
Tanpa sadar aku hanyut dalam percakapan itu. Perasaan bahagia juga telah meluapiku hingga aku melupakan sesuatu yang penting bagiku.
"Tunggu dulu! Lukisanku?" Sadarku.
Karena aku sibuk menghampiri Alex untuk membantunya tadi, aku sampai lupa kalau aku baru saja meninggalkan kewajibanku yang sebenarnya. Aku khawatir sekali. Pasti aku akan kena masalah setelah ini. Aku benar - benar bodoh sekali.
"Ada apa dengan lukisanmu, Alessia?" Tanya Alex khawatir.
"Aku meninggalkannya begitu saja tanpa menitipkannya pada siapapun. Soalnya aku tadi buru - buru pergi dan sama sekali memikirkannya. Aku benar - benar ceroboh!" Ucapku agak gelisah.
"Kalau begitu, kita harus segera kesana untuk memastikannya. Ayo, Alessia!" Ajaknya sambil meraih tanganku.
Belum sempat kami melangkahkan kaki untuk meninggalkan tempat itu, seseorang datang menghampiri kami berdua.
"Alessia! Alex! Selamat atas keberhasilan pertunjukan kalian tadi! Aku benar - benar kagum dengan kolaborasinya. Aku juga baru tahu kalau kamu juga bisa bermain piano, Alessia. Kuharap jika ada waktu senggang, kamu mau menyempatkan diri untuk kolaborasi denganku juga." Ucap Kak Nico sambil tersenyum.
Sepertinya Kak Nico hanya ingin memberi selamat pada kami. Tapi, tetap saja aku harus menjaga jarak dengannya. Selain itu, Alex pasti tidak suka dengan sapaannya.
"Iya, Kak. Terima kasih aaa......." Ucapku terpotong karena Alex menutup mulutku.
"Sebenarnya apa maumu, Nico?" Ucap Alex agak ketus.
"Oohhh... Jangan salah paham dulu! Aku tidak mau mencari masalah denganmu, Alex! Aku hanya mau memberi selamat atas keberhasilanmu kali ini. Aku tidak punya maksud apa - apa." Balas Kak Nico.
"Terus apa maksudmu dengan kolaborasi dengan Alessia? Aku peringatkan padamu, Alessia tidak akan pernah berkolaborasi dan bahkan berhubungan dengan orang sepertimu." Ucap Alex agak marah.
"Alex, Alex! Tenanglah dulu! Kalau bukan Kak Nico, aku tidak mungkin bisa mendaftar dan ikut dalam pertunjukan tadi. Jadi, sebenarnya kita berutang budi padanya. Oleh karena itu, kita berdua harus berterima kasih padanya, oke?" Ucapku menghentikan amarahnya.
"Aku tidak mau berterima kasih pada orang yang menggunakan kekuasaannya untuk menarik perhatian orang. Aku pergi sekarang! Ayo, Alessia!" Ujar Alex sembari pergi meninggalkan aku.
"Maaf, Kak! Kalau begitu, aku wakilkan saja dia untuk berterima kasih kepada kakak. Terima kasih atas bantuannya hari ini, ya, Kak! Aku sangat bersyukur dan berterima kasih karena ternyata ada seseorang yang begitu baik seperti kakak." Ucapku sambil menundukkan kepalanya.
"Ahh...kamu bisa saja, Alessia! Aku kan jadi malu kalau kamu berkata seperti itu. Sebagai ucapan terima kasih darimu, aku harap kamu menepati janjimu yang tadi, ya?" Katanya.
"Janji? Ohh... iya, minuman! Pasti aku traktir kakak lain waktu. Sekarang aku harus pergi karena ada sesuatu yang penting. Kalau begitu, aku pamit dulu, Kak! Semoga sukses selalu." Balasku sembari pergi mengejar Alex.
Aku langsung meninggalkan Kak Nico dan mengejar Alex yang duluan pergi tadi.
Sesaat aku keluar dari pintu aula, seseorang menarik tanganku dari belakang.
"Alessia, tunggu!" Ucap Alex.
Ternyata, Alex tidak benar - benar pergi. Dia bersandar di dinding dan menungguku di balik pintu itu.
"Alex! Aku kira kamu sudah pergi duluan. Ayo, kita bergegas pergi ke pameran sekarang juga!" Ajakku.
Entah apa yang terjadi dengan raut wajahnya itu. Seperti ada badai yang menimpanya. Lalu,dia menarikku pelan menghadapnya sehingga posisi kami sangat dekat. Kemudian dia meletakkan ujung kepalanya di atas bahu kananku.
"Alessia!" Ucapnya terdengar sendu.
"Ada apa, Alex? Kenapa kamu jadi seperti ini?" Tanyaku khawatir.
"Bisakah kamu menjauhinya saja? Aku tidak suka melihatmu berbicara dengannya. Dan kamu selalu saja tersenyum manis ketika berbicara dengannya." Ucapnya.
"Memangnya kenapa? Apakah kamu sekarang sedang cemburu dengan dia?" Balasku setengah bercanda.
"Jika perasaanku yang tidak suka kamu akrab dengan orang lain itu disebut cemburu, maka aku akan akui itu. Iya, aku cemburu padanya!"
Ucapnya yang membuatku tidak bisa berkata - kata.
"Alex, maksudmu apa? Aku kan hanya berbicara dengannya sebentar. Bahkan, selama sebulan ini, aku tidak pernah berbicara lagi dengannya. Aku juga kan selalu bersamamu sepanjang hari." Ucapku agak gugup.
"Aku tahu itu! Tapi, pokoknya aku tidak suka dengannya. Terlebih lagi kamu adalah sahabatku. Aku tidak ingin sahabatku satu - satunya akrab dengan orang lain. Aku ingin kamu hanya memikirkan aku saja." Ucapnya yang sedikit malu - malu.
Aku melihat pipinya merona. Aku tidak tahu dia bisa secemburu itu. Sampai - sampai, aku tertawa dalam hati dengan tingkah lucunya itu. Tapi, aku juga senang karena ternyata aku ini begitu berarti baginya hingga dia bisa berubah menjadi posesif seperti ini.
Aku pun membawanya ke pameran lukisan. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya kami sampai di tempat itu.
"Nah, kita sudah sampai! Ini adalah pameran lukisannya! Sekarang aku akan memberi sebuah tugas untukmu. Jika kamu ini benar - benar sahabatku, pasti kamu tahu apa yang aku lukis. Sekarang coba kamu cari lukisanku dan laporkan padaku nanti! Oke?" Ucapku memberinya tugas.
"Baiklah, itu pasti mudah! Kan aku tinggal melihat keterangan tentang pelukisnya." Ucapnya percaya diri.
"Aku tidak mungkin memberi tugas seperti ini kalau memang ada keterangannya. Meski ini adalah festival, tetap saja ini adalah kompetisi. Jadi, setiap lukisan tidak diberi nama pelukisnya. Hanya diberi nomor dan judul lukisannya. Tujuannya agar suara yang diberikan benar - benar sah dan adil." Jelasku.
"Tapi, tetap saja aku akan menemukannya! Tenang dan lihat saja!" Ujarnya.
"Kalau begitu, aku pergi sebentar untuk menemui anggota panitia yang lain. Aku akan kesini lagi! Jadi, tetap disini!" Kataku sembari pergi.
"Oke!" Balasnya.
Aku pergi menemui teman sesama panitia denganku. Aku berharap tidak terjadi apa - apa selama aku pergi tadi.
"Maaf, Rosalie! Aku tadi pergi tiba - tiba tanpa menitipkan tempat pameran ini. Aku benar - benar menyesal! Tolong maafkan aku!" Ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"Tidak apa - apa, kok, Alessia! Meski kamu tidak ada, memang seharusnya kami menggantikanmu karena ini adalah kewajiban bersama. Tapi, lain kali jangan diulangi, ya! Soalnya kami agak kebingungan tadi. Ngomong - ngomong, pertunjukan piano itu sangat bagus sekali. Kenapa kamu tidak beritahu saja kalau kamu mau tampil di aula? Kan kami bisa memakluminya, kok. Lagipula, di antara kami ada juga yang mengikuti lebih dari satu cabang." Kata Rosalie.
"Sebenarnya, pertunjukan itu benar - benar sama sekali tidak direncanakan olehku. Tujuan sebenarnya hanya untuk membantu temanku yang memainkan biolanya. Jadi, itu benar - benar sangat mendadak sekali." Jelasku.
"Ohh begitu ceritanya! Tapi aku tetap kagum dengan permainan pianomu itu! Kuharap lain kali bisa mendengarnya lagi. Kamu pasti capek. Istirahat saja dulu di sini! Biar anggota yang lain saja yang menjaga pamerannya." Ucapnya.
"Terima kasih, Rosalie! Tapi, aku harus pergi menemui temanku itu sekarang! Dia berada di pameran ini juga, kok! Itu dia yang disana! Setelah selesai, pasti aku akan kembali lagi kesini, ya!" Balasku ramah.
"Oke, Alessia!" Ujarnya.
Setelah berbincang sebentar dengan Rosalie, aku langsung menghampiri Alex yang sedang fokus melihat sebuah lukisan.
"Jadi, apa kamu sudah menemukannya, Alex?" Tanyaku sambil menepuk bahunya.
"Sepertinya sudah. Hanya saja..." Jawab agak ragu.
"Hanya saja apa?" Tanyaku lebih lanjut.
"Hanya saja aku menemukan dua lukisan yang aku pikir mungkin itu punyamu, yaitu lukisan nomor sembilan dan enam belas. Dilihat dari sapuan kuas dan catnya yang khas serta kebiasaanmu yang suka menggunakan warna - warna pastel, jadi kelihatannya benar - benar mirip dengan karakteristik lukisanmu. Tapi, kamu tidak mungkin kan membuat dua lukisan." Jelas Alex tentang analisisnya.
"Jadi, di antara keduanya, lukisan mana yang akan kamu pilih?" Ucapku berusaha membuatnya bingung.
"Hmm...jujur aku agak ragu. Tapi, aku yakin nomor sembilan ini adalah lukisanmu karena kamu kan selalu fokus menggambar fashion dan sangat menyukai kota Paris. Dan lagipula judulnya juga sangat mendukung, yaitu "Wine Dress In Paris". Di sisi lain, aku juga tidak menyangkal kalau lukisan nomor enam belas itu juga sangat mirip dengan gaya lukisanmu. Dalam lukisan itu terlihat seorang laki - laki yang sedang bermain biola dengan penuh gairah dan berdiri dikelilingi bunga - bunga yang indah yang seolah - olah mereka adalah penontonnya. Selain itu, ada matahari yang terlihat menyorotinya. Kalau lama - kelamaan dilihat - lihat, dia sangat mirip dengan...." Jelasnya.
"Kamu! Iya, itu kamu, Alex!" Ucapku menyambung perkataannya.
"Aku? Bagaimana bisa?" Tanyanya kebingungan.
"Aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan menunjukkan gambaranku yang ada di buku sketsa waktu itu saat kita di taman Armonia. Inilah gambar itu! Aku membuatnya menjadi sebuah lukisan! Akhirnya aku bisa menunjukkannya padamu sekarang. Yang kamu katakan itu semua benar. Kedua lukisan itu memang milikku. Sebenarnya dalam cabang seni lukis, peserta diperbolehkan membuat lebih dari satu lukisan. Awalnya, aku hanya berencana mengumpulkan satu saja. Hanya saja aku kembali melihat buku sketsaku dan menemukan gambar ini. Aku hanya berpikir pemandangan seperti itu akan sayang jika tidak dimanfaatkan. Oleh karena itu, aku melukisnya lagi di atas kanvas. Meski begitu, awalnya aku tidak yakin akan mengumpulkannya. Jadi, aku melihatnya sekali lagi. Saat aku melihatnya, aku merasa seperti kembali mengingat suasana saat itu yang menurutku sangat bermakna. Semua itu karena aku memikirkanmu. Jadi, aku memutuskan untuk mengumpulkannya bersama lukisan yang lain. Aku tidak menyangka kamu akan mengenalinya. Aku sangat bersyukur karena itu!" Jelasku.
"Wah, benarkah? Aku juga tidak menyangka kamu akan melukis diriku. Bahkan, aku sama sekali tidak menyadari bahwa betapa nyamannya aku pada saat itu. Terima kasih, Alessia, karena sudah memikirkan orang sepertiku. Aku mengaku salah karena sudah merasa cemburu yang tidak jelas tujuannya. Oleh karena itu, mulai sekarang aku akan mempercayaimu sepenuhnya, Alessia!" Ucapnya.
"Terima kasih sudah menjadikanku orang yang kamu percayai, Alex! Aku berjanji akan selalu percaya padamu juga!" Balasku sambil tersenyum.
"Ngomong - ngomong, judul lukisannya apa? Disini tidak tertulis sama sekali." Tanyanya keheranan.
"Aku sengaja tidak menulisnya karena tujuanku hanya untuk menunjukkannya padamu dan menginterpretasikan menurut pandanganku. Jadi, aku ingin memberikan kesan misterius dan tentu saja ingin memunculkan pandangan berbeda dari setiap pengamatnya. Judul lukisannya adalah "Miracle Of Passion". Itulah pandanganku ketika melihatmu memainkan biolamu karena passion yang baru kamu temukan itu adalah sebuah keajaiban dalam hidupmu. Itu keajaibanmu! Jadi, jaga keajaibanmu itu selalu, Alex!" Ucapku.
"Terima kasih sudah mengatakan hal yang indah, Alessia! Aku janji akan menjaga keajaiban itu selamanya." Ucap Alex dengan senyumannya yang cerah.
Hari itu juga adalah keajaiban bagi kami berdua. Hubungan persahabatan yang terjalin selama ini, benar - benar membuahkan kebahagiaan. Kini, aku semakin mengenal tentangnya dan dia juga semakin mengenal tentangku. Kami saling mengenal dan membutuhkan satu sama lain. Aku berharap hubungan ini akan berjalan baik - baik saja ke depannya. Apa pun yang terjadi, kami akan selalu bersama dan saling mendukung dalam suka dan duka serta hidup dalam keajaiban yang kami miliki.
Vivi nel tuo miracolo!