
Pagi ini, aku terbangun lagi dengan mata pandaku. Badanku terasa pegal di sana - sini. Ini akibat karena terlalu banyak bergadang. Aku memang benar - benar mencurahkan segala daya karsa yang kumiliki untuk menyelesaikan konsep karyaku supaya hari ini aku bisa mulai melukisnya. Sampai - sampai aku tidak ingat waktu dan akhirnya aku hanya bisa tidur dua jam tadi malam.
Selain itu, karena kejadian kemarin pagi yang sangat kusesali, seluruh tubuhku benar - benar nyeri dimana - mana. Ditambah harus pulang bareng Alex dengan sepedanya yang memaksaku harus duduk di depan, hal itu semakin memperburuk kondisiku.
Kemarin itu benar - benar hari yang melelahkan. Aku membutuhkan masa tenang walau hanya sejenak. Namun, bagaimanapun hari ini harus tetap ke sekolah.
"Hari ini harus lebih semangat, ya! Alessia, semangat!" Ucapku menyemangati diri sendiri.
Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera bersiap - siap sekolah. Tepat tiga puluh menit, aku sudah selesai bersiap dan langsung beranjak pergi ke sekolah.
"Papa, sarapannya sudah siap di atas meja, ya! Alessia, pamit pergi ke sekolah dulu!" Ucapku memanggil Papa yang baru saja pulang dinas.
Tapi, Papa sama sekali tidak menjawab panggilanku. Aku pun mencarinya ke kamar. Tapi, aku juga tidak menemukannya.
"Sebenarnya, Papa dimana, ya?" Gumamku.
Aku pun kembali ke dapur untuk merapikan meja. Saat sedang sibuk di dapur, aku mendengar suara orang sedang berbicara. Sepertinya suara itu berasal dari ruang tamu. Karena penasaran, aku langsung mendatanginya. Ketika aku sampai di ruang tamu, aku melihat Papa dan Alex sedang berbincang - bincang.
"Alex! Kamu kenapa ada di sini?" Tanyaku kaget.
"Hai, Alessia! Tentu saja aku ingin mengajakmu pergi bersama ke sekolah." Jawabnya santai.
"Tapi, kan kamu bisa menungguku di luar. Tidak perlu masuk ke rumahku juga!" Balasku.
"Papa yang mempersilahkan Alex untuk masuk. Memangnya kenapa, Alessia? Teman yang datang harus disuruh masuk lah! Tidak baik menyuruh tamu untuk tunggu di luar. Jadi, besok - besok kalau Alex datang jemput , tunggu di dalam saja, ya, Nak! Ngomong - ngomong, Alex sudah sarapan tadi?" Ucap Papa.
"Belum, Paman. Aku tadi buru - buru jadi lupa untuk sarapan." Ujar Alex.
"Ohh, begitu. Kebetulan, Alessia sudah buat sarapan di rumah. Mari kita sarapan bersama! Alessia, tolong kamu siapkan sarapan untuk Alex juga, ya!" Pinta Papa.
"Baiklah, Papa! Alessia akan siapkan sekarang!" Jawabku.
Aku pergi kembali ke dapur dan menyiapkan sarapan lagi untuknya. Akhirnya, Papa dan Alex sarapan bersama di meja makan sambil bercakap - cakap seru. Sesekali Papa tertawa karena candaan Alex. Mereka berdua terlihat sangat akrab dan cocok. Seperti Ayah dan anak laki - laki. Memang dulu Papa sangat berharap memiliki seorang putra juga. Tapi, karena kondisi Mama yang tiba - tiba kritis sehingga calon bayi dalam kandungan Mama yang masih berumur tiga bulan akhirnya keguguran. Meski begitu, Papa sangat bersyukur dengan kedua putrinya dan sangat menyayangi kami.
Setelah mereka selesai sarapan, aku langsung mencuci piring dan bergegas merapikan meja makan. Akhirnya, kami pun beranjak pergi ke sekolah.
"Alex, ayo pergi sekarang! Nanti kita terlambat." Ajakku.
"Ayo, Alessia! Paman, saya pamit dulu! Pokoknya saya akan antar Alessia sampai ke sekolah dengan selamat. Dan senang bertemu dan berbincang dengan Paman. Saya harap bisa berbincang bersama lagi dengan paman." Ucap Alex sambil tersenyum.
"Iya, Papa! Alessia pamit juga! Sampai jumpa, Papa!" Ucapku sambil mencium punggung tangan Papa.
"Iya, hati - hati, kalian berdua! Cepat sana! Nanti kalian terlambat lagi." Ucap Papa sambil menutup pintu rumah.
Kami pun berjalan beriringan keluar menuju pagar rumah.
"Alex! Bukankah kemarin aku sudah bilang tidak usah menjemputku hari ini? Lagipula aku juga tidak akan naik sepedamu lagi. Punggung dan kakiku terasa pegal karena semalam. Lebih baik aku jalan kaki saja." Ujarku agak risih.
"Aku tidak mungkin berani ke sini kalau tidak menyiapkan apa - apa. Tadaaahh....!" Ucap Alex sambil memperlihatkan sepedanya.
Aku melihat ada yang berbeda dari sepedanya. Benar! Sekarang sepeda itu memiliki tempat duduk di belakangnya dan sebuah helm kecil menggantung pada kemudinya.
"Wah, apa kamu memodifikasi sepedanya? Aku tidak percaya kalau kamu akan melakukan apa yang kamu katakan kemarin. Ternyata kamu benar - benar pengertian, Alex! Tunggu apa lagi, ayo jalan!" Ucapku takjub.
"Tentu saja, kamu pikir aku ini apa? Kamu harus berterima kasih padaku karena sudah memberikan pelayanan VIP padamu. Aku sudah cukup bekerja keras semalam. Kamu harus meneraktirku minuman nanti, oke?" Ucapnya.
"Iya, iya, Tuan Muda Scott. Waktunya kita pergi!" Ujarku.
"Pakai ini dulu baru naik!" Ucap Alex sambil memakaikanku helm berwarna pink itu.
"Ini untukku?"
"Tentu saja. Ini kan pelayanan VIP. Ayo, naik!" Ujarnya.
Aku langsung melompat ke belakangnya dan duduk yang manis. Tapi aku bingung harus berpegangan dimana.
"Alessia! Aku memakaikan helm padamu bukan berarti kamu sudah aman hanya dengan menggunakan itu. Kamu juga harus pegangan supaya tidak jatuh. Kemarikan tanganmu." Ucap Alex sambil menarik tanganku ke depan dan melipatnya ke tubuhnya.
"Apa - apaan sih? Aku tidak mau seperti itu. Tidak nyaman. Aku akan memeluk tasmu saja dari belakang." Jawabku dengan nada agak malu - malu.
"Ya, sudah terserah kamu saja. Kalau begitu kita berangkat" Serunya.
Akhirnya, kami pun berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kami langsung ke kelas untuk absen pagi dan kemudian berputar haluan menuju taman rahasia. Kami berjalan santai sambil berbincang - bincang.
"Alex, kamu benar - benar sudah absen kan tadi?" Tanyaku memastikan.
"Iya, Alessia! Kamu kan sudah lihat sendiri." Balasnya sambil mencubit pipiku.
"Makanya kalau punya pipi jangan kayak bakpao ! Kan minta dicubit itu namanya. Ngomong - ngomong, aku sudah menyelesaikan salinan sheet musiknya. Mau lihat?"
"Mana, mana?" Ucapku penasaran.
Alex mengeluarkan kertas salinan dari tasnya. Dia terlihat percaya diri dengan itu.
"Nah, untukmu! Kamu bisa melihatnya dulu sembari kita jalan." Ucapnya sambil memberikan salinan itu.
"Wahh...kamu menyalinnya dengan rapi. Kamu yang terbaik. Aku akan bekerja keras untuk ini! Semangat!" Ucapku senang.
"Haruskah kamu menunjukkan ekspresi seperti itu? Dasar kamu, Gadis Pita Merah!" Ucapnya sambil merusak tatanan rambutku dan berlari meninggalkanku.
"Yaaa... Alex! Penyakitmu kambuh lagi, ya? Rambutku jadi berantakan lagi, kan! Katanya mau jalan santai. Malah lari ninggalin aku. Hei, Dasar Pengganggu, tunggu aku!" Ucapku agak kesal.
Aku mengejarnya hingga ke dalam taman. Tapi, dia tiba - tiba menghilang dari pandanganku. Aku pun mencarinya ke seluruh taman. Aku bertanya - tanya dalam hati, sebenarnya dia pergi kemana. Taman ini menyimpan begitu banyak rahasia. Setiap sudutnya bagaikan portal tertutup dengan dunia luar. Namun, kehidupan di dalamnya benar - benar lebih hidup dan bersahaja daripada dunia luar. Karena terpukau dengan keindahan taman itu, aku sampai lupa untuk mencari Alex. Aku duduk di hamparan rumput hijau yang membentang di tengah kumpulan bunga yang sedang mekar berseri. Matahari pagi yang baru saja terbit juga bersinar cerah dan hangat seolah menyambutku.
"Bagaimana bisa tempat ini terlihat begitu sangat indah?" Gumamku.
Selagi aku memandang langit dan sekitar, aku terkejut karena sesuatu.
"Alessia!" Ucap Alex sambil menepuk pundakku agak kuat.
"Alex...! Kamu darimana saja? Aku sudah mencarimu kemana - mana." Tanyaku.
"Aku hanya pergi sebentar di sekitar sini." Jawabnya sambil duduk di sampingku.
"Alessia! Ini untukmu!" Ucap Alex sambil memberi sesuatu.
Alex mengeluarkan setangkai bunga mawar merah yang berhiaskan pita berwarna emas dari balik punggungnya.
"Ini apa, Alex? Bunga mawar?" Ucapku agak bingung.
"Iya, ini hadiah dariku untukmu. Sebenarnya aku ingin menggambarkan tentang dirimu melalui simbol sebuah mawar berbalut emas."Lanjutnya.
"Wah, benar - benar sangat indah dan harum! Terima kasih, Alex! Ini pertama kalinya aku mendapat hadiah dari seorang teman. Tapi, apa maksudmu aku seperti mawar ini?" Ujarku sambil menikmati keindahan mawar itu.
"Seperti kamu yang selalu tabah dan sabar dalam menghadapi segala kesulitanmu dengan membagikan kebahagiaan kepada orang lain dengan pesonamu. Sama halnya dengan mawar ini. Meski mawar yang mekar itu sangat indah. Namun, tetap saja dia masih memiliki duri yang tajam. Tapi itu tidak menghalanginya untuk menunjukkan keindahannya melalui kelopaknya yang merah yang penuh semangat dan ambisi." Jelasnya sambil melepas pita emas itu dari tangkainya.
"Tapi untuk membuatnya istimewa dari mawar lainnya, dia harus menjadi emas di antara ribuan mawar lainnya. Alessia yang dulu adalah mawar berwarna merah, tapi sekarang jadilah mawar yang berwarna emas. Maukah kamu memakai pita ini sebagai lencana yang baru?" Ucapnya yang membuatku kagum.
"Lencana? Darimana kamu tahu mengenai hal itu?" Ucapku agak terkejut.
"Maafkan aku, karena aku mendengarnya dari ayahmu bukan langsung darimu. Aku penasaran dengan pita rambut warna merahmu itu. Jadi, aku menanyakannya. Ternyata, itu dulunya adalah milik mendiang ibumu. Maafkan aku karena suka mengejekmu dengan itu." Ucap Alex menjelaskan kepadaku.
"Iya, tidak apa - apa, kok! Kan kamu tidak tahu soal itu. Cepat atau lambat, kamu pasti akan tahu. Jadi, jangan merasa bersalah! Tapi maaf, aku tidak bisa menerima pita itu darimu! Aku pikir aku akan tetap memakai pita merah milikku. Pita merah ini menyimpan kenangan tentang ibuku dan sebuah janji yang harus kutepati." Ucapku menolak pemberiannya itu.
"Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan kenangan dan janjimu pada mendiang ibumu, Tapi aku ingin kamu menjadi lebih istimewa daripada yang dulu. Mungkin dulu kamu sudah menunjukkan dirimu sebagai seorang anak yang berbakti pada orangtua dan sampai kapanpun akan begitu. Tapi, sekarang kamu juga sudah menjadi sosok yang telah mengembalikan kembali kehidupan seseorang yang telah suram menjadi cerah kembali, yaitu aku, Alexander Scott yang ingin kamu menjadi sahabatnya. Jadi, bersediakah kamu menjadi sahabatku, Alessia? Maukah kamu menjadi mawar merah berbalut emas?"
Ucap Alex sambil menunjukkan pita emas itu di hadapanku.
"Apa aku layak menjadi sahabatmu? Aku bukan terlahir dari keluarga konglomerat sepertimu." Jawabku.
"Aku sama sekali tidak memandang status orang untuk menjadi bagian dariku. Aku benar - benar tidak peduli soal itu. Aku hanya ingin orang yang benar - benar tulus peduli dan menghargaiku sebagai seorang manusia dan teman. Dan bagiku, kau adalah anugerah yang Tuhan berikan padaku selain mendiang ibuku." Ucapnya sambil menatapku dalam.
"Bagiku, kamu juga teman terbaik yang pernah aku miliki. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membagi kesedihan dan air mata bersamamu. Bagaimana aku bisa menolakmu menjadi sahabatku? Aku begitu bodoh karena berpikir terlalu dangkal tentangmu. Maafkan aku, Alex! Tentu aku akan menerimanya dengan tulus dan memakainya sebagai lencana persahabatan kita." Ucapku dengan tersenyum cerah.
"Terima kasih, Alessia! Aku janji akan menjadi teman terbaik untukmu dan tidak akan pernah mengecewakanmu!" Kata Alex dengan senyumannya yang cerah.
"Iya, aku juga berjanji padamu! Aku akan mendukungmu selalu dan menemanimu selalu." Balasku.
"Kalau begitu, bolehkah aku memasangnya pada rambutmu sekarang?" Ucapnya.
"Tentu saja boleh!" Ujarku sambil membalikkan kepalaku.
Alex pun melepaskan pita merah yang terikat dan mengikat pita berwarna emas itu pada rambutku yang terurai.
"Terlihat cocok denganmu! Kamu terlihat sangat cantik dari biasanya." Pujinya.
"Memangnya aku tidak cantik biasanya?" Ucapku setengah bercanda.
"Bukan begitu! Haah.. susah untuk menjelaskannya! Pokoknya kamu cantik, Alessia! " Ucapnya sambil tersipu malu.
Ekspresi malu - malunya terlihat sangat imut. Aku tidak akan pernah melupakan peristiwa ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa menjadi seseorang yang berharga bagi orang lain dan orang itu adalah dia. Aku merasa sangat bahagia. Aku berterima kasih pada Tuhan yang telah mempertemukan kami seperti ini. Polos dan juga tulus. Untuk Mamaku, aku berjanji akan menjaga Papa dan Alexa, adikku. Dan untuk sahabatku, Alex, aku akan selalu menjadi pita emasmu.
Rose rosse ricoperte di nastri dorati!