Harmony Dell'Amore

Harmony Dell'Amore
Bab Dua Puluh Delapan I'm Really Jealous Part 2 (Gift to a Friend)



Kedua mata kami masih beradu sambil menunggu kejelasan dari kedua pihak. Aku masih bergumul dalam pikiranku rumit seperti benang yang kusut. Entah aku harus menanggapinya seperti apa. Sikapnya benar - benar aneh akhir - akhir ini.


"Alex, maksudmu apa soal cemburu kalau aku sama Kak Nico?" Tanyaku sedikit ragu.


"Alessia, apa aku harus mengatakannya langsung? Kenapa kamu tidak peka juga?" Bentaknya.


"Bagaimana aku bisa mengerti jika kamu tidak menjelaskan padaku alasannya." Balasku sedikit tertekan.


Aku sedikit syok dengan perkataannya dan kemudian aku kembali terdiam. Dia pun melihat wajahku yang sudah pucat itu.


"Maafkan aku, Alessia! Maaf karena sudah membentakmu! Aku akui memang aku ini egois karena akuu sering melihat sikapmu yang begitu ramah dengan Nico. Aku pikir sepertinya kamu menyukainya. Sikapmu itu sungguh berbeda saat kamu bersamaku. Meski sekarang kita sudah menjadi sahabat, tapi tetap saja aku takut. Aku takut kamu akan berpaling dan meninggalkan aku seperti ayahku yang berpaling ke kakak tiriku. Sebelum itu terjadi lagi untuk kedua kalinya,kali ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja. Aku tidak mempunyai seseorang lagi dalam hidupku. Hanya tinggal kamu. Aku menyukaimu dan hanya akan menyukaimu saja selamanya, Alessia!" Ucapnya agak berteriak.


Sekarang aku baru mengerti alasannya bersikap seperti itu. Dia memiliki perasaan ketakutan yang begitu dalam. Dia takut aku akan meninggalkannya seperti yang ayahnya lakukan padanya. Sepertinya aku sudah salah paham dengan sikapnya. Sejenak aku berpikir mungkin dia menyukaiku dalam arti lain. Aku memang sudah berpikir terlalu jauh.


Dia pun membalikkan badannya dan membelakangiku lagi seperti hari itu. Kemudian dia berteriak sekeras - kerasnya hingga mengeluarkan air mata. Tanpa sadar, Aku langsung memeluknya dengan erat dari belakang.


"Alex, aku tidak akan pernah meninggalkanmu! Bahkan, aku tidak berani memikirkan hal seperti itu! Sepertimu yang selalu menganggapku istimewa, sama halnya denganku yang selalu menganggapmu berharga daripada yang lainnya. Kamulah satu - satunya temanku dan dalam hatiku ini, aku juga tidak ingin kehilangan dirimu. Aku juga pernah merasa kehilangan orang yang kucintai. Tentu aku tidak mau merasa kehilangan lagi! Selama bersamamu, akhirnya aku bisa merasakan dan mengalami banyak hal. Kini, aku bisa menangis dan tertawa dengan lebih bebas daripada dulu. Segala keresahan dan beban yang berat yang harus kupikul dulu, akhirnya bisa kubagi bersama dirimu. Apakah kamu masih tidak bisa melihat bahwa betapa berharganya dirimu bagiku? Semua itu tidak pernah aku dapatkan dari orang lain termasuk Kak Nico sendiri. Hanya dan dengan darimu, aku memperolehnya dengan tulus. Jadi, jangan bandingkan dirimu dengan Kak Nico karena kalian berdua sudah pasti berbeda. Kamu itu lebih berharga bagiku! Mungkin kamu bertanya - tanya dengan sikapku yang ramah dengan Kak Nico. Tapi sejujurnya, itu adalah caraku untuk menghadapi orang lain yang tidak aku kenal. Aku berusaha bersikap ramah agar mereka menyukaiku dan memperlakukanku dengan baik supaya diterima dalam situasi tertentu. Aku selalu berusaha menjadi orang lain agar aku bisa diterima baik oleh orang - orang. Tapi, itu berbeda saat aku bersamamu. Aku bisa jadi diriku sendiri dengan segala kelugasanku saat aku bersama denganmu. Itu semua membuatku bahagia dan sedikit demi sedikit aku mulai mencintai diriku apa adanya tanpa paksaan ataupun tuntutan dari siapapun." Jelasku dengan nada yang sendu.


Dia kemudian memegang tanganku dan membuka kunciannya lalu berbalik menghadapku.


"Alessia, terima kasih atas penjelasannya! Maafkan aku yang bodoh dan egois ini hingga tidak bisa melihat dan menyadari semuanya! Aku sudah dibutakan oleh rasa cemburu dan ketakutan yang berusaha menghancurkanku. Aku benar - benar merasa bersalah padamu! Seharusnya aku berusaha membuatmu bahagia. Malah aku menggunakan mulut dan tanganku sendiri untuk menyakitimu. Aku memang tidak pantas menerima maaf darimu." Ucapnya dengan ekspresi sedih.


"Kamu itu memang bodoh! Benar - benar bodoh! Tapi aku tetap tidak bisa berpaling dari orang bodoh sepertimu karena kamu adalah sahabatku. Kamu adalah karunia yang Tuhan berikan padaku. Terkadang memang kita sering melakukan kesalahan. Tapi, bukan berarti hal itu bisa menghancurkan segalanya apalagi sebuah hubungan. Jika kita melakukan kesalahan, mari kita selesaikan dengan baik dan terbuka! Jangan jadikan perpisahan dan kebencian menjadi solusinya! Itu tidak benar. Apalagi, kalau sampai melakukan hal yang semena - mena, padahal hal itu tidak benar adanya. Jadi, intinya semua itu tidak akan terjadi apabila ada rasa percaya di antara kedua belah pihak dan didukung dengan menyikapi segala perkara dengan pikiran yang jernih. Jadi, apakah kamu sudah mengerti, Alex?" Balasku.


"Iya, Alessia! Aku sudah mengerti dan benar - benar tidak akan mengulanginya! Jadi, mohon maafkan aku!" Ucapnya.


"Aku sudah memaafkanmu, kok! Jadi, jangan khawatir! Dan aku juga minta maaf soal kemarin itu! Ya, memang aku juga salah karena tidak menepati janjiku. Lain kali kalau ada hal seperti itu, aku akan kembali dulu kemudian baru pergi lagi! Mungkin sebaiknya begitu! Kadang otakku ini pintar, kadang juga bodoh! Benar, kan? hehe...." Ucapku sambil tersenyum.


"Aku memaafkan kamu juga, Alessia! Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi dan berusaha mempercayaimu seratus persen."


Ucapnya sembari memelukku.


Tiba - tiba, ada seorang nenek tua yang lewat di samping kami.


"Dasar anak muda, masih kecil sudah berani bermesraan di depan umum! Kalian mau jadi apa kalau besar nanti, hah! Lebih baik kalian langsung nikah saja daripada buat malu orangtua!" Ucap Nenek itu.


Aku langsung melepas pelukannya dan merapikan bajuku. Aku melihat wajah Alex yang terlihat merona dan mulai salah tingkah.


"Ahh...nenek, bukan seperti itu! Kami ini hanya teman yang baru saja berbaikan! Jadi, kami berpelukan sebagai tanda kami kembali berteman! Ya, itu alasannya!" Ucapku memberikan penjelasan.


"Aaaahhh....terserah kalian saja! Tapi, jangan menghalangi jalan ini karena orang mau lewat! Pergi ke tempat lain saja sana!" Ucap nenek itu.


"Iya, Nek. Maafkan kami! Silakan lewat saja!" Balasku.


"Nenek itu benar - benar pemarah, ya! Sepertinya beliau cemburu kalau melihat orang sedang berpelukan karena mungkin sudah tidak ada lagi yang bisa dia peluk! Haha..."Ucap Alex agak keras.


Aku langsung memukul bahunya agak keras untuk menghentikan ucapannya.


"Ptaaakkk....."


"Aduh...sakit, Alessia!" Ucapnya sambil meringis kesakitan.


"Berhentilah berbicara seperti itu! Itu tidak baik! Apalagi kalau misalnya nenek itu dengar tadi, bisa - bisa kita kena marah lagi! Seram, tahu! Hehe..." Tambahku.


Kami pun tertawa bersama karena kejadian lucu itu. Di sela - sela kebersamaan kami, akhirnya aku teringat sesuatu.


"Papa! Alex, apa Papaku tahu aku dirawat di rumah sakit? Aku tidak melihatnya datang! Biasanya ayahku selalu memilih tidak masuk kerja untuk menemaniku di rumah saat sakit. Apalagi ini sudah tiga hari aku dirawat. Bukankah itu sangat aneh?" Ucapku.


Aku melihat Alex yang mulai menggaruk - garuk kepalanya dan berusaha menghindari kontak mata denganku. Aku yakin sekali pasti ada yang tidak beres.


"Alex, katakan padaku, ada apa ini sebenarnya? Cepat katakan sebelum aku benar - benar marah dan kamu akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!" Ucapku sedikit mengintimidasinya.


"Sebenarnya, aku takut papamu khawatir padamu! Selain itu, aku takut nanti beliau juga akan memarahiku! Jadi, aku mengatakan padanya, kalau kamu menginap di rumahku selama seminggu karena kita mendapat tugas kelompok yang sangat banyak dan sulit. Kemudian ayahmu langsung memberi izin dan memberikan tas pakaianmu pada Pak James. Itu saja alasannya! Jangan marah, ya!" Jelasnya.


Aleeeexxx.....! Kamu benar - benar keterlaluan, ya!" Ucapku sambil melayangkan tanganku.


Awalnya, aku ingin memukulnya. Tapi, aku berpikir kalau itu merupakan keputusan yang bijak untuk situasi saat ini. Aku tidak ingin papa khawatir dan melihat kondisiku seperti ini. Selain itu, kalau papa tahu Alex yang mendorongku hingga aku terluka, malah tambah runyam masalahnya.Tapi tetap saja aku tidak bisa membenarkan kebohongan itu.


Akhirnya, aku hanya mengelus kepalanya dan menerima keadaan untuk saat ini.


"Alessia, kamu tidak jadi marah padaku?" Ucapnya.


"Aku marah padamu tapi kalau dipikir lagi itu bukanlah keputusan yang buruk untuk situasi kita saat ini. Kamu benar! Aku tidak bisa membuat papaku khawatir dan jika beliau tahu yang sebenarnya, sudah pasti kita tidak bisa berteman lagi! Jadi, intinya untuk saat ini, biarlah yang terjadi tetap terjadi dan berlalu begitu saja! Tapi, tetap saja lain kali jangan coba - coba berbohong, Alex! Itu tidak baik! Apa kamu mengerti?" Ucapku.


"Iya, Alessia, aku mengerti! Kalau begitu, aku antar kamu ke kamar! Pasti kamu sudah kelaparan dari tadi!" Balasnya.


"Tentu saja aku lapar! Aku sudah tiga hari tidak makan dan minum! Kalau aku kurus dan kekurangan gizi, kamu harus tanggung jawab, Alex!" Ucapku.


"Iya, iya, Nona Alessia yang bawel! Mari lewat sini!" Ucapnya dengan sikap mengejeknya itu.


Akhirnya, kami berdua pun mulai belajar dan menyadari bahwa rasa keterbukaan dan kepercayaaan itu sangat penting dalam suatu hubungan. Kami juga semakin mengenal satu sama lain dan selalu berusaha saling mengingatkan tentang hal yang benar dan salah. Hubungan yang didasarkan atas kepercayaaan tentu akan bertahan lama dan abadi. Aku selalu berharap hubungan persahabatan kami akan terus langgeng dan tidak ada lagi pertengkaran seperti hari - hari kemarin. Kami akan menjadi teman yang selalu ada saat senang maupun duka dan selalu mendukung satu sama lain. Itulah karunia memiliki seorang teman.


Sei un dono che Dio mi ha fatto!