Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Tiga Puluh Dua I'll Wait You For A Thousand Years ( and Thousand More)



Aku masih duduk dan tertegun setelah apa yang baru saja terjadi padaku. Alex yang berada duduk di sampingku tadi, sudah kembali ke tempat duduknya di hadapanku. Aku melihat ekspresinya yang biasa saja seakan tidak terjadi apapun. Dia membuka dan melihat halaman demi halaman buku menu yang ada di atas meja. Aku meletakkan tanganku di pinggir meja dan menatapnya dalam waktu yang cukup lama.


Lama - kelamaan, dia pun menyadari bahwa aku sedang memandanginya.


"Alessia, ada apa dengan wajahmu itu?" Ucapnya.


"Tidak apa - apa! Aku hanya lapar!" Ucapku lemas.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu marah padaku?" Ucapnya.


"Aku tidak marah! Aku hanya sedang lapar! Kalau kamu merasa terganggu, lebih baik abaikan saja aku!" Ucapku.


Kemudian dia mengambil dan menarik kedua tanganku hingga ke tengah meja dan menggenggam erat sambil mengatakan sesuatu.


"Alessia, katakan apa salahku hingga membuatmu muram seperti itu?" Tanyanya lebih serius.


"Aku sudah katakan bahwa aku tidak marah! Jadi, jangan membuatku mengulangi kata - kataku lagi!" Ucapku sinis sambil melepaskan dan menarik tanganku sedikit kasar.


"Apa kamu marah karena aku mencium pipimu tanpa izin?" Ucapnya menyadari masalahnya.


Aku tidak menjawabnya dan hanya diam seperti batu.


"Maafkan aku jika itu membuatmu marah! Aku tidak sengaja! Sebenarnya aku hanya berusaha menyakinkan pelayan tadi!" Jelasnya.


"Tidak perlu mengatakan sesuatu yang sudah terjadi! Lupakan saja! Aku tidak peduli itu kamu mau sengaja atau tidak! Kita akhiri hari ini dengan makan kemudian setelah itu kamu antar aku pulang!" Ucapku agak ketus.


"Jelas - jelas kamu sedang marah, Alessia! Memangnya, kenapa? Aku kan hanya mencium pipimu! Lagipula kita juga sahabat, seharusnya kamu bisa mengerti itu!" Ucapnya sedikit keras.


"Tidak ada seorang sahabat yang mencium pipi sahabatnya! Asalkan kamu tahu itu! Kamu hanya membuat orang jadi salah paham! Jujur, aku rasa kamu sudah sedikit berlebihan dan melewati batas! Tapi, kali ini aku maafkan karena tidak ada gunanya mempermasalahkan hal sepele seperti ini! Jadi, mari kita makan dengan tenang hari ini! Oke, Alex?" Ucapku yang diakhiri dengan senyumanku yang mulai terbit.


"Baiklah, Alessia! Maafkan tindakanku yang berlebihan tadi yang membuatmu tidak nyaman!"Ucapnya menyesal.


"Iya, sudah - sudah! Meski begitu, akhirnya kita bisa merasakan steak gratis hari ini!" Ucapku dengan senyum yang sedikit dipaksa.


"Hmm...syukurlah kamu tidak marah lagi padaku!" Ucapnya sambil tersenyum juga.


Meskipun begitu, tetap saja masih ada yang mengganjal dalam hatiku. Muncul sejuta pertanyaan dalam lubuk hatiku yang paling dalam. Apakah dia benar - benar tidak merasakan apa - apa saat menciumku tadi? Apa hanya aku yang mulai menyukainya? Menurutku, dia benar - benar jahat dan tidak punya perasaan jika dia memang tidak merasakan apapun. Bahkan, dia masih bisa berekspresi tenang dan santai seakan tidak terjadi apa - apa. Padahal, sebenarnya dia sudah mempermainkan hati seseorang dan orang itu adalah aku. Tapi, tidak ada yang bisa aku lakukan selain menyimpan dan memendamnya dalam hati kecilku. Aku mungkin bisa menjadi sahabatnya tapi aku tidak pantas mengharapkan hal yang lebih dari itu. Aku dan dia seperti langit dan bumi. Aku hanya berharap perasaanku ini akan berlalu dan menghilang seiring berjalannya waktu.


Selagi aku bergelut dengan banyak pikiran di dalam kepalaku, akhirnya pesanan kami pun datang. Pelayan yang mengantarkannya langsung menyusun dengan rapi di atas meja kami. Semuanya terlihat sangat lezat dan benar - benar mencuci mataku dengan estetikanya yang mengagumkan. Bahkan, sebentar lagi perutku akan dicuci juga olehnya.


Aku memakan steak itu dengan lahap hingga tidak menyadari seseorang sedang memandangiku dari tadi.


"Alessia, apakah steaknya begitu enak hingga makannya sampai belepotan seperti itu? Hahaha..." Ucap Alex sambil tertawa kecil.


Aku hanya mengangguk penuh semangat karena mulutku sudah penuh dengan makanan hingga tidak bisa menjawab pertanyaan Alex lagi.


"Sepertinya punyamu lebih enak daripada punyaku, Alessia! Bolehkah aku mencicipinya sedikit?" Ucapnya.


Aku menggangguk lagi dan menusuk satu bagian steak yang sudah kupotong dengan garpu. Lalu, aku mengarahkannya ke arah Alex agar dia bisa mencicipinya juga.


Namun, dia tidak memakannya dan hanya melihatnya. Kemudian, dia agak memajukan badannya ke depan dan mengelap saus steak yang menempel di daerah mulutku dengan tangannya lalu mengesapnya.


"Uuummm....Ternyata steakmu itu memang lebih lezat dari punyaku!" Ucapnya sambil tersenyum.


"Mengapa kamu lakukan itu?" Ucapku mulai kesal.


"Apa?" Balasnya.


"Kamu mengelap mulutku dengan tanganmu." Jawabku.


"Aku kan sudah mencoba memberikannya barusan. Tapi, kamu malah melakukan hal seperti yang tadi!" Ucapku benar - benar kesal.


"Karena rasanya lebih lezat kalau langsung dari mulutmu, Alessia! Makanya makannya jangan belepotan seperti itu! Nah, lap mulutmu pakai tisu sampai bersih!" Ucapnya sambil tersenyum dan memberikan tisu untukku.


"Humph! Terima kasih tisunya dan bisakah kamu berhenti menggodaku, Alex? Aku kan mau makan dengan tenang." Ucapku dengan wajah kesal.


"Iya, iya, makanlah! Aku tidak akan menggodamu lagi! Kamu ini lucu sekali kalau lagi marah dan aku benar - benar menyukainya!" Ucap Alex sambil tersenyum cerah dan kembali menikmati makanannya.


"Dasar Pengganggu!" Ucapku ketus.


Akhirnya, kami menikmati makan siang itu dengan tenang. Setelah selesai makan, kami langsung beranjak pergi meninggalkan restoran itu.


Selama kami di dalam sampai keluar dari restoran itu, Alex tidak henti - hentinya memegang dan menggenggam erat tanganku. Aku tidak masalah dengan itu. Hanya saja banyak orang akan salah paham jika melihat kami bergandengan tangan terus sepanjang jalan.


"Alex, mengapa kamu selalu saja memegang tanganku dari tadi? Aku kan bukan anak kecil yang perlu dituntun kemanapun!" Ucapku agak risih.


"Bukan anak kecil gimana? Aku melihatmu dari tadi saja hampir menginjak lubang dan air kotor yang menggenang di jalanan.


Kalau aku melepasmu nanti, kamu akan menginjak apa lagi?" Ucapnya agak ketus.


"Hehe...maaf! Tapi, aku merasa tidak nyaman kalau harus dipegang terus! Banyak orang yang melihat kita. Aku takut mereka nanti salah paham. Biarkan aku jalan sendiri, oke?" Ucapku berusaha melepaskan cengkeramannya.


"Untuk apa kamu peduli mereka salah paham atau tidak? Baiklah! Tapi, lihat dan fokus dengan jalanmu itu!" Ucapnya melepas pegangannya dan mulai berjalan cepat mendahuluiku dengan ekspresi tidak terimanya itu.


"Alex, jalannya jangan cepat - cepat! Tunggu aku!" Panggilku.


Aku mencoba mengejarnya dan tanpa sadar, aku menginjak beberapa batu kerikil hingga tergelincir dan jatuh.


"Aduh!!!" Ujarku sambil meringis kesakitan.


Aku terduduk di trotoar jalan sambil memegang kakiku. Ternyata, lutut kaki sebelah kananku terluka hingga berdarah. Alex yang sudah berjalan mendahuluiku, akhirnya berbalik dan menghampiriku.


"Alessia, kamu tidak apa - apa? Mengapa kamu bisa jatuh?" Ucapnya dengan wajah khawatirnya.


"Aku mengejarmu kemudian aku tidak sengaja menginjak kerikil dan tergelincir jatuh karena sandalku yang licin. Sekarang lututku rasanya sangat perih sekali!" Ucapku lirih.


"Baiklah! Naiklah sekarang ke punggungku!" Ucapnya sambil memberikan punggungku.


"Ahh...tidak perlu! Aku bisa berjalan sendiri!" Ucapku berusaha berdiri.


Saat aku ingin berusaha berdiri, ternyata kakiku tidak mampu berpijak dengan benar dan akhirnya terduduk kembali.


"Bagaimana kamu bisa berjalan sendiri kalau pergelangan kakimu itu juga keseleo? Jangan banyak gerak dan turuti saja perintahku kalau tidak ingin kakimu terluka lebih parah lagi!" Ucapnya sambil menarik tanganku.


"Tapi?" Balasku.


Alex hanya memberikan wajahnya yang sama sekali tidak ingin menerima penolakan lagi dariku.


"Hmmm...baiklah!" Ucapku menyerah lalu berusaha memanjati punggungnya.


"Berpeganglah yang kuat karena aku akan sedikit berlari! Kita akan pergi ke mobil yang ada di seberang sana!" Pintanya.


"Uhhm.." Ujarku sambil menggangguk.


Aku mengaitkan tanganku dengan erat ke depan dadanya. Dia pun mengencangkan pegangannya untuk menahan badanku kemudian berlari sambil menggendongku. Hal yang benar - benar kurasakan saat itu adalah betapa hangat dan nyamannya punggung Alex sehingga tubuhku juga terasa sangat hangat. Aroma tubuhnya yang tidak asing lagi bagiku itu benar - benar menenangkanku hingga rasa sakit di lututku serasa menghilang. Angin musim panas yang berhembus itu sejenak menyejukkan suasana saat itu. Aku mengencangkan peganganku dan kini bersandar di atas punggungnya yang lapang. Aku mulai menyadarinya sekarang. Semua perhatiannya padaku selama ini telah meluluhkan hatiku. Sepertinya aku telah benar - benar menyukainya. Rasanya aku tidak akan sanggup jika harus kehilangannya. Aku hanya berharap suatu hari nanti, dia juga merasakan hal yang sama terhadapku. Meski aku harus menunggu ribuan tahun lamanya dan ribuan tahun lagi untuk mendapatkan pengakuannya. Aku akan tetap menunggumu!


provi lo stesso per me?