
Sepertinya hanya aku saja yang terlihat antusias dengan makan malam ini. Sedari tadi sejak kami masuk ke mobil, raut wajahnya terlihat sangat suram. Dia tidak mengajakku bicara sedikitpun dan selalu melihat ke arah kaca jendela mobil. Dia sepertinya mengabaikanku yang duduk di sampingnya. Tidak ada yang bisa dilihat dari balik jendela itu karena secara keseluruhan terlihat hitam pekat. Aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu yang sampai sekarang masih mengganjal di otaknya.
Aku juga tidak berani menanyakannya. Oleh karena itu, aku hanya memilih diam untuk sementara waktu. Aku pikir dia memang butuh waktu sendiri untuk menjernihkan pikirannya sejenak apalagi untuk saat ini.
Di sisi lain, ini adalah kali pertamaku mengikuti makan malam formal. Jujur, aku sedikit gugup dan khawatir. Tapi, bukan namanya Alessia kalau menyerah dan mundur begitu saja.
Selagi sibuk dengan pikiranku yang melayang - layang kemana - mana, akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan. Sekarang aku tidak tahu harus mengatakan apa. Itu sebuah rumah atau istana kerajaan? Pintu pagar utama yang terbuat dari baja berlapis emas itu tinggi hingga menyentuh langit. Dan yang membuatku tercengang adalah rumahnya yang bak istana kerajaan. Untuk benar - benar sampai ke dalam, membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit perjalanan. Sudah bisa dibayangkan betapa besarnya area rumah itu. Namun, meski dari kejauhan, rumah itu sudah terlihat sangat bersinar dan berkilau. Aku tidak tahu mereka melapisi pilar - pilarnya dengan apa hingga bisa seperti itu. Yang pasti semua itu sudah membuat semua orang kagum dan terpesona karenanya.
Akhirnya, kami benar - benar sampai di depan rumah itu.
"Tuan Muda, kita sudah sampai!" Ucap Pak James, supir kami malam ini.
Tapi, Alex hanya terdiam dan membatu. Dia tidak merespon sama sekali. Aku melihat ke arahnya. Padahal pandangannya lurus ke depan. Tidak mungkin dia tidak mendengarkannya. Seketika tangannya terlihat gemetaran dan berkeringat. Entah apa yang terjadi pada dirinya.
"Alex, kita sudah sampai! Kamu tidak mau turun?" Ucapku berusaha menyadarkannya.
Dia kemudian menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat sedikit cemas dan ketakutan.
"Alessia, bagaimana ini? Rasanya aku lagi tidak enak badan. Kita balik saja sekarang, ya!" Ucapnya terbata - bata.
Kemudian aku memegang tangannya yang gemetaran itu.
"Kemana Alex yang begitu percaya diri tadi? Aku benar - benar tidak mengenal Alex yang lemah ini. Alex yang kukenal selalu tersenyum dan bersemangat serta pantang menyerah."
Dia menunduk dalam dan berusaha memalingkan wajahnya dariku.
"Alex, lihat aku! Kamu tidak bisa selamanya melarikan diri dan tidak mau menghadapi mereka. Setidaknya, tunjukkan kepada mereka bahwa selama ini mereka salah menilaimu dan memilih untuk mengabaikanmu. Mereka tidak tahu apapun tentangmu. Oleh karena itu, tunjukkanlah, kamu bisa hidup dengan impian yang kamu ciptakan sendiri tanpa campur tangan mereka khususnya ayahmu. Anggap saja, makan malam ini adalah perpisahan dari skenario kehidupan yang ayahmu buat untukmu. Dengan begitu, setelahnya tinggal kamu yang menentukan kelanjutannya." Ucapku berusaha membujuknya.
"Kamu benar, Alessia! Kemana diriku yang percaya diri tadi? Tidak, sekarang aku adalah Alex yang itu. Alex yang penuh percaya diri. Aku pasti akan menunjukkannya. Terima kasih, Alessia, atas nasihatnya!" Ucapnya dengan semangatnya yang telah kembali normal.
"Lagipula, aku tidak mau menyia - nyiakan malam ini karenamu. Aku sudah bersiap - siap sejak tadi siang. Itu sangat melelahkan, tahu! Jadi, jangan buat aku marah karena tingkahmu yang suka berubah - ubah itu." Ucapku sambil memalingkan wajahku ke samping.
"Iya, iya, Nona Muda! Mari kita turun!" Ucapnya sambil tertawa.
Dia keluar terlebih dahulu dan membuka pintu mobil untukku. Kemudian aku melihatnya mengulurkan tangannya untukku.
"Silakan keluar, Nona!" Ucapnya.
Aku memberikan tanganku dan dia membantuku berdiri. Kemudian dia meletakkan tanganku pada lengannya.
"Kamu sudah siap, Alessia?" Ucapnya padaku.
"Tentu saja. Aku siap kapan saja!" Ucapku yakin.
"Baiklah! Ayo, kita masuk!" Ucapnya lantang.
Kami pun berjalan menaiki tangga secara perlahan hingga tiba pada puncaknya. Dia pun menekan tombol bel di samping pintu raksasa itu. Tidak lama kemudian pintu itu pun terbuka dan muncullah seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat glamor dengan gaun merahnya. Namun, raut wajahnya benar - benar tidak mengenakkan. Dia terlihat terkejut akan kedatangan kami.
"Ohh, Alex! Ada apa gerangan hingga kamu berani menginjakkan kakimu kesini? Menurutku, sebaiknya kamu segera pergi dan kembali ke tempat persembunyianmu!" Ucap wanita itu sinis.
"Sepertinya keluarga anda tidak mengajari anda bagaimana cara menerima tamu dengan baik dan sopan, Nyonya Scott! Tentu saja saya datang karena untuk memenuhi undangan dari Tuan Besar Scott. Jadi, tolong persilahkan kami masuk! Tidak sopan membiarkan tamu menunggu terlalu lama di luar, bukan? Kecuali memang anda tidak mempunyai etika dan tata krama yang baik." Balas Alex yang tersenyum sinis.
Sepertinya wanita ini adalah ibu tirinya itu. Dia memang tidak terlihat baik. Dia terlihat sangat sombong dan arogan sekali.
"Senang bertemu dengan anda, Nyonya Scott!" Sapaku agak ragu.
"Sebaiknya jaga mulut anda itu saat berbicara! Lagipula, anda tidak perlu mengurusi urusan saya dan jujur saya tidak seperti putra kesayangan anda yang memiliki banyak mainan seperti itu. Jadi, berkacalah sekali - kali! Sepertinya saya memang salah membuang waktu saya yang berharga hanya untuk mendengar ocehan yang tidak berguna ini. Saya akan masuk sendiri saja! Ayo, Alessia!" Kata Alex sambil menarik tanganku.
Kami langsung masuk dan melewati ibu tirinya begitu saja yang tengah sibuk mengocehkan sesuatu. Alex tidak mengindahkannya dan hanya memandang lurus ke depan. Akhirnya, kami sampai di sebuah meja makan yang cukup panjang yang telah tersedia sajian yang sangat mewah. Aku melihat ada dua orang yang sedang bercakap - cakap di meja makan itu. Tentu saja itu ada Tuan Besar Scott dan putra sulung sekaligus pewarisnya, Leonardo Scott.
Alex menarikku bersamanya dan menghampiri mereka.
"Selamat malam, Tuan Besar dan Tuan Muda Scott!" Ucap Alex membuka salamnya.
Ayah dan saudara tirinya itu terkejut melihat kami datang. Jujur, aku jadi sedikit gugup karena sikap Alex yang berubah drastis dalam sesaat. Dia tiba - tiba menjadi sangat arogan.
"Alex! Kamu datang kesini! Kenapa tiba - tiba sekali? Seharusnya kamu kabarin ayah kalau kamu mau datang." Ucap ayahnya yang terlihat gelagapan.
"Memangnya kenapa saya harus mengabarkan kedatanganku? Bukannya saya datang ke rumah ayahku sendiri. Kecuali saya ini memang sudah tidak dianggap bagian dari keluarga ini. Tapi tidak perlu khawatir karena saya sama sekali tidak peduli tentang itu. Aku kesini hanya ingin menerima undangan dari anda, Tuan Scott. Saya mohon maaf baru sempat meluangkan waktu untuk datang kemari. Mohon dimaklumi!" Ucap Alex pada ayahnya sambil menundukkan kepala.
"Bukan begitu, Nak! Ayah sangat senang kamu datang mengunjungi ayahmu ini. Setidaknya jika kamu mengabari, ayah akan mempersiapkan sesuatu untukmu. Kalau begitu, duduk dan makan bersama kami sebagai satu keluarga lagi! Tapi, sepertinya kamu membawa seorang teman yang cantik?" Ucap ayahnya.
Aku terkejut dengan perkataan Tuan Scott dan langsung memperkenalkan diri.
"Ahh... Maaf, Tuan Scott! Perkenalkan nama saya Alessia Baker. Saya adalah teman sekelas Alex. Senang bertemu dengan Anda!" Ucapku agak terbata - bata.
"Ohh, kamu, ya, Alessia Baker itu! Kamu yang kemarin memberikan pertunjukan bersama Alex itu. Permainan pianomu sangatlah indah! Bahkan, kalian berdua juga mendapat juara dalam festival itu. Saya ucapkan selamat, ya!" Puji ayahnya padaku sambil tersenyum cerah.
"Anda terlalu memuji saya! Saya masih amatir dan butuh lebih banyak berlatih lagi ke depannya! Terima kasih atas pujiannya! Saya sangat menghargainya, Tuan Scott!" Ucapku.
Aku melihat ayahnya tersenyum cerah dan Beliau terlihat sangat mirip dengan Alex. Sepertinya selama ini aku salah menilainya. Mungkin beliau memang sangat lembut pada keluarganya saja. Tapi, entah dari tadi Alex tidak merespon apapun dan hanya duduk dalam diam. Selagi kami saling bercakap - cakap, muncullah nyonya Scott yang menyusul kami tadi.
"Sayang, tidakkah kamu memujinya terlalu jauh? Kalau begitu lama - lama dia bisa besar kepala. Aku yakin dia pasti berasal dari keluarga miskin entah dari mana dan anakmu satu ini telah memungutnya untuk menjadi pembantunya." Ucap Nyonya Scott yang membuatku geram.
"Sayang, kamu tidak boleh mengucapkan hal seperti itu kepada tamu kita! Alessia itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Dia adalah anak yang benar - benar berbakat. Tarik kata - katamu itu sekarang!" Ucap ayah Alex setengah marah.
"Itu tidak cukup, Ayah! Setidaknya dia harus minta maaf karena sudah menghina temanku. Temanku tidak salah apa - apa. Mengapa dia harus mendapat penghinaan seperti ini? Bahkan, semua yang dia katakan adalah salah. Alessia adalah teman yang baik bagiku." Ucap Alex berusaha membela-ku.
"Tentu saja dia berusaha baik padamu. Dengan begitu, dia bisa menggodamu dan akhirnya menjadi bagian dari keluarga ini. Sebelum kamu sadar, aku sudah tahu duluan akal picik perempuan ini!" Kata Nyonya Scott yang semakin menjadi - jadi.
"Diam!" Ucapku sontak memukul meja dan berdiri di hadapan mereka semua.
"Saya tidak tahu apa sebenarnya salah saya kepada nyonya hingga saya pantas mendapat penghinaan seperti ini. Saya berusaha bersikap baik sedari tadi karena saya menghargai nyonya sebagai salah satu orangtua dari teman saya, Alex. Tapi, saya sekarang tidak bisa tinggal diam jika saya harus menerima hinaan yang tidak benar. Mungkin saya memang bukan terlahir dari keluarga berada melainkan hanya sebuah keluarga sederhana. Namun, saya dididik dengan perhatian dan kasih sayang dari orangtua hingga saya tumbuh sebagai pribadi yang tahu etika dan sopan santun terhadap orang lain. Saya dididik untuk bekerja keras dengan usaha sendiri dalam mencapai impian dan cita - cita saya. Jadi, bukan berarti anda bisa sesukanya menghakimi orang padahal tidak tahu apa - apa tentangnya. Ini namanya pencemaran nama baik dan saya tidak terima atas penghinaan ini." Ucapku sangat geram.
"Maaf, Nona Alessia, tolong tenang dulu! Saya atas nama istri saya dan sebagai kepala keluarga Scott meminta maaf secara tulus atas penghinaan yang tidak benar ini. Mohon dimaafkan, Nona Alessia!" Ucap Ayah Alex sambil menundukkan kepalanya.
"Kami tidak perlu permintaan maaf darimu, ayah! Tapi, darinya!" Ucap Alex menggantikanku sambil menunjuk ke arah ibu tirinya.
Alex terdiam sejenak sambil melihat reaksi ayahnya dan kemudian melanjutkan perkataannya.
"Ahh... aku benar - benar bodoh sekali! Tentu saja pasti ayah akan melindunginya. Aku sudah tahu sejak kecelakaan waktu itu. Sebenarnya ayah sudah tahu dalangnya tapi tetap saja diam seakan tidak terjadi apa - apa. Ahh...mungkin bukan itu alasannya! Alasan sebenarnya karena ayah sendiri juga terlibat di dalamnya. Tapi, ayah tidak mau mengakuinya. Entah sebenarnya masih pantaskah aku memanggilmu dengan sebutan ayah. Rasanya terlihat munafik, bukan? Lepas dari itu, tujuan aku kesini adalah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga ini. Aku akan pergi sendiri tanpa menunggu kalian mengusirku. Aku juga tidak merasa cocok menjadi bagian dari keluarga Scott yang begitu disegani ini. Untuk apa aku mengemis kasih sayang dari orangtua yang telah membuangku. Lebih baik aku menerima cinta dari orang lain di luar sana yang benar - benar menghargai keberadaanku. Ayo, kita pergi dari sini, Alessia! Tujuan kita sudah selesai disini! Kalau kamu mau menunggu permintaan maaf yang tulus dari mereka, kurasa itu tidak mungkin diucapkan oleh mereka yang tidak tahu akhlak ini! Jadi, Tuan besar Scott, kami permisi! Terima kasih atas undangan makan malamnya! Kami benar - benar merasa sangat terhormat!" Ucap Alex dengan angkuhnya sambil menarikku pergi meninggalkan mereka.
"Iya, pergi saja sana dan jangan pernah kembali dan mengemis harta dari keluarga Scott lagi! Dasar anak haram!" Ucap Nyonya Scott yang terdengar sudah kelewatan.
"Alex, tunggu! Jangan pergi! Dengarkan penjelasan dari ayah sekali lagi, Nak!" Ucap Ayah Alex yang terdengar sedang memohon.
Alex hanya mengabaikannya dan terus menarikku pergi. Kami berjalan pergi tanpa melihat ke belakang. Sebenarnya, aku sedikit mendengar suara perdebatan di antara mereka. Namun, itu tidak menghentikan langkahku karena jujur aku juga merasa sakit hati dengan perlakuan mereka. Aku tidak pernah merasa sesakit ini dihina oleh orang lain yang bahkan tidak tahu apa - apa tentangku. Akhirnya, aku menyadari alasan Alex membenci keluarganya itu dan kurasa keputusannya kali ini adalah keputusan yang benar. Dia tidak pantas memiliki keluarga yang tidak pernah menyayanginya dengan tulus. Sudah cukup penderitaan yang dia alami sampai saat ini. Dia harus bahagia mulai dari sekarang.
La felicità viene da lui!