
Suasana kelas hari ini benar - benar gaduh tidak seperti hari biasanya. Bagaimana tidak, baru saja tadi pagi Bu Amelie membuat pengumuman dadakan yang cukup menghebohkan semua siswa kelas satu Dandelion Knight. Isi pengumumannya adalah bahwa hari ini akan diadakan ulangan harian matematika pada jam pertama pelajaran. Ulangannya benar - benar sangat mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Aku juga sempat terkejut dengan berita itu. Apalagi, aku hampir nyaris terlambat ke sekolah tadi karena kejadian yang terjadi di rumah Alex pagi ini. Benar - benar hari yang sial bagiku- gumamku dalam hati. Aku melihat teman - teman yang sibuk membuka bukunya dan mempelajari serts mengulang materi yang kemarin. Ada pula yang berdiskusi bersama di satu tempat untuk membahas materi ujian yang akan diujikan sebentar lagi. Tapi, tidak dengan dia. Alex hanya duduk manis sambil melamun tanpa memegang buku sama sekali. Aku tahu dia tidak masuk sekolah kemarin. Tapi, setidaknya dia coba bertanya padaku yang mana adalah teman sebangkunya.
"Alex, kamu tidak belajar? Sebentar lagi kan ulangan harian?" Tanyaku.
"Aku tidak perlu belajar! kan aku sudah pintar!" Jawabnya penuh percaya diri.
"Memangnya kamu sudah tahu apa yang akan diujikan? Bukankah kamu tidak masuk sekolah kemarin?" Ucapku.
"Iya, memang aku tidak masuk kemarin. Tapi, bukan berarti aku tidak belajar. Bu Amelie sudah mengirimku materinya kemarin dan aku sudah membacanya. Jujur, materi itu terlalu mudah untuk dipahami dan aku sudah sering mengerjakan yang lebih sulit daripada itu. Jadi, aku tidak perlu lagi mempelajarinya karena semuanya sudah ada di otakku!" Ucapnya dengan nada sombong.
"Hoho...betapa beruntungnya menjadi putra dari pemilik sekolah! Sampai - sampai materinya dikirim langsung oleh gurunya sendiri! Aku benar - benar iri sekali denganmu, Master Matematika yang Agung! Kalau begitu tolong bantu juniormu ini yang masih perlu banyak belajar darimu!" Ucapku mengikuti alurnya.
"Baiklah kalau begitu, Junior! Bagian mana yang tidak kamu mengerti, Alessia?" Ucapnya menjadi lebih serius.
"Bagian ini! Aku masih kurang mengerti di bagian menentukan titik puncak dari suatu persamaan!" Ucapku sambil menunjukkan buku catatanku.
"Ohh...bagian yang ini! Ini sangatlah mudah! Biarkan aku jelaskan padamu!" Ucapnya bersemangat.
Kemudian dia menjelaskan materi itu kepadaku dengan ekspresi wajahnya yang serius. Menurutku itu sungguh imut. Sesekali aku juga melirik dan memandanginya dengan kagum. Selain memiliki paras yang tampan, dia juga mempunyai otak yang jenius. Dia merupakan sosok yang patut dikagumi jika saja dia mempunyai sikap yang lembut dan ramah seperti Kak Nico. Ngomong - ngomong, aku juga penasaran dengan Kak Nico karena sudah seminggu aku tidak melihatnya. Dia pasti sangat sibuk dengan kegiatannya yang sangat padat. Selagi aku sibuk melamun dan bermain dalam pikiranku, ternyata Alex sudah selesai mengajariku dan aku tidak menyadarinya.
"Ptakkk..." suara dahiku disentil oleh Alex.
"Auhh...sakit!" Kataku sambil meraba dahiku yang terasa sakit.
"Alessia! Apakah kamu mendengarkan penjelasanku tadi?" Ucap Alex.
"Iya, iya, aku dengar semuanya, kok! Tidak perlu pakai sentilan segala juga kali! Kepalaku kan jadi sakit! Aku sudah mengerti berkat penjelasanmu tadi! Terima kasih, Alex!" Ucapku.
"Aku memberi sentilan itu supaya otakmu itu kembali bekerja lagi, tahu! Mana yang sakit! Sini aku tiup!" Ucapnya sembari memegang kepalaku.
Dia pun meniup dahiku yang masih merah karena sentilan itu. Namun, aku merasa muncul perasaan aneh dalam hatiku. Jantungku juga berdegup sangat kencang.Jarak kami terlalu dekat. Bahkan, aku bisa mencium aroma tubuhnya yang maskulin itu. Ditambah lagi dia memegang wajah dan daguku secara bersamaan sambil menatapku dalam.
"Hmm... Apa masih sakit?" Tanyanya.
Tapi, aku masih saja menatapnya tanpa ekspresi dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Alessia! Alesssiaaaa....! Apakah dahimu masih sakit?" Tanyanya lagi dengan suara agak keras dan menyadarkanku.
"Ohhh....iya, sudah agak baikan, kok! Terima kasih, ya! Bacalah buku ini sembari menunggu Bu Amelie!" Ucapku terbata - bata karena gugup sambil memberikan buku catatanku.
"Tapi, kan yang harus belajar itu kan kamu, Alessia, bukan aku!" Ucapnya.
"Ohh...itu Bu Amelie sudah datang! Aku ambil lagi bukunya, ya!" Ucapku dengan sikap gelagapanku itu.
Dia hanya tersenyum manis melihat tingkah gugupku itu. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentangku sekarang ini. Tapi, Ibu Amelie memang benar - benar sudah datang ke kelas dan hendak memulai ulangan untuk hari ini. Semua siswa yang sedang heboh berdiskusi tadi, langsung bergegas kembali ke tempat duduknya dan menyiapkan alat tulisnya masing - masing.
"Ayo, anak - anak, simpan semua buku dan catatan kalian ke dalam tas! Ulangannya akan segera dimulai!" Ucap Bu Amelie yang sudah siap memberi soal ulangan.
"Baik, Bu!" Sontak seluruh siswa.
Ulangan pun dimulai. Semua siswa sibuk mengerjakan soal ulangannya masing - masing. Suasana kelas pun hening tanpa adanya suara yang mengganggu. Aku pun dengan santai mengerjakannya hingga selesai tanpa kesulitan apapun. Semua berkat Alex yang sudah menjelaskannya pada detik - detik terakhir. Setelah hampir satu jam setengah, akhirnya waktu ulangan pun selesai yang ditandai dengan bunyi bel pergantian jam pelajaran.
"Anak - anak, bel sudah berbunyi! Tolong kumpulkan kertas jawaban kalian di meja guru sekarang, ya! Dan untuk ketua kelas, setelah semua sudah mengumpulkan kertas jawabannya, tolong antarkan ke meja saya di ruang guru! Jadi, Ibu ucapkan terima kasih atas kesiapan kalian semua untuk ulangan hari ini dan sampai jumpa lagi di pertemuan berikutnya! Sekarang Ibu mohon pamit, ya! Belajar yang rajin, ya, Anak - Anak!" Ucap Bu Amelie yang ramah.
"Terima kasih untuk hari ini, Bu Amelie!" Sontak seluruh siswa.
Setelah Bu Amelie meninggalkan kelas kami, aku langsung berdiri dan bergegas ke meja guru untuk mengambil seluruh kertas jawaban ulangan untuk dibawa ke ruang guru.
"Teman - Teman, apakah ada yang belum mengumpulkan kertas jawabannya ke depan?" Tanyaku kepada seluruh kelas.
"Tidak ada." Sontak seluruh siswa.
"Baiklah, aku akan bawa sekarang ke ruang guru! Untuk pelajaran selanjutnya itu adalah seni budaya. Tapi, karena Pak Steve berhalangan hadir hari ini dan beliau tidak memberikan tugas sama sekali, jadi kelasnya ditiadakan untuk hari ini. Bagi yang mau istirahat duluan ke kantin atau mau membaca buku ke perpustakaan juga diperbolehkan, ya! Asalkan tidak berkeliaran di koridor sekolah karena nanti mengganggu kelas lain yang sedang belajar. Oke, itu saja untuk hari ini! Selamat menikmati waktu senggang kalian masing - masing!"Jelasku.
"Horeeee...!" Sorak seluruh siswa.
Mereka keliatannya senang sekali kalau tidak ada pelajaran. Padahal, orangtuanya sudah membayar mahal untuk menyekolahkan mereka di sini. Aku yang tidak bayar uang sekolah saja merasa sangat rugi kalau gurunya tidak hadir seperti ini. Padahal, aku sudah semangat sekali mau belajar. Memang dasar anak - anak orang kaya. Semuanya terlihat mudah di depan mata mereka.
Aku memegang seluruh kertas jawaban itu di tanganku untuk dibawa ke ruang guru. Sebelum itu, aku berpikir mungkin sebaiknya aku ke kantin juga sekalian untuk membeli sesuatu yang bisa mengganjal perutku ini karena hari ini kan aku berangkat dari rumah Alex. Jadi, aku tidak membawa bekal sama sekali. Aku pun kembali ke tempat dudukku untuk mengambil uang di dompetku.
"Mau ngapain, Alessia?" Tanya Alex.
"Aku mau mengambil dompetku di tas!" Jawabku.
"Untuk apa? Kan kamu hanya mau ngantar kertas jawaban ke ruang guru." Ucapnya.
"Iya, aku mau pergi antar kertas jawaban ini ke ruang guru terus mampir ke kantin untuk membeli roti buat camilan. Hehe... Kan Pak Steve tidak hadir. Jadi, waktunya harus dimanfaatkan sebaik - baiknya! Kamu mau ikut aku, Alex?" Jawabku.
"Iya, iya, aku pasti kembali ke sini! Terima kasih atas bantuannya, ya, Alex! Jadi, katakan padaku, kamu mau pesan apa?" Ujarku.
"Samakan saja dengan punyamu!" Balasnya.
"Oke, aku pergi dulu! Tunggu aku, ya!" Seruku sembari pergi keluar kelas.
Aku langsung pergi menuju ruang guru dan meletakkan kertas jawaban ulangan dan menandainya dengan sebuah stiker pesan "Dandelion Knight Satu" di atas meja Bu Emelie. Setelah menyelesaikan tugasku itu, aku langsung memutar haluanku menuju kantin sekolah. Ini pertama kalinya aku pergi ke kantin sekolah karena aku selalu bawa bekal dari rumah. Lagipula beasiswaku hanya menanggung uang sekolah dan itu tidak termasuk uang makan di dalamnya. Jadi, aku tidak punya alasan untuk sering - sering ke kantin. Sebenarnya Papa selalu memberikan uang saku setiap hari padaku untuk sekadar membeli camilan atau minuman di kantin. Tapi, aku memilih menyimpannya untuk membeli keperluan yang aku anggap lebih penting. Selain itu, aku juga tidak terlalu suka makanan kantin dan lebih suka makanan rumahan. Mungkin untuk hari ini saja, aku akan mengeluarkan sedikit harta karun di dalam dompetku yang tipis ini.
Setelah sampai di kantin, tanpa berlama - lama, aku langsung membeli dua roti rasa coklat dan dua susu kotak rasa coklat. Coklat di tambah dengan coklat. Itu benar - benar keliatan sangat lezat di mataku yang merupakan penggemar terbesarnya coklat. Aku benar - benar suka coklat sejak kecil. Aku teringat dulu, Papa selalu membelikan coklat batangan untukku saat dia pulang dari kantornya. Namun, sejak gigiku sakit, Papa tidak pernah membelikannya lagi. Benar - benar sebuah kenangan yang menggemaskan.
Setelah membeli camilan di kantin, aku langsung bergegas balik menuju kelasku.
Namun, secara tidak disengaja, aku bertemu Kak Nico lagi di koridor sekolah. Seperti biasa, dia selalu menyapaku duluan.
"Hai, Alessia! Apa kabarmu hari ini? Sepertinya kita sudah jarang bertemu nih!" Sapanya ramah.
"Hai, juga, Kak Nico! Kabarku baik. Kakak juga apa kabar?" Ucapku membalas sapaannya.
"Ya, seperti biasa, aku masih saja sibuk dengan urusan sekolah yang begitu padat. Tapi, selebihnya aku masih baik - baik saja, kok! Ngomong - ngomong, sepertinya kamu baru dari kantin, ya!" Ucapnya.
"Ahh...Iya, Kak! Soalnya hari ini aku tidak bawa bekal, terus karena Pak Steve tidak hadir hari ini, jadi aku manfaatin waktu jam kosongnya untuk pergi beli camilan ke kantin supaya nanti tidak terlalu ramai ketika jam istirahat tiba." Jelasku.
"Ohh...benar juga itu! Kalau jam istirahat pasti ramai sekali, sampai - sampai makanannya pun cepat habis. Jadi, harus ekstra cepat dan lihai kalau tidak mau kehabisan! Haha..." Ucapnya sambil tertawa.
"Ohh...Kak! Aku baru ingat dengan janjiku untuk meneraktir Kakak minggu lalu! Ini, Kak, mohon diterima!" Ucapku memberi roti dan susu coklat kepadanya.
"Tidak perlu, Alessia! Itu kan untuk makan siangmu! Aku bisa beli sendiri nanti di kantin! Lagipula, kemarin itu aku hanya bercanda, kok!" Ucapnya berusaha menolak.
"Tidak apa - apa, Kak! Aku memang berniat memberikannya sebagai ungkapan terima kasihku atas bantuan Kakak selama ini padaku!" Ucapku.
"Ohh...sebenarnya aku senang bisa membantumu! Baiklah kalau begitu! Terima kasih atas traktirannya, Alessia! Ngomong - ngomong, aku sedang senggang nih! Kalau kamu tidak sibuk, mari berbincang denganku sebentar! Bagaimana, Alessia?" Ajaknya.
Sebenarnya, aku sudah janji dengan Alex untuk segera kembali ke kelas. Tapi, aku merasa tidak enak menolak ajakan Kak Nico.
Kupikir, tidak apa - apa kayaknya soalnya kan hanya berbincang sebentar saja.
"Hmm...baiklah, Kak! Tapi, sebentar saja, ya, Kak! Soalnya ini kan masih jam pelajaran!" Ucapku setuju.
"Kalau begitu, kita duduk di bangku sana saja, ya!" Ajaknya sambil menunjuk ke arah bangku dekat green house sekolah.
"Ayo, Kak!" Balasku.
Akhirnya, kami pun duduk dan berbincang sambil menikmati camilan tadi.
"Ohh...Alessia! Selamat, ya atas juara satu seni lukis kemarin! Aku tidak nyangka kamu jadi pemenangnya! Aku juga melihat karya lukisanmu dan itu sangat bagus! Rasanya aku juga ingin melukis sepertimu! Selain itu, kamu juga pandai bermain piano. Kamu benar - benar berbakat!" Pujinya.
"Ahh...Kakak terlalu memujiku! Permainan piano Kakak lebih menakjubkan daripada aku, sampai - sampai aku merinding saat mendengarnya. Kakak memang pantas jadi juaranya! Selamat, ya!" Balasku.
"Terima kasih pujiannya, Alessia! Besok kan ada pengumuman penerimaan anggota ekstrakurikuler baru dan aku lihat kamu diterima di ekstrakurikuler lukis dan musik. Jadi, sepertinya kita akan sering ketemu karena aku ketua club khusus alat musik piano!" Jelasnya.
"Wah...benarkah? Aku sudah cukup senang bisa diterima di club lukis. Jadi, aku tidak percaya bisa diterima juga di club musik. Aku sungguh merasa terhormat bisa ikut bergabung dengan club piano! Aku akan berlatih dan mengikutinya dengan semangat!" Ucapku bersemangat.
"Aku suka semangatmu itu, Alessia!" Ucapnya sambil tersenyum.
Selagi kami asyik berbincang bersama, tiba - tiba datang seseorang dari kejauhan sambil berteriak memanggil namaku.
"Alessia!" Ucapnya.
Ternyata, itu adalah Alex. Dia kelihatannya sangat marah. Aku baru teringat sesuatu. Ya, aku kan sudah janji untuk segera ke kelas setelah belanja dari kantin. Semua itu karena aku terlalu asyik berbincang dengan Kak Nico, sehingga aku lupa dengannya.Tapi, sebenarnya, aku baru saja berniat mau kembali ke kelas. Malah dia datang menghampiriku dengan muka masamnya itu. Habislah aku kena marah sama dia- Pikirku. Dia pun langsung datang mendekati kami.
"Alessia, kamu sedang apa di sini dengan dia? Tadi kamu kan sudah janji akan langsung balik ke kelas. Aku pikir dompetmu ketinggalan di meja. Aku takut kamu mungkin tidak bisa bayar di kantin. Jadi, aku pergi menyusulmu! Aku tidak percaya kamu malah asyik berbincang dengannya di sini! Bahkan, kamu tidak memikirkan aku yang sudah menunggumu dari tadi!" Ucapnya dengan nada marah.
"Alex, bukan begitu! Aku memang mau segera ke kelas, kok! Tapi..." Ucapku agak ragu.
"Tapi kenapa? Aku tidak mau dengar alasanmu lagi, Alessia! Nah, dompetmu! Lanjutkan saja perbincangan kalian! Aku kesal padamu, Alessia! Terlebih lagi denganmu!" Ucapnya sambil menunjuk Kak Nico kemudian pergi meninggalkan aku.
"Alex, dengarkan dulu penjelasan dari Alessia! Kamu itu salah paham!" Ucap Kak Nico berusaha menengahi.
"Kak Nico, sepertinya aku harus menyusulnya sekarang! Dia memang sensitif akhir - akhir ini. Kalau begitu, terima kasih sudah berbincang denganku! Lain kali kita berbincang lagi, ya! Sampai jumpa lagi, ya, Kak!" Ucapku sambil berlari menyusul Alex.
"Baiklah, Alessia! Sampai jumpa lagi!" Ujar Kak Nico.
Aku tidak tahu mengapa dia bersikap seperti itu. Aku baru berbincang sebentar saja dengan Kak Nico. Dia langsung datang dan marah - marah. Kalau dipikir - pikir, dia memang benar - benar sensitif sekali. Mengapa dia harus semarah itu padaku? Aku akui memang itu kesalahanku karena tidak menepati janji. Tapi, bukan berarti aku tidak boleh berbincang dengan siapa saja yang aku temui. Lagipula aku juga bukan sengaja bertemu dengan Kak Nico. Itu adalah sebuah kebetulan. Bahkan, dia tidak membiarkan aku menjelaskan apapun. Sekarang yang bisa aku lakukan adalah mengejarnya dan berusaha membujuknya untuk mendengarkan penjelasanku supaya amarahnya itu padam. Hanya itu jalan satu - satunya sekarang!
Dio, aiutami ad affrontare la sua rabbia!