Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Dua Puluh Dua Smile For You (and Me), Please!



Aku keluar dari restoran itu setelah menolak tawaran dari Tuan Scott yang ingin mengantarku. Sebagai gantinya, beliau memberikan sebuah memo padaku yang ditulisnya secara tergesa - gesa sambil melirik ke sekelilingnya. Aku tidak tahu mengapa beliau bertindak seperti itu. Itu cukup aneh. Seperti ada rasa takut yang mengganggu. Sebenarnya aku tidak peduli soal itu. Tapi, kemudian dia menjabatkan tangannya dan memberikan memo itu padaku dengan sebuah bisikan di telingaku bahwa aku harus membukanya setelah berada di dalam taksi. Aku tidak tahu isinya tentang apa dan kurasa itu tidak terlalu penting. Dalam pikiranku, aku hanya mau kembali ke sekolah untuk mengikuti pelajaran lagi.


Aku pun memanggil taksi dan langsung menaikinya.


"Pak, tolong antar ke Dandelion School, ya!" Ucapku.


"Baik, nona!" Kata supir taksi itu.


Aku pun melihat jam tanganku dan ternyata,sekarang sudah pukul tiga siang. Satu jam lagi, waktunya pulang sekolah. Kurasa tidak akan sempat lagi mengikuti pelajaran. Aku pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk merubah arah tujuan, aku teringat dengan memo itu. Aku langsung mengambilnya dari saku seragamku dan membacanya. Aku membaca tulisan itu yang hanya terdiri dari dua kata, kata "CPTSD" yang dihubungkan dengan sebuah tanda panah yang mengarah ke kata "Alex". Aku tidak mengerti tentang arti tulisan memo itu. Aku hanya yakin ini pasti berhubungan erat dengan Alex. Tanpa menunggu lama, aku langsung meminta Pak supir taksi itu untuk memutar arah.


"Maaf, Pak! Saya tidak jadi ke Dandelion School. Kita balik arah ke Jalan Boulevard Timur sekarang, ya!" Ucapku tergesa - gesa.


"Baik, Nona!" Balasnya sambil memutar taksinya ke arah sebaliknya.


Sepanjang perjalanan, aku tidak henti - hentinya merasa cemas. Aku juga bingung mengapa Tuan Scott tidak langsung menjelaskan maksud dari memo itu. Hal itu membuatku bertanya - tanya dalam hati akan semua teka - teki yang rumit ini.


Akhirnya, setelah kurang lebih tiga puluh menit perjalanan, aku pun sampai di rumah Alex. Sayangnya, taksi itu hanya bisa menurunkanku di depan gerbangnya. Jadi, sepertinya aku tetap harus jalan kaki ke dalamnya. Membayangkannya saja, pasti melelahkan. Tapi, apapun itu akan kulakukan hanya demi sahabatku itu.


"Selamat sore, Pak!" Ucapku menyapa penjaga pos keamanan yang sedang berjaga di pintu gerbang.


"Iya, selamat sore, Nona, mau bertemu dengan siapa?" balasnya.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Muda Scott. Apakah dia saat ini ada di rumahnya?" Ucapku lebih lanjut.


"Iya, Tuan Muda selalu di rumah saja sepanjang hari ini. Apakah Nona sudah buat janji sebelumnya dengan Tuan Muda?" Katanya.


"Sebenarnya belum, Pak! Tapi dia mengatakan pada saya kalau saya bisa datang kapan saja. Tujuan saya kesini sebenarnya untuk mengunjunginya karena hari ini dia tidak masuk sekolah dan ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Jelasku.


"Maaf, Nona! Jika belum ada janji, saya tidak bisa mengizinkan Nona masuk!" Ucapnya.


"Pak, tapi ini sangat penting, tolong saya kali ini saja!" Ucapku memohon.


Selagi aku memohon kepada penjaga agar diizinkan masuk, datanglah sebuah mobil yang sepertinya itu adalah mobil yang sama yang menjemputku kemarin pagi. Mobil itu berhenti di depan gerbang rumah Alex. Kemudian kaca jendela depannya pun terbuka.


"Nona Alessia, bukan?" Ucap seorang pria dari dalam mobil itu.


Ternyata, itu benar adalah Pak James yang kemarin. Namun, wajahnya terlihat sangat tergesa - gesa.


"Pak James! selamat sore, saya mau..."


"Nona, langsung naik saja ke mobil ini! Saya akan jelaskan sambil kita masuk!" Ucapnya menyuruhku masuk ke mobil.


Aku langsung naik tanpa bertanya lagi. Ketika aku masuk ke dalamnya, aku melihat seorang dokter yang duduk di kursi depan. Pak James langsung menginjak pedal gasnya dan kami masuk melewati gerbang itu.


"Pak James, sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi pada Alex?" Tanyaku penasaran.


"Nona, kita masuk saja dulu dan nanti akan saya tunjukkan! Soalnya kita harus cepat menolongnya sekarang juga!" Ucapnya yang semakin membuatku khawatir.


Meski aku ingin tahu apa yang terjadi, tapi saat ini aku hanya bisa menuruti ucapan Pak James. Aku berharap tidak ada kejadian yang parah yang dialami oleh Alex.


Sesampainya di depan rumah itu, kami langsung bergegas turun dan masuk ke dalam. Pak James langsung mengarahkan kami ke sebuah kamar yang mana kamar itu adalah kamar Alex.


Sesampainya di depan pintu, aku melihat dua pelayan yang terlihat sangat panik. Kemudian, terdengar suara lemparan kaca dari dalam kamar. Ternyata, Alex melempar gelasnya ke arah dinding hingga pecah berkeping - keping. Bahkan, aku melihat serpihan kaca itu ada yang terpantul dan melukai tubuhnya. Jujur, aku syok saat melihatnya seperti itu dan ada rasa tidak percaya akan apa yang terjadi. Kakiku rasanya ingin melangkah mundur, tapi hatiku berkata lain. Aku melihatnya berjalan ke pojok kamarnya dan memegang kepalanya sambil meringis kesakitan. Aku mendengarnya memanggil ibunya. Aku langsung berlari masuk dan berusaha menghampirinya.


"Nona, jangan!" Ucap Pak James berusaha menghentikanku.


Tapi, aku mengabaikan peringatannya itu dan tetap berlari masuk. Sesaat mencoba mendekatinya, aku terkejut dan menghentikan langkahku. Secara tiba - tiba dia mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya dan menodongku dengan itu.


"Dasar Penjahat! Aku tidak akan membiarkanmu membunuh ibuku! Aku akan membunuhmu duluan!" Ucap Alex sambil berteriak.


"Alex, ini aku temanmu, Alessia! Aku bukan penjahat!" Ucapku.


"Kamu berbohong! Kamu pasti sudah merencanakan sesuatu untuk menipuku! Aku akan membunuhmu sekarang juga!" Ucapnya.


Dia melemparkan pisaunya lalu meraih leherku dan mencekikku dengan kedua tangannya. Aku merasa sangat sesak. Aku berusaha melepaskan cengkeramannya tapi tidak berhasil. Pak James segera membantu dan mencoba memisahkan kami. Tapi, tetap saja dia terlalu kuat.


"Alex, sadarlah! Ini aku temanmu, Alessia! Apa sekarang kamu benar - benar mau membunuhku? Dasar Pengganggu!" Ucapku.


Seketika mendengar ucapanku, dia mulai melonggarkan cekikannya dan menatapku dalam - dalam. Aku terbatuk - batuk berusaha mengatur pernapasanku yang sempat terhambat.


"Alessia, ini kamu, kan? Ini bukan ilusi, kan?" Ucapnya agak pelan.


"Iya, Alex! Bagaimana bisa kamu mengatakan aku hanya ilusi. Kumohon sadarlah sekarang!" Ucapku sambil menangis.


Kemudian, dia mengangkat tubuhku dan memelukku dengan erat. Dia pun juga ikut menangis.


"Alessia, maafkan aku! Maaf, aku sudah menyakitimu dengan tanganku sendiri! Aku ini adalah teman yang jahat bagimu! Aku mohon jangan tinggalkan aku!" Ucapnya sambil berteriak keras.


Tubuhku terasa sangat lemah dan tidak berdaya hingga tidak satupun yang bisa kugerakkan. Aku mendengarnya berbicara dan sedikit demi sedikit kuraih punggungnya lalu membalas pelukannya. Aku menepuk punggungnya yang lapang itu.


"Kalau begitu, aku pun juga sama denganmu! Mungkin aku tidak melukaimu dengan tanganku, tapi tanpa sadar aku juga sedang melukai hatimu! Aku memberikan harapan palsu padamu bahwa kamu harus menjalin hubungan lagi dengan ayahmu. Tetapi, pada akhirnya akulah yang mengakhirinya seperti ini. Jika harus dikatakan sebenarnya akulah teman yang jahat itu! Aku memang pantas dihukum seperti ini! Maafkan aku, Alex!" Ucapku dengan nada pelan.


"Alessia, mengapa kamu yang harus minta maaf seperti ini? Ini murni adalah kesalahanku. Aku telah berjanji untuk terbuka padamu. Tapi tetap saja aku berusaha menutupi kekuranganku ini. Aku hanya merasa takut kamu akan meninggalkanku ketika tahu dengan penyakitku ini. Aku benar - benar menyukaimu dan tidak ingin kamu menjauhiku! Maafkan atas keserakahanku ini!" Ucapnya sambil menatapku.


Aku membalas tatapan dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Aku sudah berjanji untuk menjadi temanmu yang akan selalu menemani dan mendukungmu. Aku tidak peduli dengan kekuranganmu tapi aku berharap kamu bersedia mengizinkanku untuk membantu mengurangi rasa sakitmu. Jujur, aku juga mempunyai banyak kekurangan dan kamu sudah menerimanya dengan tulus. Bagaimana mungkin aku akan menjauhimu hanya karena satu kekurangan? Bagaimana aku bisa menuntut lebih dari itu? Maka dari itu, mulai saat ini mari kita sembuhkan segala rasa sakit yang mengganjal dan hidup dengan bahagia. Benar - benar bahagia. Izinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku dan hiduplah bersama denganku, Alex!" Ucapku.


Alex pun tersenyum dan mengangguk dalam. Kemudian dia memelukku lagi. Lalu, dia menggendongku dan meletakkanku duduk di atas tempat tidurnya.


"Alessia, bermalamlah disini! Tolong temani aku malam ini saja!" Ucapku.


"Aku mau saja, tapi Papaku pasti sangat khawatir." Ucapku.


"Tenang saja, Nona! Saya akan mengabari beliau dan membawakan seragam Nona untuk sekolah besok!" Ucap Pak James padaku.


"Nah, biar Pak James yang mengurusnya, Alessia! Jadi, mau, kan?" Lanjut Alex memhon padaku untuk tinggal.


Aku hanya mengangguk tanda setuju.


"Kalau begitu, kita bersihkan lukamu dulu! Pak Dokter tolong dibantu, ya!" Ucapku.


"Baiklah, Nona!" Ucap dokter itu.


Dokter itu langsung memeriksa dan membersihkan lukanya.


"Kalau begitu, aku mau bicara dulu sebentar sama Pak James, ya, Alex!" Ucapku pada Alex.


"Tapi, lehermu kan harus diobati dulu, Alessia!" Balasnya.


"Iya, aku pasti kembali. Aku hanya ingin memberi catatan untuk dibawa ke rumahku kepada Pak James. Kamu duluan saja, oke!" Kataku.


"Baiklah, Alessia! Yang cepat, ya!" Ucapnya.


Malam itu akhirnya aku bermalam di rumah Alex. Terlalu banyak yang terjadi hari ini yang tidak bisa aku uraikan satu - persatu. Seperti teka - teki yang akhirnya menunjukkan titik terangnya. Jujur, dalam hati ini, aku merasa sangat bersalah padanya. Di sisi lain, aku berusaha memperbaiki hubungannya dengan ayahnya yang seperti benang yang hampir putus. Namun, akhirnya akulah yang memutuskan benang itu. Aku sendiri tidak mengerti diriku ini. Sekarang aku hanya bisa melihatnya tertidur nyenyak di atas ranjangnya. Dia terlihat tersenyum dalam tidurnya. Aku harap dia bisa bermimpi indah malam ini dan untuk malam berikutnya. Aku berjanji pada diriku untuk menebus kesalahanku dengan berada selalu di sampingnya, meski itu membutuhkan seluruh waktu hidupku yang tersisa. Aku tidak peduli. Asalkan aku bisa melihatnya tetap tersenyum seperti saat ini.


Continua a sorridere così!