Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Tiga Belas You Are My Sunshine



Cahaya matahari yang cerah menerpaku dengan kehangatannya. Udara sejuk pun tak henti - hentinya berhembus lembut melewati setiap sudut tubuh ini. Seakan akan membawaku ke dalam awan yang berwarna putih seperti kapas ke langit yang biru itu.


Benar - benar pemandangan alam yang menakjubkan. Ditambah sebuah pertunjukkan orkestra tunggal yang terlihat harmonis dan juga indah.


Aku melihatnya melantunkan sebuah lagu dengan biolanya seakan mencoba menghiburku. Nada - nada yang rapi dan murni itu membuat suasana menjadi sangat tenang. Sungguh sebuah pemandangan yang spektakuler yang pernah aku lihat. Pemandangan yang harus diabadikan. Ya, tentu saja. Aku harus menggambarnya. Kuambil buku sketsaku yang telah lama bersamaku itu dan kujentikkan tanganku yang lihai dalam mempresentasikan keindahan yang ada ke dalam bidang dua dimensi.


Selagi asyik menggambar, aku tidak sadar kalau suara musik itu sudah berhenti sejak tadi.


"Bagaimana permainan biolaku, Alessia? Apakah bagus?" Tanyanya.


Alex menanyakan pendapatku tentang permainan biolanya. Namun, aku tidak mendengarnya bicara karena fokus menggambar dirinya.


Alessia, Alessia! Kamu mendengarku? Apa yang sedang kamu lakukan itu?" Teriak Alex memanggilku sembari menghampiriku.


Aku tersadar akan teriakannya dan segera menutup buku sketsaku dengan cepat.


"Bukan apa - apa, kok! permainan biolamu sungguh terdengar bagus dan nada - nadanya terdengar sangat rapi. Sepertinya kemampuanmu semakin meningkat. Aku saja sampai hanyut dalam suasananya sampai tidak sadar kalau kamu sudah berhenti." Jelasku.


"Benarkah? Terima kasih atas apresiasinya. Tapi, ngomong - ngomong, aku masih penasaran dengan buku sketsa yang kamu sembunyikan itu? Aku mau melihatnya!" Ucapnya sambil berusaha merebut buku sketsaku.


"Alex! Aku tidak bisa menunjukkan padamu sekarang. Tapi kelak pasti kutunjukkan padamu. Jadi, sabar, ya!" Ujarku memeluk erat buku sketsaku.


"Baiklah, kalau begitu. Janji, ya?"


"Iya, aku janji! Sebagai gantinya, aku ingin mengembalikan ini padamu!" Ucapku sambil mengambil sesuatu dari dalam tasku.


Itu adalah sebuah saputangan yang alex berikan kepadaku untuk membersihkan rokku yang kotor saat hari pertama sekolah.


"Ini saputanganku! Padahal kamu tidak perlu mengembalikannya. Aku punya banyak di rumah." Ujar Alex sambil melihat saputangan.


"Seingatku, saputangan ini tidak ada bordiran motif seperti ini?" Katanya keheranan.


"Tentu saja karena aku yang menambahkan. Aku sendiri yang menjahitnya. Sebenarnya dibalik motif matahari itu ada noda yang tidak bisa hilang. Jadi, aku berusaha menutupnya dengan bordiran supaya terlihat bersih. Apakah kamu suka?" Jelasku.


"Iya, aku menyukainya. Saputangannya terlihat lebih istimewa dari saputangan lainnya yang ada di rumah. Aku akan menyimpannya dengan baik. Terima kasih, Alessia! Ngomong - ngomong, apakah ada arti dibalik motif ini?" Ucapnya sambil menatapku.


"Apakah harus ada artinya dari motif itu? Kalau kubilang itu hanya iseng, bagaimana menurutmu?" Ucapku setengah tertawa.


"Ya, Alessia, kok kamu begitu sih! Padahal aku sudah berusaha memberimu hadiah dengan perumpamaan bunga mawar. Kamu malah bilang motif ini hanya iseng. Kamu keterlaluan! Kupikir kamu membordirnya sambil memikirkanku." Ucapnya tidak terima dengan jawabanku.


Aku tertawa geli karena ekspresi dari tingkahnya itu.


"Hahaha.... aduh perutku jadi sakit, kan gara - gara tingkahmu ini! Maaf, maaf aku cuma bercanda! Jangan dibawa ke hatinya! Sebenarnya yang kamu bilang memang benar. Aku membuatnya berdasarkan penilaianku mengenai dirimu. Setidaknya kesan pertamaku terhadap dirimu saat pertama kali kita bertemu. Aku menggambarkan dirimu seperti matahari yang selalu bersinar terang menyinari bumi meski terhalang awan sekalipun. Jujur aku tidak terlalu suka matahari karena panasnya yang menyengat. Tapi, di sisi lain terkadang juga terasa hangat. Seperti halnya dengan dirimu, awalnya aku tidak suka denganmu karena kecerobohanmu membuat rokku kotor dan seringkali mengejekku. Tapi, sebenarnya kamu selalu memiliki senyum yang cerah untuk memberi kehangatan bagi orang lain dan contohnya adalah aku. Bahkan, kamu tetap dapat tersenyum meski sebenarnya kamu sedang memendam kesedihanmu." Jelasku.


"Aku terharu dengan ceritamu, Alessia! Terima kasih juga karena sudah menganggapku berarti bagimu. Kupikir hanya ibuku yang menganggapku mataharinya. Dia selalu mengatakan padaku bahwa aku adalah mataharinya yang paling berharga. Aku baru tahu kalau aku akan menjadi matahari bagi orang lain juga. Oleh karena itu, aku akan menjadi matahari untukmu, Alessia! Aku akan menyimpan saputangan ini supaya tetap bersih! Aku ingin menyimpannya sebagai kenangan tentang dirimu dan takkan pernah melupakannya. Bagiku ini adalah sebuah hadiah terbaik yang pernah kuterima." Ucapnya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.


"Terima kasih juga, Alex! Tanpamu, aku tidak mungkin bisa mendapat kehangatan yang telah lama kurindukan. Aku selalu pikir aku ini bahagia dengan kesendirian. Selama ini aku hanya mencoba menghibur orang lain yang terluka dan kesepian, tapi aku tidak sadar bahwa sebenarnya orang yang perlu dihibur adalah diriku ini. Di luar nampaknya aku tidak membutuhkan penghiburan dari seseorang. Padahal sebenarnya dalam hati, aku teramat membutuhkannya. Aku terkadang terlalu egois sehingga itu yang membuatku jatuh dan terperosok ke dalam jurang hatiku yang paling dalam dan gelap. Hingga akhirnya, cahayamu kembali menuntunku dan membawaku ke tempat yang lebih baik. Dan bagiku, kamulah penyelamatku, Alex!" Ucapku.


"Aku tahu itu, Gadis Pita Emas! Mulai sekarang aku juga akan berada di sampingmu untuk menyinarimu dengan senyumku ini. hehe..." Balasnya sambil tersenyum imut.


Aku pun membalasnya dengan senyuman terbaikku. Sekali lagi, aku menemukan sisi lain dari dirinya. Dia terlihat sangat imut saat ini. Tapi, ketika dia bermain biolanya tadi, ekspresinya kembali fokus dan terlihat ada kesedihan di dalamnya. Aku berharap suatu saat dia bisa memainkan biola dengan hati yang senang meski lagu yang dibawakan terdengar sedih. Aku ingin melihatnya bahagia dan nyaman dengan apa yang dia impikan. Dan bahagia berada di sisiku.


Hari itu, kami benar - benar menikmati waktu bersama di taman itu. Peristiwa demi peristiwa terangkai dengan manis dan penuh haru hingga terjalin suatu hubungan yang didasarkan oleh perasaan yang tulus dan saling menghargai. Sebuah perasaan yang menyadarkan bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain. Dan harapannya, kami tidak akan pernah terpisahkan. Kami akan terus bersama untuk saling mendukung dan didukung. Menghibur dan dihibur. Menjaga dan dijaga. Ke depannya, aku harap tidak perlu ada lagi perumpamaan atau kiasan belaka untuk mendeskripsikan betapa saling mengenalnya kami berdua. Betapa dekatnya hingga tak mungkin bisa terpisahkan. Hanya cukup hati kami yang mendeklarasikannya dengan mantap dan spontan, juga meninggalkan bekas yang mengesankan dan membahagiakan. Biarlah orang lain menjadi saksi hidup bahwa kami benar - benar saling memiliki satu sama lain. Aku adalah mawar merah berbalut emasnya dan dia adalah sinar matahariku.


Tu sei il mio sole!