
Hari ini terasa sangat panjang. Padahal, sekarang masih menunjukkan pukul dua siang. Setelah memuaskan nafsu perutku tadi, aku kembali terkapar di atas ranjang. Tentu saja Alex yang menyuruhku untuk beristirahat sejenak sebelum bersiap - siap pergi untuk makan malam nanti. Mataku asyik menjelajahi setiap sudut ruangan itu dan membuatku terpesona dengannya. Kamar yang begitu luas dengan perabot yang lengkap dan elegan dengan konsep minimalis yang terkesan sederhana tapi benar - benar mengagumkan. Aku hanya berangan - angan kalau saja kamar ini adalah milikku.
Selagi sibuk bermain dalam pikiranku yang penuh khayalan ini, masuklah seorang pria bertopi fedora yang berpakaian stylish dengan celana jeans panjang warna hitam legam yang dipadukan baju kemeja panjang warna putih dengan layer sebuah rompi rajut warna abu yang terlihat casual tapi tetap terkesan formal. Dia juga ditemani seorang pelayan yang wajahnya tidak asing lagi bagiku. Pelayan itu mendorong lemari kecil yang penuh dengan gaun berwarna - warni.
"Maaf, Nona Alessia, desainernya sudah datang!" Ucap pelayan itu.
"Nona Alessia, perkenalkan nama saya, Dominico Stanley. Saya pernah bekerja sebagai salah satu desainer milik Channel dan kemudian berhenti dan direkrut menjadi desainer pribadi keluarga Scott khususnya melayani busana untuk Tuan Muda Alexander Scott. Saya juga mendapat permintaan langsung dari Tuan Muda. Benar - benar sebuah kehormatan bagi saya untuk membuat gaun Haute Couture yang khusus untuk anda sebagai pasangan Tuan Muda untuk perjamuan makan malam nanti. Tolong terima salam saya ini, Nona Alessia!" Ucapnya sembari memberi salam khas topinya itu.
"Terima kasih atas kesempatan ini, Tuan Dominico!" Ucapku.
"Tolong panggil saya Dom saja, Nona!" Ucapnya.
"Baiklah, Dom!" Ucapku agak kaku.
Aku benar - benar terkejut dengan apa yang terjadi. Sekarang berdiri di hadapanku, seorang desainer dunia yang juga termasuk dalam list favoritku yang aku kagumi karya - karyanya. Aku pernah sekali melihatnya dalam majalah fashion mingguanku. Dia memang terkenal dulu tapi sekarang tampangnya jarang sekali ditemui. Ternyata, keluarga Scott yang merupakan dalangnya. Aku benar - benar tidak habis pikir dengan keluarga satu ini.
"Saya sudah membuat beberapa rancangan terbaik karya saya sendiri khusus untuk Nona." Ucapnya sambil memperlihatkan kumpulan gaun itu.
"Tapi, untuk membuatnya, bukannya anda memerlukan ukuran saya?" Tanyaku penasaran.
"Benar, Nona! Tuan Muda sudah menyerahkan ukuran anda pada saya lima hari yang lalu." Jelasnya.
"Tapi, seingat saya, saya tidak pernah memberitahunya? Bagaimana bisa?" Kataku keheranan.
"Sepertinya Tuan Muda hanya melihat bentuk tubuh Nona dengan sekali pandang dan langsung menentukan ukurannya." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Dasar Pengganggu! Sekarang dia bisa berubah menjadi si mesum juga, ya!" Kataku setengah marah.
"Bukan begitu, Nona! Jangan salah paham dulu! Siapa tahu memang Tuan Muda mau membuat kejutan untuk Nona. Jadi, Tuan tidak berani menanyakannya langsung. Lagipula, setiap konglomerat pasti memiliki kemampuan seperti itu. Jadi, jangan terlalu memasukkan ke hati. Mari saya tunjukkan satu - persatu gaunnya, ya, Nona!" Lanjutnya.
"Baiklah, Dom! Tolong tunjukkan pada saya sekarang!" Balasku antusias.
Aku mendengarkannya menjelaskan tentang gaun - gaunnya. Aku melihat semua gaunnya terlihat ada bagian yang terbuka. Jujur, aku belum pernah dan tidak terbiasa dengan pakaian terbuka. Sebenarnya, aku menyukainya karena aku ini adalah penggila fashion juga. Tapi, aku ini masih remaja yang belum terlalu dewasa untuk memakainya. Sepertinya kurang pantas menggunakannya.
Setelah beberapa saat melihat - lihat, aku melihat dan menemukan gaun yang agak cocok denganku. Meski agak terbuka, tapi setidaknya masih terlihat tertutup dan sopan. Aku langsung memilihnya tanpa ragu.
"Jadi, Nona Alessia, apakah sudah menentukan untuk memakai yang mana?" Ucapnya buru - buru.
"Sebenarnya, aku lebih suka pakaian yang lebih tertutup. Tapi karena tidak ada, aku akan memilih gaun halter dress berwarna putih dengan list hitam itu saja! Kalau dipadukan dengan sepatu model T-Strap Heels warna senada, pasti akan terlihat sempurna." Ucapku sambil tersenyum penuh percaya diri.
"Pilihan yang bagus, Nona! Sepertinya saya memang tidak perlu menjelaskannya lebih detail lagi karena sepertinya Nona memang mengerti fashion dengan sangat baik. Kalau begitu, kami akan mulai bersiap - siap sekarang! Saya izin keluar sebentar, Nona!" Ucapnya sembari pergi.
"Baiklah! Terima kasih atas bantuannya, Dom!" Balasku sambil menundukkan kepalaku dalam.
Aku tidak pernah percaya kalau sekarang aku akan memakai busana Haute Couture pertamaku yang merupakan karya dari desainer ternama. Ternyata, Alex itu diam - diam menghanyutkan juga. Aku jadi tidak sabar untuk segera mengenakannya. Selain itu, perasaan gugup dan gelisah juga jadi campur aduk. Aku khawatir bagaimana nanti akan menghadapi keluarganya. Aku benar - benar gugup sekali.
Beberapa menit kemudian, masuklah empat orang pelayan ke dalam kamar. Mereka membawa banyak perlengkapan yang aku sendiri tidak tahu, itu semua untuk apa.
"Nona Alessia, mari bersiap - siap sekarang! Pertama - tama, kami akan membersihkan tubuh Nona! Mari kita ke kamar mandi di sebelah sana!" Ucap seorang pelayan.
"Terima kasih! Aku bisa mandi sendiri, kok! Jadi tidak perlu dibantu!" Ucapku agak kaku.
"Tidak bisa, Nona! Ini sudah perintah dari Tuan Muda! Tolong jangan mempersulit kami! Nona, tidak perlu malu dan khawatir!" Katanya sambil memegang pergelangan tanganku.
"Baiklah, kalau begitu!" Ucapku pasrah.
Mereka membawaku ke kamar mandi yang begitu luas dan tentu saja mewah. Bahkan, ada bathub yang berukuran besar. Mereka mengisinya dengan air hangat dan menaburi dengan kelopak mawar yang masih segar. Kemudian mereka menyuruhku masuk ke dalamnya. Rasanya benar - benar tenang dan hangat. Aroma mawar yang segar seakan - akan merelaksasikan seluruh tubuh yang kelelahan ini. Selagi aku menikmati aroma bunga, mereka membersihkan dan memijat tubuhku dengan tangannya yang cekatan. Benar - benar pengalaman yang tidak akan terlupakan. Aku sempat tertidur sebentar hingga tanpa sadar, mereka sudah selesai dengan pekerjaannya.
Kemudian tahap terakhirnya adalah mendandaniku tentu saja. Bahkan, untuk mendandaniku, Alex sampai mendatangkan seorang make-up artist. Aku hanya bisa mengelus dada. Dia benar - benar bersikap perfeksionis meski ini hanya untuk pergi makan malam keluarga. Aku pun dirias dari atas sampai bawah selama dua jam. Punggungku lama - lama rasanya mau lepas dari tubuhku.
Dan untuk sentuhan akhirnya adalah sebuah tas merek Lana Marks seri Cleopatra yang sangat mahal. Yang buat aku tercengang adalah tas itu hanya di produksi satu kali dalam setahun dan sekarang aku sedang menggenggamnya di tanganku. Selain itu, yang menarik perhatianku juga adalah sepatu T- Strap Heels merek Louis Vuitton yang hiasi berlian swarovski yang membuatnya terlihat mewah dan elegan. Aku tidak percaya Dom benar - benar mengabulkan permintaanku.
Akhirnya, aku benar - benar sudah siap. Aku melihat berulang - ulang ke cermin dan memperbaiki sedikit tatanan rambutku. Bahkan, aku sempat berpikir, bagaimana pendapat Alex terhadap penampilanku malam ini. Aku tidak sabar mendengar pendapat darinya. Sesekali aku mencoba berjalan bolak - balik di kamar sekadar melatih kakiku yang masih kaku dengan high heels-nya.
Tiba - tiba, kepala pelayan masuk dan memberitahukan sesuatu kepadaku.
"Nona Alessia, silakan keluar sekarang! Tuan Muda sudah menunggu di bawah!" Ucap kepala pelayan itu.
"Baiklah!" Ucapku lantang.
Aku pun keluar dari kamar yang berada di lantai dua itu kemudian menuruni tangga yang indah itu. Aku melihat Alex yang menungguku di bawah yang juga sedang melihatku turun. Dia melayangkan senyuman terbaiknya kepadaku. Sesampainya di lantai bawah, dia langsung menawariku tangannya sambil berlutut.
"Nona Alessia, kamu terlihat sangat cantik dan anggun malam ini! Bolehkah tangan ini yang merangkulmu malam ini?" Ucapnya terdengar sopan.
"Tentu saja, Tuan Muda Scott! Anda juga terlihat sangat tampan malam ini! Tentu saya merasa terhormat bisa berada di samping anda!" Balasku sekedar mengikuti alur skenarionya sambil meletakkan tanganku pada ujung tangannya.
Dia memegang dan menarik tanganku sehingga jarak kami begitu dekat. Kemudian dia membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Alessia, ternyata kamu pandai sekali bersandiwara, ya!" Bisiknya.
"Kamu sendiri juga begitu!" Balasku.
Aku menyadari bahwa dari tadi para pelayan itu menatap kami berdua sambil tersenyum - senyum. Tapi, sepertinya Alex tidak memperdulikannya.
"Sebelum kita pergi, aku ingin memberikan sesuatu padamu." Ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya.
"Apa itu, Alex?" Tanyaku penasaran.
Ternyata, dia mengeluarkan sebuah kalung yang tidak asing lagi bagiku. Itu adalah kunci pintu masuk taman Armonia. Hanya saja warnanya sedikit berbeda. Warnanya agak keemasan.
"Aku ingin kamu mengenakan kalung ini sekarang! Kamu kan sudah tahu ini untuk apa dan kegunaannya juga sama. Aku sudah menduplikasikannya menjadi sepasang. Jadi, aku satu dan kamu satu!" Ucapnya sambil menunjukkan kalung yang satunya lagi yang menggantung di lehernya.
"Ini untukku? Kupikir seharusnya kamu memberikannya pada orang yang sangat berharga bagimu." Ucapku.
"Oleh karena itu, aku memberikannya padamu karena orang yang berharga bagiku itu adalah kamu, Alessia!" Ucapnya.
"Benarkah? Aku benar - benar berterima kasih dan bersyukur untuk itu! Aku benar - benar menyukaimu, Alex!" Ucapku terharu dan juga kegirangan.
Tanpa sadar, aku langsung memeluk Alex dengan erat. Dia hanya terdiam dan kemudian menyambut pelukanku. Aku tersadar ada yang salah dengan perasaanku dan yang aku katakan barusan. Aku melihat para pelayan itu tersenyum malu - malu. Sontak aku langsung melepas pelukanku.
"Maksudku, aku menyukaimu sebagai sahabat! Ya, sahabat, kok!" Ucapku terbata - bata.
"Iya, aku tahu itu, Alessia! Mari aku pasangkan kalungnya!" Ucapnya sembari memasangkan kalung itu ke leherku.
"Alessia, mulai sekarang kita tidak akan terpisahkan! Selama kita saling memakai dan menyimpan kalung ini, kita tidak akan pernah berpisah meski jarak dan waktu mencoba memisahkan kita. Kita akan selalu bersama di dalam hati kita masing - masing! Janji, ya?" Ucapnya sambil mengisyaratkan janji dengan jari kelingkingnya.
"Janji!" Balasku sambil mengaitkan jariku dengan jarinya.
Hari itu kami saling mengikat janji untuk selalu bersama dan tidak akan berpisah apapun yang terjadi. Kedua kalung itu merupakan bukti dan simbol dari janji yang telah kami ucapkan. Janji yang telah kami ikrarkan dalam jiwa dan raga kami. Dalam hati kecilku ini, aku hanya bisa berharap, kali ini janji yang telah terucapkan akan abadi tanpa adanya pengingkaran yang menyakitkan seperti dulu. Aku berharap dengan sungguh,semoga janji ini akan selalu tertanam dalam keabadian untuk selama - lamanya.
Mantieni la nostra promessa per sempre!