Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Satu Back to the Past



Sinar mentari yang hangat menerpaku ketika keluar dari pintu berputar Bilton Hotel. Pagi yang cerah untuk menikmati suasana pusat kota hiburan yang terkenal ini- pikirku. Angin sejuk berhembus melewati helai demi helai rambutku yang terurai jatuh. Sudah seperti kebiasaanku untuk menyeruput kopi americano di pagi hari dimanapun dan kapanpun sebelum kujentikan tangan dan otakku. Kulangkahkan kakiku menuju suatu tempat penyedu kopi, cafe D'amor. Aku banyak mendengar betapa terkenalnya cafe itu hingga sampai saat ini aku pun sudah menjadi pelanggan tetapnya sejak dua hari yang lalu.


Mereka benar-benar penyedu kopi yang enak dan itu membuatku ketagihan. Entah sejak kapan aku begitu ketagihan dengan kafein satu ini.


"Selamat pagi, Nona, mau pesan apa hari ini?" Sambutan hangat pelayan cafe.


"Selamat pagi juga, seperti biasa. Satu americano panas dan satu scoop gelato rasa vanilla. Tolong antar ke meja yang biasa, ya" Jawabku penuh semangat.


"Silakan ditunggu, Nona, pesanan anda akan siap dalam 15 menit" Kata pelayan cafe itu sembari pergi membuat pesananku.


Sembari menunggu, aku keluarkan segala perkakas gambarku di atas meja. Sebenarnya aku juga sedang menunggu seorang teman dan telah berjanji bertemu hari ini. Aku disini bukan tanpa tujuan. Dalam dua hari lagi aku akan menghadiri acara fashion yang sangat bergengsi, Fashion Week International di L.A. Acara ini merupakan peragaan busana yang akan dihadiri desainer-desainer fashion terkenal dunia termasuk aku. Ya, setelah lulus dari salah satu universitas terkenal di Paris yang terkenal sebagai salah satu pusat mode dunia dengan jurusan fashionnya yang spektakuler dan selama bertahun-tahun berkecimpung di bidang tersebut telah mengantarkan aku menjadi salah satu desainer terkemuka di dunia. Sudah banyak karyaku yang telah diakui oleh hampir semua kalangan terutama artis Hollywood. Bahkan, aku telah memiliki brandku sendiri, yaitu Alessia Belle. Suatu pencapaian fantastis dalam kurun waktu lima tahun ini.


Dan disinilah aku sekarang sedang menikmati kesuksesan yang aku dambakan sejak lama.


" Permisi, Nona, pesanan anda" Suara ramah dari pelayan cafe yang mengantarkan pesananku.


"Ohh, terima kasih, tapi aku tidak memesan tiramisu ini" Jawabku agak keheranan karena seingatku tak pernah memesan tiramisu itu.


"Begini, Nona, hari ini adalah ulang tahun cafe jadi kami memberikan tiramisu gratis sebagai bonus" Jawab pelayan itu sambil tersenyum.


"Wah, aku benar-benar beruntung hari ini. Sekali lagi terima kasih. Aku akan menikmatinya dengan baik" Jawabku sembari membalas senyumannya.


Benar-benar aku menikmati waktu santai itu.


Sebelum aku menyeruput tetesan terakhir americano di cangkirku, akhirnya dia pun juga datang setelah lama menunggunya. Sebuah mobil mini cooper merah terparkir di depan cafe. Kemudian seorang wanita berbalut blouse warna mawar pun keluar dari dalamnya. Ya, dia yang kutunggu hari ini, Selena Brown. Dia adalah teman baik sekaligus asisten fashionku.


"Holla, Alessia. Apa kamu sudah lama menungguku? " Sapaan Selena sambil tersenyum seakan tidak berdosa sama sekali.


"Mungkin cukup lama hingga aku sudah selesai menghabiskan semua sarapanku hari ini. Kamu telat satu jam dari janji kita! Kamu tahu, kan aku tidak suka keterlambatan" Jawabku agak sinis dan sedikit kesal.


"Maaf, maafkan aku, Alessia. Aku bukannya sengaja. Semalam aku tidur agak larut. Setelah habis nelpon dengan suamiku. Alhasil, Aku jadi kesiangan. Maklum, lah, masih pengantin baru" Jawabnya sambil sedikit tertawa.


"Ya, itu aku tidak peduli dan sama sekali bukan urusanku. Bisnis tetaplah bisnis. Bukankah cuti dua minggu yang kuberikan sudah cukup? Tidak ada yang sebaik diriku. Di tempat lain, mereka pasti cuma memberikan cuti 3 hari tidak lebih dari itu" Jawabku agak ketus.


"Ayolah, Alessia. Jangan marah begitu. Apapun yang terjadi aku akan kembali padamu" Celotehnya sambil mengedipkan mata.


Balasku sambil tersenyum.


"Alessia, ngomong-ngomong, suamiku bilang dia punya teman baik sekaligus rekan bisnisnya. Dia sudah mapan dan sekarang sedang meneruskan perusahaan keluarganya. Bagaimana? Maukah kuatur janji dengannya? Setelah acara peragaan busana tentunya " Tiba-tiba Selena menawarkan sesuatu padaku.


"Berhentilah, Selena. Aku mohon. Janganlah mencoba jadi Mak Comblangku! Aku tahu maksudmu baik. Kamu sudah tahu, kan kalau Aku sama sekali tidak tertarik dengan kencan buta. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jadi, jangan khawatir" Kataku menolak dengan tegas.


"Umurmu sekarang sudah hampir menginjak dua puluh delapan tahun. Dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah melihatmu sekalipun berkencan. Bahkan, pacaran aja belum pernah. Aku hanya khawatir padamu. Sebagai teman aku hanya mau membantumu dan melihatmu bahagia. Apakah tidak ada satupun pria yang menarik buatmu?" Kata Selena sambil melontarkan pertanyaan yang membuatku tertegun.


Aku melihat ada kekhawatiran dan kepedulian dari mata sahabatku itu. Aku memang menyadari sudah sejak lama aku tak pernah membuka hatiku. Mencoba pun tidak segan.


"Bukan begitu, Selena. Aku hanya merasa belum siap untuk ini" jawabku agak ragu.


"Terus sampai kapan kamu akan begini. Kamu ini kan cantik, punya pekerjaan yang bagus dan mapan. Menurutku jika kamu membuka diri sedikit aja pasti ada yang tertarik dan jatuh cinta padamu. Ini bukanlah hal yang susah" Kata Selena menjadi lebih serius.


"Aku tetap merasa tidak bisa. Masa laluku masih menghantuiku hingga sekarang. Aku trauma", Raut wajahku sontak berubah menjadi sedih.


"Trauma, kamu trauma karena apa? Apa yang terjadi di masa lalu sehingga membuatmu trauma? Apa hubungannya dengan masalahmu saat ini?", Pertanyaan bertubi-tubi yang Selena lontarkan padaku.


"Aku tak bisa mengatakannya kepadamu. Ini bukan sesuatu yang kuinginkan. Ku mohon jangan bertanya lebih jauh" Aku mencoba menghindari pertanyaan Selena itu.


"Ohh, jadi kamu tidak mau berterus terang padaku. Apakah kamu menganggap aku ini sahabatmu atau apa? Kamu selalu saja berdalih dan tidak terbuka padaku. Pantas saja dirimu tidak bisa membuka hatimu untuk seorang pria. Padaku saja kamu tidak pernah mau berterus terang. Selalu saja ada rahasia" Balas Selena agak ketus dan sedikit marah.


"Bukan begitu, Selena. Maaf aku tidak terbuka padamu selama ini. Ku mohon jangan marah, ya" Kataku memohon sambil memegang tangannya.


"Baiklah, Aku tidak akan marah. Tapi mulai sekarang kamu harus menceritakan semua masalahmu padaku. Ini demi dirimu dan persahabatan yang telah kita bangun selama ini. Berjanjilah padaku!"


" Baiklah, Selena. Aku turuti maumu. Aku berjanji padamu" Jawabku sambil menggangguk.


"Okay, that's a good girl! sekarang kamu bisa mulai dengan menceritakan masa lalu yang membuatmu trauma itu. Mungkin aku bisa membantu memberi saran agar kamu tidak trauma lagi" Sambung Selena dan mulai membuka pintu rahasia terbesarku.


" Baiklah, Selena. Aku berpikir ini sudah saatnya aku terbuka. Aku sadar rahasia hidupku ini tidak bisa selamanya aku simpan untuk diriku sendiri. Rahasia Ini semua berawal dari cinta pertamaku...." Jawabku sendu sambil memulai cerita panjang tentang masa lalu yang sebenarnya ingin kulupakan.


Questa è la mia storia!