Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Lima Belas Finally Happy Now



Terdengar suara sorakan orang banyak yang memenuhi aula pertunjukan itu. Mereka bertepuk tangan dengan penuh semangat. Pasalnya, penampilan itu benar - benar membawa decak kagum yang sungguh luar biasa. Kami telah berhasil menampilkan sebuah pertunjukan terbaik yang patut diapresiasi. Sebuah kolaborasi musik yang harmonis. Dan hal itu di luar ekspektasi kami.


Alex merangkul tanganku dan berjalan ke depan panggung. Kami bersama - sama memberi salam penutup kepada para penonton. Aku melihat para juri juga terlihat sibuk menilai penampilan kami. Di sisi lain, yang cukup menarik perhatianku adalah orang - orang penting kota Venice yang juga memberikan apresiasinya. Namun, ada satu orang di antara mereka yang hanya diam membatu. Aku tersadar bahwa dia adalah Edmund Scott, Ayahnya Alex. Sorotan matanya yang tajam tanpa ekspresi apapun, benar - benar menakutiku. Aku melihat Alex menatap ayahnya dengan senyumannya. Pantas saja, Alex tidak bisa memainkan biolanya tadi. Dia pasti tidak percaya bahwa ayahnya akan menonton pertunjukan ini. Cerita yang aku dengar dari kakak kelas bahwa ini adalah kali pertama direktur sekolah akan menghadiri festival ini. Apa ini sebuah kebetulan atau sebenarnya dia punya alasan untuk datang? Karena setelah menonton pertunjukan kami itu, ayahnya langsung beranjak pergi dari aula itu. Beliau terlihat sangat arogan. Sama sekali tidak mirip dengan Alex yang periang dan murah senyum.


Alex melihatnya pergi begitu saja dan tidak memperdulikannya sama sekali. Dia mengajakku turun dari panggung sambil memegang tanganku erat. Sesampainya di belakang panggung, dia langsung menarikku masuk dalam pelukannya.


"Alessia, terima kasih! Pokoknya aku benar - benar bersyukur kamu datang dan membantuku! Aku tidak tahu harus berbuat apa - apa tadi. Aku hanya bisa memanggil namamu dalam hati. Aku tidak percaya kamu benar - benar mendengar suara hatiku dan datang menghampiriku." Ucap Alex yang bersemangat.


"Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang sahabat. Jadi, kamu tidak perlu sungkan. Lagipula aku tidak suka mendengar orang - orang menggunjing dan meremehkanmu. Bagiku, kamu adalah bagian dari diriku. Jadi, aku tidak akan membiarkan orang - orang mengatakan hal yang tidak benar tentang dirimu dan meremehkanmu hanya karena kamu tidak fokus tadi. Sebenarnya, aku juga mau minta maaf padamu karena aku menolak membantumu waktu itu. Aku sadar diriku ini terlalu egois." Ucapku.


"Kamu tidak perlu minta maaf, Alessia? Sudah seharusnya kamu memikirkan tentang dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum memikirkan orang lain. Ya, aku akui hatiku memang benar - benar lemah. Padahal aku sudah memantapkan hati dari hari - hari sebelumnya. Malah aku sendiri yang mengacaukannya. Kalau bukan kamu, aku mungkin sudah menanggung malu yang teramat berat." Lanjutnya.


"Jangan bilang begitu! Aku rasa sebenarnya kamu bisa memberi penampilan solo dengan baik jikalau saja kamu tidak melihat ayahmu menontonmu, kan?" Ucapku ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bagaimana kamu bisa tahu, Alessia?" Tanyanya penasaran.


"Selain memiliki otak yang jenius, aku juga punya kemampuan membaca pikiran orang lain disekitarku. Keren, kan?" Jawabku berusaha membuatnya tertawa.


"Haha.... kamu lucu sekali, Alessia! Aku baru dengar kalau ada orang yang bisa melakukan itu." Ucapnya sambil tertawa.


"Tidak, kok. Aku hanya bercanda. Sebenarnya tadi aku juga melihat ayahmu dari atas panggung. Matanya yang melihat tajam dan tanpa ekspresi itu Siapa juga yang tidak akan takut melihatnya. Bulu kudukku saja sampai merinding. Wajar saja kamu merasa seperti itu. Tapi, kenapa ayahmu seperti itu? Semua orang bersorak - sorak dengan penampilan kita. Hanya ayahmu saja tidak. Bahkan, beliau langsung pergi begitu saja tanpa memberi selamat padamu." Kataku.


"Dia memang begitu! Tentu dia harus menjaga wibawanya di depan umum. Awalnya aku tidak percaya bahwa ayah akan memenuhi permintaanku agar dia mau datang melihatku. Oleh sebab itu, aku sedikit syok sehingga aku menjadi gugup dan lupa akan nada yang ingin kumainkan. Dulu aku berharap dia juga datang dalam acara orkestra, tapi dia tidak pernah datang. Jadi, tentu saja itu sangat mengejutkan bagiku." Jelasnya.


"Ohh, jadi seperti itu. Kurasa sebenarnya ayahmu sangat menyayangimu. Hanya saja posisinya sekarang membuatnya tidak bisa memberikan perhatian lebih padamu." Kataku.


Aku menyadari memang ada kekecewaan yang teramat dalam terhadap ayahnya. Dia berharap bisa memiliki cinta ayahnya. Namun, tetap saja sulit baginya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Meski terlihat sulit, akhirnya dia bisa mengatasinya dengan baik. Entah sejak kapan aku mengagumi sosoknya yang seperti itu. Jikalau saja aku berada di posisinya yang sekarang, mungkin saja aku sudah tidak bernyawa lagi. Oleh karena itu, sebisa mungkin aku akan mencoba mendukungnya selalu tanpa henti sebagai seseorang yang dipercayainya. Maka, aku harus memberitahu hal yang benar dan seharusnya dilakukan olehnya.


"Akhirnya, kamu boleh merasa bahagia sekarang! Namun, kamu tidak bisa lupa darimana kamu berasal. Aku bukannya mendukung ayahmu. Sebenarnya yang dilakukan Beliau padamu memang salah besar. Tapi bukan berarti kamu ingin memutus hubungan dengannya dengan mudah. Bagaimanapun beliau adalah ayah kandungmu dan akan selalu begitu. Meski kamu berusaha mengubahnya. Aku yakin pasti Beliau memiliki alasan tersembunyi dibalik sikap dinginnya itu. Apalagi Beliau juga adalah orang yang pernah mencintai ibumu. Apapun yang terjadi, akhirnya hanyalah dialah satu - satunya tempatmu untuk kembali. Dia satu - satunya sanak keluargamu yang tersisa. Tetap ingatlah itu, Alex! Aku mengatakan ini karena aku sahabatmu yang tidak ingin temannya membenci ayahnya. Aku juga salah satu orang yang ingin melihatmu bahagia selamanya." Jelasku padanya.


"Aku tidak tahu bagaimana bisa aku memikirkan sesuatu yang mengerikan seperti itu. Maafkan aku, Alessia! Kekecewaanku telah meluapiku hingga mengubahnya menjadi rasa benci yang tidak tertahankan. Seperti katamu tadi, aku tidak mungkin benar - benar bahagia bila masih ada kebencian dalam hatiku ini. Aku harus menghapus dan menghilangkannya karena aku ingin bahagia. Aku berterima kasih padamu karena telah membuka mataku dan menyadarkanku. Kalau begitu, bolehkah aku meminta tolong lagi padamu?" Ucapnya agak sendu.


"Tentu saja, untukmu apapun akan kulakukan.


Kapan dan dimanapun kamu membutuhkanku. Jadi, apa yang bisa aku bantu, Tuan Muda Scott?" Ucapku sambil tersenyum.


"Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi rumah ayahku. Beliau sering mengundangku untuk makan malam bersama di rumahnya. Tapi, aku terus menolaknya karena kejadian dulu dan karena aku tidak menyukai ibu dan kakak tiriku itu. Meski aku tidak suka dengan mereka, bukan berarti aku harus menjauhi ayahku selamanya. Oleh karena itu, aku akan ke rumahnya hari minggu ini. Maukah kamu menemaniku, Alessia?" Katanya.


"Apa tidak apa - apa aku ikut makan bersama keluargamu? Soalnya aku kan bukan siapa - siapa." Jawabku atas tawarannya.


"Bukan siapa - siapa? Kamu adalah sahabatku. Dan aku yakin ayahku pasti mengizinkanmu karena hari ini dia sudah melihatnya sendiri bahwa kita cukup dekat." Ucapnya.


"Baiklah, Alex! Jika kamu menghendakinya, tentu aku bersedia menemanimu untuk menemui ayahmu!" Jawabku sambil tersenyum.


Kini kebahagiaan telah terbit dari dua insan yang telah mengikrarkan janji di antara keduanya. Meski harus melewati jalan yang berbatu dan semak berduri, akhirnya masa kelam itu pun sirna. Kemudian disambut dengan kebahagiaan yang telah lama dirindukan. Benar! Akhirnya sekarang kita bisa berbahagia. Berbahagialah!


Per sempre felici e contenti!