Handsome Twins

Handsome Twins
bab 44 Kembali ke Korea..??



Siang ini Zafran telah bersiap untuk menjemput Ziyan kesekolah dengan sepeda.


Untung sepeda nya sudah diperbaiki oleh kakek jadi dia bisa memakainya kembali.


Zafran datang sebelum Ziyan pulang jadilah ia menunggu di depan gerbang.


Sembari menunggu Ziyan pulang beralih dulu ditempatnya Samuel.


Ia baru saja menerima telpon dari sahabatnya dinegeri sebrang.


Awalnya mereka saling bercengkrama namun saat akan menutup panggilan, Chun yo mengatakan sesuatu hal yang membuat samuel pusing sekarang.


Ia memijit pelipisnya dan memutar otak untuk bisa berfikir.


" Apa yang harus aku lakukan. " Gumam Samuel namun dapat didengar oleh Sheliya yang baru datang karena ia sedang berada dirumah saat ini.


" Apanya yang akan kau lakukan. " Tanya Sheliya sambil menghidangkan teh untuk suaminya lalu duduk disampingnya.


Menyadari kedatangan Sheliya, ia pun bersikap setenang mungkin. Ia tidak ingin membuat Sheliya ikut pusing tapi hal ini harus dikatakan pada istrinya juga bahkan pada semuanya nanti.


" Eeee.... Beginii... " Samuel masih ragu untuk mengatakannya hingga Sheliya menggenggam tangan suaminya itu.


Samuel tersenyum menghela nafas terlebih dahulu lalu menyampaikan maksudnya.


" Tadi Chun yo menelphon katanya dia dan Mina rindu pada kita. "


" Benarkah...aku juga merindukan anak gadis ituu.. Dia gadis yang sopan. " Sheliya tersenyum membayangkan gadis itu.


" Iya tidak hanya itu tapi... Tapi dia juga sempat mengatakan maksud lain. "


Sheliya terdiam sejenak lalu Samuel melanjutkan kalimatnya.


" Dia bilang.... Aku.. Eee... Waktu itu Chun yo pernah mengunjungi appa ku dia bilang Appa sempat sakit dan menanyakan diriku... Tidak hanya itu.. Perusahaan appa juga terancam jika aku tidak cepat menanganinya.. "


" Tapi tenang saja aku tidak akan peduli aku akan tetap disini bersama mu. " Lanjut Samuel namun Sheliya menggeleng pelan.


" Perusahaan itu adalah hasil jerih payah appamu untuk dirimu, bertahun-tahun beliau mandi keringat mempertahankan perusahaan itu demi menghidupi mu... Dan disaat perusahaan itu terancam apakah dengan semudah itu kau melepaskan nya... " Jelas Sheliya lembut.


" Ini bukan soal harta tapi ini soal perjuangan.... Appamu merintih dari nol sampai sukses untuk anaknya.. Jadi sudah seharusnya kau juga tetap mempertahankan hasil jerih payah appamu.. " Lanjut Sheliya.


Dalam hati Samuel mengiyakan ucapan bijak istrinya.


" Lagipula jika kau yang menggantikan posisi appamu kau bisa mengubah perusahaan yang dulunya terkenal dengan pimpinan kejam sekarang berubah menjadi dibawah pimpinan yang dermawan. "


" Pikirkan itu baik baik.. " Lanjut Sheliya.


" Aku tidak gila harta tapi ini mengenai impian appamu yang telah dibangun dengan susah payah. " Tambah Sheliya menghangatkan hati sang suami.


Samuel tersenyum membalas genggaman tangan Sheliya.


" Tapi aku tidak bisa meninggalkan mu lagi... " Lirih Samuel.


" Kenapa kau tidak membawa kami sekalian dan kita akan hidup disana, dengan senang hati aku akan ikut kemana pun kau pergi. " Sekali lagi Sheliya membuat Samuel terharu.


" Kita berempat akan pergi kesana. " Lanjut Sheliya.


" Bukan empat tapi enam. " Balas Samuel.


" M-maksudmu... "


" Kita akan mengajak ibu dan ayah juga hmmm... "


" Tapi-


" Sssttt kita akan memulai hidup baru disana dan kita akan memberikan kehidupan yang mewah untuk orang tua sebaik mertuaku itu. " Sheliya tersenyum mendengar penuturan suaminya


" Lalu apa kau punya uang untuk membiayai kita semuaa.. " Tanya Sheliya.


" Tenanglah tidak usah khawatir Chun yo sudah menyiapkan semuanya disaat aku memutuskan untuk berangkat nantii.. "


" Temanmu itu sangat baik.. "


" Kita akan membalas budinya ketika sampai disana nanti... "


" Lalu bagaimana orangtuaku jika pergi kesana mereka pasti tidak mengerti dengan orang orang sekitar... " Tanya Sheliya lagi.


" Hadeeuhh... Istriku yang cerewet inii.. Orang tuamu akan duduk santai disana dan kalau mereka mau kita bisa menyewa les belajar bahasa disana. " Jelas Samuel tidak terbeban sama sekali.


" Tap-


" Ssstttt... Kamu hanya perlu duduk manis istri ku yang cantiiikk. "


" Kita akan menyampaikan hal ini nanti malam oke.. " Lanjut Samuel.


" Baiklah semoga mereka mau ikut kita kesana. "


SEPERTINYA mereka akan kembali lagi ke negeri Korea... Siapa yang setuju...!!!!.


Ziyan keluar dari sekolah karena sudah waktunya pulang, ia menghampiri Zafran yang telah menunggunya dari tadi.


" Lama menunggu ojekku.. "


" Ojek pantatmu ayo cepat naik aku sudah kering menunggumu... "


" Aiiss adikku marah marah... " Ziyan menaiki kursi penumpang dan Zafran mulai mengayuh sepeda.


" Gimana belajarnya. " Tanya Zafran terus mengayuh sepeda.


" Baik tidak ada kendala.. Tapi satu pelajaran yang membuat ku pusing hari ini yaitu fisika... Coba pikirkan benda jatuh saja sampai harus dihitung... Aku lebih suka matematika dari pelajaran itu.. " Adu Ziyan.


" Ahaha aku tidak suka keduanya.."


" Lalu pelajaran apa yang kau sukai. "


" Eummm pelajaran hari minggu... Yaituuu libuurrrr ahahaha.. " Jawab Zafran yang memang tidak diragukan lagi.


Ziyan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar penuturan kembaran nya.


" Belajar itu penting untuk masa depan tau.. "


" Belajar apanya.. Presiden sudah ada orang lain, gubernur ada orang lain, guru ada orang lain.. SEMUANYA sudah ada orang lain.. "


" Hanya orang bodoh yang berkata seperti itu.... Dengar.... Memang semua itu sudah ada orang lain tapi kau tidak akan tau kedepannya seperti apa, presiden itu nantinya juga punya masa pemberhentian... Begitu juga gubernur dan para guru yang pensiun dan orang orang berpangkat lainnya... Jadi kita belajar ini tidak ada yang namanya sia sia, siapa tau dengan ilmu yang kita miliki kita bisa menggantikan mereka.. Kalaupun tidak berpangkat seperti mereka setidaknya kita punya pekerjaan yang layak sesuai dengan ilmu yang kita pelajari... Jadi jangan remehkan belajar karena dengan belajar kita bisa mengejar impian... Setinggi apapun impianmu tanpa belajar impianmu hanya akan sia sia... Perlu perjuangan untuk mencapai suatu hal.. " Jelas Ziyan panjang lebar. Seandainya Zafran tidak mengayuh sepeda tentu dirinya sudah tidur dari tadi.


" Hmm iya guru... Tapi kau tau aku itu tidak punya impian.. Hehe.. "


" Aiiss kau ini, hidup tanpa impian itu bagaikan berjalan tanpa arah... Semua orang yang hidup pasti punya alasan masing-masing. "


" Tapi aku tidak punya alasan.. "


" Aiss Zafran mau ku tendang kau haaaa... "


" Hehehe.... "


" Impian ku hanya bersatu dengan keluarga ku itu saja sudah cukup dan sekarang impian ku itu telah tercapai dan pasti dengan kondisi lemah seperti ini aku yakin tidak akan bertahan lama... Aku pasti bisa pergi kapan saja.. Jadi kalian jangan lah terkejut jika suatu saat nanti tiba-tiba aku pergi.. Keluarga ku.. " Batin Zafran merenungi nasibnya.


" Zafran aku haus kita beli minum sebentar bagaimana. "


" Ide yang bagus aku juga haus ayo kita ke warung. "


Zafran melajukan sepeda dan sampai lah diwarung yang mereka maksud.


Zafran menunggu di sepeda sedangkan Ziyan membeli minum diwarung yang jaraknya hanya beberapa langkah.


" Panas banget sih... Ah mendingan duduk dibawah pohon itu aja. " Zafran memarkirkan sepeda disitu, lalu berjalan kearah pohon besar yang jaraknya lumayan bikin teriak kalo ngomong dari warung.


Ia bersandar dibawah pohon itu menikmati semilir angin yang menimpa wajahnya.


Tapi disaat menikmati sejuknya alam tiba-tiba tiga orang remaja mendekati nya dengan wajah bengis.


Tanpa aba aba tiga remaja itu langsung menghajar Zafran yang hampir terlelap itu.


Bugh...


Brughh...


" Arrghh.. " Zafran meringis mendapati pukulan diwajah dan di perutnya.


" Ouuhh kalian rupanya.. Dendam yaa.. Ahaha... " Zafran menertawai orang yang pernah ia hajar disekolah waktu itu.


" Karena lo kita itu dikeluarin dari sekolah brengsek.. " Geram Ezza.


" Bagus dong.. Haha yang sabar yaa. " Ledek Zafran memanasi mereka.


" Kurang ajar lo pegang dia.. "


Farel dan Vero memegang Zafran lalu Ezza memulai penyerangan.


Zafran dipukuli membabi buta diwajah, kepala, dan perutnya berkali kali.


Dan disaat yang tepat Zafran pun melawan sekuat tenaga melepaskan dirinya dari mereka lalu membalas menghajar mereka.


Brughh..


Bugh..


Bugh..


" Mainnya keroyokan dasar cemen. " Zafran sempoyongan juga dan memegang pohon itu sebagai senderan.


" Kurang ajar. " Baru hendak mengeluarkan jurus, Ezza melihat beberapa orang mendekati mereka dan di sana ada Ziyan juga.


Jadilah mereka bertiga kabur dan orang orang itupun mendekati Zafran yang sempoyongan.


" Zafran kamu tidak apa apa maaf tadi aku ke toilet pemilik warung sebentar dan saat aku kembali aku melihatmu sedang dikeroyok dan aku meminta bantuan mereka untuk mengusir orang-orang itu, maafkan aku aku tidak bisa menjaga mu... " Ziyan menyesal dan memeluk Zafran.


" Aku tidak apa apa a-ayo ki-kita pulang s-saja... "


" Iya... Terimakasih ya bapak bapak semuanya.. "


" Iya sama-sama kalau begitu kami permisi sebaiknya cepat bawa pulang saudaramu dan obati dia. " Lalu bapak bapak itupun pergi.


Sikembar pun pulang tak lupa membawa minuman yang dibeli tadi, sekarang gantian Ziyan yang membonceng Zafran karena kondisi Zafran yang tidak memungkinkan kalau dia yang mengendarai sepeda.


" Bertahanlah Zafran kita akan cepat sampai dirumah tolong bertahan.. "


Akhirnya mereka sampai juga dirumah.


Ziyan memapah Zafran sampai kedalam.


Dan betapa terkejutnya penghuni rumah mendapati Zafran dengan kondisi seperti itu.


Zafran diduduki disofa dan semua orang menghampiri dengan wajah panik.


" Ada apa ini kenapa Zafran sampai berantakan seperti ini. " Tanya Sheliya mewakili semua orang.


" Maafkan Ziyan... Maa.. Ziyan terlambat menolong Zafran... Dia dikeroyok maa.. Hiks..... " Ziyan menangis bukan takut dimarahi tapi karena rasa bersalahnya.


" Iya sayang tapi ada apa... Kenapa sampai dikeroyok.. " Kini Samuel yang bertanya.


Kondisi Zafran memang patut dikhawatirkan karena lembam menghiasi wajahnya serta darah yang mengalir dari mulutnya.


" Kita kerumah sakit ya. " Usul Pak Bahar.


" Tidak.. T-tidak usah... " Elak Zafran cepat.


" Tapi nak... "


" Nenek... Aku b-baik baik saja... Obati saja d-dirumah yaa. "


" Sayang kenapa kamu selalu seperti ini haaa... Kenapa selalu terluka seperti ini... Hiks.. Sudah cukup mama melihat banyak lukamu disana... Jangan tambah disini lagi... Kenapa wajah dan tubuh mu selalu dihiasi lembam... Hiks... Sudah cukup mama mengobati lukamu disana jangan disini lagi hiks... Hiks.... " Sheliya menangis kembali mengingat saat saat Zafran membawa luka seperti ini.


Ziyan pun semakin merasa bersalah dirinya tambah menangis.


" Maa.. J-jangan menangis... A-ku baik maaa.. Akhh.. "


" Ziyan ambillah kotak obat dikamar kakek dan bawa kain lap serta baskom air kesini nak. " Ziyan mematuhi perintah kakeknya bergegas melakukan hal tersebut.


" Sekarang lepas bajumu, pasti badanmu itu juga ikut dipukul kan. " Samuel membantu melepaskan kaos biru milik Zafran menampilkan kulit putih yang sudah dihiasi memar.


Semua terkejut dan sedih melihat hal itu pasti Zafran sangat kesakitan saat dikeroyok oleh para orang kurang ajar itu.


" Akhh.. S-sakit maa. "


" Iya sayang mama obati yaa. "


Ziyan kembali kesana membawa peralatan yang diperintahkan kakeknya.


Sheliya mulai mengobati luka Zafran membuat sang empu meringis dan orang yang menyaksikan itu ikut merasa iba.


Makan siang hari ini sempat tertunda karena insiden yang dialami salah satu putra Sheliya.


" Keputusan ku memang sudah tepat untuk membawa mereka pergi dan semoga saja mereka tidak menolaknya.. " Batin Samuel lalu merangkul Ziyan yang daritadi menangis.


                        *************


Malam harinya.


Keluarga sederhana itu tengah berkumpul diruang tamu setelah makan malam.


Zafran juga ikut awalnya ia di suruh istirahat namun ia menolaknya jadilah ia disini sekarang duduk bersama Ziyan.


Samuel telah menyampaikan maksudnya yang tadi siang dibantu Sheliya dengan hati hati.


" Apakah kalian yakin. " Tanya Pak Bahar setelah mendengar penyampaian mereka.


" Yakin ayah..... Samuel hanya perlu anggukan ayah dan ibu sekarang... Apakah kalian setuju untuk ikut bersama kami disana... Kita akan tinggal disana... " Jelas Samuel hati hati.


Pak Bahar tidak langsung mengangguk ia melirik istrinya terlebih dahulu.


" Lalu bagaimana dengan kebun kamiii... Kalau kami pergi siapa yang merawatnya.. " Ucap Bu Yana kembali membuat Pak Bahar berpikir.


Mereka semua saling memandang, jujur Pak Bahar memang tidak keberatan namun mana mungkin ia membiarkan kebun yang sudah susah payah dirawat dibiarkan begitu saja.


" Ah bagaimana kalau kebun itu kita serahkan saja pada Pak Arman.. Karena kita akan hidup disana dan itu juga sebagai balas budi karena mereka telah merawat Ziyan. " Usul Sheliya.


Pak Bahar tersenyum dan mengangguk membuat Samuel senang.


" Ide yang bagus... Baiklah ibu dan ayah akan ikut bersama kalian... " Sheliya dan Samuel senang mendengar penuturan ayahnya.


" Ibu juga ingin melihat kotanya Samuel... Pasti indah.. "


" Iya buuu... " Sheliya memeluk ibunya.


" Ziyan bagaimana kalau dengan mu. " Tanya Samuel beralih menatap salah satu putranya.


" Eeumm kalau kakek dan nenek setuju akupun setujuu.. " Jawab Ziyan semangat.


" Hahah... Kamu Zafran tidak usah ditanya lagi kan sudah pasti kamu setuju.. "


" Aiss tentu pa sudah lama aku berjanji pada sahabatku untuk berkumpul dan minum soju tapi tak kesampaian jadi sampai disana nan-... Eeee hehe.. " Zafran keceplosan membuat Samuel melototinya.


" Awas kau Kim jika mencoba hal itu... Hmmm.. " Ucap Samuel.


" Tidak pa tidak jadii.. " Lirih Zafran.


" Memangnya soju itu apa. " Tanya Ziyan polos.


" Ahh tidak apa apa adik mu ini memang nakal. " Sahut Sheliya menyudahi perkara itu.


" Oh ya pa, ma besok aku pamitan ya sama ibu dan ayah.. " Ujar Ziyan dan langsung diangguki kedua orangtuanya.


" Jadi kapan kita berangkat pa. " Tanya Zafran mewakili semuanya.


" Papa akan memberitahu sahabat papa dan nanti kita atur jadwal perginya. " Jawab Samuel.


" Huss kotakuuu... Tunggulah akuuu aku akan kembali.. Haha.. " Batin Zafran.


Samuel dan Sheliya saling melempar senyum karena membujuk mereka tidak ada susahnya.


Samuel berjanji sampai di sana ia akan membahagiakan keluarga kecilnya.


                       *************