketika aku sampai di meja piket, dia terlihat sedang berbincang dengan seorang wanita separuh baya.


"Halo, salam kenal! Nama saya Alessia Belleza." Sapaku ramah sambil membungkukkan badan.


"Hai, Alessia. Salam kenal juga! Perkenalkan nama saya Emery Curry. Panggil saja saya Bu Emery. Tadi Alex juga sudah memberitahu saya tentangmu. Maaf membuat kalian menunggu lama karena sedikit ada masalah di perjalanan tadi. Tapi sekarang sudah teratasi. Jadi tidak perlu khawatir. Ohh, Kalian mau ambil buku, ya?" Ucap Bu Emery, si petugas perpustakaan sambil tersenyum ramah.


Alex pun diam - diam meninggalkan aku dengan Ibu Emery.


"Benar, Bu. Mohon bantuannya!" Jawabku.


"Iya, kalau begitu tolong isi daftar hadir dan formulir pengambilan buku ini! Kemudian silakan kalian ambil buku di rak nomor empat puluh enam sesuai dengan catatan yang Ibu berikan ini, ya!" Balas Bu Emery sembari memberikan catatan kecil padaku.


"Baiklah, Bu. Terima kasih atas bantuannya. Saya akan mulai sekarang juga" Jawabku bersemangat.


"Haha...kamu benar-benar siswi yang bersemangat, ya. Baru pertama kali saya melihatnya. Alessia, santai saja, oke. Jangan terlalu buru - buru! Dan setelah selesai dicatat nama dan nomornya, jangan lupa bawa kembali pada Ibu, ya supaya bisa dibuat salinannya untuk bukti catatan perpustakaan!"


"Siap, Bu. Saya akan bawa kepada Ibu kalau sudah selesai. Kalau begitu saya pergi ambil sekarang, ya, Bu"


"Baiklah. Semangat untuk Kalian!" Ucap Ibu Emery memberi semangat.


Selama aku berbincang dengan Bu Emery,


dia hanya diam menunggu sambil duduk dan membaca buku.


Entah kenapa kadang - kadang dia juga bisa bersikap pengertian seperti itu. Ataukah itu cuma sandiwaranya saja? Aku benar - benar tidak tahu. Aku pun mencoba mendekatinya.


"Bincang-bincang dengan Ibu Emery-nya sudah selesai?" Tiba-tiba dia bertanya padaku.


"Sudah, baru saja. Ayo, kita ambil bukunya sekarang!" Ucapku mengajaknya.


"Aaayooo!" Balasnya sambil tersenyum dan mengikutiku dari belakang.


Sambil mengikutiku dari belakang, dia terus saja bersiul tanpa tujuan yang jelas. Aku tidak peduli sama sekali. Tapi tetap saja aku merasa terganggu karenanya. Itu membuatku tidak fokus.


"Daripada kamu bersiul terus, lebih baik bantu aku mencari rak nomor empat puluh enam. Dan sebaiknya kita berpencar soalnya perpustakaan ini begitu luas dan nomor raknya sudah mulai pudar. Jadi agak sulit membacanya!" Jelasku.


"Oke, aku akan ke sebelah sini." Pintanya.


Kami pun berpencar. Aku mencoba mencari lebih teliti lagi. Takutnya malah aku yang melewatkannya. Jujur raknya terkadang berurutan. Tapi ada juga yang ngacak. Aku juga sempat bingung.


Setelah hampir lima belas menit, akhirnya kami pun menemukannya. Lebih tepatnya dia yang menemukannya.


"Hei, Gadis Pita Merah! Sepertinya aku menemukannya. Coba kemarilah!" Tiba- tiba dia memanggilku.


"Sungguh? Aku segera kesana!" Sontakku menjawab panggilan itu.


"Mana,mana? Aku mau lihat nomornya." Kataku antusias.


"Ohh, iya. Kayaknya ini rak yang benar. Keterangannya juga tertulis "Buku-buku Pelajaran Kelas Tujuh". Aku akui kamu memang pandai dalam mencarinya. Sekarang mari lihat daftarnya dulu!" Kataku sambil melihat-lihat daftar buku dalam catatanku.


"Ohh, tentu saja. Aku memang pandai sedari dulu. Karena aku sudah menemukannya, tugasmu yang mencatatnya. Kan kamu bisa melakukannya sendiri seperti yang kamu katakan di kelas tadi." Tiba - tiba dia menyerahkan semua tanggung jawab kepadaku.


Aku sudah menduganya. Dia benar - benar menyebalkan. Dia sengaja mempermainkan aku. Dia mempunyai bakat untuk membuat suasana hatiku menjadi buruk seketika. Aku hanya bisa menahan emosi dan menepuk dada sedalam - dalamnya.


"Ahh... Kamu benar - benar menguji kesabaranku. Untuk apa kamu kesini kalau bukan untuk membantuku. Lihat saja daftar bukunya ini. Ada dua puluh mata pelajaran untuk dua puluh siswa yang artinya aku harus mengambil dan mencatat empat ratus buku sendirian. Kamu benar - benar tidak berperikemanusiaan!" Balasku sambil meluapkan emosi yang terpendam.


"Maaf, maaf, aku cuma bercanda. Jangan marah lagi! Kamu terlihat seram kalau lagi marah. Aku pasti bantu kamu! Beri tahu aku, yang mana yang harus kuambil?" Ucapnya dengan ekspresi agak takut.


"Yang ini! Aku sudah membagi dua catatannya. Kamu ambil bukunya dan catatlah di lembar absen ini!" Ucapku sambil menyuruhnya.


"Oke, oke, itu mudah. Silakan kamu duluan!"


Jawabnya yang agak kaku.


Aku tidak tahu kenapa dia bisa berubah secepat itu. Aku hanya menggertaknya sedikit. Apa dia benar-benar jadi takut padaku. Aku jadi merasa bersalah padanya. Tapi, kan ini juga salahnya karena sudah memancing amarahku dari tadi. Meski begitu, tetap saja rasanya aku kurang nyaman dengan situasi ini. Kami mengerjakan tugas itu benar - benar dalam keadaan sunyi tanpa berbicara sedikitpun. Jujur ekspresi takutnya itu lumayan lucu dan imut. Entah sejak kapan aku mulai memikirkannya. Sesekali aku melihat ke arahnya. Dia terlihat sibuk dengan kerjaannya. Ternyata, dia juga bisa fokus pada tugasnya- gumamku. Melihatnya seperti itu, mendorongku untuk lebih fokus dan bersemangat lagi. Ya, harus fokus!


Tidak terasa waktu terus berputar hingga jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Aku berdiri sejenak sambil meregangkan punggung yang terasa sedikit kram.


"Ahh, punggungku! Akhirnya bagianku selesai juga. Semuanya sudah rapi. Tinggal menaruhnya dalam troli." Ucapku dengan nada senang.


Akhirnya, tugasku benar - benar sudah selesai tepat pada waktunya. Kemudian aku penasaran dengan kerjaannya dan mencoba untuk mengeceknya. Aku pun melihat ke arahnya.


"Hmm, Alex! Aku sudah selesai nih! Bagaimana denganmu?"


Ternyata, dia sudah tertidur pulas di atas meja. Sepertinya dia kecapekan dan mengantuk. Aku pun melihat lembar absen yang dicatatnya.


"Ternyata, belum selesai, ya! Tinggal dua mata pelajaran lagi! Kalau begitu, biar aku yang lanjutin!"


Aku menarik pelan - pelan lembar absen itu dari tangannya. Kemudian aku melanjutkan pekerjaaannya yang belum selesai itu.


Tidak sampai lima belas menit, aku pun sudah selesai mencatat semuanya. Hari ini benar- benar melelahkan- gumamku. Aku kembali melihat lagi ke arahnya. Dia masih saja tertidur pulas. Ekspresi tidurnya sangat imut.


"Alex, terima kasih atas bantuannya hari ini. Aku benar- benar menghargainya." Kataku pelan ke arahnya.


Aku pikir mungkin sebaiknya aku juga ikut merebahkan kepalaku sebentar di atas meja. Setidaknya untuk menenangkan kepalaku yang agak pusing. Pejuang juga butuh istirahat, bukan? -pikirku.


Sekitar sepuluh menit, aku memandangi wajahnya itu sambil tersenyum malu- malu. Menurutku, dia lumayan tampan juga. Dia memiliki alis yang cukup tebal. Seandainya saja sikapnya baik dan tidak menyebalkan, mungkin kami akan cepat akrab. Selagi aku memandanginya, tiba- tiba aku melihatnya meneteskan air mata. Ya, dia meneteskan air mata dalam tidurnya. Aku sedikit terkejut. Apakah dia sedang bermimpi? Apa yang diimpikannya sehingga dia terlihat sangat sedih begitu? Aku memandanginya seraya bertanya - tanya dalam hati. Aku mengusap air mata yang membasahi pipinya itu.


"Alex, jangan menangis! Nanti kamu terlihat jelek, loh!" Ucapku sedikit bercanda.


Dia sepertinya terlihat seperti anak yang ceria dan selalu tersenyum kapanpun dan dimanapun. Tapi, tak kusangka ternyata dia bisa merasa sedih juga. Itu membuatku semakin penasaran padanya. Aku penasaran tentang arti dari air matanya itu. Arti dari kesedihannya. Aku tidak tega membangunkannya dan memilih untuk menemaninya dalam tidurnya di sisa hari itu.


In realtà, qual è il significato delle tue lacrime?