
Hari itu benar - benar sebuah pelampiasan. Kesedihan yang terpendam benar - benar terhempas jauh dari lubuk hati yang paling dalam. Benar - benar terasa lega dan segar. Bahkan, sama sekali tidak bersisa hingga tetesan air mata yang terakhir. Lalu, kami termenung dalam diam sambil menikmati angin musim semi yang berhembus sejuk. Setidaknya sangat mujarab untuk meredakan sakit kepala akibat terlalu banyak menangis. Pemandangannya sangat indah, sampai - sampai tidak ada kata - kata yang sempat diucapkan.
Selama lebih tiga puluh menit, Kami hanya memandangi langit dan alam sekitar. Tiba - tiba, Alex memegang dan menarik tanganku.
"Alessia, ayo, ada yang ingin kutunjukkan padamu!" Ajaknya.
Aku hanya mengangguk pelan sembari berdiri kemudian mengikuti dia kemana dia menuntunku. Taman itu cukup luas. Bahkan, mungkin lebih luas dari area sekolahnya sendiri. Akhirnya, kami pun sampai di depan sebuah rumah kecil.
Di atas ambang pintunya tertulis sebuah kalimat "Musik melahirkan ekspresi, dan ekspresi lah yang mendorongnya menjadi lebih berarti". Sebuah filosofi yang sangat bermakna - pikirku.
"Alessia! Akhirnya, kita sampai juga di sini! Aku benar - benar merindukan aroma kayu rumah ini." Ucap Alex sambil meraba dinding rumah itu.
"Ini tempat apa, Alex?" Tanyaku penasaran.
"Ini rumah musik yang dibangun oleh kakek buyutku. Sebenarnya sudah banyak bagian yang diperbaiki. Tapi dindingnya tetap masih sama seperti dulu, yaitu memakai kayu mahoni karena kayu jenis ini memiliki aroma yang harum sehingga cocok untuk aromaterapi. Orang bermusik juga perlu relaksasi untuk menghasilkan mahakarya, bukan? Kalau begitu, Alessia, ayo kita masuk!" Ajaknya sambil membuka pintu rumah itu.
Ketika kami memasuki rumah kecil itu, aku benar - benar dibuat takjub karenanya. Segala macam alat musik di dalamnya. Bahkan, aku tidak bisa menyebutkannya satu - persatu. Dinding mahoninya dihiasi ukiran simbol tangga nada dan pernak - pernik musik. Selain itu, ada juga perapian untuk menghangatkan rumah itu pada musim dingin. Tapi, yang benar - benar menarik perhatianku adalah sebuah piano berwarna putih yang diletakkan di sudut ruangan itu. Desainnya begitu elegan dan kelihatan bersih.
"Ehem, sepertinya kamu tertarik dengan piano itu, ya, Alessia? Piano itu milik ibuku. Ayahku yang menaruhnya di sini. Sini lihat!" Ucap Alex sambil menunjukkan sesuatu.
Dia menunjuk pada bagian depan piano dan mengusap sedikit debu yang bersarang. Di balik debu itu tertulis "Diana Scott". Kurasa itu adalah nama ibunya.
"Ini adalah nama ibuku, Diana Scott. Piano ini miliknya. Tapi sekarang piano ini tidak lagi bertuan." Jelasnya.
"Aku boleh meminjamnya sebentar?" Tanyaku.
"Silakan saja! Tapi memangnya kamu bisa memainkannya, Alessia?"Tanyanya.
"Hanya sedikit saja. Pekerjaan ibuku juga seorang pianis sebelum dia meninggal. Dia sempat mengajariku beberapa lagu." Jelasku.
"Hehe...mungkin saja mereka juga sudah melihat bahwa betapa cengengnya anak - anak mereka ini." Ucapku sambil bercanda.
Dia pun menanggapi candaanku dengan tertawa. Kami pun tertawa bersama. Kemudian dia berjalan menuju sebuah lemari. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Ternyata, dia mengeluarkan sebuah biola ysng terukir namanya, Alexander Scott.
"Ini adalah biola kesayanganku! Aku sudah lama tidak memainkannya dan menyimpannya di sini sejak hari itu. Aku tidak terlalu yakin apakah aku masih bisa memainkannya." Ucapnya ragu.
"Untuk mengetahuinya bukannya harus dicoba dulu. Cobalah! Aku ingin mendengarnya." Ucapku sangat antusias.
Dia mengambil biolanya dan mencoba memainkannya. Namun, saat dia akan menggesek senarnya, aku melihat tangannya bergetar. Kurasa dia masih merasa syok dan trauma. Aku tidak bisa diam melihatnya seperti itu. Aku mendatanginya dan mencoba menenangkannya.
"Alex! Kau tidak apa - apa? Alex, jika kamu belum benar - benar siap, kamu bisa menunjukkan padaku lain kali. Jangan terlalu memaksakannya!" Ucapku sambil memegang tangannya.
"Tidak, aku harus menunjukkan padamu sekarang! Aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan mundur lagi. Jadi, sekarang adalah waktunya untuk mewujudkan mimpiku." Tegasnya.
"Baiklah, Alex! aku akan menyemangati dan mendukungmu selalu. Jadi, lakukan sesuai kata hatimu dan tampilkan kemampuan terbaikmu!" Ucapku memberi semangat.
Wajahnya kembali segar berseri. Dia mengangkat biolanya lagi dan mulai memainkannya. Musiknya yang dimainkan terdengar sangat bagus. Meski ada satu dua nada yang terlewat. Mungkin dia masih kaku dan gugup karena sudah bertahun - tahun tidak memainkannya. Kupikir dia memang butuh dorongan lebih agar dia bisa lebih menjiwai lagunya. Dari mendengarnya saja, aku sudah tahu judul lagu apa yang dia mainkan. Lagu "The Blue Danube" karya komposer terkenal dari Austria, Johann Strauss II ini memang identik dengan permainan biolanya sebagai pusat perhatian. Namun, tetap saja tidak akan lengkap kalau tidak dipadukan dengan instrumen lainnya. Untuk menyempurnakan permainan biolanya, aku harus melakukan sesuatu. Sebenarnya aku tidak buta terhadap nada. Jadi, hanya dengan mendengarnya, aku sudah bisa membaca nadanya dan mempraktekkannya. Oleh sebab itu, orang - orang sering menyebutku anak yang jenius yang bisa melakukan apa saja. Kujejakkan kakiku lalu pergi menuju piano dan berusaha mengiringinya. Akhirnya, aku merasakan kembali jari - jariku menyentak tuts piano setelah sekian lama. Alex sempat kaget karena aku tiba - tiba memainkan piano di tengah permainannya. Dia menoleh padaku.
"Aku akan mengiringimu! Jadi, lakukan yang terbaik!" Ucapku.
Alex mengangguk dalam dan melanjutkan permainannya sambil tersenyum cerah. Dia tidak gemetaran dan gugup lagi. Nada - nada yang dihasilkan pun terdengar rapi. Akhirnya, dengan iringan pianoku memacu semangatnya menjadi menyala - nyala dan menciptakan harmonisasi yang sedap didengar dan dapat dikenang sepanjang masa. Sedikit demi sedikit dia mulai melupakan tragedi yang dialaminya di masa lalu. Setidaknya, sekarang dia memiliki tujuan hidup yang ingin dia wujudkan. Dia menemukan passionnya yang tersembunyi. Bahkan, sempat terkubur karena tidak ada yang berusaha membantu menggalinya. Sekarang dia benar - benar terlihat bahagia dan nyaman dengan dirinya. Untuk pertama kalinya aku benar - benar melihat senyuman tulus dari hatinya. Sama halnya denganku saat akhirnya aku menemukan sesuatu yang ingin kuperjuangkan. Melukis dan menggambar khususnya di bidang fashion adalah passion, impian, dan cita - citaku. Aku sangat bahagia pada saat itu. Aku tidak pernah melupakan saat - saat itu. Dengan melihatnya yang telah menemukan jati dirinya, semakin menguatkan aku untuk mempertahankan apa yang telah aku impikan. Mendorongku untuk semakin berusaha menggali potensi yang ada dalam diriku agar pada suatu saat, aku bisa menunjukkannya kepada orang banyak bahwa aku adalah manusia berbakat dan tidak ada seorang pun yang boleh meremehkanku.
Aku kembali teringat dengan tulisan di ambang pintu rumah ini yang berbunyi "Musik melahirkan ekspresi, dan ekspresi lah yang mendorongnya menjadi lebih berarti". Jujur, aku benar - benar setuju dengan tulisan ini. Dengan musik, siapa saja bisa mengekspresikan perasaannya baik itu suka maupun duka dan ekspresi itulah yang membuat musik itu semakin bermakna. Tapi, jika boleh direvisi, menurut pendapatku, tidak hanya musik yang bisa melahirkan ekspresi, tapi semua passion yang dimiliki setiap orang juga menghasilkan ekspresi yang tentunya bermacam - macam dan tentunya bermakna bagi setiap orang. Itulah yang dinamakan harmoni. Sebuah harmoni yang indah.
Senti la bellezza dell'armonia!