
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang. Kami berdua masih saja sibuk berduel game yang tidak habis - habisnya.
"Alessia, kamu yakin tidak pernah memainkannya? Untuk ukuran orang yang baru main, ini mah tidak mungkin. Dari tadi kamu mainnya jago sekali. Aku sudah capek sampai tidak bertenaga lagi." Ucap Alex yang mengelap keringatnya.
"Haha...Itu karena aku memang jenius. Aku bisa meniru dengan cepat hanya dengan sekali lihat. Tapi, aku juga merasa capek sekali padahal hanya main game ini. Aku tidak percaya kalau kegiatan seperti ini juga menguras tenaga. Alex aku izin baring disini dulu, boleh?" Ucapku sambil berbaring di atas sofa.
"Silakan saja! Lakukan sesukamu!" Balasnya.
Akhirnya, aku benar - benar bisa beristirahat sebentar. Belum lima belas menit aku berbaring, salah satu pelayan menghampiri kami.
"Tuan Muda! Waktunya makan siang! Kami sudah selesai menyiapkannya di meja makan!" Ucap pelayan itu.
Tapi, Alex tidak menjawabnya. Aku pun bergegas bangun dan mencoba menghampirinya yang sedang berbaring di atas karpet. Ternyata, dia ketiduran karena kelelahan bermain tadi.
"Sepertinya dia tertidur. Aku akan coba bangunkan, ya!" Ucapku.
"Jangan, Nona! Nanti Tuan Muda marah besar . Kalau begitu, saya akan menyimpan lagi makan siangnya." Ucap pelayan itu terlihat takut.
"Kenapa? Apa dia suka marah kalau dibangunkan paksa?" Ucapku penasaran.
"Biasanya Tuan marah dan ngambek kalau diganggu saat tidur." Jelasnya.
"Ohh.. gitu, ya! Lihat saja apa dia berani marah kalau aku yang membangunkannya! Hehe..." Ucapku dengan niat mengerjainya.
Aku mendekatinya dan berusaha mengganggu tidurnya dengan menggelitik pinggangnya.
"Alex! Bangun sekarang juga! Ayo, makan siang sudah siap nih! Kalau tidak bangun, nanti aku habiskan sendiri!" Ucapku sambil menggelitiknya.
"Ahh...ampun...ampun! Geli sekali!" Teriaknya kegelian.
Tiba - tiba, dia berusaha meraih dan akhirnya mendapatkan salah satu tanganku. Kemudian dia menarikku hingga aku jatuh ke dalam pelukannya. Lebih tepatnya menindihnya dengan tubuhku. Sontak seluruh badanku menjadi kaku tak bertenaga. Kedua pasang mata kami saling beradu satu sama lain. Kedua tangannya menyentuh tubuhku bagian belakang dan memelukku erat. Kemudian dia menjatuhkanku ke samping sehingga aku pun ikut berbaring di sampingnya. Namun, dia tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Alex, lepaskan aku sekarang! Aku malu di lihat orang!" Ucapku tidak nyaman.
"Aku mohon biarkan seperti ini sebentar lagi! Hanya sebentar, Alessia!" Ucapnya agak pelan.
Tubuhku yang tadinya mencoba menolak akhirnya mulai menerima pelukannya. Dia menarik tangan kiriku ke belakang punggungnya kemudian kembali memelukku. Tangannya satunya memegang bagian belakang kepalaku dan menariknya masuk hingga mendarat di dadanya. Aku benar - benar merasa hangat dalam dekapannya. Aku juga bisa mencium aroma tubuhnya yang tidak asing lagi bagiku. Itu adalah sebuah pelukan yang penuh kehangatan. Tapi, tetap saja di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang terjadi. Meski agak samar, aku mendengarnya menangis tapi dia berusaha menahannya. Tubuhnya juga tidak bisa berbohong .Tubuhnya terlihat gemetaran. Aku berusaha mendongakkan kepalaku ke atas untuk mencoba melihatnya.
"Jangan lihat aku, Alessia!" Ucapnya pelan.
"Baiklah! Jika kamu merasa nyaman dengan itu! Tapi, kamu harus tahu bahwa aku akan selalu disini untukmu. Jadi, jangan sungkan untuk berbagi segala hal yang tidak mengenakkan hatimu. Aku hanya berharap kamu tidak mencoba menyembunyikannya dariku lagi!" Ucapku.
Dia tiba - tiba melepaskan pelukannya dan berusaha menghapus air matanya. Aku pun mendongak ke atas dan melihatnya dengan jelas.
"Maafkan aku, Alessia! Aku memang pengecut! Aku berusaha tegar dan tersenyum di depanmu. Tetapi aku juga mencoba menyembunyikan air mataku darimu. Sebenarnya, aku terbawa suasana tadi. Dulu, hanya ibuku yang pernah memelukku. Dan sekarang aku punya dirimu. Saat memelukmu, itu membangkitkan kenanganku yang dulu bersama ibuku." Ucapnya tersendu - sendu.
Aku mengusap air matanya yang membasahi pipinya dan menatapnya dalam.
"Baiklah, Alessia! Aku janji tidak akan begitu padamu lagi!" Ucapnya.
"Dan satu lagi, kamu tidak boleh marah - marah pada mereka! Meski mereka itu dibayar oleh ayahmu untuk melayanimu disini, bukan berarti kamu seenaknya memperlakukan mereka. Mereka juga kan manusia yang memiliki perasaan. Lagipula,kamu juga membutuhkan mereka untuk mengurus keperluanmu. Jadi, setidaknya jagalah hubungan baik dengan mereka karena mereka yang bersama denganmu disini. Jika kamu ingin menerima perhatian yang tulus dari orang lain, kamu harus menghargai dan menghormatinya terlebih dahulu. Mengerti?" Jelasku setengah marah.
"Baiklah, Alessia! Maafkan aku!" Ucapnya murung.
"Bukan minta maaf padaku tapi pada kakak pelayan itu!" Ucapku.
"Sekarang?" Tanyanya.
Aku hanya menganggukkan kepala agak dalam. Dia kemudian bangun dan menghampiri pelayan itu.
"Kak pelayan, maafkan Alex selama ini menyusahkan kakak terus! Padahal, kakak selalu mengurus Alex dengan baik. Alex sangat berterima kasih pada kakak. Aku janji tidak akan mengulanginya!" Ucapnya sambil menunduk dalam.
"Aduh...Tuan Muda, anda tidak perlu seperti ini! Saya tidak apa - apa, kok! Itu sudah menjadi pekerjaan saya. Lagipula, kalau ayah Tuan Muda tahu, nanti jadi masalah besar." Ucap pelayan itu.
"Kak pelayan tidak perlu memikirkan ayah saya. Aku juga tidak pernah melaporkan apapun tentang yang terjadi di rumah ini. Pokoknya aku harap kakak merasa betah di rumah ini. Aku harap kakak mau memaaafkan aku. Aku juga berjanji akan selalu mendengarkan kata - katamu." Ucapnya.
"Baiklah, Tuan Muda! Saya maafkan! Terima kasih karena sudah menghargai keberadaan saya di rumah ini. Saya sangat bersyukur! Mari, Tuan Muda dan Nona Alessia, saya antar ke meja makan sekarang!" Ucap pelayan itu sambil tersenyum cerah.
"Ayo, Alessia! Kita makan siang! Aku sudah lapar!" Ucapnya mengajakku.
"Dasar Pengganggu, bukannya kamu yang tadi ketiduran sehingga telat makan siangnya! Makanya sekarang kamu kelaparan, kan!" Ucapku sambil berjalan menghampirinya.
"Hehe...maaf...maaf! Aku ngantuk sekali tadi! Ayo, ayo, makan sekarang!" Balasnya dengan wajah mengesalkannya sambil mendorong punggungku dari belakang.
Kami pun berjalan menuju meja makan. Sesampainya di meja makan, aku melihat semua hidangan sudah tersaji rapi dan terlihat sangat enak. Makanannya banyak sekali. Dibandingkan dengan di rumahku, ini terlalu banyak untuk porsi makan dua orang. Orang kaya memang berbeda. Alex mempersilahkanku untuk makan. Aku pun memakan dengan lahap hingga kekenyangan.
"Wah, ternyata, makanmu juga banyak, ya, Alessia! Pantaslah aku merasa keberatan saat kamu menindihku tadi! Hehe..." Ucapnya mengejekku.
Para pelayan dan kepala koki yang mengawasi kami makan pun tertawa kecil mendengarnya.
"Dasar Pengganggu! Aku tidak berat tahu! Aku hanya merasa makanannya enak sekali karena baru pertama kali memakan makanan enak seperti ini. Jadinya aku makan banyak karena mungkin kesempatan ini tidak datang lagi nanti. Bapak Kepala Koki, anda sudah bekerja keras hari ini dan terima kasih atas hidangan yang enak ini!" Ucapku sambil menundukan kepalaku kepada kepala koki.
"Terima kasih atas pujiannya, Nona! Saya senang mendengarnya!" Balas Kepala Koki padaku.
"Kamu kan bisa sering datang kesini dan makan bersamaku jadi tidak perlu seperti itu juga!" Kata Alex.
"Iya, iya, Tuan Muda Scott yang baik hati!" Ucapku.
Akhirnya, suasana rumah itu sedikit berubah dari sebelumnya. Sedikit lebih ceria, ramai, dan juga hangat. Alex akhirnya bisa tersenyum dan tertawa dengan leluasa. Dia mulai membuka diri untuk mengakrabkan diri dengan orang - orang di rumah ini. Meski tidak ada keluarganya yang tinggal bersamanya, setidaknya orang - orang ini bisa menjadi keluarga pengganti baginya sehingga muncul sedikit kehangatan di dalamnya. Jadi, dia tidak akan merasa kesepian dan sendiri lagi. Memang itu harapanku sebenarnya. Aku memang merasa perlu ada sesuatu yang perlu diubah di dalam rumah ini. Untuk itu, memang tidak akan mudah untuk melakukannya. Tapi, jika tidak dicoba maka kita tidak akan pernah tahu. Memang hasilnya tidak bisa instan langsung jadi. Itu memerlukan proses dan usaha. Maka, aku akan berusaha mengubahnya sedikit demi sedikit namun pasti agar dia juga bisa berbahagia untuk dirinya sendiri dan orang - orang yang mencintainya dengan tulus.
DarĂ² un piccolo tocco!