Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Dua Puluh Tujuh I'm Really Jealous Part 1 (The meaning of His Statement)



Napasku terengah - engah hingga rasanya ingin pingsan saja. Meski begitu, aku terus berlari mengejarnya yang sekarang entah pergi kemana. Aku kehilangan jejaknya. Lalu, aku mencoba mencarinya ke tempat - tempat di area sekolah yang sering kami kunjungi saat berdua. Namun, aku tetap tidak menemukannya. Aku berhenti sejenak dan duduk di sebuah bangku untuk istirahat demi melepaskan penat seusai lari marathon tadi. Akhirnya, aku teringat dengan satu tempat yang belum aku datangi.


"Taman Armonia! Dia pasti ada di sana!" Ucapku yang baru menyadarinya.


Aku langsung bangkit berdiri dan berlari lagi menuju ke taman itu. Sesampainya di depan pintu masuk taman itu, aku langsung membukanya dengan kunci duplikat yang telah diberikan Alex padaku dua hari yang lalu dan kemudian masuk ke dalamnya.


Aku pun mencarinya ke tempat - tempat yang mungkin dia datangi. Setelah lama aku berkeliling, akhirnya aku berhasil menemukannya. Aku melihatnya berdiri di samping pohon Terompet Lavender yang berwarna merah muda keunguan yang sedang mekar itu. Suasana taman itu sangat indah dan nyaman. Namun, suasana itu sungguh berbeda dengan suasana hatinya sekarang. Tangannya memegang biola dan dia pun memainkannya. Aku tidak berani mendekatinya dan hanya mendengar alunan nadanya dari kejauhan. Terlihat jelas sekali kalau dia masih marah soal tadi. Nada - nada yang dihasilkan begitu cepat dan intens sehingga terkesan terburu - buru. Dia menggesek biolanya dengan gerakan yang agak kasar. Aku khawatir akan terjadi sesuatu padanya.


Benar saja dugaanku tadi. Tiba - tiba, senar biolanya pun putus dan melukai jarinya hingga berdarah. Aku lekas berlari dan menghampirinya.


"Alex, tanganmu berdarah! Kenapa kamu bisa ceroboh seperti itu? Biar aku bantu memberhentikan darahnya!" Ucapku sambil meraih tangan dan berusaha menghisap jarinya.


Ketika aku berusaha menolongnya, dia langsung mendorong badanku dengan kuat hingga kepalaku terbentur ke batang pohon Lavender itu.


"Pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu! Lagipula untuk apa kamu pura - pura peduli padaku? Pergilah sana dan bertemanlah dengannya! Kamu kan lebih suka bersamanya daripada aku!" Ucap Alex yang masih marah.


Alex membalikkan badannya dan membelakangiku. Dia tidak sadar kalau dia sudah membuatku terluka. Aku meringis kesakitan dan kemudian menyentuh kepalaku yang terasa sangat sakit. Kemudian, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan kepalaku. Kemudian aku melihat tanganku dan terkejut. Ternyata, itu adalah darahku sendiri. Darah itu kemudian menetes dengan cepat hingga mengenai wajahku. Seketika, pandanganku mulai kabur dan rasanya ingin jatuh. Sebelum akhirnya aku benar - benar pingsan, aku sempat memanggil namanya. Tapi, aku tidak tahu apakah dia mendengarkan seruanku atau tidak. Akhirnya, aku tidak kuat lagi kemudian roboh hingga tersungkur ke tanah.


Sesekali aku sadar dan membuka mataku sedikit. Aku melihat wajahnya yang terlihat panik. Dia terlihat berusaha menyadarkanku. Namun, akhirnya aku benar - benar pingsan total. Setelah itu, aku tidak tahu apa - apa tentang apapun yang terjadi selanjutnya.


Yang aku tahu kini aku sudah terbangun di atas ranjang dalam ruangan yang didominasi warna putih. Mataku yang terpejam rapat tadi, akhirnya perlahan terbuka dan kembali merespon cahaya yang masuk melewati jendela yang terbuka di depanku. Aku berusaha bangun dari posisi tidurku yang kurang nyaman itu dan berhasil duduk. Lalu, aku melihat sekelilingku yang sangat terlihat asing bagiku. Tangan kiriku pun sudah tertancap jarum infus yang membuatnya terasa agak nyeri dan bengkak. Ini kali pertama aku merasakan rasanya diinfus. Rasanya benar - benar tidak nyaman. Aku juga memegang kepalaku yang masih saja terasa pusing dan berkunang - kunang.


Akhirnya, mataku kembali terfokus pada satu titik yang sangat membuatku terkejut. Aku melihat Alex sedang tertidur di atas sofa yang berada di pojok ruangan itu. Wajahnya keliatan sangat kelelahan. Aku pijakkan kakiku di atas lantai yang dingin itu lalu kuraih sandal rumah sakit yang diletakkan di dalam rak dan memakainya. Aku pun berjalan dengan membawa selimut di tanganku sambil menarik tiang infusku dengan tangan yang lainnya. Aku menghampirinya yang sedang tertidur dan menyelimuti seluruh badannya dengan selimut yang kubawa tadi. Sepertinya dia terlihat kedinginan hingga seluruh tubuhnya menggigil. Dia bisa sakit kalau dibiarkan seperti itu. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya dan memilih untuk pergi ke kamar mandi sendiri. Kemudian di kamar mandi, aku langsung mencuci wajahku dan menggosok gigiku sampai bersih.


Sesekali aku melihat dan memegang kepalaku yang sudah ditutupi perban itu dengan melihatnya melalui cermin di kamar mandi. Sepertinya, pendarahannya cukup parah hingga harus diperban setebal ini.Bahkan, aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan. Aku langsung keluar dari kamar mandi dan melihat jam dinding yang terus berputar itu. Ternyata, sekarang sudah pukul delapan pagi. Yang pasti ini bukan hari yang sama saat aku pingsan karena seingatku, saat aku pergi ke taman Armonia hari itu saja sudah pukul sepuluh pagi. Jadi, sudah pasti bukan hari yang sama. Untuk memastikannya, aku perlu menanyakannya pada seseorang.Tapi, aku hanya bersama dengan Alex yang sedang tidur sekarang. Aku memutuskan untuk pergi keluar kamar sekalian mencari udara segar.


Aku berkeliling di sekitar rumah sakit yang begitu padat dengan orang - orang sakit. Aku ingin bertanya pada mereka, tapi aku sedikit ragu. Akhirnya, setelah lama berjalan tanpa arah, aku menemukan bagian resepsionis. Aku langsung menghampirinya dan mencoba menanyakan kepada seorang perawat yang sedang bertugas.


"Maaf, Suster! Apa boleh saya bertanya? Tanggal berapa hari ini?" Tanyaku.


"Hari ini tanggal 4 Mei! Memangnya ada apa, Nona?" Balas Perawat itu.


"Ohh, tentu saja ada! Di sebelah sana ada kantin dan disebelah kantin itu juga ada pintu menuju taman bunga." Ucapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih atas informasinya, Suster!" Balasku.


"Sama - sama! Senang bisa membantu, Nona!" Balasnya.


Akhirnya, aku berhasil mengetahui apa yang ingin kuketahui. Aku tidak percaya bahwa aku sudah disini sejak tiga hari yang lalu. Rasanya belum lama aku pingsan atau itu hanya perasaanku saja. Aku memutuskan untuk melupakannya sejenak dan pergi menuju taman itu untuk melegakan perasaanku.


Sampailah aku di taman rumah sakit itu. Taman itu benar - benar dipenuhi bunga berwarna - warni. Suasananya benar - benar menjernihkan pikiranku. Tapi, sayangnya, aku melihat tidak banyak yang mengunjunginya. Mungkin saja karena ini masih pagi. Aku benar - benar menikmati waktuku di taman.


Selagi asyik memandang - mandang, tiba - tiba seseorang menarik tanganku dan langsung memelukku.


"Alessia, kamu kemana saja? Kupikir kamu menghilang begitu saja. Aku begitu cemas dan khawatir padamu! Maafkan aku yang sudah melukaimu! Kumohon maafkan aku!" Ucapnya sambil menangis.


"Alex, ini kamu, ya?" Balasku sambil melepaskan pelukannya.


Aku melihat wajahnya yang sedang menangis itu. Dia terlihat begitu sedih dan merasa bersalah. Kemudian aku mencoba mengusap air matanya yang membasahi pipinya.


"Ya, kenapa kamu menangis? Sekarang kamu terlihat sangat jelek. Berhentilah sekarang, Dasar Cengeng! Aku ini cuma pingsan, bukannya meninggal! Lagipula, ini bukan sepenuhnya salahmu! Awalnya ini terjadi karena kesalahanku yang tidak menepati janji padamu. Meskipun begitu, aku memiliki alasan mengapa tidak langsung kembali hari itu. Sebenarnya, aku tidak sengaja bertemu Kak Nico sehabis dari kantin dan dia langsung mengajakku berbincang sebentar. Kamu tahu kan aku itu orangnya tidak pandai menolak permintaan orang lain. Lagipula, sebelumnya aku sudah berjanji untuk meneraktirnya karena dia juga sering membantuku. Jadi, aku merasa tidak enak untuk menolaknya. Ehh...malah kamu datang dan marah - marah lalu pergi tanpa mendengar penjelasanku. Setidaknya, cobalah mendengarkan terlebih dahulu sebelum menarik kesimpulannya agar tidak terjadi kesalahpahaman! Lagipula, kenapa aku tidak boleh berteman dengan Kak Nico? Meski aku ini adalah sahabatku, bukan berarti aku hanya boleh berteman dan berbincang denganmu. Aku juga ingin memperluas jaringan pertemananku dan itu juga berlaku padamu. Kita juga butuh orang lain untuk hidup di dunia yang kejam ini." Ucapku menasehatinya.


"Aku mengizinkanmu untuk berteman dengan siapa saja kecuali dia! Hanya dia saja yang tidak boleh kamu dekati!" Ucapnya.


"Kenapa aku tidak boleh berteman dengan Kak Nico? Kenapa, Alex? Cepat katakan alasannya?" Ucapku setengah berteriak.


"Karena aku cemburu, Alessia! Aku benar - benar cemburu kalau kamu bersamanya! Itu benar - benar mengganggu pikiranku!" Balasnya.


Aku tidak bisa berkata - kata lagi. Sebenarnya apa maksud dari pernyataannya barusan. Dia cemburu karena aku mencoba dekat dengan Kak Nico. Ucapannya itu mulai terngiang - ngiang di kepalaku. Mengapa dia harus cemburu? Aku kan sahabatnya. Tidak mungkin hanya karena Kak Nico, aku langsung meninggalkannya. Lagipula, aku hanya menganggap Kak Nico itu sebagai teman sekolah sekaligus kakak kelasku dan tidak lebih dari itu. Kini aku hanya bisa terdiam sambil memikirkan langkah selanjutnya dari inti pembicaraan itu. Aku juga berusaha menangani perasaanku yang mulai bergejolak karena dipenuhi dengan tanda tanya besar. Ini benar - benar perasaan yang aneh. Benar - benar aneh sekali!


Perché sei geloso?