
Siang ini ruangan Zafran semakin terasa ramai karena kedatangan para sahabatnya. Tak hanya itu Mina juga ikut menjenguk walau diruangan itu hanya dia yang perempuan.
Samuel dan Sheliya memberi waktu pada anak muda itu di dalam dan mereka menuju ke taman rumah sakit.
Sebelum itu Samuel juga sangat senang melihat Zafran sadar dan memeluk anaknya itu.
Seperti biasa Ziyan hanya melihat keasyikan Zafran bersama para sahabatnya. Tapi kali ini ia tidak sendirian karena ada Mina di sampingnya.
" Gue senang banget tau akhirnya setan gue sadar juga... "- Eunseo.
" Kita itu khawatir bangeeettt Sama looo... Syukur lahh kita masih bisa ngeliat mata bulat lo itu terbuka. "- Jaywoo.
" Aiss diam lo. "- Kay.
" Hahaha ribut banget sih lo pada tapi makasih ya ternyata sahabat gue sekhawatir itu. " -Zafran.
" Yaiyalah persahabatan kita ini bukan kaleng kaleng gak ada yang bisa terpisahkan.... Dan kita gak akan sanggup kalau salah satu dari kita ada yang pergi... "- Eunseo.
" Kita gak kuat zaf, maka dari itu tolong bertahan... "- Jaywoo.
" Iya... Lo adalah sahabat kita yang paling the best gak akan tergantikan. "- Kay.
" Ahahah iye deh... " -Zafran.
Mereka berempat pun seperti biasa membuat lolucon lalu tertawa tidak mengenal tempat.
" Aku senang melihat Zafran sadar dan jujur aku juga gak kuat jika Zafran harus pergi. Walau dia itu orangnya nyebelin tapi nyesek juga kalau dia.... Ahh... " seru Mina.
" Do'ain aja supaya kita bisa menemukan donor jantung untuknya. " Ucap Ziyan.
" Semoga ya ada donor jantung untuknya, aku belum siap untuk kehilangan dirinya dan semua orang juga tidak akan siap. " Ucap Mina penuh harap.
" Kamu suka ya sama dia.. " Tanya Ziyan bisa menebak dari mata gadis itu.
" Ahh... Eeee- buk-
" Gak usah gengsi bilang aja gak apa apa kok..." sergah Ziyan.
" Eee... Jujur akuuuu akuu emang udah eee......Eum....... "
Ziyan tersenyum walau terasa sesak di lubuk hatinya. Karena apa ya karena diam diam ia juga telah menaruh hati pada gadis itu.
" Kalau kamu suka tolong jaga dia dengan baik ya, aku titip dia dan jangan terlalu cepat menyerah jika menghadapi sikapnya. " Ucap Ziyan terdengar lirih.
" Kamu ngomong apa sih. "
" Udah angguk aja. "
" Banyak orang tidak akan siap jika harus kehilangan kamu, berbeda dengan aku, maka dari itu sudah jelas disini siapa yang harus pergi... Jaga mama dan papa dengan baik ya...jaga nenek dan kakek juga, dan jangan kecewakan gadis yang telah menaruh hati padamu karena aku sudah merelakan dia untukmu. " Batin Ziyan.
Ziyan itu berhati lembut dan penyayang jadi jangan ragukan jika Ziyan bisa melakukan apapun untuk orang yang dia sayang.
Ziyan menatap Mina yang terus tersenyum memandangi kearah Zafran. Dirinya senang karena adiknya dicintai oleh gadis sebaik Mina.
Namun hatinya juga sesak menerima pernyataan jika orang yang dicintai tidak bisa membalas cintanya.
Mendapat didikan yang sangat baik dari orang tua asuhnya mana mungkin Ziyan akan bersikap egois hanya soal percintaan. Jadi dengan hati ikhlas ia akan merelakan walau hatinya yang harus merasakan sesak.
Ini adalah pertama kalinya ia merasakan cinta pada seorang gadis namun sayang gadis itu ternyata mencintai kembarannya bukan dirinya.
Begitu juga Mina, padahal mereka kembar dan bisa saja ia mencintai Ziyan namun hatinya berkata lain. Walau Zafran yang terkenal dengan sifat nyebelin tapi yang namanya cinta Mina tidak mempermasalahkan hal itu.
Para sahabat Zafran telah pulang karena mereka juga harus ingat rumah.
Dan sekarang waktunya Zafran makan.
Awalnya Ziyan ingin menyuapi adiknya namun melihat Mina ia pun menyerahkan padanya.
Dengan senang hati Mina menerimanya dan Ziyan duduk disofa menyaksikan interaksi mereka.
" Aaaa iniii.. "
Happ..
Sesendok bubur masuk ke mulut Zafran membuat Mina tersenyum senang.
" Gimana enakkan. " Tanya Mina.
" Eummm bisa dibicarakan. " Jawab Zafran lalu mereka tertawa bersama dan orang yang disofa hanya menyunggingkan senyumnya.
" Ini lagiii aaauummm... " Suapan kedua diterima oleh Zafran.
" Ohya makasih ya ternyata lo ini cewek yang baik dan maaf kalo selama ini gue bersikap nyebelin sama lo. "
" Udah santai aja bisa aku maklumin kok. aku kayak dejavu tau padahal kamu udah ngomong gini sebelum nyaa. "
" Kapan. "
" Waktu kamu mau pulang ke Indonesia. "
" Ohiya hehe... "
Mereka saling tersenyum dengan senyuman yang tersirat rasa beda.
Jika Mina tersenyum menyimpan perasaan istimewanya pada Zafran sedangkan Zafran hanya tersenyum karena sekedar terimakasih dan tidak lebih.
" Ayo lagiiii aaammm... "
" Haaapp.. " Zafran memakan bubur yang disuapi untuknya.
" Manis ya kayak orang yang nyuapin. " Goda Zafran membuat Mina salah tingkah.
" Iiihh bisa aja. "
" Kalian begitu bahagia dan aku ikut bahagia melihatnya..... Mereka memang pantas bersama dan Zafran harus bisa bertahan... " Batin Ziyan.
Singkat nya malam pun tiba dan ruangan Zafran kembali sepi karena mereka hanya berempat.
Itu sepi karena tidak ada yang membuka suara. Pasangan itupun heran kenapa sikembarnya saling mendiami.
Memang dasar kembar buktinya mereka tengah melakukan hal yang sama. Ziyan yang duduk disofa terus menggigiti kukunya sedangkan Zafran juga melakukan hal yang sama diranjangnya.
Samuel dan Sheliya yang melihat itu jadi geleng geleng kepala.
" Emang dasar kembar ya, apa apa sama lihatlah apa kalian tidak sadar tengah melakukan hal yang sama. " Ucap Samuel menyadarkan mereka.
" Jadi itu sebabnya kalian diam diaman ternyata lagi asyik gigit kukuuu.. Hmmmm.... " Tambah Sheliya.
Sikembar itu pun saling memandang setelah itu terkekeh sendiri.
" Emang kenapa sih kok pada diam diaman biasanya nyari ribut terus. " Tanya Sheliya pada keduanya.
" Tau tu dia duluan yang diemin aku maaa... " Jawab Zafran terkesan mengadu manja.
" Eihhh emang ya kalo perempuan maunya dipancing dulu, gak ada yang maunya duluan kek. "
" Heh ngatain aku kamu, aku itu cowok macho tau.. "
" Ya terus ngapain ngadu manja kek gitu... "
" Emang kenapa. "
" Kek cewek tau. "
" Yay-
" Hadeeuhhh mulaiii, kalau begitu selesaikan urusan kalian dulu mama sama papa mau keluar nyari angin dulu. "
" Tapi paaa... "
" Ayo sayang... " Kedua pasangan itu meninggalkan sikembar disini. Niatnya memang ingin memberi ruang untuk mereka.
Masih berdiaman namun sedetik kemudian Ziyan mendekat dan memeluk adiknya karena ia sungguh tak tahan jika mendiami adiknya itu.
Zafran membalas pelukan itu dan memang inilah yang ia harapkan.
" Kenapa tadi pake acara dieman segala sih. " Tanya Zafran menyeka airmatanya.
" Aku kangen becanda sama kamu tauuuu... " Lanjutnya.
" Terus tadi siang kamu juga diemin aku karena sibuk sama teman teman kamu. " Ucap Ziyan sambil melepaskan pelukan nya.
" Ouuhh cemburu yaaaa. "
" Kalo iya kenapa, aku tu gak suka kamu abaikan aku seperti tadi... Aku cemburu tau kalo liat adikku lebih kesenangan sama orang lain. " Jelas Ziyan.
" Maaf yaa.. Janji deh gk lagi, lagian kamu ngapain ngasingin diri tadi, kan kamu juga sudah menjadi bagian dari kami. "
" Iya tapi.... Pokoknya tau ah... "
" Cieeee yaudah yok sini bobo sama aku. "
" Sempit.. "
" Biar kamu tidurnya peluk aku teruuusss.. "
" Ayo ih sini boboo. " Lanjut Zafran melihat Ziyan tak menjawabnya.
" Hyung ayo siniiii.. " Kini Ziyan tertawa dan membaringkan dirinya disamping Zafran.
" Kan lebih enak sempit begini. "
" Biar kamu dipelukkan. "
" Hehee... "
" Hyung masih ada kesempatan jadi jangan disia siakan kalo nanti aku pergi kamu mau peluk siapa lagi. "
" Haaiisss ngomong gitu lagi aku sumpal pake kompor mama. "
" Aiss Hyung ngeriiii. "
Sekarang mereka tidur berpelukan lebih tepatnya Ziyan yang memeluk sedangkan Zafran tidur telentang.
" Hyung kita kan kembar.. "
" Yang bilang bukan siapa. "
" Aiss dengar dulu.... Nanti kalo aku panjang umur dan Hyung duluan nikah... Terus kalo malem pertama aku yang gantiin Hyung ketauan gak ya. "
" Haiis benar-benar ngomong apa sih kamu......"
" Hahahaha becanda Hyung... Tapi bolehkannn... Hahaha.. "
" Gak boleh.. "
" Yiaaahhh Hyung. "
" Itupun jika aku panjang umur dan aku pun tidak yakin jika besok aku masih bisa bercanda dengan mu lagi Ziyan. " Batin Zafran.
" Tidak usah khawatir akan kehidupan mu karena kamu akan hidup lebih lama namun tanpa aku... " Batin Ziyan.
" Hyung aku ngantuk.. "
" Yaudah tidur... "
" Tapi aku mau denger dongeng dulu dari Hyung. "
" Aiisss kamu. "
" Ayolah hanya malam ini. "
" Jangan kan malam ini sampai kapanpun aku mau berdongeng asalkan kamu terus bertahan. "
" Yaudah ayo mulai.. "
" Okeeeyy... Ekhem... "
" Aku tidak tau kalau ini adalah dongeng pertama dan terakhir yang aku dengar darimu tapi percayalah jikalau pun aku harus pergi maka aku akan pergi dengan bahagia karena pergi didalam pelukan mu malam ini, terimakasih untuk semua dan aku tidak bisa janji jika besok apakah aku bisa membuka mata lagi. " Batin Zafran sambil menutup mata sedangkan Ziyan dari tadi mengoceh menceritakan dongeng walau tidak masuk akal.
Beberapa menit kemudian terdengar dengkuran halus dari remaja di sebelahnya dan Ziyan pun menyudahi karangan dongeng nya.
Ziyan melambai lambaikan tangannya ke wajah Zafran dan benar anak itu memang sudah menuju ke alam mimpi nya.
Ziyan memandangi wajah damai itu dalam tidurnya. Dan seketika liquid bening berjatuhan.
" Jangan pergi... Tetap lah bertahan.. Semua orang tidak siap jika harus kehilangan mu.. "
" Bayangkan jika hal itu terjadi, semua temanmu merasa sedih, kakek nenek dan Mina orang yang mencintaimu juga... Terlebih lagi papa sama mama... Mereka pasti sangat hancur... Maka dari itu jangan pergi.. "
" Jika kau yang pergi akan lebih terasa hampa sedangkan aku mungkin tidak sebanyak yang menangisimu.. "
" Tenanglah kau akan tetap hidup namun tanpa aku. "
" Mama pernah bilang dia sangat tidak ingin kehilangan mu dan dia akan mendonorkan jantungnya tapi semua orang tidak setuju dan kau juga tidak setuju kan... Maka dari itu.. Bukan kamu atau pun mama yang akan pergi... Tapi aku.... "
" Waktu sedekat ini tidak mungkin kita mendapat donor jantung dengan mudah.. "
" Aku titip jantungku padamu yaa jaga mama sama papa juga nenek kakek... Hapus lah airmata mereka jika menangisi kepergianku nanti. " Bisik Ziyan di telinga Zafran beserta airmata yang sudah mengalir deras dari pipinya.
" Jika ada yang harus pergi itu aku bukan kamu... Ataupun mama.. Karena kalian adalah orang berharga dalam hidupku. " Bisiknya lagi.
Setelahnya Ziyan menangis dalam diam dan terus mencium Zafran adiknya.
" Kamu harus kuat nanti yaaa. "
" Aku bahagia menjadi kembaranmu. "
" Bangunlah besok dan kamu akan mendapatkan kehidupan yang lebih lama. "
***************
Paginya Zafran terbangun namun tidak mendapati Ziyan yang semalam tidur dengan nya. Bukan hanya disamping nya tetapi dalam ruangan itu hanya Sheliya dan neneknya yang ada.
Lain dengan papanya yang mungkin sudah berangkat ke kantor.
" Oh kau sudah bangun, ayo sarapan dulu kau bangun sedikit kesiangan eohh... " Sheliya mengambil posisi duduk dikursi samping tempat tidur Zafran mengelus rambut sang anak.
" Bagaimana keadaan mu nak.. " Tanya Bu Yana sambil mendekat kearahnya.
" Baik nek aku sudah mendingan. " Jawab Zafran mengulas senyum.
" Oh ya ma Ziyan mana apa dia pergi kesekolah ya. " Tanya Zafran membuka rasa penasaran.
" Dia tidak kesekolah katanya dia tidak akan kesekolah tanpa mu, kakakmu menunggu mu sampai sembuh baru dia pergi kesekolah. " Jelas Sheliya.
Zafran mengangguk paham dan bertanya lagi.
" Lalu sekarang dia dimana. "
" Tadi katanya ingin keluar sebentar. "
Zafran mengangguk kedua kali lalu bertanya lagi.
" Kalau kakek kemana apa dia tidak menjenguk ku. "
" Tadi kakekmu pergi pulang sebentar katanya ada yang dilupakan. " Itu Bu Yana yang menjawab.
" Apa kau tidak menanyakan keberadaan papa sekalian hmm... " ucap Sheliya membuat Zafran terkekeh.
" Heheee... Papakan ke kantor. "
" Kau ini banyak bertanya eoh.. " Cubit gemas Sheliya di pipi anaknya.
" Ahh mamaaa.. "
" Tapi kenapa Ziyan belum kembali ya diakan sudah pergi daritadi. " Ucap Bu Yana.
" Ee.. Mungkin dia pergi nyari angin sebentar...." Jawab Sheliya menepis pikiran buruk nya.
" Kenapa harus dicari disini kan ada AC, lebih dingin lagi. "
" Aiss ucapan mu tidak pernah serius sekarang kamu harus makan. "
Ceklek......
Suara pintu terbuka sejenak menjeda kegiatan Sheliya yang ingin menyuapi Zafran karena kedatangan dokter.
" Selamat pagi menjelang siang.... Kau sudah bangun ternyata bagaimana keadaan mu anak muda. " Tanya dokter itu ramah sambil mendekati Zafran lalu memeriksa nya.
" Aku sudah agak baikan. " jawab Zafran.
Dokter itu tersenyum karena akan mengabarkan kabar gembira untuk mereka lalu sedetik kemudian wajahnya berubah sendu.
" Saya punya kabar baik untuk kalian semua terutama untukmu pasien. " Ucap dokter itu.
" Apa itu dokter.. " Tanya Sheliya.
" Selamat, Zafran telah mendapatkan donor jantung untuknya. "
Pyaaarrrr....
Bagai disambar petir kebahagiaan...
Sheliya dan Bu Yana terkejut senang mendengarnya.
" Apa dokter apa itu benar. " tanya Sheliya.
" Iya Bu. " jawab sang dokter.
Grepp...
Bukan dokter yang dipeluk Sheliya tapi Zafran.
Sheliya menangis senang karena dunia nya tidak jadi redup.
" Sayang akhirnya kamu bisa hidup lebih lama... Kamu mendapat donor sayang hikss... Terima kasih ya tuhaann... "
" Iya maa. " Zafran menjawab senang dan detik kemudian menjadi lesu.
" Syukur lah ya Tuhan... " Bu Yana tak henti hentinya bersyukur juga merasa senang.
" Ohya dokter tapi ngomong ngomong siapa orang baik itu yang mau menjadi pendonor untuk anak saya. " Tanya Sheliya.
" Dia hanya orang yang ingin berbuat baik dan maaf tapi orang itu tidak mau memberitahu tentang dirinya karena orang itu memang tulus ingin membantu. " Jelas dokter tersebut dan Sheliya pun hanya mengangguk paham.
" Jadi kapan cucu saya bisa dioperasi dokter..... " tanya Bu Yana.
" Itu tergantung kondisi pasien sendiri dan mungkin jika pasien bersedia kita akan melakukannya nanti sore. "
" Iya dokter lebih cepat lebih baik."
" Kalau begitu saya permisi, Zafran persiapkan dirimu oke. " Dokter itupun berlalu darisana.
" Sayaangg akhirnya kamu bisa hidup normal mama senang sekali. "
" Iya maa. " Ucap Zafran tersenyum namun senyumnya itu terasa hambar.
" Melihat kebahagiaan kalian saja sudah cukup membuatku bahagia, Zafran kau memang pantas berada diantara mereka, siap siap nanti sore kamu akan menemukan kehidupan yang lebih lama adikku. " Gumam seseorang dibalik pintu.
Siang ini ruangan Zafran kembali ramai karena kedatangan para sohibnya dan Samuel langsung kesini begitu selesai dari kantornya.
Dan sekarang mereka semua merasa sangat senang dan terkejut karena tiba-tiba Zafran mendapatkan seorang pendonor.
Sungguh mereka sangat senang dan tak sabar menunggu nanti sore dan mereka berjanji akan menunggu Zafran operasi saat itu.
Sekarang ruangan itu telah penuh diisi canda dan tawa.
Dan seperti biasa Ziyan hanya jadi penonton disana menyaksikan keasyikan adiknya bersama para sohibnya itu.
Awalnya Ziyan memang diajak untuk bergabung namun Ziyan memilih duduk bersama para orang dewasa disofa.
" Syukur lah setelah ini Zafran tidak akan merasa sakit lagii.. Kau senang kan Ziyan sebentar lagi adikmu akan sembuh. " Ucap Samuel.
" Ah iya pa, tentu aku sangat senang karena inilah yang kuharapkan melihat Zafran tumbuh tanpa menderita sakit sakitan. "
" Aigoo kau memang kakak paling sweet. "
" Bukan kakak istriku tapi kembaran yang Sweet.. " timpal Samuel.
" Baiklah.. Hahah... "
Samuel lalu merangkul Ziyan dan Sheliya dikanan dan kirinya.
" Maaf pa, ma bukan Ziyan tak sayang kalian, tapi Ziyan tak sanggup melihat kalian terus menangis jika nantinya Zafran pergi, maka dari itu biar aku yang pergi... Jujur Ziyan masih ingin merasakan kasih sayang dari kalian... Tapi Ziyan juga tak bisa membiarkan Zafran pergi dan kalian bersedih... Hiks... Aku sayang kalian semua... Maaf aku pergi tanpa izin... " Batin Ziyan.
Ya tidak usah berbelit belit memang Ziyan yang menjadi pendonor untuk Zafran, tadi pagi ia pergi bukan untuk keluar cari angin tapi menemui dokter dan mencalonkan diri untuk menjadi pendonor adiknya.
Meskipun sudah beberapa kali ia ditolak namun dirinya tetep keras kepala bahkan sampai memohon mohon menangis di ruangan dokter, membuat dokter itu tak tega dan akhirnya mengiyakan dengan terpaksa.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.06 dan dua jam lagi Zafran akan melakukan operasi.
Dan mereka semua masih setia berada diruangan Zafran.
Hanya saja sekarang tidak seberisik tadi karena kini diruangan itu hanya ada Ziyan dan Zafran, yang lainnya pada kemana tentu para sohibnya berada dikantin dan selebihnya cari angin dan persiapan untuk Zafran operasi.
" Dua jam lagi kau siap siap yaa. " Ucap Ziyan dan Zafran tak berniat menyahutnya.
" Setelah operasi nanti... Kau tidak boleh manja lagi padaku kau harus mandiri jangan terus bergantung padaku.. " ujar Ziyan.
" Karena setelah itu aku tidak akan lagi berada disampingmu. " Batin Ziyan menangis.
" Memangnya kenapa. " Tanya Zafran.
" Kau kan sudah kuat... "
" Tapi aku masih ingin manja denganmu... Malah aku ingin kita bercanda lebih brutal lagi karena aku sudah kuat. "
" Ouwhh ayolah jangan pancing airmataku karena setelah kau bangun kau akan melihat mayatku.. " Batin Ziyan.
" Pokoknya setelah aku operasi kau adalah orang pertama yang harus berada disampingku. "
" Iya itu pasti. "
" Tapi aku tidak janji. " Batin Ziyan selanjutnya.
" Kau harus janji setelah aku operasi kau harus menaktrirku es krim dan satu hal lagi kita akan minum soju bersama para teman-teman dan jangan bilang mama. "
" Iya iya bawel. "
" Tapi sebagai arwah. " Batin Ziyan.
" Kau senangkan aku sembuh.. " tanya Zafran.
" Kau ini tanya apa sih ya sudah pasti aku senang. " jawab Ziyan.
" Aku mau tanya.. " Zafran bertanya lagi.
" Tanya saja tapi aku tidak akan menjawab jika pertanyaan mu tidak masuk akal. " jawab Ziyan lagi.
" Tenang.... Hmm kau ini lebih senang aku sembuh apa lebih sedih jika melihatku hancur. "
" Tukan pertanyaan mu emang... Aku gak mau jawab... "
" Pliss jawaabbb plisss... "
" Gak akan.... "
" Tolonggg hyyuungg... "
" DENGAR ini... Aku sangat senang melihat mu sembuh dan aku sangat sangat sedih melihatmu hancur. "
Zafran tersenyum dan memeluk Ziyan begitupun Ziyan yang membalas peluk.
" Kau harus sembuh karena aku sangat bahagia melihat kamu bahagia dan sangat hancur ketika melihatmu sedih Zafran... "
" Maka dari itu tolong sembuhlah jangan sia siakan waktu dua jam lagi. " lanjut Ziyan.
" Kau harus hidup lebih lama... Hiks.. Banyak orang yang tidak mau kehilangan mu.. " tambah Ziyan.
" Ya kau benar tapi aku tidak bodoh Ziyan hikss... Aku tidak bodoh.. " Batin Zafran menangis.
Setengah jam telah berlalu dan semuanya kembali keruang Zafran.
Dokter pun masuk kesana menanyai persiapan pasien.
" Soree semua nah bagaimana Zafran kau sudah siap satu jam setengah lagi. "
" Pastinya dokter adikku pasti sudah siap menuju kesembuhan. " Itu Ziyan yang menjawab.
" Ouuhh baguslah. "
" Tidak.. "
Semua terkejut dan menatap Zafran secara bersamaan yang berucap barusan.
" Zafran apa yang kau katakan. "
" Iya apa kamu tidak ingin sembuh nakk... "
Zafran beralih memandangi mereka satu persatu yang menatapnya dan pandangannya terhenti ketika menatap Ziyan dan mengeluarkan air matanya.
" Aku mau melakukan operasi tapi dengan satu syarat. "
" Zafran dengar kau akan operasi kau akan sembuh lalu kenapa harus pakai syarat. " Ziyan geram merasa Zafran seperti mengulur waktu untuk sembuh padahal dirinya sudah siap.
" Sebelum operasi aku ingin pergi ke pantai bersama kalian. "
" Sayang waktumu tinggal satu jam setengah lagi, nanti kalau kita kepantai kamu bisa telat operasi sedangkan kamu harus segera dioperasi. " Jelas Sheliya.
" Benar kata ibumu nak. " Sahut Pak Bahar.
" Hanya sebentar kok, kepantai dekat sini saja. "
" Tapi sayang kita bisa pergi setelah kamu operasi bahkan kita akan pergi sepuasnya. " Ucap Samuel.
" Aku maunya sekarang. " Tegas Zafran.
" Tap-
" Hanya sebentar maa.. " Lirih Zafran menatap ibunya.
Sheliya menghela nafas melirik sang dokter meminta keputusan.
" Huh... Baiklah tapi janji hanya sebentar setelah itu cepatlah kembali karena operasi mu harus disegerakan. " Keputusan dokter itu membuat Zafran senang dan yang lainnya merasa cemas.
" Yeeeyyy dengar itu kan maa horee yaudah ayokk. "
" Heran gue Zafran ama lo... Padahal setelah operasi kan kita bisa pergi sepuasnya.. " Ucap Jaywoo.
" Sudah tidak perlu diherankan lagi Jay toh tau sendirikan anehnya Kim Zafran seperti apa. " Sambung Kay.
" Hadeehh pengen ngatain ada keluarga lo, dah lah cape gue. " Tambah Eunseo.
" Ssst pokoknya kalian ikut juga ye. "
" Serah lo dah. " Frustasi Jaywoo.
**************