
Tanganku terasa sakit. Dia menggengamnya terlalu kuat. Dia tidak menoleh kepadaku sekalipun. Setidaknya, aku berharap padanya untuk berjalan dengan pelan. Kakiku mulai pegal karena berjalan terlalu cepat.
"Alex, Alex, bisakah kita berhenti sebentar?" Kataku sambil terengah - engah.
"Apaaa? Apa yang ingin kamu katakan sekarang? Kamu tidak mau pergi bersama anak haram sepertiku?" Ucapnya yang terdengar marah.
"Bukan begitu, Alex! Hanya saja tangan dan kakiku agaaak...." Ucapku setengah meringis kesakitan.
Dia pun melihat keadaanku yang sedang meringis menahan sakit. Akhirnya, dia melepaskan genggamannya.
"Maaf! Maafkan aku karena menarikmu terlalu kuat sehingga tanganmu sakit. Kalau begitu, kita duduk dulu di bangku itu!" Ucapnya merasa bersalah.
Untung di dekat kami ada sebuah bangku yang kosong sehingga kami bisa duduk untuk beristirahat. Kemudian kami pun duduk di situ.
"Berikan tanganmu!" Ucapnya.
"Untuk apa?" Ucapku sembari memberikan tanganku.
Dia memegang dengan lembut dan meniup tanganku yang sakit. Kalau dipikir - pikir itu sungguh kekanak - kanakan. Namun, lama - kelamaan aku merasa sakitnya mulai hilang.
"Masih sakit tangannya?" Tanyanya.
"Tidak, kok. Sudah lumayan. Ngomong - ngomong, kemana kamu akan membawaku? Bukankah kita hampir sampai ke belakang sekolah? Di belakang sekolah kan tidak ada apa - apa?" Tanyaku penasaran.
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Jadi, kamu ikut aku saja!" Jawabnya.
"Tapi ini masih jam sekolah. Seharusnya kita masuk kelas sekarang? Lagipula ada tugas yang harus aku lakukan." Jelasku.
"Tapi kan semua pelajaran ditiadakan karena persiapan festival. Lagipula aku mengajakmu karena alasannya masih berhubungan dengan persiapan festival. Ingat, kamu, kan sudah berjanji padaku kemarin kalau kamu bersedia membantuku. Jadi, aku butuh bantuanmu sekarang." Ucapnya.
"Baiklah! Kuturuti maumu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya? Beritahu padaku!"
"Kamu bersihkan dulu tubuhmu itu! Apakah kamu tidak merasa risih dengan baunya? Aku juga mau pergi sebentar ke kamar mandi karena aku juga terkena cipratannya sedikit tadi." Ucapku sambil mendorongnya pergi.
"Iya, iya, aku pergi sekarang! Pokoknya kita bertemu lagi di sini nanti."
Kami pun berpisah dan pergi untuk membersihkan diri masing - masing. Aku juga menyempatkan pergi ke kelas untuk melakukan beberapa tugas yang perlu aku lakukan. Setelah dua puluh menit, akhirnya kami bertemu lagi di tempat yang tadi.
"Sudah selesai bersih - bersihnya?" Ucapku memastikan.
"Tentu saja! Kalau begitu ayo ikut aku! Aku akan tunjukkan sesuatu padamu!" Ajaknya.
Aku pun mengikuti dia dengan perasaan penasaran. Dia membawaku ke arah belakang sekolah. Dari yang aku tahu, di sana tidak ada apa - apa yang dapat dilihat.
Akhirnya, kami pun sampai di belakang sekolah. Aku hanya bisa melihat tembok beton tinggi yang merupakan pemisah antara bangunan sekolah dengan lingkungan luar. Tembok itu dipenuhi tanaman sulur alamanda yang sedang mekar dan menggantung sehingga menutupi seluruh bagian tembok itu.
"Bagi orang yang tidak tahu tentu saja mengatakan tidak ada apa - apa di sini. Padahal sebenarnya ada sesuatu yang tersembunyi dibalik tembok ini. Jadi, kamu lihat saja!" Jelasnya sedikit mencurigakan.
Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Itu adalah sebuah kalung yang berliontinkan sebuah kunci dengan desain yang unik. Kunci itu berbentuk seperti simbol kunci G pada tangga nada yang terlihat sangat berkilau.
"Ini adalah sebuah rahasia di balik sekolah ini! Jadi, siapkah kamu mengetahui rahasia ini, Alessia?"
"Baiklah, terserah kamu saja!" Jawabku setengah hati.
Kemudian dia meraba - raba tembok itu dan menemukan sesuatu. Itu sebuah pintu yang terbuat dari kayu jati yang sangat kuat. Dia pun melepaskan kunci yang tergantung di lehernya dan memasukkan serta membuka pintu itu.
"Sudah lama sekali aku tidak kesini! Alessia, ayo, kita masuk!" Ajaknya.
Kami pun memasukinya tanpa ragu - ragu.
Pemandangan di dalamnya sangat indah. Bunga - bunga bertebaran dimana - mana. Udaranya sejuk dan juga harum. Suasananya benar - benar tenang. Sangat berbeda dengan suasana sebelumnya di luar pintu itu.
Alex pun mengajakku untuk duduk di sebuah bangku di tengah taman itu. Kemudian kami pun berbincang - bincang bersama.
"Alex, tempat apa ini? Kenapa tempat ini tidak tercatat di denah sekolah kita? Bahkan, dalam sejarah Dandelion School, tidak ada satupun yang menceritakan tempat ini." Tanyaku penasaran sekaligus takjub.
"Nama tempat ini adalah Taman Armonia atau Taman Harmoni. Tempat ini tidak tercatat dalam denah karena tempat ini sengaja dirahasiakan. Tempat ini merupakan milik keluarga Scott yang diwariskan turun - menurun pada generasinya termasuk aku. Dan kunci ini adalah yang asli. Sebenarnya kuncinya ada dua yang artinya ada sepasang. Ayahku pernah menceritakan padaku bahwa dulu kakek buyut Scott membuat taman ini karena kecintaannya pada musik. Kakek adalah seorang pemain biola yang ulung. Oleh karena itu, beliau membuat kunci ini dengan bentuk kunci G dalam tangga nada dan sebagai inisial dari namanya, Gordon. Suatu hari ketika kakek buyut masih muda, beliau bertemu seorang gadis cantik. Di tempat inilah mereka pertama kali bertemu. Lama - kelamaan, Kakek pun jatuh hati pada gadis itu. Akhirnya, Kakek pun memberanikan diri untuk menyatakan cintanya. Mereka pun berjanji untuk bertemu lagi di sini. Namun, saat kakek menunggunya, gadis itu tidak kunjung datang. Berapa lamapun kakek menunggu, gadis itu pun tetap tidak datang. Akhirnya, mereka pun tidak bertemu sama sekali dan berpisah tanpa salam perpisahan. Meski begitu, kakek buyut tetap setia menunggu hingga akhir hayatnya. Menurut cerita ayahku bahwa pasangan dari kunci ini telah diberikan kepada gadis itu sebelum mereka berpisah. Jadi, intinya kunci ini hanya ada satu sekarang dan ayahku memberikannya pada ibuku saat mereka bersekolah disini. Ayahku sangat mencintai ibuku. Dulu saat aku kecil ibuku selalu membawaku kesini." Cerita Alex kepadaku yang lama - kelamaan terdengar sangat sendu.
"Dulu? Memangnya sekarang beliau tidak pernah mengajakmu lagi?" Tanyaku penasaran.
Wajah Alex tiba - tiba berubah menjadi sedih. Aku jadi merasa ada yang salah dengan pertanyaanku.
"Ibuku, dia sudah meninggal. Tepatnya saat umurku tujuh tahun. Ibuku adalah orang sangat baik. Dia sangat hebat dalam bermain piano. Oleh karena itu, beliau bisa bersekolah di sini dengan beasiswa. Kemudian ibuku pun bertemu dengan ayahku. Karena ayahku juga pandai bermusik khususnya bermain biola, akhirnya mereka pun menjadi akrab dan saling mencintai. Sayangnya, Kakekku tidak merestui hubungan mereka karena ibuku berasal dari keluarga miskin yang tidak memiliki status. Oleh sebab itu, kakek pun menjodohkan ayahku dengan seorang wanita dari keluarga kaya. Ayahku tidak punya pilihan. Akhirnya, ayah menikah dengan wanita itu yang sekarang menjadi ibu tiriku. Tapi, ayahku tetap mencintai ibuku. Meski ayahku tidak bisa memberikan status pernikahan yang sah, tapi ayah tetap menjaga dan menyayangi ibuku. Ayah membangun rumah untuk ibuku tinggal, yaitu rumah yang sekarang aku tempati. Beberapa tahun kemudian, aku pun lahir ke dunia. Ayahku sangat bahagia. Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima hak - hak atas keluarga Scott karena ibu tiriku juga memiliki seorang putra, yaitu kakak tiriku, Edmund Scott. Secara hukum, dialah yang berhak menjadi penerus keluarga. Oleh karena itu, ayahku menjadi sangat sibuk untuk mengurusnya hingga beliau lupa kalau dia masih mempunyai seorang putra lagi." Jelasnya.
"Oleh sebab itu, mereka tadi menyebutmu anak haram?"
Alex mengangguk pelan. Aku melihat matanya yang mulai bengkak karena berusaha membendung air matanya itu.
"Ibukulah yang selalu di sisiku. Dialah yang selalu menyemangatiku. Dia selalu mendampingi aku dalam bermain biola dengan kemampuan bermain pianonya yang indah. Saat dia menemaniku, aku bisa merasa tenang dan bahagia saat memainkan biola. Aku selalu berusaha belajar bermain biola supaya suatu saat ayahku bisa melihat ke arahku. Namun, tetap saja dia terus mengabaikanku. Oleh sebab itu, aku berjanji pada diriku bahwa aku hanya akan bermain biola untuk ibuku. Namun, saat hari dimana aku akan tampil dalam suatu acara orkestra, ibuku mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju tempatku berdiri saat itu.
Sebelum beliau benar - benar menghembuskan napasnya yang terakhir, dia memberikan kunci taman ini padaku dengan harapan agar aku bisa menggapai cita - citaku menjadi pemain biola yang terkenal. Tapi, kematiannya membuat aku syok. Aku trauma terhadap biola. Aku selalu saja menyalahkan diriku karena itu."
Alex pun meneteskan air matanya dalam diam. Inikah arti dari tetesan air matanya yang pernah aku lihat sebelumnya. Aku benar - benar merasakan kesedihannya karena aku juga pernah merasakan hal yang sama, yaitu kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Namun, aku tidak bisa diam saja melihatnya seperti itu. Aku langsung merangkul dan memeluknya serta mencoba menghiburnya.
"Alex, dengarkanlah aku! Siapapun yang menyebutmu anak haram, sebenarnya mereka itu iri padamu. Kamu memiliki segudang prestasi tetapi mereka tidak. Jadi, kamu tidak perlu hiraukan perkataan mereka. Kamu buktikan kepada mereka kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan. Meski mereka tidak mau mengakuimu, tapi ada aku yang akan mengakuimu. Jadi, kamu jangan patah semangat! Mengenai ibumu, kamu tidak boleh menyalahkan dirimu atas apa yang telah terjadi. Itu adalah takdir yang telah Tuhan rencanakan bagi setiap manusia. Malah sebaliknya, kamu harus mewujudkan harapan ibumu padamu. Jadilah pemain biola yang hebat! Buatlah dia senang dan bangga melihatmu dari tempatnya yang sekarang. Dan untuk ayahmu, mungkin dia tidak mengakuimu sekarang tapi segera dia akan mengakuimu ketika melihatmu sukses dengan usahamu sendiri. Buatlah ayahmu merasa menyesal karena telah mengabaikanmu! Jika kamu mau menangis, menangislah dengan keras! Janganlah kamu menahannya! Lampiaskan semua emosimu yang terpendam dalam dirimu! Tapi, setelah itu, kamu tidak boleh menangis lagi karena aku disini untukmu. Aku akan menemani dan mendukungmu sebagai teman. Kita bisa saling bergantung satu sama lain. Kita akan hadapi dunia yang membenci kita dengan semangat dan ambisi yang membara hingga suatu saat dunia akan mengakui keberadaan kita" Kataku berusaha menghiburnya.
Dia pun menangis sekeras - kerasnya dalam pelukanku. Dia mendekapku dengan kuat hingga aku susah bernapas. Aku pun ikut larut dalam kesedihannya. Karenanya, aku kembali mengingat kenangan tentang ibuku.
Tanpa sadar, aku juga ikut meneteskan air mata. Aku tidak pernah sekalipun menunjukkan kesedihanku kepada orang lain. Bahkan, pada keluargaku sendiri. Aku selalu menyembunyikannya dan berpura - pura tegar untuk menghibur orang terdekatku. Aku pikir rasa sedih ini bisa kusembunyikan selamanya. Ternyata, tidak. Hari ini, di tempat ini, bersama dengannya, kami saling berbagi kesedihan yang telah lama terpendam. Aku menyadari bahwa bukan hanya dia yang membutuhkan aku. Tapi aku juga. Aku juga membutuhkannya. Waktunya bagi kami untuk mengunci segala kesedihan yang ada dan membuka seluruh kebahagiaan yang sempat terhalang, di tempat ini, Taman Rahasia Kami.
Vai tristezza! la felicità arriva!