Handsome Twins

Handsome Twins
bab 10 Teman baru Ziyan



DI TEMPAT NYA KIM ZAFRAN.


Terlihat ketiga teman Zafran sekarang berada di depan gerbang mension keluarga Kim.


Mereka sedang berhadapan dengan para penjaga agar bisa menemui Zafran. Terlihat juga penjaga itu tak mengizinkannya masuk sedang kan ketiga preman kecil itu memberontak ingin masuk hingga menimbulkan keributan disana.


Yah beruntung sekarang tidak ada Tuan Kim kalau tidak entah bagaimanakah nasib mereka.


Zafran yang mendengar keributan diluar, ia yang sedang berada diruang tamu pun menghampiri ke luar.


Setelah melihat siapa yang menimbulkan keributan ia pun memberi tahu pada penjaga untuk mengizinkan teman temannya masuk. Mereka lalu masuk dan Zafran mengajaknya ke ruang tamu.


Ya sekarang mereka bebas karena tak ada si Pak tua itu.


SETELAH BERADA DI RUANG TAMU.


" Aduh Zaf kenapa gak daritadi sih lo nongol capek kita ngeberontak sama bapak bapak botak itu. " Ngeluh Eunseo sambil menduduki bokongnya di sofa lembut rumah Zafran.


" Iya ah darimana aja lo. " Sambung Jaywoo tak kalah kewalahan.


" Sorri tadi gue lagi nonton seru dramanya jadi gak sadar gue ada ribut ribut diluar. " Kekeh Zafran sendiri.


" Terus kapan lo sadar ada keributan hmm. " Tanya Kay.


" Waktu udah iklan. " Nyengir Zafran.


" Laknat lo. "Geram Jaywoo.


" Eh ada minum gak, haus ni panas banget capek kuy. " Ucap Eunseo seraya mengibas ngibas kan bajunya yang sudah basah oleh keringat.


" Eh njirr jangan ngibasin baju lo bau tau. " Canda Kay sambil menutup hidungnya.


" Eh anjay kurang asem lo ngatain gue, lo tu yang bau. " Balas Eunseo tak Terima.


" Ribut benar lo bedua pusing gue dah deh pokoknya kalian bedua yang bau dil kan, eh Zaf minum dong hehe. " Ujar Jaywoo melerai tapi ujung ujung nya sama juga kan niatnya.


" Oke kalian mau minum apa. " Tanya Zafran pada ketiga temannya.


" Gue jus jeruk dah yang seger. " Pinta Kay sambil mengacungkan tangan.


" Gue teh seger ya " Sambung Jaywoo.


" Kalo gue kopi panas ya tapi ada es nya gerah ni. " Pinta Eunseo yang langsung mendapatkan jitakan sayang dari Jaywoo yang duduk disamping nya.


Yang mendapat jitakan itu pun protes tak Terima.


" Woi apa apaan sih lo. " Kesal Eunseo pada tangan orang yang kurang ajar tadi.


" Eh goblok mana ada kopi panas ada es nya, mau pindah alam lo. " Geram Jaywoo pada sahabat nya ini.


Sedangkan Kay dan Zafran tertawa lepas mengingat ke goblokan sahabat nya ini.


" Itu maksud gue..... Eeee.... Gimana ya bingung juga gue ngejelasin nya yaudah deh kopi dingin aja. " Pasrah Eunseo.


" Eeeummm oke berarti jus jeruk satu juta setengah, teh dingin dua juta, terus kopi dingin tiga juta berarti totalnya enam juta setengah. " Kini Zafran angkat bicara yang membuat ketiga temannya membuka mulut lebar lebar.


" Eh anjay ni anak malah jualan kurang ajar looo...." Tak Terima Kay pada ucapan Zafran barusan.


" Jualannya juga kagak masuk akal jus jeruk satu setengah juta teh dingin dua juta kopi dingin tiga juta, eh gak ada akhlak lo, gini nih kalo preman jualan dasar. " Tutur Jaywoo.


" Ada dendam pribadi ni si jualan mau bikin pembeli bangkrut seketika. " Tambah Eunseo.


Dan Zafran tertawa lepas mendengar penuturan serius ketiga temannya, ya iyalah orang cuma becanda.


" Becanda gue ah dasar.....ekhemmm.......BIBI YURA TOLONG BIKININ  TIGA JUS JERUK SEGER YA PAKE ES YANG BANYAK BAWA KE RUANG TAMU JANGAN LUPA CAMILANNYA JUGA OKE. " teriak Zafran yang langsung didengar oleh orang yang disuruh dan membuat ketiga temannya terkejut dengan suara keras Zafran.


" Gila kencang benar suara lo. " Kagum Kay pada Zafran.


" Eh zaf kenapa lo nyuruh buat jus jeruk tiga kan gue tadi bilang kopi dingin. " Bantah Eunseo pada Zafran.


" Iya ni gue juga minta teh dingin kan tadi. " Sambung Jaywoo.


" Dah lah di samain aja gak ada itu di rumah gue. " Ujar Zafran santai.


" Dih percuma rumah istana itu aja gak ada. " Balas Eunseo.


" Ck diam napa siapa juga yang gak punya, semua makanan yang ada di Korea ini gue punya stok dirumah cuman malas aja tadi gue ngomong ke bibi kasian tau kalau kalian banyak pilihan udah tua dia. " Ucap Zafran.


" Hmmm dah lah tak usah dibahas Ohya kenapa lo tadi gak kesekolah oh may gat muka lo baru nyadar gue ada bekas luka. " Kata Kay yang memang baru menyadari begitu pun dengan Jaywoo dan Eunseo yang terkejut.


" Katakan siapa yang ngebuat lo kayak gini. " Tanya Jaywoo.


" Ini pasti ulah kakak kelas itukan. " Yakin Eunseo.


" Udah gk usah bahas itu lagi lagian gue gak papa kok santai, emang iya sih gue dikeroyok sama mereka tapi its okey gue baik baik aja. " Kata Zafran meyakinkan temannya.


" Serius lo gak usah boong deh tu muka udah kayak apa coba lebam lebam gitu pasti sakit kan ya am..................... "


" Sssssttt bacot benar lo ah. " Ucap Zafran langsung memotong perkataan si teman cerewet nya itu siapa lagi kalau bukan Eunseo.


Emang sih penyampaian Eunseo adalah satu ungkapan khawatir tapi pusing juga dengar lama lama apa lagi Zafran baru pulang rumah sakit kan.


                  ********************


KEESOKAN HARINYA.


DI TEMPAT NYA KIM ZIYAN.


Setelah bersiap, ia pamit pada orang tuanya dan langsung pergi ke sekolah walaupun masih pagi sekali.


Hari ini ia memilih pergi dengan berjalan kaki karena suasana pagi saat ini sangat cocok untuk nya untuk melupakan masalahnya sejenak.


Entah kenapa langkahnya hari ini sangat berat untuk ke sekolah. Hatinya seperti tidak ingin ke sekolah tapi ia juga tidak ingin mengecewakan orang tuanya dengan bolos sekolah. Tapi kalau ia pergi ia pasti mendapat perlakuan kurang ajar lagi dari teman sekelasnya itu. Bukankah itu sudah biasa tapi hari ini ia lelah, ingin rasanya ia menenangkan diri sambil membayangkan kan keluarga kandung nya,  walaupun itu menyakitkan.


Pasti tak pasti jalan yang seharusnya ia tempuh untuk ke sekolah kini ia lewati, beruntung belum ada seorang pun disana jadinya ia tidak ketahuan membolos.


Langkah lesunya membawa nya ke sebuah tempat yang amat sejuk.


Sebuah sungai dengan air bersih menyejukkan mata di tambah angin pagi yang menyejukkan hati.


Ya sepertinya ini adalah tempat yang cocok untuknya saat ini.


Ia duduk di tepi sungai itu sembari melempar batu batu kecil ke dalamnya.


" Hufffff aku lelah...... " Entah pada siapa ia berkata yang pasti ia mengatakan nya sambil menengadahkan wajahnya ke atas menikmati angin pagi yang sejuk.


" Tapi aku tidak boleh menyerah." Sambungnya sambil menundukkan wajahnya ke bawah.


" Tapi sampai kapan aku harus merasakan rindu, haruskah aku menunggu............ Lagi." Matanya memanas kemerahan dan akhirnya liquid bening itu pun berjatuhan.


" Aku memang punya ibu tapi bukan ibu yang melahirkanku... Hiks... Aku punya ayah tapi bukan darinya aku berasal... "


Tangisnya mengiris hati.


" Dan menjadi korban bulli itu menyakitkan........ Hiks......... Komplit sekali hidup ku. " Lesunya bagaikan tak ada harapan lagi.


Ingin rasanya ia menyerah tapi ia bukan pria yang pantang menyerah. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menemukan keluarganya. Lalu apakah dengan enteng nya dia putus asa sekarang.


" Jangan merasa paling tersakiti kawan..... "


Bukan itu bukan suara Ziyan karena Ziyan sendiri terkejut mendengar suara yang tiba tiba itu. Lalu darimana suara itu, dengan ragu ragu dan takut namun pasti Ziyan pun melirik ke arah belakangnya dengan pelan dan setelah ia perhatikan terdapat seorang remaja seperti seumuran dengan nya yang menaiki kursi roda dan ia botak, benarkah kenapa penampilannya seperti orang sakit dengan syal menggantung di lehernya ditambah lagi dengan kulitnya yang pucat bagaikan mayat hidup.


" K-kau si-siapa... " Tanya Ziyan takut kalau di depannya ini bukan manusia tapi.....


Yang ditanya hanya menyunggingkan senyumnya, Manis tapi matanya seperti menyimpan beban.


" Kenapa kau malah tersenyum. " Bingung Ziyan sembari sedikit menjauh darinya hanya beberapa centi saja karena takut menyinggung perasaan nya.


" Kenalkan aku Rian. " Ramah anak itu sambil mengulurkan tangan nya pada Ziyan.


Dengan ragu dan takut Ziyan pun membalas menjabat tangan dengan nya, awalnya ia takut tapi setelah merasakan kulit anak itu iya yakin kalau yang di hadapan nya ini memang manusia. Setelah saling menjabat mereka pun melepasnya.


" Ternyata kau manusia rupanya, tapi kenapa kau tiba tiba ada disini. "


Remaja itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan remaja yang memang seumuran dengan nya.


" Tolong jangan hanya tersenyum aku butuh jawaban bukan senyuman. " Geram Ziyan.


" Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau berada di tempat ku. " jawab Rian tanpa melunturkan senyumnya.


" Benarkah hei ini bukan tempat siapapun ini ciptaan Tuhan bukan ciptaan mu jadi siapapun boleh kesini. "


Sepertinya Ziyan yang lembut tidak ada sekarang.


" Iya aku tau maksudku aku baru melihatmu kemari dan memang biasanya ini adalah tempat curhat ku. " Ucapnya sopan sekali.


" Hei curhatlah pada Tuhan mu bukan disini karena tidak ada gunanya juga."


Ujar Ziyan.


" Lalu kenapa kau juga curhat disini. " Balas Rian sambil tersenyum.


" Hahahaah.... " Reaksi Ziyan yang seperti orang kebingungan sukses membuat Rian tertawa.


" Hei jangan tertawa ini tidak lucu." Kesal Ziyan pada orang yang menertawai nya.


" Maaf aku reflek lagian kau itu mirip anak lima tahunan dengan pipi gendut mu itu padahal kita kan seumuran. " Ucapnya pada Ziyan yaiyalah emang pada siapa lagi.


" Dari mana kau tau kita seumuran." Penasaran nya.


" Sudahlah anggap saja iya. " Final Rian.


Ziyan pun menyudahi rasa penasaran nya.


Hening......


" Ohya kau anak baru dapat masalah ya  makanya datang kesini. " Tanya Rian yang pandangannya ke arah sungai.


" Maksudmu, memangnya orang yang dapat masalah diharuskan kesini. " Bukan menjawab Ziyan malah balik bertanya.


" Kebanyakan." Jawab Rian singkat.


" Buktinya." Tanya Ziyan lagi


" Aku." Jawab Rian lebih singkat lagi.


Ziyan pun tak tau harus berbicara lagi ingin bertanya kenapa, rasanya tidak sopan dan terlalu kepo dengan masalah orang lain.


Hingga tanpa diminta Rian pun memberi taunya sendiri.


" Sebelum kau datang kesini sudah jauh jauh hari aku datang kesini mencurahkan semua masalah ku berteriak semauku dan menangis sepuasnya. " Tuturnya tanpa mengalihkan perhatian nya pada sungai jernih dihadapan nya.


Ziyan memilih diam mendengarkan ingin bertanya merasa tak enak hati.


" Kenapa kau diam, bertanya lah agar aku punya alasan untuk menceritakannya. " Pintanya pada Ziyan yang daritadi diam saja.


" Kenapa begitu." Turut Ziyan pada pintanya Rian.


" Sebelumnya terimakasih telah bertanya dan aku akan menceritakan kisahku agar kau tidak merasa paling tersakiti di dunia ini." Ucap Rian yang seperti ingin berpidato saja.


" Hmm." Jawab singkat Ziyan


" Aku lahir diluar nikah, ibuku adalah wanita bebas hingga ia dihamili dan lahirlah aku, sejak masih bayi aku tidak mengenal ayahku bahkan tidak memiliki nya. Dan karena kelahiran ku itu membawa aib bagi ibuku hingga ia membenciku dan selalu menyiksaku tanpa ampun, dan tak sampai disitu aku juga salah satu korban bulli di sekolah ku karena identitas ku. Aku selalu mendapat perlakuan kekerasan baik itu dirumah maupun  di sekolah. Dan lebih komplit nya lagi setelah ke dokter aku di vonis menderita penyakit kanker otak dan hidup ku tak bisa bertahan lebih lama lagi dan pahitnya lagi setelah ibuku tau aku punya penyakit ibuku malah marah dan ia tidak mau mengurus anak penyakitan seperti ku, ia sempat mengusir ku tapi aku memohon padanya agar dia tidak mengusir ku dan syukur lah stidaknya ia tidak jadi mengusir ku. Dan sampai sekarang ini adalah tempat ku mencurahkan semuanya sebelum aku meninggalkan dunia ini...... Jadi jangan pernah merasa paling tersakiti di dunia ini  karena yang di atas masih ada atas nya lagi dan yang dibawah masih ada bawahnya lagi. " Tutur Rian panjang lebar tak terasa pipinya telah sempurna basah karena ia menghayati cerita nya sendiri.


Begitupun dengan Ziyan yang ikut merasakan perih dihatinya karena kisah teman barunya ini. Sekarang ia sadar kalau dia bukanlah orang yang paling tersakiti di dunia ini. walaupun jadi korban bulli dan tak bersama dengan orang tua kandung nya setidaknya ia mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tua angkat nya dan kakek neneknya.


" Hiks..... Hiks... Aku bahkan tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang.. Hiks... Hiks... " Pecah lah tangis Rian yang sejak dari tadi ia pendam.


Ziyan yang melihat itu tak kuasa ia segera memeluk Rian sepenuh hati memberikan semangat untuk nya walaupun mereka baru kenal tadi.


" Aku.... Juga... Lelah.. Hiks.... Hiks... " Tangisnya di cekuk leher Ziyan.


Ziyan pun tak bisa menahan air mata nya yang keluar, dirinya ikut teriris merasakan tangis hancur nya teman barunya ini.


" Sesedih sedihnya hidupku ternyata masih ada lagi yang hidupnya bahkan lebih sedih dariku, maafkan aku ya tuhan karna nyaris putus asa." Batin Ziyan.


Hening sesaat.......


Merasa sudah selesai menangis Rian pun bangkit dari pelukan Ziyan. Ia sendiri tidak sadar kenapa bisa ada di pelukan orang yang baru saja ia kenal tadi karena terlalu larut dalam kesedihan.


" T-terima kasih karena telah sudi menjadi teman curhatku." Gugup Rian merasa sedikit canggung.


Sebelum menjawab Ziyan menampilkan senyum manisnya yang mempesona. " mulai sekarang aku temanmu atau lebih dekat kita bersahabat, hmmmm bagaimana menurutmu??. " Semangat Ziyan pada sahabat barunya.


" Terima kasih karena mau bersahabat dengan ku aku sangat mau itu. " Jawab Rian tak kalah semangat.


" Selamat datang teman barukuuuuuuu. " Seru Ziyan senang dan semangat membuat Rian terharu dengan tawanya.


Melihat Rian tertawa Ziyan pun ikut tertawa seakan tidak ada masalah di hidup mereka berdua.


" Ohya kau pakai seragam sekolah lalu kenapa kau tidak sekolah." Tanya Rian bingung yang melihat Ziyan bolos sekolah.


" Karena aku ingin bertemu dengan sahabat baruku. " Ya tentu itu omong kosong Ziyan bukan.


" Aiisss kau punya indera ke berapa bisa tau kejadian yang akan datang haa. " Ucap Rian memelas karna jawaban infosible nya Ziyan.


" Entah, ke dua puluh mungkin. " Jawab Ziyan asal.


" Huuu ternyata kau melebihi kelebihan yaaaa.... " Balas Rian asal juga.


Mereka pun saling tertawa karena kekonyolan mereka sendiri. Tak disangka mereka bisa seakrab dan sebahagia ini walaupun baru saja bertemu. Dan waktu Ziyan yang harus nya ia habiskan untuk belajar hari ini ia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama sahabat barunya.


                 *******************


DITEMPATNYA ZAFRAN DI SEKOLAHNYA.


Sekarang sudah waktu nya istirahat, murid murid pun tak butuh waktu lama meninggalkan kelas menuju kantin termasuk empat sahabat akrab tukang bulii ini.


Mereka mengambil tempat di pojokan barisan ketiga dari depan meja kantin, memang disitu adalah tempat nongkrong mereka jika di kantin.


" Haaa kenapa ya kalau disekolah jam nya itu leleeeeet banget, belum lagi kalau tidur serasa udah puluhan jam eh taunya baru beberapa detik doang. Coba kalau dirumah jam nya itu secepat kilat, kalo tidur serasa baru beberapa menit doang eh taunya ternyata udah malam aja." Oceh Eunseo karena merasa sangat lelah menunggu jam istirahat.


" Lu tau kenapa. " Tanya Kay membuat mereka penasaran.


" Kenapa emang nya. " Tanya Eunseo balik pada Kay.


" Karena jam di sekolah dan dirumah lo itu beda. " Jawab Kay santai. Yah tapi mampu mengundang tawa para temannya kecuali si Eunseo yang merasa ditipu.


" Bangs*t  lo. " Kesal Eunseo yang berharap serius mendapatkan jawaban kebenaran.


" Sabar ya pren. " Ucap Jaywoo di sela sela tawanya.


" Atau gini aja deh gua punya cara buat ngatasinnya. " Kata Zafran dengan mimik serius.


" Apaan tu." Tanya Eunseo serius.


" Bawa aja tu jam dirumah lo ke sekolah, katanya jam dirumah lo kan secepat kilat kalau di sekolah lelet, naaahhh jadi ganti aja ya kannnnn gimana usul gue. " Ujar Zafran tanpa beban sama sekali lagi membuat mereka tertawa berbeda dengan Eunseo yang memasang wajah kekesalan.


" ZAAAFRAAAAAAAAAANNNNNN gue serius tauuuuuu. " Kesal Eunseo tapi malah dibalas tawa semakin kencang oleh mereka dan semua perhatian para murid di kantin itupun tertuju pada mereka ditambah lagi para murid disana ikut tertawa melihat ulah para geng pembulli itu seakan lupa kalau mereka itu menakutkan.


" Dahlah jadi kenyang karena tertawa gue yuk ah pesen laper ni." ajak Kay


" Setuju. " Jawab Jaywoo dan Zafran serentak sedang kan Eunseo masih merajuk.


" Ututuuu cayaank jangan ngambek nanti oppa belikan es kriimm mau. " Konyol Jaywoo yang sukses membuat Eunseo tak dapat menahan tawanya karena gelii.


" Bodo." Ucap Eunseo menahan tawanya.


" Eunseo gak boleh gitu kasian itu oppa yang mau belikan es krim." Tambah Zafran lagi yang sukses membuat eunseo tidak bisa berpura pura marah lagi.


" Aaaaa kaliaaaaann. " Senyum Eunseo bengek melihat kelakuan sahabat nya.


" Aaaaaaa Eunseoooooooo." Ucap mereka bertiga serentak lalu mengundang tawa mereka lagi.


Haaaahhh itulah mereka yang bersahabat seakan membuat tak ada masalah sama sekali di kehidupan Zafran.


                  ******************


DI MENSIONNYA PAK KIM JONGSUK.


Beliau tiba tiba pulang kerumah meninggalkan pekerjaannya di kantor karena ingin menagih janji pada seseorang.


Tak membuang waktu Pak Kim pun langsung menghampiri Sheliya yang berada di dapur, beruntung Sheliya sedang sendirian jadi Pak Kim dengan leluasa menyampaikan niatnya.


Sedangkan Sheliya sudah sangat cemas karena tau Pak Kim pasti akan menagih hal kemarin yang sempat tertunda.


" Dengar, aku tidak ingin basa basi mumpung Zafran tidak ada dirumah, sekarang kutanya sekali lagi jadi apa keputusanmu haa." Lembut Pak Kim namun terkesan menakutkan bagi Sheliya.


Tak tau harus menjawab apa karena keputusan ini sangat sangat tidak bisa di ambil meskipun salah satunya. Tapi mau tidak mau di situasinya yang sekarang ia harus melakukannya.


" Jangan pancing emosiku Cha eunsang." Pak Kim mencoba menahan emosinya yang hampir meledak jika saja Sheliya masih mengabaikannya.


Sebelum membuka suara Sheliya mencoba tenang mengambil nafas dalam dalam lalu menghembuskannya secara pelan, sejenak ia menutup mata guna meminta tolong pada Tuhan dengan pilihan yang ia pilih semoga baik baik saja.


" A-aku akan me-menjadi asisten mu Pak Kim... " Jawab Sheliya pasrah namun terkesan tegas.


Dan jawaban itu sukses membuat senyum puas di wajah Pak Kim Jongsuk, jawaban yang di nantikan kini ia dapatkan, sekarang tidak ada lagi orang yang bisa melindungi Zafran dari hukumannya.


" Bagusss kenapa bukan dari kemarin jadi tidak usah kuhiasi dulu wajahmu kan hahaha.... Aku senang sekali ya sudah kalau begitu lanjutkan pekerjaan mu dan ingat mulai sekarang bersikap dingin lah pada Zafran kalau kau tidak menuruti perintahku tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada putra asuhmu.... " Ucap Pak Kim mengancam.


Sheliya hanya terdiam bisu mendengar itu toh ia juga tidak dapat melakukan apa apa.


" Jangan lupa aku punya banyak mata mata untuk melihat gerak gerik mu hmmmmm oke saya permisi. " Pak Kim jongsuk pun pergi kembali menuju ke kantor nya.


Sheliya yang memang sudah rapuh dari awal kini ia kembali meneteskan airmata nya, apa pilihannya tadi itu buruk tapi lebih buruk lagi jika ia memilih meninggalkan putranya. Hah kalau begini kan jadi serba salah. Tapi sekuat mungkin ia akan menjalani kehidupan ini sampai kebahagiaan yang sebenarnya benar benar ia dapatkan.


Ketika tidak ada pilihan yang bisa diambil lantas bagaimana kah......


                     ***************