
Tidak terasa musim sudah berganti. Kini angin dan udara musim panas menyambutku dengan penuh gairah. Banyak peristiwa yang terjadi pada musim semi yang lalu. Semua peristiwa itu sekarang sudah menjadi kenangan yang penuh kehangatan. Kalau diingat - ingat, semua itu terjadi tanpa ada rencana apapun dan mengalir begitu saja mengikuti alurnya. Benar - benar indah dan juga sendu.
Aku meneguk segelas susu coklat panas yang diracik oleh diriku sendiri pagi ini. Rasanya sangat enak dan manis. Sekarang, aku sedang duduk di teras rumah dengan pakaian musim panasku yang serba tipis itu sambil membaca koran mingguan milik Papa. Meski masih awal bulan juni, tapi cuaca dan iklimnya benar - benar terasa panas hingga menusuk sampai ke tulang. Padahal, sekarang masih jam delapan pagi. Sepertinya rumor bahwa es di kutub utara itu sudah mulai mencair, mungkin ada benarnya. Pemanasan global akhir - akhir ini memang menjadi bahan pembicaraan dimana - mana. Tapi, anehnya masih saja ada oknum - oknum yang tidak bertanggung jawab yang merusak hutan sebagai salah satu faktor untuk mengurangi pemanasan global. Aku benar - benar tidak habis pikir soal itu setelah membaca sendiri dari berita koran yang sedang aku pegang ini. Apalagi, saat musim panas seperti ini, panasnya benar - benar seperti ingin membakar kulit hingga menjadi hitam legam. Bagi wanita, itu adalah mimpi buruk yang tidak boleh menjadi kenyataan. Bahkan, aku tidak ingin membayangkannya.
Meski begitu, hari ini tidak seperti hari - hari kemarin karena hari ini adalah hari libur. Ya, musim panas adalah tanda bahwa musim liburan sekolah telah tiba. Selepas belajar selama tiga bulan penuh, akhirnya, aku bisa merasakan liburan yang tenang. Semua orang sangat antusias kalau sedang membicarakan liburan. Kebanyakan mungkin akan merencanakan liburan ke pantai. Tapi, aku malah memilih untuk menghabiskan waktu di perpustakaan kota mulai hari ini. Bagaimana tidak, aku masih mempunyai misi yang belum terpecahkan, yaitu piano milik ibunya Alex. Sudah sebulan ini, aku masih saja tidak sempat untuk mencari sheet musik lagu karya Chopin itu karena sibuk dengan tugas dan pelajaran di sekolah yang padat sekali. Bahkan, Alex tidak mengerti kalau aku menyuruhnya mencari hal yang seperti itu. Dia itu benar - benar payah. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk melakukannya sekarang. Kalau bukan karena Alex, mungkin rencanaku untuk mengisi liburan musim panas ini dengan memenuhi dinding kamarku dengan lukisan, tidak mungkin akan batal seperti ini. Tapi, tidak apa - apa. Hitung - hitung, kegiatan ini juga bisa menggali potensiku di bidang musik juga- gumamku.
Makanya, hari ini juga, kami sudah berjanji akan meluncurkan aksi kami. Kami berencana memulai untuk mencarinya di perpustakaan kota Venice. Dia berjanji akan menjemputku sekitar jam sembilan pagi ini. Sembari menunggu, aku habiskan waktu tenangku sambil menikmati susu coklat panas dan koran ditambah majalah fashionku yang baru saja terbit.
Benar saja, baru setengah jam aku bersantai, datanglah sebuah mobil warna hitam yang sudah biasa menjemputku itu. Itu sudah pasti Alex dan Pak James. Mereka datang setengah jam dari janji kami. Alex pun keluar dari mobil dan menyapaku.
"Alessia, aku sudah datang! Cepatlah!" Teriaknya.
"Iya, tunggu sebentar! Kamu tidak perlu masuk! Aku hanya mau izin sama Papa dulu!" Ucapku sambil berjalan ke dalam rumah.
"Oke!" balasnya.
Aku langsung masuk rumah dan menuju ke kamarku. Sesampainya di kamar, aku langsung mengambil jaket, topi dan tas yang isinya cuma dompet, tisu, dan sunblock. Setelah semua siap, aku langsung menutup pintu kamarku dan berjalan keluar sambil meminta izin kepada Papa yang sedang menonton TV di ruang tamu.
"Papa, Alessia mau ke perpustakaan kota dengan Alex, ya!" Ucapku.
"Baiklah, Alessia! Nikmatilah liburan kalian! Katakan pada Alex, lain kali kalau mau pilih tempat liburan musim panas yang cocok, sebaiknya jangan perpustakaan, ya! Kalian ini masih muda, janganlah terlalu bersemangat belajar! Sesekali kalian juga perlu liburan yang nyata!" Ucap Papa.
"Iya, Papa! Sebenarnya, kami mempunyai sesuatu yang ingin dikerjakan sejak lama. Tapi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk kami melakukannya. Jadi, kami memutuskan untuk melakukannya selama liburan ini!" Ujarku.
"Ehmm....memangnya apa yang ingin kalian kerjakan?" Balas Papa penasaran.
"Itu rahasia, Pa! Aku pergi sekarang, ya, Pa! Alex sudah menungguku di depan! Aku sayang Papa!" Ucapku langsung pergi keluar.
"Iya, hati - hati di jalan, ya, Nak!" Balas Papa.
Akhirnya, aku pun keluar dan menemui Alex yang sudah menunggu dari tadi.
"Sudah siap, Alessia?" Tanya Alex.
"Tentu saja siap! Ayo, kita pergi sekarang!" Ajakku bersemangat.
Kami langsung naik ke mobil dan segera berangkat ke perpustakaan kota. Sepanjang perjalanan, kami juga berbincang sesekali.
"Alessia, apa kamu yakin kita akan menemukannya di sana?" Tanya Alex.
"Aku tidak bisa memastikannya kalau tidak melihatnya langsung! Tapi, kurasa pasti ada di sana. Soalnya aku juga pernah meminjam sheet musik bersama ibuku dulu!" Jelasku.
"Ohh... begitu, ya!" Balasnya.
"Ngomong - ngomong, kenapa kamu pakai baju seperti itu?" Tanyaku merasa keheranan.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan pakaianku? Bukankah ini bagus dan nyaman?" Ucapnya.
"Kita kan mau ke perpustakaan, bukannya mau ke pantai! Untuk apa kamu pakai pakaian seperti mau ke pantai?" Balasku.
"Sekarang kan musim panas, tentu aku boleh berpakaian dengam tema pantai seperti ini. Katanya kamu itu pencinta fashion, masa begini saja kamu tidak tahu? Ini adalah fashion. Lagipula, pakaiannya benar - benar dingin dan nyaman. Aku benar - benar menyukainya!" Ucapnya.
"Iya, terserah kamu saja! Kalau kamu nanti jadi pusat perhatian orang - orang, sebaiknya menjauhlah dariku." Balasku.
"Kenapa harus aku yang menjauhimu? Lagipula yang aneh itu malah pakaian yang kamu kenakan sekarang! Masa kamu pakai jaket levis lengan panjang yang tebal itu di saat cuaca yang begitu panas ini!" Sambungnya.
"Aku ingin mencegah panas matahari itu menyengat kulitku, tahu!" Jawab agak ketus.
"Ohh...kamu takut kalau kulitmu jadi hitam, ya! Ngaku kamu, Alessia?" Ujarnya berusaha mengejekku.
"Iya, tentu saja! Kalian para lelaki mana mengerti soal itu! Humph!" Ucapku agak kesal.
Alex tertawa dengan tingkahku itu. Dia pun menggodaku beberapa kali. Tapi, aku berusaha mengabaikannya. Tanpa sadar, akhirnya kami pun sampai di perpustakaan kota.
"Tuan Muda, kita sudah sampai di perpustakaan kota!" Ucap Pak James.
"Ohh...kami akan turun di sini saja! Pak James pergi saja mencari tempat parkir, ya! Nanti aku hubungin kalau kami sudah selesai! Ayo, kita keluar, Alessia!" Ucap Alex sembari membuka pintu mobilnya.
"Baik, Tuan Muda!" Balas Pak James.
"Terima kasih sudah mengantar kami, Pak James!" Ucapku.
"Sama - sama, Nona! Semoga Nona berhasil mendapatkan apa yang Nona cari!" Ujar Pak James sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Bu!" Ucapku menyapa petugas itu.
"Selamat pagi juga! Ada yang bisa saya bantu?" Balasnya.
"Kami kesini mau melihat - lihat sambil mencari sheet musik klasik. Dimana kami bisa mendapatkannya, Bu?" Tanyaku.
"Ohh...untuk kumpulan sheet musik ada di lantai dua. Kemudian kalian bisa melihat dan mencarinya sesuai dengan huruf pertama judul lagunya. Sebelum naik, kalian harus mengisi nama dalam daftar tamu ini terlebih dahulu! Jika kalian mungkin akan sering ke sini dan ingin meminjam sesuatu, kalian bisa langsung ajukan pembuatan kartu anggota perpustakaan dan prosesnya hanya satu jam. Sembari menunggu, kalian bisa sambil melihat - lihat dulu! Bagaimana? Apakah mau dibuatkan sekarang?" Ucap petugas itu.
"Ohh...baiklah, Bu! Kami mau sekalian buat juga! Apakah ada biaya pembuatannya, Bu?" Balasku.
"Tidak ada! Pembuatan kartu ini gratis dari pemerintah. Misalnya kalian akan meminjam sesuatu, barulah akan dikenakan biaya sesuai barang yang dipinjam. Kalau begitu, tolong diisi dulu daftar tamu dan formulir pendaftarannya! Setelah diisi, berikan kepada saya supaya operator bisa segera mencetaknya!" Ucapnya.
"Baiklah, Bu! Terima kasih informasinya! Kami akan mengisinya dengan cepat! Tunggu sebentar, Bu!" Ucapku sembari mulai mengisi daftar tamu dan formulir itu.
Alex juga mengikutiku mengisi formulirnya. Setelah selesai, dia pun memberikannya padaku.
"Alessia, ini punyaku sudah selesai!" Ucap Alex.
"Oke, berikan padaku biar aku yang serahkan bersama dengan punyaku!" Ucapku.
Kedua formulir yang sudah diisi itu langsung aku serahkan ke bagian administrasi tadi. Lalu, petugas itu memberikan panduan dan peta perpustakaan padaku serta tanda pengenal sementara sebagai pengunjung. Akhirnya, dimulailah misi kami hari ini.
Kami langsung menjelajahi lantai dua perpustakaan itu. Perpustakaan itu terlihat sepi sekali. Hanya terlihat beberapa orang saja yang datang. Mungkin karena ini masih pagi atau tempat ini tidak cocok sebagai destinasi wisata liburan musim panas. Meskipun begitu, hal itu sangat membantu karena semakin mempermudah kami untuk menemukan apa yang kami cari. Seperti biasa, kami berpencar untuk mempercepat pencarian. Akhirnya, pencarian yang hampir satu jam itu sedikit membuahkan hasil. Aku menemukan raknya, yaitu rak nomor dua ribu satu. Rak itu berisi seluruh karya Chopin yang dibagi lagi menjadi beberapa tahun. Aku tidak tahu kalau mencari sheet musik benar - benar begitu melelahkan. Sebelum aku melanjutkan pencarianku, aku memanggil Alex untuk menghentikan pencariannya. Aku pikir dia juga pasti kelelahan harus berdiri terus selama satu jam.
"Alex! Dimana kamu? Aku sudah menemukan raknya!" Teriakku.
"Aku disini di rak nomor seribu sembilan ratus tujuh puluh lima!" Teriaknya.
Aku pun langsung menghampirinya dan menemukannya duduk di lantai sambil membaca buku.
"Alex, kamu kenapa duduk di lantai?" Ucapku.
"Istirahat sebentar, Alessia! Kakiku pegal sekali. Jadi, aku duduk sambil membaca buku. Jadi, bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan sheet musiknya?" Ujarnya.
"Belum, aku baru menemukan raknya! Mungkin sebentar lagi aku akan segera menemukan sheet musiknya! Apakah kamu masih kelelahan?" Kataku.
"Iya! Aku lelah dan kehausan!" Ucapnya yang sudah berkeringat padahal disini adalah ruangan ber-AC.
"Sama aku juga!" Balasku.
Aku pun ikut juga duduk di sebelahnya. Kami memilih untuk mendinginkan tubuh yang sudah memanas dari tadi. Kemudian Alex pun mengatakan sesuatu.
"Alessia, kamu pasti kehausan, kan! Kalau begitu, aku pergi keluar dulu untuk beli minuman dan cemilan sebagai pengganjal sementara! Bagaimana?" Ucapnya.
"Aku ditinggal sendiri disini? Aku mau ikut juga!" Balasku.
"Kamu tunggu disini saja! Aku hanya sebentar saja! Aku langsung kembali setelah membelinya. Jadi, tunggu aku disini dan coba cari lagi! Oke?" Ucapnya.
"Baiklah, Alex! Cepatlah kembali, ya!" Balasku.
"Oke, aku pergi sekarang!" Ujarnya sembari pergi meninggalkanku.
Aku melihat dia pergi hingga tidak terlihat lagi punggungnya di antara lorong rak yang penuh dengan buku itu. Lalu, aku pun berdiri dan kembali ke rak yang tadi untuk mencoba mencari lagi.
Hampir sepuluh menit aku mencari, akhirnya aku menemukan barisan sheet musik yang berjudul Etude Op. 10 karya Frederic Chopin.Aku sedikit lagi akan menemukannya. Tinggal mencari versi no 3 in E Major dari musik klasik itu. Sayangnya, barisan itu terletak di rak paling atas dan aku tidak bisa mencapainya. Tapi, aku tetap berusaha mencari dengan melihat dari bawah dan mendongak ke atas.
Selagi asyik mencari sambil menghitung nomor lembar demi lembar sheet di barisan itu, akhirnya aku benar - benar menemukannya. Sheet itu sudah menjadi objek sasaranku sekarang. Aku mencoba meraihnya sambil menjinjitkan kakiku yang pendek itu. Hanya demi mengambil sheet musik itu, aku rela membiarkan betisku menegang hingga rasanya mulai kram.
Tiba - tiba, muncullah seorang anak laki - laki yang sangat tinggi dan berdiri di sampingku. Dia berusaha membantuku dengan mengambilkan sheet musik itu dan memberikannya padaku.
"Apakah benar sheet musik ini yang kamu inginkan?" Ucapnya sambil memberikan sheet musik itu padaku.
Aku tidak melihat wajahnya langsung karena terpaku dengan sheet musik itu yang berada di tangan. Aku berpikir betapa mudahnya menjadi orang yang tinggi. Bahkan, dia tidak perlu berjinjit sama sekali. Aku merasa iri sekali padanya.
"Ahh...iya benar! Itu sheet-nya! Terima kasih atas bantuannya!" Ucapku sambil mengambil sheet itu dari tangannya dan menunduk sembilan puluh derajat.
Kemudian, aku mengangkat kepalaku agak tinggi dan melihat wajah orang yang sudah membantuku mengambil sheet musik itu. Seketika itu juga aku tidak bisa berkata - kata lagi. Aku terkejut dengan wajah yang baru kulihat ini. Dia bukanlah orang yang asing lagi bagiku. Dia adalah Leonardo Scott, kakak tirinya Alex. Aku tidak tahu mengapa dia bisa disini. Apakah dia mengenaliku? Apakah dia sudah menyadari keberadaan kami sejak tadi?Apapun itu, sekarang situasi ini telah berhasil membuatku beku. Aku tidak tahu harus berbuat dan berkata apa padanya.Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Aku hanya berharap Alex segera datang dan menarikku keluar dari sini. Alex, kumohon, cepatlah datang!
Vieni in fretta!