
Udara dingin pagi itu berhembus deras melewati jendela yang terbuka hingga membuat seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Kemudian secara perlahan aku membuka mataku dan terbangun dari tidurku yang lelap semalam. Aku melihat jam dinding di pojok kamar itu yang menunjukkan pukul lima subuh. Aku bergegas bangun dan mencoba turun dari ranjang. Tiba - tiba, ada seseorang yang menarik tanganku dari belakang.
"Alessia, ini jam berapa?" Ucap Alex.
"Ini jam lima subuh. Aku harus bergegas membuat sarapan untuk Papa dan Alexa sekarang juga!" Gumamku tanpa sadar.
Sepertinya aku belum benar - benar bangun dari tidurku hingga tidak sadar kalau ternyata aku sedang berada di rumah Alex.
"Hehe...Alessia, sadarlah! Sekarang, kan kamu sedang berada dirumahku!" Ucapnya sambil tersenyum jahil.
Aku mengucek - ucek mataku dan mencoba memandangi sekelilingku hingga akhirnya melihat Alex yang tidur di sampingku. Kemudian aku menyadari bahwa aku tidak berada di rumahku sekarang.
"Ahh...iya, aku lupa! Aku sudah terbiasa setiap pagi seperti ini. Jadi, belum bisa membiasakan diri di tempat yang baru." Ucapku.
"Kalau begitu, berbaringlah sejam lagi sebelum kita bersiap - siap ke sekolah!" Ucapnya mencoba menarikku kembali tidur di sampingnya.
"Aku bukan sepertimu yang suka bermalas - malasan di pagi hari. Ngomong - ngomong, udara paginya benar - benar terasa segar dan sejuk. Ayo, kita keluar dan berjalan - jalan pagi sambil menghirup udara pagi sekaligus menikmati pemandangan di depan rumahmu itu!" Ucapku bersemangat.
"Hoaaamm.... aku masih ngantuk, Alessia!" Ucapnya sambil menguap.
"Ahh...kamu payah! Kan hitung - hitung olahraga pagi supaya tubuh kita sehat bugar dan otak menjadi lebih segar saat menerima pelajaran di kelas. Kalau begitu, aku akan pergi sendiri! Daaahh.....!" Ucapku sambil turun dari ranjang dan berlari keluar kamar.
"Ya, Alessia! Aku juga mau ikut nih! Tunggu aku! Tidak perlu lari - lari begitu!" Teriaknya.
Aku tidak memperdulikan sahutannya dan langsung berlari keluar kamar menuju lantai bawah. Sebenarnya, aku sengaja memancingnya agar dia bangun dan tidak melanjutkan tidurnya. Alex berusaha mengejarku dari belakang. Namun, aku masih sangat jauh di depan.
Sesampainya di lantai bawah, aku langsung membuka pintu utama dan berlari keluar sambil mengisi paru - paruku dengan udara segar. Benar - benar sangat melegakan. Indera penciumanku yang tidak lagi asing dengan aroma bunga langsung mengenali aroma yang baru saja melintas. Ini sudah pasti aroma bunga melati yang lembut itu. Sepertinya aromanya berasal dari labirin itu- gumamku dalam hati. Aku melihat labirin itu yang sudah menjadi pusat perhatianku saat pertama kali datang ke rumah ini. Sepertinya Labirin itu terbuat dari dinding tanaman boxwood yang sangat tinggi. Aku penasaran dengan apa yang ada di balik labirin itu. Karena rasa ingin tahu, aku langsung masuk ke dalam labirin itu tanpa menunggu Alex terlebih dahulu. Aku hanya bermodalkan niat dan arahan indera penciumanku yang menuntunku untuk mengikuti aroma bunga itu. Labirin itu sangat luas dan penuh dengan jalan yang berliku - liku dan bercabang. Setelah lama aku berjalan, akhirnya aku menemukan pertigaan jalan yang membuat aku bingung dan buta arah. Seketika aroma bunga melati yang aku cium sebelumnya itu menghilang. Aku berusaha mencari lagi sumber baunya. Tapi, tetap saja hasilnya nihil. Aku mencoba melihat ke belakang, berharap Alex sudah menyusulku. Namun, setelah aku menunggu sekitar sepuluh menit, dia tetap saja tidak datang. Akhirnya, aku baru menyadari bahwa aku sudah pergi terlalu jauh. Aku mencoba kembali ke tempat asal. Namun, akhirnya aku tersesat. Aku tidak tahu jalan kembali dan sekarang tubuhku menggigil kedinginan akibat keluar tanpa menggunakan baju hangat dan alas kaki. Kalau dipikir - pikir, betapa cerobohnya aku, sampai - sampai bisa tersesat seperti ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu Alex datang mencariku sambil duduk di atas rumput.
Tiba - tiba, angin semilir berhembus bersamaan dengan aroma bunga melati yang menghilang tadi. Kemudian aku melihat ke arah perginya aroma yang harum itu. Sepertinya mataku tidak salah lihat. Aku baru saja melihat seorang wanita bergaun putih yang lewat di antara labirin itu. Wajahnya bercahaya dan tidak terlihat jelas. Aku berusaha memanggilnya. Mungkin dia bisa membantuku keluar dari labirin itu.
"Permisi! Maaf, apakah kamu bisa membantuku? Sepertinya aku tersesat! Bisakah kamu menunjukkanku jalan keluar dari labirin ini?" Ucapku mencoba menarik perhatiannya.
Dia hanya menoleh kepadaku tanpa berbicara sedikitpun kemudian dia berbalik dan berjalan memasuki labirin lebih jauh lagi. Aku pikir mungkin dia menyuruhku untuk mengikutinya saja. Aku bergegas bangun dan mulai mengikuti langkahnya. Sepanjang jalan, kami sama sekali tidak berbicara sama kali. Tapi, yang anehnya, aroma bunga melatinya tercium sangat kuat hingga membuat hidungku tidak bisa mencium aroma lainnya. Lama - kelamaan, aku merasa bahwa aroma itu berasal dari wanita itu. Seketika bulu kudukku merinding. Sebenarnya siapa yang sedang aku ikuti ini. Tapi, aku memilih untuk mengikutinya karena aku tidak punya pilihan lain. Aku harus segera keluar dari sini dan bertemu dengan Alex.
Setelah kurang lebih sepuluh menit berjalan, akhirnya aku bisa melihat jalan keluarnya. Aku melihat seberkas cahaya mentari yang membias memasuki labirin yang aku masuki ini. Wanita itu benar - benar menuntunku ke jalan yang benar. Namun, dia masih saja berjalan lurus ke depan hingga keluar dari labirin tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Dia terus berjalan menuju padang yang penuh dengan tanaman bunga melati itu. Sekarang aku baru tahu darimana aroma itu berasal. Ternyata, aroma itu berasal dari padang di depan mataku ini. Kemudian aku keluar dari labirin dan melihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Sebuah hamparan bunga melati yang menutupi seluruh permukaan tanah yang hanya menyisakan sedikit di bagian tengahnya. Wanita itu terus berjalan di antara bunga melati itu menuju ke tempat yang berada di tengah itu. Dia terlihat sangat anggun dari kejauhan. Aku hanya menunggu di bagian tepinya sambil melihat dan terperangah dengan pemandangan yang menakjubkan itu. Ingin rasanya aku mengabadikannya ke dalam sebuah lukisan. Pasti benar - benar indah dan sempurna- gumamku dalam hati.
Setelah wanita itu sampai tepat di bagian tengah padang itu, dia pun berbalik dan menghadapku. Wajahnya yang tadinya tidak keliatan, akhirnya aku bisa melihat rupa aslinya. Wanita itu melihatku dan tersenyum cerah. Dia benar - benar cantik seperti bidadari. Aku tidak pernah melihat wanita secantik dirinya. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah kanan bagian belakangnya. Ternyata, yang dia maksud adalah sebuah gapura yang terlihat sangat indah dan megah. Aku benar - benar tidak menyadari keberadaan gapura itu sebelumnya. Mungkin aku terlalu sibuk terpesona dengan keperawakan wanita itu hingga tidak menyadarinya sama sekali. Aku kembali memandangi gapura itu hingga aku melihat sesuatu yang membuatku merasa bergidik. Aku melihat sebuah piano berwarna putih yang bertengger di atas gapura itu. Aku langsung kembali melihat wanita itu yang sedang memberikan senyuman manisnya yang cerah dan akhirnya menghilang seperti serbuk bunga dandelion yang tertiup angin dan berhamburan serta menyatu dengan udara. Aku tidak bisa berkata apa - apa. Itu merupakan pemandangan yang benar - benar aneh tapi juga indah. Bahkan, aku masih saja tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Sebenarnya wanita itu siapa? Aku benar - benar merinding. Tanpa sadar, seseorang menepuk bahuku dari belakang.
"Alessia! Sedang apa kamu di sini? Aku sudah mencarimu kemana - mana dari tadi. Kamu benar - benar membuatku cemas saja! Kupikir kamu sudah tersesat di dalam labirin itu!" Ucap Alex yang akhirnya menemukanku.
Aku tidak begitu memperdulikan ucapannya dan malah balik bertanya padanya.
"Alex, katakan padaku bahwa kamu juga melihat wanita itu tadi, Iya, kan?"
"Wanita? siapa? Aku tidak melihat siapa - siapa selain dirimu di sini!" Ucapnya sambil melirik ke kiri dan ke kanan.
"Wanita yang bergaun putih dan berambut panjang itu. Dia menuntun ke sini karena tadi aku tersesat di dalamnya. Ngomong - ngomong, tempat apa ini, Alex?" Ucapku penasaran.
Wajah Alex yang tadinya biasa saja kini menjadi muram. Sepertinya ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentang tempat ini.
"Mari, aku tunjukkan padamu!" Ucap Alex sambil menggapai tanganku dan menarikku ke suatu tempat.
Dia membawaku melintasi hamparan bunga itu dan berhenti di tengah - tengahnya. Itu tempat yang sama dengan tempat wanita itu menghilang. Lebih terkejutnya lagi, aku melihat batu nisan di atas sebuah makam.
Alex mengambil beberapa pokok bunga melati dan meletakkannya di atas makam itu. Wajahnya terlihat semakin sedih.
"Mama, apa kabarmu di sana? Kuharap Mama selalu bahagia di sana. Maaf, aku baru datang mengunjungimu setelah sekian lama sejak kepergianmu. Sekarang aku datang dengan membawa seorang teman yang manis dan cantik sepertimu. Namanya Alessia. Namanya cantik seperti dirinya, bukan?" Ucap Alex yang hampir meneteskan air mata.
"Senang bertemu denganmu, Bibi! Perkenalkan saya, Alessia, sahabatnya Alex!" Ucapku sambil menunduk hormat.
Aku baru saja menyadari bahwa itu adalah makam ibunya. Aku melihat ke sekeliling makamnya yang sangat terawat dan akhirnya perhatianku fokus di satu objek, yaitu sebuah foto makam yang diletakkan tepat di atasnya. Seketika itu, aku terkena serangan kejutan yang luar biasa. Gaun yang dikenakan dan wajah ibunya sama persis dengan wanita yang aku lihat sebelumnya. Aku tersungkur ke tanah dan seakan tidak percaya. Kakiku menjadi mati lemas dan tak bertenaga lagi. Alex yang melihatku terjatuh, langsung menghampiriku.
"Alessia, ada apa? Apa kamu sekarang merasa tidak enak badan?" Ucap Alex menanyakan keadaanku.
Aku masih dalam keadaan kebingungan dan rasa tidak percaya dengan semua itu. Perlahan - lahan akhirnya aku bisa mengucapkan sepatah kata dari mulutku.
"Alex! Sepertinya aku baru saja melihat ibumu! Benar - benar ibumu! Aku yakin sekali itu! Wanita yang aku lihat tadi sama persis dengan wajah ibumu di foto itu. Hanya saja aku tidak sempat mengatakan apapun padanya." Ucapku menjelaskan apa yang terjadi.
"Benarkah?" Katanya mencoba percaya dengan yang aku katakan.
"Iya, aku yakin sekali! Dia muncul saat aku tersesat di dalam labirin tadi dan kemudian dia menuntunku hingga ke sini." Jawabku.
"Apakah ibuku mengatakan sesuatu padamu? Apa dia bertanya tentangku?" Tanyanya dengan ekspresi penasaran.
"Tidak, dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum padaku dan kemudian menunjuk ke arah gapura itu. Setelah itu, dia menghilang begitu saja! Memangnya kenapa, Alex?" Jelasku.
"Aku pikir dia akan memberikan pesan padaku melaluimu sebagai perantara. Mungkin semacam clue atau sejenisnya. Lagipula kenapa ibuku tidak menampakkan dirinya padaku saja secara langsung yang mana aku ini adalah putranya? Kenapa harus kamu, Alessia? Itu benar - benar aneh." Katanya.
"Iya, itu memang aneh. Ngomong - ngomong soal clue, aku rasa ibumu baru saja memberikannya pada kita." Ucapku sambil tersenyum karena baru menemukan ide.
"Clue apa? Maksudmu apa sebenarnya, Alessia?" Tanyanya kebingungan.
"Alex, seperti yang kamu katakan tadi, bahwa kamu tidak pernah lagi ke sini sejak ibumu meninggal. Menurutku, itu alasannya dia tidak pernah menampakkan dirinya karena kamu tidak pernah ke sini. Mungkin sebenarnya ibumu sedang menunggu seseorang untuk menerima pesan darinya dan aku tidak sengaja sedang berada di labirin tadi sehingga dia menuntunku kemari. Jadi, kesimpulannya, yaitu pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan di tempat ini!" Jelasku yang berusaha menghubungkan satu persatu dari kejadian yang ada.
"Entahlah, aku tidak tahu apa itu! Jadi, sekarang tugas kita untuk menemukannya dan aku yakin sekali, kita pasti akan menemukannya di gapura itu!" Ucapku sambil menunjuk ke arah gapura itu.
"Di situ hanya ada sebuah piano. Selain itu, tidak ada apapun lagi!" Ucapnya.
"Kalau begitu, bolehkah aku memeriksanya sekali lagi untuk sekadar memastikannya?" Ucapku.
"Silakan saja! Ayo, aku temani ke sana!" Ucapnya sambil menuntunku ke gapura itu.
Sesampainya di gapura itu, aku langsung melihat dan memeriksa piano itu. Aku melihat piano itu secara keseluruhan hingga bagian per bagian dan akhirnya aku menemukan sesuatu yang menarik.
"Kamu bilang tidak ada apapun di sini selain piano! Padahal, jawaban sebenarnya adalah memang piano ini!" Ucapku.
"Oke, aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kamu maksud, Alessia! Jadi, tolong sederhanakan dan jelaskan padaku!" Balasnya.
Aku langsung menjelaskan buah pikiranku dengan panjang lebar kepadanya.
"Setiap alat musik menghasilkan nada - nada yang mengandung pesan atau makna yang tersirat maupun tersurat dari musisinya. Seperti kamu yang menulis lagu "Lampada Della Vita" untuk ibumu menggunakan biolamu, begitu pula dengan piano ini. Prinsipnya juga sama. Coba lihatlah kemari!" Ucapku sambil menunjuk sesuatu.
"Iya, aku tahu itu nama ibuku! Terus kenapa? Apa yang salah dengan itu?" Ucapnya melihat ukiran pada piano itu yang bertuliskan sebuah nama, yaitu " Diana".
"Maksudku bukan yang itu, Alex! Yang aku maksud adalah yang berada tepat di bawah nama ibumu itu!" Ucapku mempertegas maksudku.
"Itu sepertinya sebuah....." Ucapnya.
"Layar kode. Kita harus memasukkan kode untuk membuka rahasia di dalamnya." Ucapku sambil tersenyum bangga.
"Wahhh...kamu memang jenius, Alessia! Tapi, di sini tidak ada tombol untuk memasukkan kodenya. Kalau begitu bagaimana cara kita memasukkan kodenya?" Ucapnya dengan polos.
"Tentu saja, kasus ini berbeda dengan gembok kunci kode pada umumnya. Biasanya gembok kunci yang sering kita lihat itu menggunakan kombinasi nomor dengan beberapa digit sebagai kodenya. Tapi, dalam kasus ini, yang sedang kita hadapi bukanlah gembok kunci melainkan sebuah piano. Seingatku, aku pernah melihat dan membaca dalam suatu majalah, yang menjelaskan tentang pembuatan piano khusus yang dibuat berdasarkan permintaan pemesannya. Dari ciri - cirinya, ini sudah pasti piano yang sama seperti itu. Aku baru pertama kali melihat piano seperti ini! Benar - benar luar biasa!" Ucapku bersemangat.
"Sepertinya kamu terlihat begitu bersemangat! Apa ini sebegitu menariknya bagimu?" Ucapnya tersenyum melihatku.
"Tentu saja! Aku membayangkan kita seperti detektif yang ingin memecahkan suatu teka - teki yang sulit dipecahkan. Bukankah itu hebat?" Balasku.
"Iya, itu sangatlah hebat dan lebih hebat lagi jika kita bisa segera mengetahui rahasia di dalamnya, bukan?" Ucapnya.
"Ya, soal itu pasti kamu yang tahu kodenya!" Ucapku.
"Yaaa...aku juga tidak tahu! Bukan aku yang membuat dan memesannya!" Ucapnya.
"Maksudku itu, kamu pasti tahu siapa memesannya! Misalnya, Ayah atau ibumu?" Lanjutku.
"Ohh... maksudmu begitu! Ayahku yang memesan pianonya untuk ibuku. Selama tinggal di sini, ibuku selalu memainkannya setiap pagi di sini!" Balasnya.
"Jadi, intinya piano ini adalah milik ibumu dan pastinya dipesan sesuai referensi dari beliau. Kalau begitu, apa kamu tahu lagu kesukaan ibumu?" Ucapku.
"Kalau lagu kesukaan ibuku itu judulnya Etude Op. 10 no 3 in E Major karya Frederic Chopin. Ngomong - ngomong, apa hubungannya dengan kodenya?" Ucapnya yang masih belum mengerti.
"Alex, dengarkan aku baik - baik! Kita tahu bahwa agar sebuah gembok kunci itu bisa terbuka, pasti membutuhkan kombinasi nomor kode yang sudah valid dan tombol untuk menekan kodenya. Sama halnya dengan piano ini, kita membutuhkan nada - nada dari lagu yang sudah disetel sejak awal pembuatannya sebagai kodenya sedangkan tutsnya akan menjadi tombolnya." Jelasku.
"Wah... lama - lama aku jadi benar - benar kagum denganmu, Alessia! Kamu benar - benar jenius! Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba sekarang!" Ajaknya.
"Siapa yang akan memainkannya?" Tanyaku.
"Kamulah, Alessia! Itu kan keahlianmu! Aku kan tidak bisa dan memang belum pernah memainkannya! Hehe..." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Kamu pikir aku bisa memainkan semua lagu yang ada! Aku ini hanyalah pianis amatir! Lagipula, memainkan lagu karya Chopin itu bukanlah hal yang mudah! Terlalu banyak hentakan nada di pertengahan lagu yang membuatnya menjadi sangat rumit. Sepertinya aku tidak mungkin bisa memainkannya!" Ucapku kecewa.
"Kamu pasti bisa, Alessia! Ibuku tidak mungkin memilihmu jika kamu tidak mampu! Pasti itu alasannya beliau menampakkan diri padamu agar kamu yang memainkannya dan membuka kotak pandoranya! Kamu bisa berlatih dulu sambil memantapkan hati! Jadi, jangan terlalu buru - buru dan memaksakan diri berlebihan! Aku tidak apa - apa, kok, jika harus menunggu lama! Yang penting kamu selalu bersama denganku dan bahagia selalu!" Ucapnya sambil tersenyum.
"Baiklah, Alex! Terima kasih sudah mempercayaiku! Aku pasti akan berusaha membantumu memecahkannya. Apapun itu pasti aku lakukan! Terkadang aku ini memang suka cepat menyerah duluan! Mungkin sepertinya karena perutku ini masih belum diisi makanan. Jadinya, aku cepat lemas, deh! Aku benar - benar butuh sarapan sekarang! Haha..." Ucapku sambil tertawa.
Alex pun ikut tertawa dengan candaanku. Tiba - tiba, aku kembali teringat sesuatu yang sangat penting.
"Alex, ngomong - ngomong soal sarapan, sekarang ini sudah jam berapa?" Tanyaku.
"Kalau dilihat dari matahari yang sudah mulai terlihat jelas, mungkin sekitar jam enam lewat. Tunggu dulu! Bukankah hari ini kita harus ke......." Ucapnya sambil berpikir.
"Sekolah!" Sontak kami bersamaan.
"Ayo cepat, Alex! Nanti kita terlambat ke sekolah!" Ajakku terburu - buru.
"Iya, iya! Siapa suruh pakai tersesat di labirin segala! Jadi telat, kan!" Ucapnya setengah mengejek.
"Iya, aku, kan tidak sengaja, Dasar Pengganggu! Kamu minta dipukul, ya! Awas kamu, ya! Jangan lari kamu! Aku akan menangkapmu! Tunggu dan lihat saja!" Ucapku.
"Ampun...ampun!" Ucapnya memohon.
Kami pun berlari secepatnya kembali ke rumah. Hari itu benar - benar penuh dengan kejutan. Banyak kejadian yang tidak terduga yang aku rasa sama sekali tidak masuk akal. Awalnya, aku tidak pernah percaya bahwa kita yang masih hidup ini bisa melihat mereka yang sudah meninggal. Tapi, setelah mengalaminya sendiri, akhirnya aku mulai percaya sesuatu yang tidak bisa dipercaya di luar nalar manusia pada umumnya. Aku yakin mereka yang menampakkan diri pasti memiliki alasan atau sekadar memberikan pesan yang belum sempat dilakukan dan disampaikan semasa hidup. Oleh karena itu, sebagai orang yang masih hidup, kita harus selalu menghargai detik, menit, dan jam dari sisa waktu hidup yang kita miliki dengan mengisinya dengan kenangan yang indah dan tidak menyia - nyiakan satu detikpun waktu yang berharga yang kita miliki. Tidak lupa juga kita harus terus mengingat dan mendoakan mereka yang telah meninggal agar arwahnya tenang di alam sana. Akhirnya, kini aku menyadari dan menyakini itu! Benar - benar yakin sekali!
Ci credo!