
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, cafe ini benar - benar dikosongkan tanpa menyisakan satu pelanggan yang tersisa. Aku tidak percaya kalau dia akan menyewa seluruh cafe ini. Sekilas aku melihat raut wajah pelanggan yang keluar dari cafe ini terlihat tidak senang karena pengosongan yang begitu mendadak. Kalau jadi aku, pasti aku juga akan sedikit kesal. Tapi, mau bagaimana lagi, itu sudah seperti makanan orang sehari - hari di kota ini. Sebuah filosofi yang mengatakan bahwa siapapun yang memiliki banyak uang, maka dialah yang berkuasa. Jadi, intinya, dia bisa melakukan semuanya semaunya. Aku pikir itu sama sekali tidak adil. Tapi, apa dayaku yang juga hidup sebagai kasta terbawah dari sistem piramida di kota ini. Rasa iripun segan mendekapku. Bahkan, Aku sudah cukup bersyukur karena masih bisa hidup berkecukupan. Jadi, aku tidak punya cukup waktu dan nyali untuk mencari keadilan sekaligus mati sia - sia.
Aku memutuskan untuk mengikuti alurnya saja dan berusaha tidak membuat masalah untukku. Aku pikir itu keputusan yang lebih baik untuk sekarang.
Kami pun langsung masuk ke cafe itu berdua saja tanpa pengawalnya. Dia dengan sopan mempersilahkan aku duduk di kursi yang berada di hadapannya.
"Silahkan duduk, Alessia!" Ucapnya ramah sembari duduk di kursinya.
Jujur, aku sedikit terganggu dengan panggilan akrabnya kepadaku. Padahal, kami baru dua kali bertemu. Menurutku, itu sangat tidak nyaman.
"Terima kasih, tapi menurutku, sepertinya, Kakak sedikit berlebihan karena menyewa seluruh cafe! Lagipula, aku tidak akan lama di sini!" Ucapku sedikit ragu.
"Kalau begitu, mengapa sekalian saja kamu berlama - lama di sini?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Maksud, Kakak?" Tanyaku yang tidak mengerti maksud dari perkataannya.
"Ahh...aku hanya bercanda! Jangan berekspresi curiga seperti itu! Jadi, lupakan apa yang aku katakan tadi! Sebenarnya, aku hanya tidak nyaman dengan banyak orang di sekelilingku dan sekaligus mencegah paparazzi yang suka memotret diam - diam! Meski, aku tidak terlalu peduli tentang itu! Tapi, tetap saja aku harus mencegah rumor yang sengaja dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab! Padahal, mungkin itu tidak benar sama sekali. Maafkan aku jika membuatmu sedikit tidak nyaman! Lagipula, menurutku, suasananya lebih nyaman jika tidak banyak orang. Kita bisa berbincang dengan lebih leluasa dan juga tidak terlalu panas! Bukankah begitu?" Ucapnya.
"Ahh...iya!" Ucapku agak ragu.
"Tunggu apa lagi? Mari kita pesan sesuatu! Permisi, Pelayan!" Ucapnya sambil melihat isi daftar menu.
"Siap memesan, Tuan Muda! Silakan dilihat dulu menunya! " Ucap Pelayan Cafe yang sudah siap menulis di kertas pesanannya.
"Hmm....Saya pesan ice latte dan tiramisu dengan double krim! Kalau kamu mau pesan apa, Alessia?" Ucapnya.
"Ehh...sebenarnya aku baru pertama kali ke cafe! Jadi, aku pesan yang sama seperti Kak Leo saja!" Ucapku.
"Ehmm...memangnya Alex tidak pernah mengajakmu ke cafe? Memang anak itu selalu begitu! Jangan - jangan dia juga tidak pernah meneraktirmu! Kala begitu, sebagai permintaan maaf, aku yang wakilkan dia untuk meneraktirmu! Tolong tambahkan milkshake rasa strawberry dan tiramisu dengan madu, ya!" Ucapnya langsung memesankan untukku.
"Baik, Tuan Muda! Silakan ditunggu! Pesanan anda akan siap dalam sepuluh menit! Selamat siang!" Ucap Pelayan itu sembari pergi.
"Maaf! Sepertinya Kak Leo salah paham pada Alex!" Ucapku.
"Salah paham? Maksudmu apa, Alessia?" Balasnya.
"Ohh begitu, ya! Sepertinya kamu begitu peduli dengannya hingga tidak ingin aku salah paham dengannya! Tapi, apa kamu yakin dia benar - benar peduli padamu?" Ucapnya terdengar mulai menyinggung.
"Apa maksud dari pertanyaan Kakak barusan?" Tanyaku.
"Aku tahu kamu bukan hanya menganggapnya sebagai teman saja! Kalau aku tidak salah mengira, kamu sebenarnya menyukainya lebih dari itu! Tapi, apakah kamu yakin dia memiliki perasaan yang sama terhadapmu? Aku yakin tidak. Aku beritahu kamu yang sebenarnya! Dia hanya menggunakanmu sebagai bonekanya untuk membuat seseorang cemburu!" Ucapnya lagi.
"Seseorang? Siapa dia?" Tanyaku.
"Kamu belum tahu atau pura - pura tidak tahu! Dia adalah gadis yang memeluk Alex saat dia keluar dari cafe es krim tempo hari. Aku tidak sengaja lewat dan melihat mereka kemarin. Namanya Eliza. Sebelum berteman denganmu, Eliza-lah yang selalu bersamanya. Bahkan, ketika ibunya masih hidup, mereka sudah bersama sejak kecil. Jadi, tidak diragukan lagi kedekatan di antara mereka. Mereka itu sudah saling menyukai lebih dari sekadar teman. Hanya saja takdir berkata lain. Eliza yang merupakan putri salah satu konglomerat yang cukup berada, tentu dia tidak diizinkan untuk bersama seorang anak haram. Oleh karena itu, Eliza pun dijodohkan dengan orang lain yang mempunyai status yang lebih jelas. Oleh karena itu, Eliza tidak diizinkan untuk bertemu dengannya sejak mereka lulus sekolah dasar. Meski begitu, Alex masih menyimpan perasaan kepada Eliza dan berharap dia kembali. Tentu kamu bisa menebak kelanjutannya, bukan?" Jelasnya.
"Apa sebenarnya tujuan Kakak memberitahuku tentang ini?" Tanyaku yang mulai sedikit merasa tersinggung.
"Aku hanya peduli padamu dan tidak ingin kamu terluka nantinya! Kamu adalah gadis yang baik dan aku berharap kamu bisa bersama dengan orang yang memberikan perasaan yang tulus kepadamu! Buktinya, jika dia memang peduli padamu, apakah dia terbuka padamu tentang semua masa lalunya? Kalau melihat dari ekspresimu sekarang, kurasa tidak! Pasti banyak rahasia yang dia sembunyikan untuk dirinya sendiri. Kalau kamu adalah orang yang berharga baginya, dia tidak mungkin membiarkanmu menjadi salah paham seperti sekarang! Dia pasti akan menceritakan hubungannya dengan gadis itu yang sebenarnya meski hal itu menyakitimu! Jadi, sekarang keputusan di tanganmu! Hanya saranku saja, jika kamu tidak mau merasa sakit hati, lebih baik kamu menjauhinya!" Jelasnya.
"Terima kasih atas kepedulian dan sarannya! Tapi, sejak awal, aku sudah memutuskan untuk percaya sepenuhnya padanya. Meski, akhirnya aku akan terluka, setidaknya aku bersyukur masih bisa bersamanya saat ini! Aku hanya ingin memberikan kepercayaanku yang tersisa hanya untuknya! Jadi, aku pikir Kakak tidak perlu mencampuri hubungan kami ini dan mari menjalani hidup kita masing - masing!" Ucapku agak tegas.
"Alessia, kamu! Aku berharap kamu bisa memdengar peringatan dariku agar kamu tidak terjebak dalam permainannya !" Ucapnya yang terdengar sudah kelewatan.
"Aku mendengarkan dan menerima ajakanmu untuk berbincang di sini semata - mata karena aku menghargaimu sebagai Kakak dari temanku, Alex! Tapi, jika Kakak bersikap seperti ini, aku tidak bisa tinggal diam! Meski, banyak hal yang tidak aku ketahui tentang Alex, bukan berarti Kakak bisa seenaknya mengumbar segala kekurangannya agar semua orang membencinya karena manusia tidak ada yang sempurna dan itu juga berlaku baginya dan Kakak sendiri. Dan jujur, aku sendiri yang sudah menerimanya sebagai teman. Tapi, bukan berarti aku harus mengetahui dan ikut campur dengan seluruh privasinya. Meski, status kami hanya sekadar teman, tapi tentu saja masih ada rahasia yang masih disimpan masing - masing. Lagipula, seharusnya sebagai satu keluarga, bukankah harusnya Kakak mendukungnya? Bukannya berusaha menjatuhkannya! Kakak masih memiliki seorang ibu untuk selalu mendukung Kakak. Bahkan, ayah Kakak juga sangat peduli dengan Kakak. Tapi, Alex, dia hanya sendiri! Ibunya telah meninggal dan ayahnya tidak peduli lagi dengannya. Oleh sebab itu, dia berusaha mencari teman untuk mengisi kekosongan dalam hidupnya. Apakah Kakak tidak merasa kalau Kakak sudah bersikap terlalu serakah? Sampai - sampai berusaha mendapatkan perhatian semua orang dengan cara licik seperti ini!" Ucapku yang sudah memuncak.
" Kamu pikir siapa yang sedang kamu hadapi sekarang? Dasar gadis tidak tahu malu!" Ucapnya sambil melayangkan tangan kanannya hendak memukulku.
Aku langsung menutup kedua mataku karena tidak ingin melihat apa yang akan terjadi. Tiba - tiba, muncul seseorang yang menahan tangannya hingga gagal memukulku.
"Kamu? Kamu hanyalah anak kolongmerat yang selalu mengemis kasih sayang dari orang lain! Karena ketidakmampuanmu mendapatkan dengan cara yang jujur, akhirnya kamu melakukan cara yang licik agar dirimu yang akan selalu dipandang tinggi dan berharga sedangkan orang lain akan selalu rendah dan tidak bernilai. Itulah dirimu sebenarnya dan sekarang topengmu sudah terbuka! Mungkin hanya aku yang tahu sekarang, tapi pasti suatu saat semua orang akan tahu betapa palsunya dirimu! Alessia, ayo ikut aku sekarang! Kita pergi dari sini!" Ucapnya.
"Alex, awas saja kamu! Aku akan membalasmu suatu saat nanti!" Ucap Kak Leo.
"Sebaiknya bercerminlah dahulu dan perbaiki kelakuanmu itu! Atau mungkin berobatlah ke dokter sana, sepertinya penyakit gilamu akhir - akhir ini kambuh terus! Jangan sampai ayah datang kepadaku dan memintaku untuk menggantikan posisimu karena penyakit gilamu itu! Aku berharap kita tidak bertemu lagi ke depannya! Jadi, jangan coba - coba mengusikku jika kamu tidak mau diganggu juga! Selamat tinggal!" Ucapnya.
Ternyata, dia adalah Alex. Aku tidak percaya dia akan berada di sini. Dia mencampakkan tangan Kak Leo lalu menarik tanganku dan membawaku pergi meninggalkan cafe itu. Aku tidak tahu seberapa banyak dia mendengarkan percakapan kami tadi. Aku harap dia tidak mendengarkan bagian tentang perasaanku yang sebenarnya padanya karena jika itu benar, aku tidak tahu harus bagaimana cara menghadapinya. Meski tampak samar aku melihat wajahnya, aku yakin sekali bahwa sekarang dia dalam keadaan marah dan kesal. Dia pasti bertanya - tanya mengapa hari ini aku bisa bertemu dengan kakaknya. Meski begitu, bukankah harusnya aku yang marah karena dia tidak menjelaskan apa - apa padaku lalu berhenti menemuiku sejak tempo hari. Tentu saja aku yang mendengar cerita dari Kak Leo itu akan langsung salah paham. Walaupun otakku tidak sedangkal itu untuk langsung mempercayai semua perkataannya. Namun, jujur dalam hati ini, rasanya benar - benar sakit. Inikah yang dinamakan dengan terbakar karena api cemburu. Apapun istilah untuk mendeskripsikannya, tapi akui sekarang bahwa aku memang cemburu dengan gadis bernama Eliza itu. Yah, aku benar - benar cemburu.
Mi sento davvero ferito!