
"Hosh...hosh..." Suara napasku terengah-engah.
Kulihat jam tangan warna toska yang melingkar di pergelangan tanganku sekali lagi.
"Masih ada lima menit lagi. Lebih baik aku segera masuk"
Aku melihat banyak sekali orangtua yang mengantarkan anaknya ke sekolah.
Ya, aku sudah biasa melihat pemandangan itu. Aku tidak sama seperti mereka. Aku kan anak yang sudah mandiri dan tidak punya cukup waktu untuk merasa iri- pikirku. Tapi bukan itu yang membuatku sangat tertarik hari itu.
Aku benar-benar mengagumi sekolah baruku ini. Gerbang depannya saja dilapisi cat warna emas yang terlihat sangat mewah dengan dua pilar di setiap sisinya yang menjulang tinggi. Pilar itu terlihat sangat kokoh. Aku bertanya-tanya pada diriku. Apakah ini sebuah sekolah atau istana kerajaan?
Bagaimana sekolah bisa semegah ini?
Tanpa pikir panjang, aku masuk melewati gerbang itu dengan penuh percaya diri.
Namun, tidak kusangka aku mendapat teguran di hari pertama.
"Hei, murid baru. Kemarilah! Siapa namamu?" Seorang siswi memanggilku agak ketus.
Ternyata dia adalah kakak kelas yang bertugas sebagai panitia penyambutan murid baru tahun ini.
"Namaku Alessia Belleza Baker. Maaf, ada apa,ya, Kak?" Jawabku agak takut.
"Kamu ini belum baca peraturan sekolah, ya. Jika mau masuk, pastikan seragammu rapi dan bersih. Lihat rokmu! Ada noda lumpur yang menempel" Kata Kakak Kelas itu sambil memarahiku.
"Maaf, Kak. Tadi sebenarnya bersih tapi..."
"Kamu tidak usah pakai banyak alasan. Pokoknya kamu harus dihukum"
Aku sebenarnya agak kesal karena tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan kejadiannya.
"Hei, Crissie! Pagi-pagi sudah marah-marah. Apa kamu mau menambah kerutan di wajahmu itu?" Terdengar suara anak laki-laki dari kejauhan.
Dia pun datang mendekati kami berdua.
Makin lama makin jelas terlihat wajahnya.
"Crissie, sebaiknya kamu ngurus anak yang lain saja. Biar aku yang tangani anak baru ini." Katanya pada kakak itu.
"Baiklah. Aku pergi ke depan sana sekarang. Kuserahkan padamu" kata kakak itu sembari pergi dari hadapanku.
"Nah, namamu Alessia, bukan? Kalau gitu ikut aku sebentar." Katanya sambil tersenyum lebar.
"Ahh... iya, kak" Jawabku.
Aku mengikutinya pelan-pelan dari belakang. Aku hanya bisa memandangi punggungnya. Dia benar-benar tinggi sekali dan terlihat tampan. Aku benar-benar berterima kasih padanya. Kalau bukan karena dia, tidak mungkin aku lepas dari kakak yang tadi. Tetapi aku bertanya-tanya pada diriku, sebenarnya kemana dia akan membawaku. Ya, untuk saat ini ikuti saja dia.
"Nah, kita sudah sampai. Ini adalah ruang kebutuhan. Di pojok kiri pintu ini ada lemari. Isinya ada seragam cadangan yang tidak terpakai tapi masih layak pakai. Kamu pilih saja salah satu dan ganti rokmu yang kotor itu! Aku akan menunggu di luar. Oke?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih, Kak. Aku segera berganti. Aku tidak akan lama." Jawabku sambil beranjak masuk.
Setelah masuk, aku langsung menemukan lemari itu. Aku membukanya secara perlahan.Di dalamnya benar-benar lengkap. Semua atribut sekolah juga ada. Aku mencari di bagian rok perempuan.
"Ukuran M mana, ya? Ohh, dapat!" Seruku karena sudah menemukan ukuran yang sesuai.
Aku langsung berganti dan segera keluar dari situ.
"Sepertinya benar-benar sesuai, ya. Ayo, kutunjukkan jalan menuju lapangan." Kata Kakak itu sambil mengarahkan jalan padaku.
"Ngomong-ngomong, perkenalkan namaku Nicholas Barham. Panggil saja Nico. Aku kelas delapan. Satu tahun di atasmu. Dan kebetulan aku adalah ketua OSIS tahun ini. Salam kenal, Alessia." Sambungnya ramah sembari memperkenalkan dirinya.
"Iya, Salam kenal juga. Terima kasih untuk hari ini, Kak Nico. Maaf merepotkanmu di hari pertama." Balasku sambil membungkukkan badan.
"Iya, tidak apa-apa. Itu sudah menjadi tugasku. Kakak yang tadi di gerbang namanya Crissie. Dia adalah wakilku. Dia memang terkenal judes dan suka marah. Tapi tenang saja, sebenarnya dia itu baik dan sangat peduli." Ucapnya sambil tersenyum malu.
"Nah, kita sudah sampai di lapangan. Kamu berbaris saja di barisan itu. Aku harus pergi ke atas podium. Sampai ketemu lagi, Alessia. Semangat untuk hari ini, ya!" Ucapnya memberikan semangat.
Balasku ramah.
Aku langsung beranjak dari tempatku berdiri menuju barisan terdekat. Ternyata,acara penyambutannya belum dimulai. Untung saja aku belum melewatkannya. Berselang lima menit, acaranya pun dimulai. Aku melihat seorang wanita yang sudah berumur sedang menaiki tangga menuju podium. Ternyata dia adalah kepala sekolah Dandelion yang akan memberikan pidato pagi ini.
"Selamat pagi, anak-anakku semua. Apa kabar kalian hari ini? Ibu yakin semua dalam keadaan sehat dan gembira. Ibu ucapkan selamat kembali bagi siswa-siswi tahun lalu dan selamat datang bagi siswa-siswi baru. Kami pihak sekolah sangat senang menyambut kalian, para dandelion-dandelion yang berbakat. Seperti halnya sepucuk dandelion, meski tempat dia tumbuh telah rusak. Tapi dengan bantuan angin, serbuknya dapat terbang menuju tempat yang subur dan kemudian tumbuh kembali menjadi dandelion yang indah. Begitu pula dengan kalian. Kami harap berkat bimbingan kami nanti dapat mengantarkan kalian pada cita-cita yang kalian impikan. Jadi, selamat belajar dan tetaplah berkarya, para dandelion muda!" Pidato singkat kepala sekolah yang membuatku kagum.
Semua siswa-siswi terlihat bahagia mendengar pidato itu.
Setelah semua acara penyambutan berakhir, waktunya untuk acara di kelas masing-masing. Sebelum itu, tentu saja ada pembagian kelas.
Dua orang perwakilan panitia OSIS yang akan memanggil satu-satu dari kami untuk masuk ke kelompoknya telah berdiri di depan barisan. Dari penjelasan mereka, kami akan dibagi menjadi dua kelas, yaitu dandelion knight dan dandelion ordinary.
Menurut rumor yang aku dengar, perbedaan dari dua kelas tersebut terletak pada siapa saja yang tergolong di dalamnya. Dandelion knight biasanya diisi oleh sebagian besar anak-anak konglomerat tingkat atas dan sisanya adalah anak-anak berprestasi. Sedangkan dandelion ordinary diisi dengan anak-anak orang kaya tingkat menengah dan yang mampu dalam hal finansial. Awalnya aku kurang percaya dengan rumor itu. Tapi melihat kenyataannya langsung, mau tidak mau aku harus menerimanya. Meski awalnya dikatakan bahwa siswa-siswi dikelompokkan berdasarkan nilai akhir yang diperoleh di sekolah sebelumnya. Namun, aturan itu lebih diutamakan di sekolah ini. Setidaknya, aku sudah cukup bersyukur karena diterima di sekolah ini meski tidak masuk ke kelas unggulan itu.
Aku melihat suasana agak gaduh disekelilingku. Semuanya terlihat sibuk dengan dirinya sendiri.
Selagi aku sibuk dengan diriku, tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil.
"Semua tenang! Oke, saya panggil dulu murid baru yang akan masuk kelas dandelion knight. Yang pertama saya panggil, Alessia Belleza Baker. Silakan maju dan berdirilah di belakang saya! Kemudian selanjutnya...." Kata Kakak Panitia OSIS memanggilku.
Sontak aku merasa tidak percaya sama sekali bahwa aku akan dipanggil secepat ini.
Aku sedikit merasa tidak nyaman. Semua orang seperti sedang melihatku. Aku berusaha menguatkan hatiku dan berjalan dengan penuh percaya diri ke depan lalu berdiri di belakang kakak itu.
Untung saja, tidak terjadi apa-apa.
Mungkin itu hanya perasaanku saja.
Karena jumlah murid baru hanya empat puluh orang, proses pembagiannya pun berlangsung sangat cepat.
Rasanya benar-benar tidak sabar untuk segera belajar- gumamku.
Setelah pembagian kelas, kami pun dituntun menuju kelas masing-masing.
Sambil berjalan, aku melihat-lihat suasana di sekitar. Lagi-lagi aku merasa terkagum-kagum. Fasilitas di sekolah ini sangatlah lengkap daripada sekolahku dulu. Pantas saja biayanya sangat mahal.
Akhirnya, kami pun sampai di depan pintu kelas. Nama dandelion knight terpampang jelas di atas pintunya.
Tapi, entah dari tadi perasaanku agak kurang enak. Orang yang di belakangku sama sekali tidak pernah berhenti bicara. Suaranya juga tidak asing bagiku. Aku sebenarnya malas menoleh ke belakang. Sebaiknya aku fokus saja ke depan- tandasku dalam hati.
Kami pun dipersilakan memasuki kelas.
Karena aku yang masuk pertama, aku bisa langsung memilih tempat duduk yang aku sukai. Tentu saja tempat duduk yang berada tepat di depan meja guru dan dekat dengan dinding serta pemandangan luar dari jendela. Tempat yang sungguh strategis. Jadi aku bisa benar-benar fokus dan santai saat mendengarkan pelajaran.
Aku langsung menempatinya tanpa ragu-ragu.
Namun, perasaan senang itu tiba-tiba sirna. Ada seseorang tiba-tiba langsung duduk di sampingku.
"Hai, gadis pita merah! Kita bertemu lagi" Sapanya sambil tersenyum.
" Kamu! Kamu yang tadi naik sepeda terus ngotorin rokku." Jawabku sambil menodongnya dengan jariku.
"Ya, kamu benar. Mulai sekarang kita jadi teman sebangku, ya. Oke?" Lanjutnya sambil mengedipkan mata.
"Memang kapan aku mengizinkan kamu duduk di sampingku? Aku tidak mau duduk sebangku denganmu." Tolakku.
"Sayangnya, kan tidak ada istilah booking tempat di sekolah ini. Jadi aku bebas mau duduk di mana saja. Tidak boleh ada yang melarang!" Katanya penuh percaya diri.
"Dasar, terserah kamu saja. Pokoknya,jangan bicara padaku lagi!" Balasku penuh emosi.
Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya cara seperti itu. Ternyata, dia itu sungguh menyebalkan.
Entah rasanya aku ingin mengakhiri hari ini secepat mungkin.
Giornata noiosa!