Handsome Twins

Handsome Twins
bab 48 Rahasia itu.... telah berakhir



" Jadii-jadi Selama ini Zafran itu, di-dia... S-sakit.. "


" Iya kim iya hiks.... Dia berbeda seperti kita... Dia punya fisik yang lemah.... Hiks... Makanya aku terlalu khawatir padanya hiks... "


" Tidak mungkin hikss... Tidak.. " Ziyan juga menangis dan semakin bersalah dengan perlakuannya tadi pagi.


" Kenapa kau tidak bilang pada kami Sheliyaaaa... " Pak Bahar juga terpukul mendengarkan hal yang menimpa salah satu cucunya.


" Iya kenapa kau tidak bilang kenapa tidak bilang dari awal. " Samuel menggoyangkan kedua bahu istrinya meminta penjelasan.


" D-dia melarangku hiks... Dia tidak mau dianggap lemah.. "


" Aarrgg.. Aku seorang papa yang bodoh... Aku tidak tau betapa menderitanya anakku dengan penyakitnya... Hiks... " Frustasi Samuel menjambak rambutnya sendiri.


Ziyan juga sama, sama sama hancur menyaksikan kedua hal ini, adiknya yang tidak sempurna ditambah lagi keluarga nya yang sedih saat ini.


" Maafkan aku Zafran. " Lirih Ziyan.


" Seharusnya aku bisa menangkap maksud appa waktu itu tapi aku malah berpikir kalau appa hanya mengatainya saja. "


" Ini sudah menjadi takdirnya, kita berdoa saja supaya Zafran terus baik baik saja. " Gumam Bu Yana.


" Sudah berapa kali ia menahan sakit di depan kalian, waktu itu Zafran bukan sakit perut tapi penyakitnya kambuh.. Dia berlari ke kamarnya menyembunyikan dari kalian... Hiks..lalu aku datang ke kamarnya, dan parahnya lagi obatnya saat itu sudah habis, jadilah ia menahan kesakitan nya sendirian. " Jelas Sheliya semakin membuat mereka bersedih.


" Dia tidak ingin menyusahkan banyak orang makanya ia menyembunyikan penyakitnya.. " Lanjutnya.


" Hikss... Ini lah yang kutakuti, ternyata penyakit eomma ku menurun padanya... Hiks.. Maafkan aku. "


" Tidak usah minta maaf nak.. Tidak perlu saling menyalahkan.. "


" Aku sungguh takut kehilangannya, penyakitnya itu bisa membawanya pergi kapan saja hiks.. Aku tidak mau kehilangan putraku... Hiks.. " Samuel memeluk Sheliya yang meracau.


" Aku juga tidak mau kehilangan saudara kembarku itu. " Batin Ziyan.


Braaaakkk..


Suara pintu terpelanting keras membuat mereka yang ada disana terkejut ditambah lagi dengan kedatangan para sahabat Zafran yang sedang merangkul remaja kelinci itu bersama sama.


" A-ada apa ini. " Walau sudah bisa menebak Sheliya tetap bertanya untuk memastikan dan semoga tebakannya salah.


" Tolong tante... Ini... Zafran kambuh dia gak mau kerumah sakit tapi dia ngotot pulang.. " Jelas Kay.


Samuel pun mengambil alih dan merangkul anaknya yang sudah kesusahan bernafas.


" Sayang kamu sakit nak... Tahan sayang kita kerumah sakit sekarang.. "


" Tolong bertahan hiks... " Sheliya memegang dada kiri Zafran yang pasti rasanya nyeri.


Semua orang disana ikut merasa sakit melihat keadaan Zafran.


" M-maaa.. " Panggil Zafran disela sela nafasnya yang tersisa.


" Iya nak ini mama... "


" T-tolong j-jangan marahi Ziyan, m-maa Ziyan g-gak sal-lah k-kok.. T-tolong sayangi Ziyan.. Jangan.. M-menyakiti perasaan nya.. Ziyan.. J-juga anak mama.. Jangan pukulin d-dia sayangi Ziyan seperti mama sayangi Z-zafran maa.. Akhh... " Sheliya mengangguk dengan luncuran airmatanya.


Ziyan mendekat dan memeluk saudaranya yang tengah sekarat.


" Aku menyayangimu hiks... Maaf soal tadi... Hiks.. Tolong jangan pergi hiks... Jangan tinggalkan aku sendiri lagi... Hiks.. Aku masih ingin bercanda bersama mu... Hiks... "


" Ssstt... Z-zafran juga sayang sama Ziyan H-hyung.. J-jangan sedih kalau nanti Z-zafran pergi y-yaa.. "


" Enggak gak boleh hiks.. Aku gak ngijinin kamu pergi hiks.. Gak boleh... Hiks.. "


Semua terharu dan sedih melihat interaksi mereka.


Tolong jangan malam ini karena semua orang masih ingin melihat kehadiran bocah tengil di esok hari dan seterusnya.


" Hugg... Huekk.... Arrgghh... "


Deg.


Semua orang terkejut melihat Zafran memuntahkan darah segar yang lumayan banyak dan sesaat kemudian Zafran pun menutup matanya semakin membuat panik.


Mereka masih ingin ada harapan dan langsung membawanya kerumah sakit.


                         ************


Dirumah sakit, Zafran langsung ditangani oleh beberapa tim dokter.


Mereka menunggu dengan perasaan khawatir yang teramat sangat.


Tak pernah berhenti mulut mulut itu merapalkan doa doa.


" Kalian pulanglah karena besok pasti kalian akan kembali kesekolah, terimakasih telah menemani Zafran sampai sini. " Ucap Samuel pada ketiga teman Zafran yang masih setia menangisi Zafran.


" Tapi kami khawatir dengan keadaannya.. " Lirih Jaywoo.


" Tenanglah kami akan menjaganya, besok setelah kembali dari sekolah kalian bisa menjenguknya, ini sudah larut malam, orangtua kalian pasti mencari kalian. " Benar juga kata Samuel, ketiganya pun pamit pulang dengan berat hati.


Samuel melirik Ziyan ingin mengatakan hal yang sama namun Ziyan lebih dulu bersuara.


" Tidak... Jangan larang aku untuk menemani saudara ku papa... Aku tidak akan pulang sebelum Zafran sadar, begitu pun sekolah, aku akan libur besok. " Samuel menghela nafas memang tidak ada orang yang bisa memisahkan mereka lagi.


Ziyan melirik ibunya yang tengah menangis seperti enggan menatap dirinya, jujur ia rindu pelukan sayang dari ibunya. Tapi sampai sekarang ibunya enggan untuk sekedar menyapa dirinya.


" Tolong selamatkan putraku yatuhaann.. Jangan ambil dia hikss... Aku masih sangat menyayangi nya... Hiks.. " Sheliya menangis dari tadi terus menangis.


Ziyan ingin menghapus airmata itu namun dia tidak punya keberanian untuk sekarang.


Tak lama kemudian dokter yang menangani Zafran keluar dan seperti biasa keluarga pasien akan mengerubungi sang dokter.


" Dokter bagaimana keadaan anakku d-dia baik baik saja kan... Tolong aku mohon tolong jangan katakan hal buruk hiks.. "


" Sheliya tenangkan dirimu kita coba dengarkan dokter dulu. " Samuel menenangi istrinya.


" Dokter bagaimana keadaan cucu saya didalam. " Kini Pak Bahar yang bersuara.


" Dengan berat hati kami harus mengatakan ini..... Kondisi nya sekarang sudah sangat parah.. Jantungnya hampir tidak lagi berfungsi, oleh karena itu pasien harus cepat mendapatkan donor jantung, kalau tidak secepatnya maka.... Hanya Tuhan yang tau. " Jelas dokter itu mampu membuat jantung mereka seakan berhenti.


" Aku akan mendonorkan jantungku. "


" Tidak sheliya kau jangan gegabah keputusan mu ini juga bisa membuat Zafran terpukul, bukan hanya dia Ziyan juga apalagi aku dan semua orang pasti tidak bisa kehilangan mu. "


" Lalu kau mau kehilangan Zafran haa... Hiks..... "


" B-bukan begitu maksudku-


" Aarrggghh...... " Sheliya berlalu dari sana sambil menangis.


" Sheliya tunggu... " Samuel pun mengejarnya.


" Kalau begitu saya permisi... Jika ingin menjenguk pasien silahkan tapi jangan terlalu ramai. " Ucap dokter itu sebelum menghilang dari sana.


" Kakek nenek biar Ziyan yang masuk duluan ya. "


Pak Bahar dan Bu Yana mengangguk memberi ruang untuk sikembar ini.


Ceklek......


Pintu terbuka menampilkan seorang remaja yang mirip dengan dirinya tengah terbaring dengan alat alat persakitan yang terpasang ditubuh itu.


Sungguh sakit melihat orang yang baru saja kemarin masih bercanda ria kini terbaring lemah tak berdaya.


Pelan pelan Ziyan mendekat dan menatap wajah itu tak lupa menitikkan airmatanya.


" Kenapa.... Hiks... Kau pembohong handal... Hmm.. Kau berhasil membohongimu kami semua... Hiks.. Kau nakal... Jangan sok kuat menanggung sendirian eoh... Masih ada aku tempatnya mu bercerita. "


" Bangunlah...hiks... Aku rindu kekonyolan mu.... Hiks... Aku sungguh tidak sanggup ditinggali dirimu lagi setelah kita terpisah bertahun tahun lamanya. "


" Semua orang telah menunggu mu jadi jangan cepat menyerah begitu saja. "


" Ya kau benar.... Kau punya peran penting bagi mereka semua jadi kau tidak patut untuk pergi.. Apalagi untuk mama... Mama sangat menyayangimu melebihi apapun... Jadi tolong berjuang lah... "


" Aku menyayangimu... Bertahanlah jika ada yang harus pergi itu aku bukan kamu. " Bisik Ziyan mendekati telinga Zafran.


Ditaman rumah sakit.


Disinilah pasangan ini berada sekarang.


" Shel-


" Diam tidak usah bicara lagi aku tidak mau mendengarmu. " Ucap Sheliya membelakangi suaminya.


Samuel kehabisan cara bagaimana lagi bisa membuat istrinya mengerti.


" Kenapa kau tidak peka... Sungguh aku juga tidak akan sanggup jika kehilangan mu lagi... Tolong pikirkan juga perasaan ku... Iya aku tau Zafran butuh pendonor tapi tidak harus kamu... Aku akan berusaha mencari pendonor yang lain... Dan kalau pun tidak ada... Aku sendiri yang akan menjadi pendonor nya bukan kamu... Aku tidak sanggup kehilangan kamu atau pun Zafran... Tolong hikss... Aku mencintaimu aku tidak sanggup jika harus kehilangan mu aku juga tidak sanggup kehilangan anakku... Biar aku saja yang pergi bukan kamu atau pun Zafran... Hiks... "


Grepp...


Sheliya memeluk suaminya begitupun Samuel membalas memeluknya erat.


" Aku juga tidak sanggup kehilangan mu hikss... " Gumam Sheliya.


" Kita akan cari pendonor nya aku yakin Zafran pasti bisa hidup lebih lama lagi. " Lirih Samuel.


Setelah itu mereka pun kembali keruangan Zafran dirawat.


Sampai disana mereka memang ingin masuk namun tertahan ketika melihat interaksi Ziyan pada Zafran yang memperlakukannya penuh kasih sayang.


Mereka terharu dan Sheliya juga ikut bersalah karena bersikap kasar pada anaknya itu yang padahal Ziyan juga tidak tau apa apa, jelas ia tidak patut disalahkan disini.


" A-aku ingin minta maaf padanya... Dia juga putraku... " Gumam Sheliya.


" Selalu ingat, anak kita itu kembar... Ziyan dan Zafran... Mereka adalah anak yang kau kandung secara bersamaan..... "


Sheliya mengangguk dan berjanji memeluk Ziyan setelah ini.


Ceklek....


Mendengar suara pintu terbuka Ziyan pun menoleh lalu menghapus airmatanya dan bangkit dari duduknya.


" M-mama... "


Grepp...


Sheliya mendekati Ziyan dan memeluk anaknya itu membuat Ziyan terkejut senang.


" Maafkan mama sayang mama telah berlaku kasar padamu... Nak.. "


Inilah yang Ziyan tunggu pelukan sayang lagi dari mamanya.


" Memang Ziyan kok yang salah maa... Maafkan Ziyan juga ma.. "


" Ssstt kamu gak salah sayang kamu itu tidak tau apa apa... " Sheliya melepas pelukan itu dan menatap putranya lekat lekat.


" Mana tadi pipi yang mama tampar sini mama cium... " Sheliya menciumi pipi Ziyan yang memerah itu sebab tamparannya membuat Ziyan sangat bahagia diperlakukan lagi seperti itu.


" Mama menyayangimu nak... Mama sangat menyayangi kalian. "


" Ziyan juga sayang sama mama. "


Mereka yang menyaksikan dari luar juga ikut terharu melihat mereka yang akhirnya baikan.


Namun sedetik kemudian perasaan itu kembali gelisah memikirkan kondisi Zafran.


" Sekarang kamu tidur yaa sudah larut malam lho.. "


" Tapi maa.. "


" Eeiitt jangan membantah... Mama ijinin kamu disini bukan berarti kamu harus melupakan istirahat mu, sekarang tidurlah disofa itu. "


" Baiklah maaa. "


     


                        *************


Pagi telah tiba.


Samuel terpaksa meninggalkan mereka dirumah sakit karena bagaimana pun juga perusahaan appanya belum cukup baik untuk ditinggalkan.


Pak Bahar dan Bu Yana telah pulang karena perintah Sheliya yang tidak ingin orang tuanya kelelahan walau awalnya pasangan tua itu menolak untuk pulang.


Kini tinggallah Ziyan sendirian diruangan Zafran karena Sheliya sedang keluar kekantin untuk membeli makanan.


Ziyan terus memandangi mata bulat yang seperti enggan terbuka itu, tangannya terulur untuk mengelus rambut kembarannya.


" Hei kenapa betah sekali kau disana hmm... Apa kamu tidak merindukan ku... Ayolah... Kumohon buka matamu... Aku rindu ingin bermain dengan mu lagi... " Lirih Ziyan.


" Aku juga belum sempat minta maaf perihal kemarin.... Tolong maafkan aku aku benar-benar tidak tau tentang fisikmu... Salah kamu sendiri sih ngapain pake ngerahasiain segala.... Hiks.. " Sungguh Ziyan tak kuat jika disuruh tidak menangis setiap melihat kondisi Zafran yang terbaring lemah dibantu alat persakitan seperti ini.


" Semua orang sayang sama kamu... Bahkan mama rela mempertaruhkan nyawanya untukmu.... Jadi tolong bertahan lah... Dan jikalau pun kau tak bisa bertahan lagi.... Tenang lah... Aku sebagai Saudara mu akan melakukan segala cara untuk membuatmu bisa bertahan... " Ziyan tersenyum setelah itu menunduk dan menangis.


" Kau hanya perlu jantung baru kan... Tenang adikku.. Kau akan segera mendapatkan nya...... " Gumam Ziyan setelahnya menunduk membiarkan airmata itu terjun dengan derasnya.


Tesss.....


Liquid bening terjatuh dari pelupuk mata, bukan itu bukan milik Ziyan tapi milik Zafran.


Setetes airmata mengalir dari mata tertutupnya membuat Ziyan bisa merasa bagaimana sakitnya saudara kembarnya ini.


" Jangan menangis... Hiks... Aku juga merasakan rasa sakitmu.... Hiks... Tenang lah.... Kau akan segera pulih... Hiks.. " Ziyan memeluk Zafran dengan pelan takut alat alat itu terlepas.


Ceklek.....


Pintu terbuka, reflek membuat Ziyan kembali ke posisi nya dan menghapus air mata nya.


" Maaf mengejutkan mu... " Ucap Chun yo sambil mendekati Ziyan sebelum menaruh beberapa kantong berisi makanan disofa.


" Ouh paman... "


" Bagaimana keadaannya... " Ziyan menggeleng lemah dan Chun yo menepuk pelan bahu anak sahabatnya ini.


Ia sudah tau tentang kondisi Zafran karena Samuel telah memberitahunya saat dia kekantor Samuel tadi.


Chun yo memang bekerja dirumah sakit namun dia bukan sebagai dokter ahli jantung.


" Tenang lah nak... Paman akan membantu mencarikan donor jantung untuknya.. "


" Tapi Zafran harus cepat mendapatkan nya...." Chun yo hanya mampu menghela nafas mendengar penuturan Ziyan.


" Hiks.... Aku tidak mau kehilangan dirinya hiks... "


Chun yo memeluk Ziyan dirinya juga ikut menangis.


" Kuatlah... Tolong jangan rapuh seperti ini... Zafran butuh semangat dari kalian dia juga tidak senang melihat kalian menangis seperti ini. " Hanya itu yang bisa Chun yo katakan untuk menyalurkan semangat.


" Ohya mamamu mana. " Tanya Chun yo sambil melepaskan pelukan mereka.


" Tadi katanya ke kantin mau beli makanan. "


" Tapi paman sudah membawakan makanan untuk kalian... "


Ceklek....


Suara pintu terbuka lagi dan itu adalah Sheliya yang kembali dari kantin menenteng kantong makanan.


" Eih Chun yo kapan datangnya. " Tanya Sheliya menaruh kantong itu terlebih dahulu disofa lalu mendekati mereka.


" Baru saja, ohya aku juga membawa kalian makanan maaf baru bisa datang hari ini. "


" Tidak apa apa. Dan Terima kasih untuk makanannya... Ohya Ziyan ayo kamu makan dulu. "


" Iya maa. " Percuma Ziyan menggeleng toh kasian juga melihat mamanya yang sudah bersedia membelikan nya makanan dan paman Chun yo juga.


" Mau sarapan??.." Tawar Sheliya pada Chun yo.


" Ah aku baru saja sarapan tadi dirumah, kalian makanlah biar aku yang jaga Zafran. "


" Apa paman tidak punya pasien.. "


" Tenang.... Nanti jika ada pasti akan dikabarin. " Ucap Chun yo tenang.


" Baiklah... " Jawab Ziyan.


Namun ketika hendak beranjak ke sofa netranya berhenti ketika menangkap jari tangan Zafran yang bergerak gerak.


Reflek ia memanggil Chun yo dan Sheliya yang memang berada didekatnya.


Tiga orang itu menunggu dengan sabar memandangi mata bulat itu mengerjap lucu.


Sheliya kembali menangis dan untuk sekarang tangis nya karena bahagia mendapati Zafran yang siuman.


Mata bulat itu berhasil terbuka menetralkan cahaya yang dilihatnya.


" Kamu sadar sayang. " Ucap Sheliya mengelus rambut Zafran.


Zafran melirikkan bola matanya memandangi sang ibu yang sedang menangisinya.


" Apa ada yang sakit... " Tanya Ziyan.


" Kerjapkan matamu dua kali jika merasa sakit. " Chun yo sebagai dokter mengerti jika orang yang baru sadar pasti tidak mampu untuk sekedar menggerakkan mulutnya apalagi banyak alat medis yang menghalangi.


Zafran mengerjap sekali saja karena walau sakit ia tidak akan mengatakannya sebab tidak ingin membuat mereka khawatir.


" Syukurlah.... Mama sangat merindukan mu nak.. Akhirnya kamu mau membuka mata... "


" Zafran aku senang, aku sangat senang melihatmu siuman.. " Ucap Ziyan dan Zafran hanya mampu membalas dengan jawaban yang sama didalam hati.


" Biar kupanggil kan dokter karena Zafran harus diperiksa dulu. " Ucap Chun yo dan mereka hanya mengiyakan.


Setelah menekan bel, beberapa detik kemudian dokter pun masuk ke ruangan Zafran dan memeriksanya.


Zafran meminta dilepaskan cassal canula lewat isyarat tangannya pada dokter.


Dan berhubung kondisinya bisa dikatakan sedikit baik dokter pun melepaskan alat itu.


Setelah menjelaskan keadaan Zafran pada keluarga pasien dokter itupun kembali melakukan kegiatannya yang lain.


" Apa kamu merasa lebih baik sekarang sayang.. "


Zafran mengangguk pelan dan menyunggingkan senyumnya.


" Tidak usah tersenyum kau masih sakit dan ingat kau telah membohongi kami semua. " Ucap Ziyan.


" M-maaff.. " Gumam Zafran.


" Aku khawatir tau aku juga minta maaf soal kemarin hiks... " Ziyan tak tahan dan langsung memeluk saudaranya.


" J-jangan nangis nanti kau jelek. "


" Biarin. "


Dua orang dewasa itu terkekeh melihat interaksi mereka.


" Beri waktu mereka untuk saling tukar cerita selagi itu kamu bisa makan dan nanti gantian kamu yang jaga dan Ziyan yang makan. " Ucap Chun yo.


Sheliya mengangguk dan memang urusan perut tidak bisa dibohongi.


                         ************