
Hari ini pun benar - benar tiba. Hari yang ditunggu - tunggu selama sebulan lebih akhirnya datang. Ya, hari ini adalah hari festival musim semi. Semua warga kota Venice sangat bersemangat menyambut festival musim semi ini yang selalu diadakan setiap tahunnya di balai kota. Setiap sudut kota sudah dihias dengan pernak - pernik musim semi. Semua bunga - bunga mekar menghiasi jalan - jalan kota yang telah dipenuhi orang - orang yang ingin menikmati keindahannya. Matahari bersinar terang dan juga hangat yang membuat suasana lebih istimewa dari hari biasanya.
Tepat pukul enam pagi, aku sudah berada di balai kota, tepatnya di bagian cabang seni pameran. Selain sibuk dengan karya sendiri, aku juga harus mengatur karya orang lain yang mengikuti pameran ini. Entah harus bersyukur atau merasa rugi, akhirnya aku dipilih menjadi ketua panitia khusus pameran lukis tahun ini. Awalnya aku sedikit tidak terima karena aku tidak bisa bebas melihat cabang seni lainnya selain lukis. Aku harus memonitor waktu dan tempat pelaksanaan dari awal sampai akhir festival. Oleh karena itu, aku harus datang lebih pagi untuk mengadakan rapat pelaksanaan. Tapi, mau bagaimana lagi, aku harus melakukannya karena ini kesempatan untukku untuk menunjukkan kredibilitasku.
"Kredibilitas apaan?" Pikirku agak kesal.
Sekarang aku terlihat seperti pembantu yang harus mengurus sana - sini. Anggota lain memberi semua kerjaannya padaku dan pergi menikmati kesenangan di luar sana. Padahal, aku juga ingin ke bagian seni musik untuk menyemangati Alex. Meski kemarin aku sudah membantunya dalam menggubah musiknya dan mengiringinya dengan piano, tetap saja aku masih ingin melihatnya tampil. Setidaknya memberi semangat padanya.
Tapi, kalau melihat keadaan, sepertinya itu hanya akan menjadi angan - angan. Untung saja, pameran ini berada di ruangan terbuka. Jadi, aku masih melihat selintas keadaan sekitar dan juga sebuah layar tancap yang lumayan besar. Layar itu menjadi titik fokus perhatianku karena hanya dari situ, aku bisa melihat Alex memainkan biola nantinya.
Tepat pukul tujuh pagi, festival musim semi resmi dibuka yang ditandai dengan pidato pembukaan dari walikota Venice, William Blark. Festival ini diikuti oleh seluruh warga kota Venice. Acaranya diisi dengan berbagai macam cabang seni yang dipersembahkan siswa - siswa dari beberapa sekolah di kota Venice termasuk sekolahku, Dandelion School. Jadi, artinya dalam festival ini akan ada namanya sistem penilaian dan peringkat serta tentu saja ada hadiah yang menunggu dan cukup menggiurkan. Tahun ini, Dandelion School sudah tidak diragukan lagi pasti memboyong banyak medali karena setiap tahunnya juga begitu. Sebenarnya, hadiah itu tidak penting. Yang penting bagiku adalah pengakuan atas bakatku dan medali sebagai buktinya. Meski sempat mengganti konsep lukisanku karena alasan sesuatu. Tapi, aku yakin pasti menang. Setidaknya, hari ini yang terpenting, aku harus percaya diri dulu sebelum berperang.
Setelah pidato pembukaan, pameran lukis pun resmi dibuka. Para tamu datang silih berganti melihat dan menikmati lukisan yang di pajang berurutan. Setelah selesai melihat - lihat, mereka akan mengisi formulir pemberian suara terhadap karya yang disukai. Dari kumpulan suara itu akan menjadi penentu dalam penilaian dan peringkat para peserta.
Aku juga menjaga lukisanku dan kadang menjelaskan konsepnya kepada para tamu yang penasaran. Sesekali aku juga curi - curi pandang ke layar lebar untuk melihat seandainya Alex akan tampil. Pagi ini kami benar - benar tidak bertemu sama sekali. Aku penasaran dengan keadaannya. Apakah dia baik - baik saja atau sedang merasa demam panggung di suatu tempat? Kenapa juga aku memikirkan sesuatu yang tidak - tidak? Sebagai temannya, aku harus yakin dia sekarang baik - baik saja dan benar - benar siap tampil dengan baik. Lagipula, dia selalu melakukan yang terbaik selama latihan. Bahkan, sama sekali tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Aku ini benar - benar mengkhawatirkan yang tidak perlu.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya aku bisa melihat seseorang yang kukenal sedang tampil dari layar lebar itu.
"Itu bukannya Kak Nico, ya?" Gumamku.
Ternyata, dia mengambil cabang seni musik juga seperti Alex. Bedanya, dia memainkan sebuah piano. Memang aku pernah mendengar bahwa Kak Nico merupakan putra konglomerat perusahaan hotel bintang lima se-kota Venice. Dan hari ini adalah buktinya.Kemampuan bermain pianonya benar - benar hebat dan rapi. Bahkan, tangannya sampai tidak terlihat saat dia menjentikkan jarinya pada tuts piano. Benar - benar sangat cepat. Dia pasti sudah bermain piano selama bertahun - tahun. Memang hampir semua yang berpartisipasi dalam seni musik adalah anak konglomerat kelas atas. Aku tidak mengerti dengan kehidupan konglomerat mereka yang seperti itu. Tapi tetap saja itu sangat mempengaruhi tingkat kefokusan di segala sisi. Seni musik lebih dominan daripada cabang lainnya. Bahkan, orang - orang penting kota ini semuanya berkumpul melihat pertunjukan di sana. Sedangkan di sini tidak dilirik sama sekali. Sebenarnya rasanya sedikit tidak adil tapi itulah kenyataan yang terjadi. Kalau mau dikatakan, sebenarnya acara festival ini merupakan acara bagi kaum konglomerat itu untuk memamerkan anak - anak mereka yang menjadi penerusnya. Aku hanya bisa menelan ludah dan menepuk dadaku yang rasanya agak sesak karena ketidakadilan ini.
Tapi, aku tidak bisa berbuat apa - apa. Aku hanya bisa melihat dan menyaksikannya.
Akhirnya, penampilan Kak Nico selesai dengan menakjubkan. Bahkan, orang - orang di pameran lukis menjadi terperangah dan bertepuk tangan melihat penampilannya.
Aku akui dia memang pantas diapresiasi. Aku yakin dia pasti berada di peringkat teratas.
Di samping itu, yang menjadi pusat perhatianku dan orang - orang yang melihat pertunjukkan musik itu adalah penampilan berikutnya, yaitu Alex. Aku mendengar orang - orang bergumam membahas tentangnya. Aku yakin pasti mereka membicarakannya karena dia merupakan putra kedua dari pemilik perusahaan IT yang terkenal, Dandelion Corporation dan pemilik sekolah kami,Dandelion School. Dan tentu saja isinya pasti gunjingan yang membuat kepala ini menjadi panas.
Intinya aku berharap Alex bisa tampil dengan baik dan menunjukkan keahliannya agar mereka semua menyesal karena telah meremehkannya.
Melalui siaran langsung dari layar tancap itu, aku melihatnya menaiki tangga panggung dengan biola di tangannya. Dia terlihat begitu percaya diri. Namun, seketika kepercayaan dirinya hilang saat melihat sesuatu di hadapannya. Aku tidak tahu apa yang dilihatnya dan apa yang dia rasakan saat itu. Aku melihatnya mencoba memainkan biolanya. Tapi, tidak ada sama sekali nada yang dikeluarkan. Dia terlihat gemetaran. Dia pun tidak melanjutkannya dan menurunkan biolanya. Para penonton bertanya - tanya tentang apa yang terjadi. Tidak sedikit dari mereka mulai menggunjingnya.
"Apa - apaan itu? Dia pikir pertunjukkan ini main - main? Jangan - jangan sebenarnya dia tidak bisa main sama sekali." Kata seorang dari kerumunan.
"Buat malu ayahnya saja! Begitulah kalau punya anak haram sepertinya! Bahkan, dia tidak mewarisi kemampuan ayahnya sama sekali. Jangan - jangan dia itu bukan anak kandungnya?" Kata seorang yang lain memicu keributan.
Aku tidak bisa terima atas apa yang mereka katakan tentang Alex. Bahkan, di depan mataku yang mana merupakan orang yang tahu akan kebenaran dibaliknya. Aku tidak habis pikir kepada mereka yang mempunyai pemikiran dangkal seperti itu.
"Hentikan! Hentikan perkataan kalian yang tidak berdasar itu. Kalian berani berbicara padahal tidak tahu apapun tentang kebenarannya. Kalian itu hanya terbiasa menggunjing orang, tapi kalian tidak berani menilai diri kalian sendiri apakah sudah baik atau tidak? Benar - benar kalian semua itu pecundang!" Teriakku tidak terima dengan perlakuan mereka.
Aku pun berlari memecah kerumunan itu sambil menangis menuju aula pertunjukan itu. Aku ingin menolongnya. Setidaknya, aku berharap belum terlambat. Jujur, aku tersadar bahwa aku ini adalah sahabat yang egois. Waktu itu, aku menolak untuk tampil bersamanya karena alasan bahwa aku sibuk dengan pameran. Sekarang aku benar - benar menyesal. Temanku sedang membutuhkanku.
Aku berlari sekuat tenaga menyusuri koridor dan jalan setapak. Akhirnya, aku pun sampai di belakang panggung. Aku bertemu dengan panitia festival dari sekolahku yang masih terlihat bingung karena Alex yang terdiam kaku.
"Maaf, Kak! Tolong izinkan aku menemaninya di atas sana." Ucapku terengah - engah.
"Kalau begitu, aku akan mendaftar sekarang juga!" Ucapku mantap.
"Ini sudah lewat waktunya mendaftar. Jadi, pendaftaran sudah tutup. Pergilah! Coba daftar tahun depan saja!" Ucap panitia itu agak ketus.
"Aku mohon, Kak! Dia adalah temanku. Dia butuh aku untuk mengiringinya dengan piano." Ucapku berusaha membujuknya.
"Tetap tidak bisa!" Balasnya.
Tiba - tiba, muncul seseorang dari belakangku dan menghampiri kami yang sedang ribut.
"Cealyne, biarkan dia untuk mendaftar! Beri dia pengecualian untuk itu!"
Ternyata, dia adalah Kak Nico. Sudah sebulan aku tidak menyapa dan berbicara dengannya. Sejak masalah yang menimpaku, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Kali ini dia masih mau membantuku.
"Baiklah, Ketua! Isi namamu dan alat musik yang akan kamu mainkan!" Kata panitia itu.
"Baiklah, terima kasih!" Jawabku sambil tersenyum cerah.
Aku mengisinya dengan cepat dan langsung berjalan ke atas panggung. Aku juga menyempatkan diri untuk membalikkan badanku dan menoleh ke belakang.
"Kak Nico, terima kasih bantuannya kali ini! Aku tidak akan melupakannya! Pasti aku traktir kakak nanti." Ucapku kepada Kak Nico.
"Iya, sama - sama, Alessia! Naiklah cepat! Semangat untukmu juga!" Balas Kak Nico mendukungku.
Aku tidak percaya akan memainkan piano di hadapan banyak orang. Bahkan, di depan orang - orang penting itu. Aku sedikit khawatir kalau mereka akan menilai permainan pianoku yang masih amatir ini. Tapi, semua ini untuk Alex, sahabatku. Aku meneguhkan hatiku dan naik dengan percaya diri. Meski masih amatir, aku yakin pasti bisa membawakannya dengan baik karena aku sudah latihan berkali - kali dalam bulan ini.
Aku mengambil langkahku dan duduk di kursi pianis itu. Aku melihat para penonton yang keheranan. Aku menarik napas yang dalam dan berusaha untuk mengabaikannya. Aku melihat Alex yang berdiri di depanku yang sama sekali tidak sadar kalau aku sekarang ada di belakangnya. Dia benar - benar membutuhkan sedikit percikan dariku.
Aku pun memainkan beberapa nada untuk memancing perhatiannya. Dia pun terkejut dan menoleh padaku.
"Kenapa diam saja, Dasar Pengganggu! Tunjukkanlah kemampuanmu!" Bisikku padanya.
Ekspresi sedihnya berubah seketika saat melihatku. Senyumnya cerah kembali seperti semula.
"Aku akan mengiringimu dan mari kita tampilkan pertunjukkan yang mengesankan!" Seruku.
Alex menanggapi dengan mengangguk mantap dan mulai mengangkat biolanya kembali.
"Saudara - saudari sekalian yang saya hormati, saya akan mempersembahkan sebuah lagu gubahan saya sendiri yang berjudul "lampada della vita". Lagu ini kupersembahkan secara khusus untuk mendiang ibuku yang tercinta. Aku akan membawakannya bersama dengan sahabatku, Alessia Belleza Baker. Selamat menyaksikan!"
Dia memberikan aba - aba padaku dengan senyumnya yang cerah. Aku memainkan intro lagunya kemudian dia menyambut dengan alunan biolanya yang khas. Kali ini benar - benar terasa berbeda dari sebelumnya. Kali ini dia memainkan biolanya sambil tersenyum cerah meski sebenarnya lagu ini termasuk lagu yang sedih. Lagu perpisahan yang teramat pahit. Tapi, akhirnya dia bisa tersenyum dan bersemangat kembali. Permainannya terlihat sangat sempurna. Hentakan gesekan biolanya, membuat semua orang yang menonton tersentak dan hanyut dalam melodi yang dihasilkan. Nada - nada biola yang begitu rapi itu mendorongku untuk lebih fokus dengan pergerakan jari - jariku hingga aku mulai terbiasa dengan itu. Aku juga semakin menyadari potensi tersembunyi yang aku miliki. Sungguh peristiwa yang menakjubkan. Kolaborasi yang sangat harmonis. Semua pasang mata tertuju pada pertunjukan kami itu. Dan akhirnya, dia mengakhirinya dengan tetesan air yang mengalir jatuh dari matanya. Dan untuk kali ini tentu saja itu adalah air mata kebahagiaan! Iya, aku yakin sekali tentang itu!
Condividi le tue lacrime di felicità con il mondo!