
Aku menemukan diriku sedang menulis sebuah pesan di secarik kertas yang aku robek dari bagian tengah buku tulisku. Setelah menulisnya dengan beberapa kalimat, aku melipatnya dan langsung menyerahkannya pada Pak James yang sudah menungguku dari tadi.
"Pak James, ini suratnya! Tolong sampaikan ke ayah saya, ya! Maaf sudah merepotkan Pak James!" Ucapku.
"Tidak apa - apa, Nona! Ini sudah menjadi bagian dari tugas saya. Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Saya titip Tuan Muda pada Nona, ya! Saya akan segera kembali!" Ucap Pak James sembari pergi keluar.
Aku melihat Pak James yang pergi hingga tidak terlihat lagi punggungnya itu. Lalu, aku berniat untuk segera kembali ke kamar Alex untuk menemuinya lagi. Aku pun menoleh untuk berbalik arah dan sekilas tanpa sadar aku melihat refleksiku pada sebuah cermin di sebelahku. Awalnya, aku tidak menyadarinya, hingga dua langkah aku berjalan dan langkahku pun terhenti. Aku kembali lagi menoleh dan mendekati cermin itu. Aku terkejut melihat diriku sendiri. Leherku yang tercekik tadi ternyata meninggalkan bekas yang lumayan parah. Bahkan, ada darah Alex yang menempel di leherku. Pantas saja dari tadi aku merasa nyeri di bagian itu.
Aku pun pergi mencari pelayan yang sedang bertugas untuk bertanya tentang letak dapurnya. Rumah ini terlalu besar hingga aku sangat sulit untuk menghapal setiap ruangannya. Setelah mencari - cari, akhirnya aku bertemu dengan seorang pelayan.
"Maaf, apakah kakak bisa menunjukkan padaku tempat dapur berada?" Tanyaku.
"Tentu, Nona! Tapi, Nona ada perlu apa ke dapur?" Ucap pelayan itu.
"Saya ingin memasak air panas untuk membersihkan tubuh saya." Ucapku sambil menunjukkan leherku.
"Ohh, Nona, kalau begitu, kami yang akan mengurusnya! Saya akan siapkan dan antarkan Nona ke kamar yang lain! Mari, Nona!" Katanya sambil berjalan.
"Baiklah, terima kasih atas bantuannya!" Ucapku langsung mengikutinya dari belakang.
Pelayan itu mengantarku ke sebuah kamar dan menyiapkan perlengkapan yang aku butuhkan. Setelah itu, aku langsung membersihkan tubuhku dan segera berganti pakaian di kamar mandi. Kemudian aku duduk di sebuah meja rias untuk mengompres leherku yang masih terasa sakit itu dengan sehelai handuk kecil dan dibasahi dengan air hangat yang telah disiapkan pelayan tadi. Sesekali aku menatap ke cermin dan melihat lagi diriku yang benar - benar berantakan hari ini. Aku kembali berpikir sejenak mengenai apa yang baru saja aku alami tadi. Jika saja Alex tidak sadar juga, mungkin sekarang aku sudah tidak bernapas lagi. Aku sudah mati. Tuhan benar - benar Maha Baik karena masih menyelamatkanku hari ini. Namun, yang masih menjadi pertanyaan yang terus terngiang - ngiang di kepalaku adalah sebenarnya penyakit apa yang dialami oleh Alex. Jika aku menebaknya, dia seperti dalam keadaan halusinasi tingkat tinggi. Mungkin sebaiknya aku bertanya langsung pada Pak James atau dokter yang merawatnya.
Karena rasa penasaranku yang tidak terbendung lagi, aku pergi keluar dari kamar itu dan berniat menyusul dokter yang tadi merawat Alex. Aku yakin pasti beliau masih belum pulang. Aku percepat langkahku menuju kamar Alex yang tidak terlalu jauh dari kamar yang tadi.
Demi Dewi Fortuna, aku benar - benar beruntung. Meski aku tidak percaya dengan hal seperti itu. Ketika aku melangkah menuju kamar Alex, aku melihat dokter itu baru saja keluar dari dalamnya.
"Selamat malam! Maaf, Pak Dokter, bagaimana keadaan Alex sekarang?" Ucapku menyapa dokter itu.
"Sebenarnya keadaannya sudah lebih baik daripada sebelumnya. Saya sudah membersihkan dan memperban lukanya serta memastikannya telah meminum obatnya hari ini. Tuan Muda juga mengatakan bahwa dia ingin menunggu Nona tadi. Tapi, sekarang dia sudah tertidur pulas di ranjang. Sebaiknya Nona jangan masuk dulu dan biarkan dia tidur sejenak! Bagaimana kalau Nona berbicara sebentar dengan saya mengenai penyakit Tuan Muda? Saya rasa Nona pasti punya pertanyaan yang cukup banyak tentang hari ini dan menurut saya, Nona juga harus tahu mengenai hal ini demi kebaikan Tuan Muda dan Nona juga. Bagaimana? Apakah Nona bersedia?" Ucap dokter itu.
"Tentu saja, Pak Dokter! Saya memang ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya." Jawabku.
"Kalau begitu, mari kita bicarakan ke ruang tamu saja, Nona!" Ucapnya.
"Baiklah, Pak Dokter!" Ucapku.
Kami pun pergi menuju ruang tamu yang berada di lantai bawah. Sesampainya di bawah, kami langsung duduk dan membicarakan semua tentangnya.
"Baiklah, saya akan mulai sekarang! Berdasarkan yang saya lihat tadi, sepertinya Nona belum benar - benar mengetahui tentang penyakit yang diderita Tuan Muda. Bukankah begitu, Nona?" Tanyanya.
"Benar, Dokter! Dia belum pernah sekalipun menceritakannya kepadaku!" Balasku.
"Baiklah. Sebenarnya Tuan Muda telah melarang saya untuk mengatakan mengenai penyakitnya kepada Nona. Hanya saja saya pikir Nona ini sudah termasuk orang terdekat dengannya. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, contohnya seperti tadi, jadi saya memutuskan untuk angkat bicara. Jadi sebenarnya Tuan Muda ini mengidap penyakit psikis yang bernama CPTSD." Jelasnya.
"CPTSD itu penyakit apa, Dokter?" Balasku bertanya.
"CPTSD merupakan singkatan dari Complex Post Traumatic Stress Disorder yaitu kondisi psikologis seseorang yang mengalami trauma pahit akan masa kecilnya. Biasanya orang yang mengalami CPTSD ini memiliki trauma pahit masa kecil dan trauma tersebut terulang kembali ketika dirinya telah dewasa atau karena adanya faktor pemicu yang memicu munculnya ingatan tentang kenangan di masa lalunya. Dalam kasus Tuan Muda pasti Nona sudah tahu alasannya, bukan?" Katanya.
"Iya, benar! Saat kenangan pahit tersebut terulang kembali, otak akan menghasilkan hormon stress yang jauh lebih parah daripada sebelumnya dan menimbulkan rasa sakit serta nyeri pada otak. Dalam kasus yang parah, penderita akan mengalami gejala serangan panik dan halusinasi yang berlebihan yang seperti kita sudah lihat barusan. Jika tidak ditangani segera mungkin, maka akan terjadi komplikasi penyakit berbahaya dan kronis serta yang lebih parah lagi dia bisa saja berusaha menyakiti dirinya sendiri." Jelasnya.
"Jadi, apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan penyakitnya itu, Dokter?" Tanyaku lebih lanjut.
"Sebenarnya, Tuan Muda mungkin saja tidak akan mengidap penyakit ini jika saja dia memiliki keluarga atau orang terdekat yang berusaha mendukung dan menyemangatinya.
Hanya saja seperti yang Nona tahu bahwa hubungannya dengan keluarganya khususnya ayahnya, memang tidak pernah baik hingga sekarang. Bahkan, yang menyebabkan hal ini terjadi lagi karena Tuan Muda mengunjungi ayahnya kemarin. Hal itu yang memicu kembalinya penyakit itu. Namun, sejujurnya, seperti yang saya lihat dan analisis pada sore hari tadi, kondisi psikis Tuan Muda sudah mulai membaik dan mengalami kemajuan dari sebelumnya. Sebelumnya, saya harus menyuntiknya dengan obat penenang untuk menghentikan gejala paniknya setiap kali dia berhalusinasi. Tapi, sepertinya kini Tuan Muda sudah menemukan obat yang cukup manjur untuknya." Ucapnya sambil tersenyum.
"Maksud obat yang manjur itu apa, Dokter?" Tanyaku menanggapi ucapannya.
"Obat yang manjur untuk penyakit Tuan Muda saat ini adalah Nona sendiri. Nona baru saja berhasil menyadarkannya dari halusinasinya tanpa bantuan suntikan apapun. Itu merupakan suatu kemajuan dan ke depannya saya berharap banyak untuk bantuan dari Nona. Yang Tuan Muda butuhkan hanyalah perhatian dan kasih sayang dari orang yang berharga untuknya dan sekarang dia sudah memperolehnya dari Nona. Meski sangat terdengar sedikit berlebihan, tapi itu sangat berharga baginya. Kini Tuan Muda bisa menciptakan kenangan baru yang bahagia bersama Nona dan perlahan - lahan hal itu akan menyembuhkannya. Jadi, Nona, saya mohon bantuannya demi kesembuhan Tuan Muda!" Jelasnya.
"Tentu saja, Dokter! Sekarang saya sudah mengerti. Terima kasih atas penjelasannya! Saya berjanji akan berusaha membantu dan melakukan apapun untuk kesembuhannya!" Ucapku.
"Baiklah kalau begitu, Nona! Saya merasa terhormat bisa memberikan kontribusi dalam penyembuhan pasien saya yang sedikit nakal itu. Haha... Tuan Muda sepertinya juga sering mengganggu Nona, ya?" Ucapnya sambil tertawa lepas.
"Iya, sepertinya dokter juga sangat mengenalnya hingga tahu dengan sikapnya yang suka mengganggu orang itu." Balasku.
"Tuan Muda adalah pasien pertama saya dan semasa kecil, memang dia sangat suka bercanda dengan saya." Ujarnya.
"Ohh, begitu, ya! Sepertinya dia sudah cocok dengan Pak Dokter sejak lama!" Ucapku sambil tersenyum.
Ketika kami sedang asyik berbincang, datanglah Pak James sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Nona, saya sudah kembali! Ayah Nona sudah mengizinkan Nona untuk bermalam di sini! Saya juga sudah memberikan suratnya dan membawa semua yang diberikan ayah Nona kepada saya!" Ucap Pak James sambil memberikan barang - barangku.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak James!" Ucapku sambil menunduk.
"Sekarang sudah benar - benar malam dan berhubung Pak James sudah datang, saya pamit pulang, ya, Nona! Selamat malam!" Ucap Pak Dokter.
Sebelum akhirnya Pak Dokter itu benar - benar pergi, aku teringat kembali dengan isi memo yang diberikan Ayah Alex siang tadi.
"Maaf, Dokter, apakah Tuan Scott juga sudah tahu soal ini?" Tanyaku penasaran.
"Iya, tentu saja. Beliau adalah orang pertama yang tahu soal ini. Saya juga selalu mengkonsultasikan semua hasil pemeriksaan kepada Beliau. Namun, akhir - akhir ini saya tidak bisa bertemu dengannya dan hanya bisa mengirim surel kepada Beliau. Ngomong - ngomong, mengapa Nona tiba - tiba menanyakan hal itu?" Balas Pak Dokter.
Aku berpikir sepertinya sebaiknya aku tidak menyinggung tentang isi memo itu. Meski aku tahu bahwa sebenarnya secara tidak langsung, Tuan Scott sedang memberikan peringatan atau informasi yang berkaitan dengan Alex kepadaku. Tapi tetap saja, aku belum tahu pasti tentang alasan Tuan Scott melakukannya dengan cara seperti itu. Aku hanya takut hal itu akan memunculkan masalah baru mengingat ucapan Tuan Scott kepadaku agar aku membacanya ketika aku sudah berada di dalam taksi tadi siang. Untuk kali ini, sepertinya aku harus bersikap seolah tidak terjadi apa - apa.
"Tidak ada apa - apa, Pak Dokter! Saya hanya penasaran saja. Mari, saya antar sampai depan pintu, Pak Dokter!" Ucapku memutus pembicaraan.
Aku pun mengantar mereka hingga ke depan pintu. Aku melihat Pak Dokter itu masuk ke mobil yang dikemudikan Pak James dan beranjak pergi meninggalkan rumah ini.
Akhirnya, segalanya menjadi jelas sekarang. Aku sudah mengetahui semua yang terjadi padanya. Meski, masih ada saja hal yang meninggalkan tanda tanya yang mengganjal pikiranku. Memo itu. Sejumlah pertanyaan bermunculan di kepalaku. Mengapa Tuan Scott tidak menceritakan secara terus terang mengenai penyakit yang diderita putranya? Mengapa harus melalui sebuah memo? Mengapa hanya aku saja yang boleh mengetahui isinya? Apa sebenarnya alasannya melakukan semua itu? Ini semua membuatku pusing dan bingung. Tapi, sebaiknya aku tidak terlalu terburu - buru untuk mencari tahu alasannya. Biarkan saja hal itu mengalir seperti air. Tenang namun pasti. Dibalik semua itu, perasaan lega juga muncul di dadaku yang sempat sesak tadi. Aku hanya berharap dalam hati, kejadian hari ini adalah untuk terakhir kalinya, dia mengalami penderitaan seperti itu karena besok dan untuk hari seterusnya akan menjadi hari yang hanya diisi dengan sukacita dan kebahagiaan. Hanya itu saja!
Proverò a curarti!