Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Tiga Puluh Tiga (Actually) I Want to Know Who She is? (Tell Me or Not)



Tanganku masih terikat erat di depan dadanya dan dia masih membawaku sambil berlari. Dia membawaku menyeberang jalan dan akhirnya menurunkanku hingga duduk di atas tempat duduk yang di dalam mobil.


"Apa yang terjadi kepada Nona, Tuan Muda?" Ucap Pak James yang khawatir.


"Dia terjatuh dan terluka! Tapi, ini hanya luka kecil! Tolong, ambilkan kotak P3K, Pak James!" Ucap Alex.


"Baiklah, Tuan Muda! Tunggu sebentar!" Ucap Pak James yang langsung bergegas mengambil kotak P3K di bangku depan.


"Apakah di bagian ini terasa sakit, Alessia?" Tanya Alex padaku sambil memeriksa pergelangan kakiku.


"Iya, sakit sekali!" Ucapku.


"Sepertinya pergelangan kakimu benar - benar keseleo. Tapi, tidak terlalu parah. Aku akan bersihkan lukamu dulu!" Lanjutnya.


"Ini Tuan, kotak P3Knya!" Ucap Pak James sembari menyerahkan kotak P3Knya.


"Baiklah, terima kasih, Pak James!" Ucap Alex.


Alex langsung membuka Kotak P3K itu, lalu mencari dan mengeluarkan kapas dan botol yang berisi alkohol.


"Alessia, ini mungkin agak sedikit perih. Tapi, lukamu harus disterilkan terlebih dahulu sebelum diberi obat merah! Jadi, cobalah tahan sedikit rasa sakitnya, ya!" Jelasnya.


Aku hanya mengangguk dan menutup mataku rapat - rapat. Dia langsung menyiram alkohol itu ke lukaku dan mengusapnya dengan kapas. Seketika itu aku menjerit kesakitan.


"Ahhh...Alex! Sakit sekali! Kenapa kamu menyiramnya langsung?" Ucapku sambil meringis kesakitan.


"Itulah caranya supaya kumannya mati dengan sempurna! Makanya kalau aku bilang biar aku yang pegang tanganmu, maka ikuti saja perintahku! Kan kalau sudah kejadian seperti ini, kamu sendiri yang sakit!" Ucapnya sambil mendorong keningku dengan telunjuknya.


"Iya, ya sudah, aku minta maaf sudah merepotkanmu! Tapi, tolong pelan - pelan mengusapnya! Rasanya masih sakit, tahu!" Ucapku.


"Iya, iya, Tuan Putri! Aku akan mengobatinya pelan - pelan, Dasar Bawel!" Ucapnya sambil mencubit hidungku.


Dia mengobati lukaku dengan cekatan. Dia menaruh obat merah pada lukaku kemudian meniupnya sesekali hingga menutupnya dengan perban. Aku hanya melihatnya yang sangat serius mengobatiku. Aku merasakan terlalu banyak sentuhan. Apalagi, dia meletakkan kakiku di atas pahanya. Aku benar - benar merasa kurang nyaman dengan posisinya karena aku hanya memakai rok yang tingginya sedikit di atas lutut. Sesekali dia juga tidak sengaja menyentuh kakiku yang membuat merasa geli. Tapi, daripada semua perasaan itu, yang benar - benar membuat aku rasanya ingin menggila adalah jantungku yang berdegup sangat kencang sejak tadi. Alex terlihat begitu tampan di mataku saat ini. Sebenarnya, apa yang barusan aku pikirkan. Ya Tuhan, rasanya aku ingin kabur saja! - gumamku.


"Nah, sudah selesai! Sekarang, turunkan kakimu pelan - pelan!" Ucapnya sembari membantuku menurunkan kakiku ke lantai mobil.


"Terima kasih, Alex!" Ucapku malu - malu.


"Lain kali, lebih hati - hati, ya, Alessia! Kalau begitu, aku antar kamu pulang sekarang juga! Kakimu yang keseleo itu harus dipijat dulu! Aku tidak berani memijatnya karena takut salah pijat.Takutnya, bukannya sembuh nanti malah tambah parah! Nanti aku kirimkan tukang pijat untukmu dan dia akan langsung datang ke rumahmu!" Ucapnya.


"Uhmm...Alex!" Ucapku.


"Sebelum kita pulang, bolehkah aku meminta satu lagi permintaan?" Ucapku sambil menatapnya dengan penuh harap.


"Baiklah! Katakan apa itu?" Ujarku.


"Aku ingin makan gelato yang dijual di cafe yang tepat di pinggir jalan sana! Cuacanya begitu panas dan sekarang aku kehausan! Boleh, ya?" Ucapku sambil menunjuk ke arah luar.


"Ya, boleh! Tapi, kamu tidak perlu pergi ke sana karena kakimu sedang sakit! Baiklah, tunggu di sini! Aku akan segera kembali!" Ucapnya sembari membuka pintu mobil dan keluar untuk membeli gelato untukku.


Aku melihatnya masuk ke dalam cafe itu. Aku membuka jendela mobil dan melihatnya berjalan menuju kasir untuk memesan gelato dari kaca cafe yang transparan itu. Tiba - tiba, ada seorang perempuan yang memeluknya dari belakang. Sepertinya perempuan itu juga sepantaran dengan Alex. Dia memakai baju tank top warna putih dengan rompi berwarna merah muda dan rok mini berwarna kuning. Jujur saja, padu padan pakaiannya memang cocok dengan tubuhnya yang modis. Hanya saja warnanya yang terlalu terang dan saling bertabrakan. Yang paling parahnya lagi, dandanannya yang begitu norak itu. Aku benar - benar tidak pernah melihat dan mengenalnya.


Alex berbalik untuk meladeninya. Aku melihat Alex yang tersenyum biasa padanya. Perempuan itu pun dengan agresifnya langsung melingkarkan tangannya pada leher Alex lalu mencium pipi kirinya. Aku melihat sepertinya Alex merasa terganggu karenanya. Seketika itu juga, Alex berusaha melepaskan pegangan perempuan itu dan langsung mengambil pesanannya lalu beranjak pergi meninggalkan perempuan itu.


Namun, perempuan itu nampaknya sama sekali tidak puas mengganggunya, lalu berusaha mengejar Alex. Sekali lagi, dia memeluk punggung Alex yang baru saja ingin menyeberang jalan. Aku tidak terlalu jelas melihatnya, tapi aku yakin perempuan itu sedang menangis. Aku tidak tahu hubungan apa di antara mereka berdua. Hanya saja, melihat mereka seperti itu membuat hatiku terasa sakit sekarang. Aku tidak suka melihatnya dipeluk oleh perempuan itu. Sepertinya aku benar - benar cemburu sekarang. Dari seberang jalan sana, Alex sedang menatapku dari kejauhan dan aku juga menatapnya balik. Mata kami saling beradu. Aku berusaha menahan ekspresiku dan membuang mukaku ke arah yang lain sembari menutup jendela mobil itu seolah - olah aku tidak pernah melihatnya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Setelah menunggu sekitar lima menit, akhirnya dia kembali masuk ke dalam mobil.


"Nah, Alessia, gelatomu! Cepat dimakan! Nanti meleleh, tahu!" Ucapnya.


"Terima kasih, Alex! Bisakah kita pulang sekarang? Rasanya aku mau cepat - cepat istirahat di kamar!" Ucapku.


"Baiklah! Pak James, tolong antar kami ke rumahnya Alessia, ya!" Ucapnya pada Pak James.


"Baik, Tuan Muda!" Balas Pak James.


Kami tidak berbicara sama sekali sepanjang perjalanan. Dia hanya menatap ke luar jendela tanpa bergeming sama sekali. Aku juga mengabaikannya sambil menikmati gelato rasa coklatku yang hampir cair sembari melihat suasana kota dari balik jendela mobil. Semakin sore, orang - orang semakin ramai hingga memenuhi jalan. Akhirnya, kami pun sampai di rumahku. Alex membukakan pintu mobil untukku dan membantuku turun lalu berusaha memapahku.


"Alex, sepertinya aku sudah bisa jalan sendiri! Kamu naik ke mobil dan pulanglah! Hari sudah mau malam. Takutnya kamu pulangnya kemalaman nanti! Sampai jumpa!" Ucapku sembari berbalik dan berniat masuk ke halaman rumah.


Baru dua langkah aku berjalan, Alex meraih tanganku dan langsung memelukku.


"Alessia, apa kamu tidak mau mendengar penjelasanku tentang yang barusan terjadi? Aku tidak ingin kamu salah paham padaku!" Ucapnya agak sendu.


Aku mendorongnya hingga lepas dari pelukannya.


"Jika kamu tidak ingin menjelaskannya padaku, maka jangan jelaskan padaku! Meski kamu mau menjelaskan atau tidak, aku akan tetap mempercayaimu! Aku tidak tahu sebenarnya apa hubungan perempuan itu denganmu, tapi sebagai sahabatmu, aku akan berusaha mendukungmu apapun keputusanmu! Jadi, jangan khawatir kalau aku akan salah paham karena meski kita sahabat, bukan berarti tidak boleh ada rahasia di antara kita, bukan! Kita bisa saling menyimpan rahasia yang ingin kita pendam untuk diri kita sendiri! Itu saja yang ingin kukatakan! Aku lelah dan mau segera istirahat! Kamu pulanglah sekarang! Aku masuk dulu!" Ucapku.


Aku pun berbalik dan berjalan dengan tertatih - tatih masuk ke dalam rumah. Entah kenapa air mataku mengalir deras hingga membasahi pipiku. Aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya lalu bersandar di balik pintu hingga terduduk di lantai. Kemudian aku menepuk dadaku yang terasa sangat sesak. Aku belum pernah merasakan sesak seperti ini. Seperti ada yang terbakar di dalam sini. Rasanya sakit sekali melebihi rasa sakit pada kakiku yang terluka. Apakah ini namanya sakit tapi tidak berdarah? Aku rasanya tidak sanggup untuk melihatnya lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, akhirnya aku bisa merasakan rasanya mencintai seseorang. Namun, mengapa aku juga harus merasakan rasanya patah hati di hari yang sama saat aku mulai mencintainya? Aku hanya bisa menerima semua apa yang telah terjadi hari ini dan berharap semoga hari esok, aku akan memperoleh jawaban yang melegakan hatiku.


Anch'io sono geloso!