
Pagi hari menyinari desa tempat tinggal Ziyan suara kokok ayam bersahutan hingga remaja bergigi kelinci itu terbangun seketika.
Memang ini sudah jadwal dirinya untuk bangun langsung saja ia bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian ia selesai dan memakai seragam sekolah nya lalu keluar menuju meja makan yang telah ditunggu orang tuanya disana.
Menarik kursi disamping Ayahnya lalu duduk menunggu hidangan dari ibunya.
" Kau memang anak teladan sampai pagi pun kau tidak usah dibangunkan lagi hmm.. " Ucap Raina sambil menaruh nasi di piring anak dan suaminya.
" Tentu bu alarm suara kokok ayam milik ayah itu sangat manjur. " Balas nya sambil menyuap nasi ke mulutnya sendiri.
Mendengar itu Raina dan Arman terkekeh tentu saja karena mereka juga terbangun sebab suara kokok ayam milik Arman.
" Baguslah kau bisa terbangun tidak tidur seperti kerbau lagi. " Ucap Arman menggoda Ziyan.
" Aaaaa ayah muemangnya kapuan akhu seperti itu. " Balas Ziyan tak terima dengan mulut penuh makanan.
Melihat itu Raina dan Arman sangat gemas pipinya sudah tembem apalagi saat penuh makanan seperti itu.
" Hei habiskan dulu makanan di mulut mu lihatlah pipimu itu hahaa.. " Tawa Raina sekaligus gemas dengan anaknya.
" Yap lagian ayah menuduhku. " Bela Ziyan.
Arman tersenyum ternyata anak dari murid menyebalkannya itu sangatlah menggemaskan.
Beda sekali watak anak angkatnya ini dengan ibu kandungnya, apa ini karena didikan mereka yang berhasil membuat Ziyan menjadi anak yang penurut dan baik hati.
" Baiklah terserah kalian tapi habiskan dulu makanan nya. " Final Raina.
**************
Pagi hari juga di kota Seoul Korea Selatan.
Di mension megah Pak Kim.
Meja makan yang besar kini hanya diisi oleh satu orang saja yakni Pak Kim Jongsuk sendiri.
Waktu telah lewat dari biasanya tapi Zafran belum juga turun.
" Kemana anak nakal itu biasanya dia sudah disini. " Bukan khawatir tapi entahlah yang jelas Pak Kim menanyai keberadaan cucunya.
Hingga suara langkah kaki dari tangga terdengar menampilkan Zafran masih dengan rambut acak acakan serta pakaian tidurnya.
Padahal hari ini bukan hari libur tapi Zafran seakan tidak berniat kesekolah.
Langkah kaki remaja itupun menuju meja makan menarik kursi dan mendudukinya.
Pak Kim yang melihat cucunya hari ini merasa aneh biasanya dia paling suka pergi ke sekolah karena bisa mengganggu orang tapi hari ini berbeda.
Tanpa melihat kakeknya Zafran dengan santai melahap roti selai coklat itu dengan khidmat.
Hingga Pak Kim yang tak suka diabaikan menegurnya.
" Kau kenapa belum bersiap apa kau mau bolos hari ini. " Selidik Pak Kim.
" Heum seperti yang kau lihat hari ini aku tidak enak badan jadi aku memutuskan untuk bolos. " Jawabnya santai.
Bohong tak sedikit pun terlihat aura orang sakit pada Zafran.
" Benarkah tapi aku melihatmu baik baik sajaaa... " Ucap Pak Kim tak percaya.
" Ya karena kau menilai orang dari luarnya saja ya memang sih aku tidak terlalu sakit hanya saja malas hari ini apalagi semalam aku kecapean. " Jelasnya terbuka pada kakeknya.
" Dari mana kau semalam. " Pak Kim mulai kepo dengan cucunya bukan berarti dia perhatian.
" Dinner lah refresing diri juga karena selalu merasa terbeban dirumah sendiri. " Ucap nya menyindir.
" Lalu kau pikir aku mengizinkan mu untuk membolos. "
" Aku tidak peduli. " Jawabnya santai sambil minum susu.
Merasa tidak senang dengan jawaban dari cucunya, Pak Kim pun berniat menarik Zafran memberinya hukuman namun Zafran lebih awal bangkit dan berlari ke kamarnya meninggalkan Pak Kim dengan wajah memerah.
" KIM ZAFRAAAAAANNNN...... AWAS KAUUU.... " Marahnya sambil mengelus dada melihat kelakuan cucunya yang tak takut sama sekali.
Sheliya atau dengan nama samaran cha eunsang tertawa pelan di balik dinding melihat kelakuan putranya dan membuat kakeknya itu marah namun ia juga khawatir kalau nantinya Zafran kena hukuman juga.
Tapi untuk sekarang mungkin tidak karena terlihat Pak Kim langsung pergi menuju ke kantornya tanpa memperpanjang lagi urusannya dengan Zafran.
Syukurlah berarti Zafran aman sekarang.
Beralih di kamarnya Zafran.
Niatnya ingin melanjutkan tidur namun deringan telpon menunda aktivitas yang akan dilakukannya.
( berbicara di dalam telpon)
" Ya hal................ "
" Hei kau taik kenapa belum sampai juga jam pertama sedang berlangsung ini apa kau mau membolos, lalu kenapa tidak ada kabar. " Potong orang diseberang sana siapa lagi kalau bukan Eunseo yang menelpon.
" Ya ak..................... "
" Kenapa hmm.... Ayolah cepat datang sebelum kau diberi hukuman oleh si kepala botak itu. " Giliran Jaywoo yang bersuara merebut handphone milik Eunseo.
" Huh aku tidak datang ke sekolah. " Jawab Zafran berhasil karena daritadi kalimat nya terpotong.
" Kenapa. " Tanya Kay mendekatkan mulutnya ke handphone yang digenggam Jaywoo.
" Aku yah hanya sedikit tidak enak badan. " Ucap Zafran meyakinkan mereka.
" Kenapa apa karena semalam, memang nya apa yang mereka lakukan padamu kau baik baik saja kan. " Tanya Jaywoo khawatir.
" Tidak ada hanya saja aku sendiri yang tidak enak badan. " Jawab nya.
" Jadi kau tidak akan kesekolah. " Tanya Eunseo memastikan.
" Eeeee... Tidak. " Jawab Zafran pasti karena percuma kalau ke sekolah jam segini yang ada dia bakal dapat hukuman dan akan berakhir di ruang UKS.
" Yap padahal kami ingin mewawancarai mu apa saja kegiatan mu semalam bersama para kakel songong itu. " Ucap Kay sedikit kecewa.
Mendengar itu Zafran terkekeh sudah menduga kalau teman-temannya akan menginterogasi nya
" Tenang lah masih ada waktu besok. "
" Lalu kenapa kalian dengan beraninya menelpon ku saat di dalam kelas apa kalian tidak takut di amuk, Aiss aku lupa kalian kan setan tak takut apapun hahaha. " Lanjut Zafran.
" Hei kau juga sama setan bahkan lebih setan dari pada kami. " Elak Kay tak terima.
" Yaaahh sebenarnya belum ada guru yang masuk sih makanya kami menelpon mu. " Eunseo merebut ponselnya kembali.
" Eummm... Begitu eh tapi tumben hari ini gak ngomong gue elo lagi kenapa lo pada kok jadi sosweet gini aihh gue terharu " Zafran mencoba menggoda mereka.
" Aisss dasar otak miring lama lama gue jadi ngeri juga temenan ama lo. " Kesal Jaywoo.
" Baru juga di omongin kembali lagi kan gue elo nyee. "
" Dahlah kita mau belajar dulu bye benerin dulu otak lo yang aneh aneh dah ye. "
" Y-yy................ "
Ttuutttt ttutt......
Telpon berakhir diakhiri satu pihak siapa lagi kalau bukan ulah Jaywoo yang kesal sama pikiran miring sahabat nya ini.
Dengan berakhir nya panggilan Zafran melempar lembut ponselnya sembarang dan merebahkan tubuh nya di kasur king size nya.
" Bosan juga ya dirumah. " Gumamnya.
" Mau ngemanja ama bibi eh dianya juga hampir sebelas duabelas ama kakek gue, sebenarnya kenapa sih ada masalah apasih baru juga kemarin dia perhatian ngobatin gue eh setelah itu dia kembali datar dan cuek lagiii.... "
" Apa gue nakal ya tapi kalo dipikir pikir gue gak nakal nakal amat cuma ngebully ama masuk ruang bk puluhan kali doang, gak terlalu buruk kan daripada sikap kakek gue yang bengis itu tapi kenapa kamu berubah bibi. "
" Benci karena ada sebab itu bisa dimaklumi tapi kalo benci tanpa alasan itu gak masuk akal. "
" Apa itu karena kakek gue lagi ya.... Ah sialan ngebacot aja gue daritadi mending lanjut sarapan deh kan tadi sempat tertunda karena si tua itu. "
Zafran beranjak menuju ke meja makan sampai disana ia dipertemukan dengan orang yang ada dipikirannya tadi sedang mengemasi sisa sisa makanan di meja makan.
Ingin sekali ia mendekati bermanja seperti dulu beberapa hari yang lalu sebelum insiden kedataran bibinya yang tiba tiba.
Pada siapa lagi ia harus bermanja kalau bukan pada bibinya yang sudah dianggap ibunya ya walaupun itu fakta sebenarnya hanya saja ia belum menyadari nya.
Sheliya atau Cha eunsang itu yang menyadari kehadiran putranya perlahan aktivitas nya terhenti ikut menatap putranya sendu, dan seketika liquid bening itu ingin terjun langsung saja ia membuang muka mencoba tak menatap Zafran.
Sungguh sakit melihat hal itu namun ia tahan berusaha bersikap seperti biasa.
Perlahan ia mendekati meja makan menarik kursi disamping Sheliya berdiri.
" T-tolong sisakan sarapan nya untuk ku aku belum sempat menambah nya tadi. " Katanya canggung.
" Hmm baiklah. " Jawab Sheliya datar lalu menaruh roti dihadapan Zafran karena hanya itu yang tersisa karena memang sarapan disana biasanya roti dengan berbagai macam selai serta susu, beda cerita lagi menu makan kalau siang dan malam.
Zafran yang tidak ingin makan roti lagi dengan ragu mengatakan pada Sheliya kalau ia ingin makan yang lain.
" E-ee bi apa ada yang lain seperti nya aku ingin bubur karena kau tau sendiri kan nafsu makan ku banyak tidak cukup dengan roti saja walaupun ini masih pagi namun perutku tidak peduli apakah itu pagi atau malam dan siang kah yang penting makan sampai kenyang. " Tanpa di sadari Zafran tiba tiba cerewet seperti ini hingga lengkung bibir Sheliya tertarik ke atas mendengarkan ocehan dari mulut tipis anaknya.
Zafran yang menyadari itu hanya bisa tersenyum kikuk.
" Apa aku bisa makan bubur??" Tanya Zafran hati hati karena tau Sheliya sekarang berbeda.
" Tapi aku tidak membuat bubur pagi ini. " Jawab Sheliya berusaha secuek mungkin.
" Eee... B-bisa kau buatkan??? " Tanyanya sekaligus permintaan dengan hati hati.
Siapa yang tidak ingin memenuhi permintaan si kelinci ini hey bahkan Sheliya dengan senang hati melakukannya namun ia harus tetap terlihat seperti perintah Pak Kim walaupun beliau tidak ada disini tapi yang namanya Pak Kim tak kan melepas begitu saja pasti ada mata mata.
" Ttapp-................ "
" Aku hanya meminta dibuat kan bubur tidak meminta kasih sayang lagi pula aku tau jawaban mu jika meminta hal itu. " Potong Zafran kesal namun menahan amarah kesedihannya.
" Baiklah tunggu. " Ucap Sheliya dan bergegas darisana menyeka air mata yang hampir saja meluruhkan jiwanya.
Bukan maksud Zafran manja atau apalah itu alasan nya belum kenyang hanya saja ia ingin Sheliya lebih memerhatikannya setidaknya walaupun dengan cara seperti ini.
" Maaf membuat dirimu kelelahan tapi setidaknya kau punya waktu untuk ku. " Gumamnya.
***************
Beralih ke Ziyan yang masih disekolah nya hanya saja sekarang sedang waktunya istirahat.
Sama sekali Ziyan tak bergairah pergi ke kantin bukan berarti ia tak mau makan tapi karena ia sudah membawa bekal percuma juga ke kantin toh ia akan di sambut tidak baik oleh beberapa siswa di sana apalagi kalau ketemu para pembully.
Dengan semangat ia membuka kotak makanan dan matanya langsung berbinar kala melihat penampakan di dalam sana.
Sungguh ini adalah sajian kesukaannya terimakasih ibu.
Namun keberuntungan memang selalu jarang padanya, baru menyendok makanan hendak memasuki kemulutnya tiba tiba kotak makanan dari sang ibu tercinta dilempar oleh seseorang hingga isinya jatuh berceceran.
Sendok yang ia pegangi dijatuhi perlahan matanya memanas dengan menatap datar makanan yang berceceran itu.
Sungguh ingin sekali menonjok orang itu namun ia tidak sanggup karena mereka itu banyak pasti ia akan kalah juga.
Seketika suara tawa menggelegar menatap remeh pada Ziyan.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ezza dan teman-temannya.
" Hei apa kabar sudah lama juga kami tidak membulli mu. " Ucap Vero.
" Rindu juga ya." Sambung Farel.
" Yaudah sikat aja ni orang nya udah didepan.... " Senyum smirk Ezza pada Ziyan.
Namun Ziyan hanya berdiam di tempat pasrah dengan apa yang akan mereka lakukan.
Vero dan Farel pun menarik paksa Ziyan ke toilet, Ezza selaku bos mengikuti dari belakang lalu Ziyan seperti yang dikatakan diatas.
BRAAKK
Ezza mendorong keras tubuh Ziyan hingga menghantam dinding dan terdengar ringisan dari mulut tipisnya.
" K-kau mau apa kenapa kau terus membulli ku haa, kemiskinan ku tidak membuat dirimu rugikan. " Kali ini Ziyan dengan berani membuka suara.
Ketiga pembulli itu tersenyum jahat dan terus menatap Ziyan dengan tatapan remeh.
" Memang benar tapi itu bukan alasan kuat diriku membulli mu. " Sorot tajam mata Ezza terpancar.
" Kau, kau merebut semua perhatian guru kau selalu dipandang tinggi oleh semua guru dan aku selalu dibandingkan dengan dirimu. " Lanjut nya marah.
" Seakan akan dirimulah yang paling sempurna dikelas dan kau tau kepintaran mu itu membuat diriku dipandang rendah oleh anak anak yang lain. " Kesal Ezza sambil mencengkram kerah baju Ziyan.
" Aku tidak bermaksud membuat dirimu seperti itu, hanya saja itu perbedaan kepintaran kita. " Ucap Ziyan tenang namun seolah olah terdengar ledekan pada Ezza.
Untung Ziyan yang ngomong coba kalo Zafran pasti bilang " Lo nya aja yang bego. " 🤭
" Berani sekali kau. "
Bugh
Tepat setelah mengatakan itu Ezza melayang kan bogemannya tepat di wajah Ziyan mengenai sudut bibirnya.
Ziyan yang tak bisa mengimbangi tubuhnya ia pun tersungkur ke lantai memegangi sudut bibir nya yang mengeluarkan sedikit cairan merah.
" Bangun kau. " Ezza dengan paksa menarik Ziyan di rambutnya hingga dengan kesakitan Ziyan terbangun.
" Arrhgg.... Lepaskan. "
" Kalian pegangi dia. " Perintah ezza pada dua temannya.
Langsung saja Vero dan Farel memegangi kedua tangan Ziyan kiri kanan masing masing.
" L-lepaskan. " Ziyan memberontak namun tenaganya tak cukup membuat ia terlepas dari pegangan mereka yang sangat kuat.
Sebelum melakukan sesuatu Ezza tersenyum licik ke arah Ziyan entah apa yang ingin ia lakukan.
Lalu ia mengangkat tangannya dan menarik rambut Ziyan dengan kuat.
Tentu terasa sakit seakan rambut nya akan terpisah dari kepala namun memberontak pun ia tak bisa.
" Arrrggghhh... L-lepash. "
" Hahahaha kau pantas mendapatkan ini. " Tawa Ezza semakin menarik kuat rambut Ziyan.
Tak habis disitu Ezza juga merobek pakaian Ziyan dengan tangan nya walaupun kesusahan dengan sekuat tenaga membuat pakaian Ziyan rusak.
Tentu tidak terima pakaian yang dibeli dengan keringat ayahnya dirusak dengan seenaknya.
Dengan sekuat tenaga ia mencoba kuat lalu menendang dengan kakinya mengenai perut Ezza.
Tentu Ezza terhuyung saat merasakan hantaman itu. Tak terima ia pun menghajar Ziyan membabi buta, saat dirasa cukup mereka meninggalkan Ziyan dengan kondisi yang mengenaskan.
Rambut acak acakan pakaian rusak serta lembam menghiasi wajahnya tentu ia takkan bisa ikut kelas dengan penampilan seperti ini.
Meringkuk menangisi hidupnya itulah yang dilakukan sekarang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kabur dari sekolah entah bagaimana caranya.
***************
Sudah setengah hari berada dirumah hanya bosanlah yang ia rasakan.
Disini lah ia sekarang depan TV menonton film kesukaan dengan bungkus cemilan yang berserakan dimana mana.
Entah berapa banyak yang ia habiskan namun ia tetap tak menikmati hal itu karena bosan.
Kalo dipikir pikir mending sekolah aja tapi entah kenapa tadi pagi ia tidak berminat.
Ttutt...
Zafran mematikan TV sudah tak mau lagi menonton nya karena acara-acara yang membosankan apalagi acara kesukaannya sedari tadi sudah habis.
Kakinya melangkah menaiki tangga dan hendak memasuki kamar namun pandangan matanya berhenti kala melihat pintu ruangan yang berada sedikit jauh dari kamarnya.
Yang tak lain ruangan itu adalah kamar milik Kim Samuel ayahnya sendiri.
16 tahun ia tinggal disini namun belum pernah ia memasuki kamar ayahnya karena dikunci kakeknya.
Kenapa dikunci karena pasti di dalam sana ia akan mengetahui banyak hal.
Pernah Pak Kim memasuki kamar anaknya dan sangat marah saat melihat puluhan foto Sheliya di dalam sana, kenapa bisa, karena sebelum mereka menikah Samuel sempat kabur dari sini dan bertemu Sheliya di Negeri sebrang.
Mau tau kisah cinta orang tua sikembar yuk baca sedikit!!!
****FLASHBACK ON***
" Aku tidak mau menjadi seperti dirimu aku tidak bisa. " Tolak Samuel lantang.
" Kenapa ha." Bentak Pak Kim pada anaknya.
" Kau harus menjadi penerus ku karena kau satu satunya keturunan ku. " Lanjutnya.
" Tapi aku punya impian sendiri appa aku ingin menjadi dokter aku suka mempelajari ilmu medis. " Lirih Samuel.
" Tidak tidak bisa. " Tolak Pak Kim mentah mentah.
" Kenapa. " Tanya Samuel dengan mata memanas.
" Kau harus menjadi seperti ku mengurus perusahaan yang kubangun dengan susah payah dan nantinya jika umurmu sudah matang appa sudah berjanji akan menikahkan mu dengan anak teman appa yang sederajat dengan kita. " Jelas Pak Kim yang sama sekali tak diminati oleh Samuel.
" Kau mengerti. " Sambung Pak Kim.
" Pokoknya aku tidak mau. "
PLAK
sebuah tamparan mendarat dipipi kanan Samuel membuat sang empu hanya dapat meringis mendapat perlakuan itu.
Pak Kim menyadari perlakukan kasar pada anaknya merutuki dirinya sendiri karena kali ini ia sudah main tangan walaupun kemarin kemarin sikapnya juga menjengkelkan.
Samuel tersenyum memegang pipinya yang sakit matanya memanas tersirat rasa sedih dan kecewa.
" Appa banyak berubah setelah kematian eomma. " Gumamnya yang mampu di dengar Pak Kim.
Tanpa menunggu lagi Samuel bergegas ke kamar dan beberapa saat kemudian ia keluar menenteng tas punggung.
Saat melewati ayahnya ia berhenti sejenak.
" Mau kemana kau. " Tanya Pak Kim.
" Mencari kebahagiaan ku sendiri dan aku akan kembali saat appa berubah seperti dulu lagi dan jangan mencari ku karena aku takkan menginap di rumah temanku lagi mungkin saat ini aku akan pergi jauh darimu. " Jelas Samuel setelah itu menghilang dibalik pintu mengabaikan teriakan Pak Kim yang melarangnya pergi.
Semenjak itulah Samuel pergi dan ia mendarat di kota yang Sheliya tinggali hingga takdir mempertemukan mereka.
Banyak hal yang mereka lalui, Samuel yang selalu membawa kamera nya ketika pergi tak lupa memfoto setiap momen yang mereka habiskan.
Hingga pada saat yang tepat ketika keputusan mereka sudah bulat melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, Sheliya meminta Samuel untuk meminta restu pada ayahnya.
Awalnya ia sangat keberatan namun karena Permintaan Sheliya dan orang tua Sheliya ia pun memberanikan diri untuk kembali di negeri kelahirannya Korea.
Saat tiba disana sebelum menyampaikan maksud nya tak lupa ia memasuki kamar yang sudah lama ia tinggali dan menempelkan foto foto Sheliya di dinding kamarnya.
Tibalah saat Samuel mengutarakan niatnya dan ia sangat terkejut kala mendapatkan respon menyakitkan dari ayahnya.
Dan mencaci wanita yang akan dinikahi Samuel karena berasal dari keluarga yang sederhana.
Tentu Samuel sakit hati dan berencana pergi lagi lalu menikah tanpa restu ayahnya.
Saat Samuel pergi tentu Pak Kim tak kan melepaskan putranya untuk kedua kali, beliau menyuruh orang mengikuti kemana anaknya pergi dan selalu mengawasi gerak geriknya.
Dan itulah kenapa beliau bisa tau saat Zafran dilahirkan dan menculiknya.
Soal kehilangan Samuel pada saat kecelakaan beliau tidak tau karena kepergian Samuel dan Sheliya tak sempat diikuti mata mata Pak Kim hingga beliau ketinggalan berita.
Andai waktu itu mata mata Pak Kim mengikuti mereka pasti beliau tau dimana Samuel berada sekarang.
Itulah takdir sebaik baik rencana yang disusun jika sudah takdir ketentuan Tuhan lah yang kita dapatkan.
****FLASHBACK OFF****
Brak... Brak. Brraakk.....
Zafran mencoba menggebrak pintu agar terbuka karena penasaran kenapa kakeknya melarang nya masuk ke kamar ayah sendiri.
" Aiss sial bahu gue hampir patah tapi pintunya tak juga terbuka. " Umpat Zafran.
" Lagian kenapa sih pake dikunci segala ada apa emang didalam, hmmm pasti ada sesuatu kalo enggak mana mungkin dikunci. "
Brak... Brakk... Gubrakk....
Usaha tak mengkhianati hasil yang akhirnya pintu terbuka walaupun pintunya rusak dan pasti kalau Pak Kim tau habislah riwayat nya.
Ruangan bernuansa hitam putih ranjang king size serta lemari yang begitu mewah, terdapat meja belajar di dekat jendela yang lebar.
Buku buku tertata rapi juga beberapa miniatur yang sangat indah.
Perlahan kakinya mendekat memasuki kamar ayahnya. Pandangannya sangat terpukau melihat kamar ayahnya yang begitu rapi berbeda sekali dengan kamar dirinya yang seperti kapal pecah.
Mengusap debu dicermin yang berada di samping ranjang.
Banyak debu yang menempel karena sudah lama ditinggali.
Kakinya melangkah lagi mendekati lemari dan membukanya, matanya berbinar kala melihat pakaian ayahnya yang sangat keren.
Berbagai macam model ayahnya punya bahkan sepatu tak terhitung jumlahnya.
" Wih gila pasti papa gue idaman para wanita pada masanya sama kayak gue sekarang. " Bangga nya sendiri.
" Ni baju bagus bagus kasian kalo dianggurin gini aja. " Tangannya meraih baju switer hitam milik ayahnya.
" Eit tapi nanti soalnya gue mau keliling kamar dulu mumpung si moster belum pulang. " Ia menaruh kembali baju yang diambil dan melangkah ke meja belajar ayahnya.
Pandangannya terhenti saat melihat foto foto wanita yang tertempel didinding sana.
Dan mengambil sebuah foto berbingkai yang terletak di meja belajar.
Wanita cantik dengan paras yang imut menampilkan gigi kelinci saat ia tertawa.
Berambut panjang mengenakan baju santai berwarna putih.
Dan mata Zafran membaca tulisan yang bertempat di pojok bawah kanan bingkai, disana tertulis * Sheliya is my love 🖤*
" Sheliya,?? Ternyata bokap gue bucin juga ternyata... Hahahah.. " Ia tertawa sebelum akhirnya terdiam menelisik maksudnya foto ini.
" Wahahhh bego banget gue apa ini artinya wanita ini... adalah eomma...?? "
Tanyanya yang jelas pada diri sendiri.
Sekali lagi ia menatap lamat foto yang di pegang ini.
" Sheliya???.. Apa itu nama eomma gue... Tapi kenapa kakek tidak pernah cerita bahkan nama saja ia tidak memberi tahu. "
" Aiss apa lo lupa Zafran, kakek kan gak suka sama eomma. "
" Benar gak salah lagi Sheliya emang eomma gue buktinya banyak sekali foto wanita ini di kamar ayah dan sebab kakek mengunci kamar ini punya alasan yang kuat agar gue tidak pernah tau siapa eomma." Matanya mulai memanas tersolot emosi.
" Tapi gue harus pura pura gak tau aja, ikuti dulu permainan ini. " Senyum nya lalu keluar dari sana membawa foto yang ia genggam tadi.
Sebelum keluar tak lupa ia menutup pintu walaupun pintunya agak rusak dan pasti kakeknya akan curiga jika melihat hal itu.
" Besok gue panggil tukang deh buat perbaikin ni pintu moga aja si moster itu gak lihat kesini. " Gumamnya lalu menuju ke kamar nya sendiri.
**************