
Malam harinya.
Rumah Pak Bahar menjadi sangat ramai ditambah dengan kehadiran Arman dan Raina sepasang kekasih yang tulus itu.
Mereka awalnya sangat terkejut dengan kepulangan Sheliya dan Zafran.
Maka terjadilah pertemuan yang mengharukan lagi dengan Sheliya yang terus berterima kasih pada pasangan itu.
Zafran yang tak kenal mereka juga ikut dipuji menggemaskan karena pipinya dan dua gigi kelinci persis seperti Ziyan.
Makan malam pun dimulai dengan hidangan sederhana namun terlihat sangat mewah dengan berbagai masakan desa.
Awalnya Zafran nampak ragu melihat makanan ini namun setelah mencoba satu suap ia jadi ketagihan membuat dirinya ditatap gemas oleh semua orang.
Suasana makan malam yang sangat sangat membahagiakan, akhirnya penantian itu telah datang.
Apakah ini akan berakhir sekarang..???
Prangg.....
Suasana seketika menjadi hening ketika Zafran menjatuhkan gelas entah karena apa yang jelas ia tidak sengaja karena menahan sakit di dadanya dan menyenggol gelas.
" M-maaff. "
" Zafran ada apa. " Tanya Samuel yang melihat Zafran menunduk.
Cikitt....
Zafran bangun dari kursi.
" M-maaff aku k-kekamar sebentar. " Ucap Zafran lalu terburu-buru pergi dari sana membuat semua orang keheranan.
Hati seorang ibu selalu bisa menebak, Sheliya berusaha menenangkan mereka.
" Biar aku yang lihat ayo lanjutkan makan. " Lalu sheliya mengikuti kekamar Zafran.
Sheliya membuka pintu kamar itu menampilkan Zafran yang meremas dadanya sambil tengkurap di kasur.
Melihat itu Sheliya langsung menghampiri.
" Zafran sayang apa kamu kambuh lagi nak." Tanya Sheliya panik membantu Zafran untuk duduk.
" Hikss.... s-sakiittt...hiks...tapi obat Zafran sudah habiss...hiks..."
" Yatuhan mama sampai lupa mengecek obatmu apa mama beli malam ini un-
" Tidak ma...tidak usah nanti s-sembuh sendiri k-kok...."
" Tap-
" Udah maa..n-nanti mereka curiga. "
" Mama gak tega liat kamu sakit begini nak.. hikss..mama sayang sama kamu. "
" Mama jangan nangis hiks.... Zafran kuat kok.."
" Zafran hanya perlu tidur maa bolehkan..." Lirih Zafran.
" Iya nak tidurlah besok ibu akan membeli obatmu yaa..."
Zafran mengangguk lemah lalu membantu menidurkan buah hatinya menyelimuti sebatas dada.
Mata bulat itu kini terpejam sesekali keningnya berkerut karena menahan sakit. Sheliya yang melihat itu sangat sedih ia sangat hancur menyaksikan kesakitan yang dirasakan anaknya, kenapa tidak pada dirinya saja penyakit itu hinggap.
Tak ingin membuat orang disana curiga, Sheliya pun pergi dari kamar Zafran namun sebelum itu ia menyempatkan diri mencium kening anaknya dan mengelus surai lembut itu.
" Ada apa dengan Zafran. " Tanya Pak Bahar melihat Sheliya telah duduk kembali dikursinya.
" Dia...dia hanya sakit perut tadi. " Bohong Sheliya tak ingin mengingkari janjinya padahal sebenarnya ia sangat ingin memberi tahu mereka.
" Benarkah kalau begitu ia harus minum obattt. " Tambah Bu Yana.
" Katanya tidak usah lagipula dia sudah tidur sekarang. " Ucap Sheliya terlihat meyakinkan mereka.
" Baiklah ayo lanjut makan. " Lanjut Sheliya memperlihatkan raut wajah sebahagia mungkin.
Singkatnya makan malam telah selesai para orang dewasa sedang duduk berbincang di ruang tamu, sedangkan Ziyan memilih masuk kamar menemani sang adik.
Mereka tidur berdua dikamar itu karena rumah ini hanya punya tiga kamar jadi mereka harus berbagi dan tidak ada rasa keberatan diantara keduanya malah mereka senang.
Ziyan masuk mendekati Zafran yang sudah tidur, kini ia duduk ditepi ranjang mengelus rambut sang adik dengan lembut.
Tapi walaupun begitu Zafran tetap terbangun, karena elusan itu membuat Ziyan merasa bersalah.
" Maaf membuat mu terbangun. "
Zafran tersenyum dan memposisikan dirinya untuk duduk.
" Tidak apa apa lagipula aku senang melihat kamu disini. " Zafran menyengir menampakkan gigi kelincinya.
Sepertinya sakit itu sudah hilang syukurlah.
" Hmm kamu, udah sembuh perutnya...." Tanya Ziyan membuat Zafran menaikkan alisnya.
" Ck kau ini tadi kata mama kamu sakit peruutt. " Lanjut Ziyan.
Seketika Zafran mengerti, mamanya pasti berbohong sesuai dengan perjanjian mereka.
" Ah itu iya sudah sembuh kok. "
" Yakin. "
" Iya abangku...atau apa itu satu lagi ah iya kakakku... Hehehe.."
Ziyan tersenyum sepertinya Zafran belajar dengan sungguh sungguh buktinya ia sudah lancar mengucapkan bahasa itu walau terkadang terdengar lucu.
" Ahahah ohya besok aku mulai bersekolah lagi setelah libur panjang. "
" Benarkah kalau begitu aku ikut sekolah jugaaa. " Pinta Zafran dengan mata berbinar.
" Pasti dong tapi kamu sudah punya perlengkapan belum. " Tanya Ziyan.
" Ah kalau itu kan punya mu ada jadi bagi bagi dong.. "
" Hah kamuu.."
" Hehehe. "
" Oke jadi besok kamu siap siap kita akan berangkat bersama dan pasti semua orang di sekolah ku besok akan tercengang karena aku punya kembaran seperti mu. "
" Ahahaha iya Ziyan. "
Ziyan melotot membuat Zafran tertawa dan terus saja ia mengucapkan hal yang sama dan pada akhirnya mereka bercanda dan tertawa disana.
" Inilah yang aku inginkan daridulu bercanda riang dengan saudaraku terimakasih tuhan engkau telah mengabulkan doa doaku. " Batin Ziyan.
" Aku tidak pernah menyangka kalau kehidupan ku akan seperti ini kupikir aku akan selalu terjebak dengan monster itu, ternyata Tuhan punya rencana lain dan aku sangat bahagia sekarang. " Batin Zafran.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi hari telah menyapa dikota ini. Sheliya dan ibunya tengah menyiapkan sarapan dibantu Pak Bahar lalu Samuel yang sedang menata piring diatas meja sedangkan si kembar masih berada dikamar mempersiapkan diri.
Oh Sungguh betapa bahagianya keluarga ini, sekarang terasa sangat lengkap.
Dikamarnya sikembar.
Ziyan sudah siap lengkap dengan seragam sekolahnya sedangkan Zafran masih berkutat dengan selimutnya.
" Syuuuuyttt hei bangun sudah pagi apa kau tidak ingin kesekolah bersama ku hari ini. " Ziyan memasukkan telunjuknya ke mulut Zafran yang sedikit terbuka membuat sang empu merasa tak nyaman.
" Ahaha kau lucu sekali ayo bangun nanti kita kesiangan, kau berangkat barengan dengan ku biar papa dan mama nanti menyusul mengurus dirimu yang menjadi anak baru disekolah ku. " Jelas Ziyan namun Zafran masih menarik dengkuran halusnya.
" Aiss kau ini, ayo banguuuunn.. " kali ini Ziyan mengunyel ngunyel pipi Zafran dan membuat ia terbangun.
" Ahh jangan menggangguku. " Suara Zafran khas orang bangun tidur sambil mengucek ngucek matanya.
" Hmm katanya hari ini mau masuk sekolah..?? "
" Ayo sana mandi setelah itu kita sarapan aku akan menunggu diluar oke adikkuuu...." Ucap Ziyan lalu mencubit gemas pipi Zafran.
" Akh..kau ini sana sana.. " kesal Zafran namun semakin membuat Ziyan gemas.
" Jangan lama lama kita bisa terlambat cepatlah.."
Braakk..
Setelah mengatakan itu Ziyan menghilang dibalik pintu dan menutupnya.
Zafran pun bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
" Eh kau sudah siap dimana Zafran. " Tanya Sheliya sambil menaruh piring dihadapan Ziyan.
" Dia lagi mandi katanya hari ini ia ingin sekolah.. "
" Dia memang harus sekolah disini papa dan mama akan datang mengurusnya nanti. " Jelas Samuel lalu menarik kursi duduk disamping Ziyan.
" Zafran biar berangkat bersama ku. " Tawar Ziyan.
" Hmm baiklah. " Jawab Sheliya sambil mengusak rambut anaknya gemas.
" Kita tunggu Zafran dulu ya setelah itu kita sarapan bersama. " Ucap Pak Bahar yang telah bergabung disana diikuti istrinya.
" Baik. " Sahut mereka.
Sedangkan dikamar, Zafran telah selesai mandi namun belum sempat memakai baju tiba tiba dadanya terasa sakit lagi.
" Akhh...kenapa datang disaat seperti ini...aku hanya t-tidak i-ingin mem-buat mereka k-khawatir...hah...a-aku harus m-menemani Ziyan kesekolah..hah..
s-sakiittt....hiks....mama.....hiks..." Racaunya sambil meremas seprai hingga terlihat kusut.
Lumayan lama hingga suara pintu terpelanting keras dan itu adalah ulah Ziyan yang menunggu daritadi, dan merasa heran kenapa Zafran belum keluar juga.
Menyadari kedatangan seseorang, Zafran pun berusaha tak terlihat kesakitan.
" Kau!! Kenapa belum memakai seragam, kita semua sudah menunggu dari tadi apa kamu tidak berniat kesekolah ha.. " Ziyan terlihat kesal karena berpikir Zafran terlalu lama.
" M-maaff tapi...aku merasa..t-tidak enak badan...aku minta maaf hari ini...ak-aku tidak bisa ikut kesekolah dengan mu... tolong aku ingin lanjut istirahat. " Jelas Zafran sebaik mungkin.
" Hah...kau ini apa kamu baik baik saja kenapa tidak bilang daritadi.. yasudah tidak apa apa sekarang istirahatlah nanti aku bilang pada mama dan membawakan sarapan mu kesini...kalau begitu aku berangkat yaaaa..cepat sembuh adikku.... " Ucap Ziyan.
" Tapi pakailah dulu pakaian mu mama akan terkejut melihat dirimu seperti ini nanti... ahahah. "
" Aiss iya yasudah sana a-aku ingin istirahat. " Ucap zafran lalu menarik selimut sebatas lehernya.
" Hmm oke aku pergi ya, aku akan pulang secepat mungkin untuk bertemu dengan mu lagi... istirahatlah dengan baik aku ingin bermain denganmu.....ummmaahh bye adik. "
Ucap Ziyan sembari keluar tak lupa memonyongkan bibirnya pada kalimat terakhir.
" Maaf aku berbohong padamu padahal aku sangat ingin ikut denganmu kesekolah tapi kondisi ku tidak memungkinkan....dasar penyakit sialan..." Batin Zafran.
Setelah memberitahu semuanya Ziyan pun berangkat diantar oleh Samuel.
Sebenarnya bisa saja ia pergi sendiri namun Samuel memaksa untuk diantar.
Seperti biasa Pak Bahar kembali berkebun dan Bu Yana meluangkan waktu untuk menyiram tanaman.
Sedangkan Sheliya yang sudah daritadi khawatir ia langsung memasuki kamar Zafran untuk mengecek kondisinya.
Dilihatnya sang putra sedang meringkuk dibawah selimut, airmatanya menetas mengelus rambut Zafran.
Sang empu menyadari dan menatap ibunda tercinta.
" Hiks... maaf sayang kamu harus selalu kesakitan seperti ini....hikss..."
" Mamaaa hikss....siapa yang menyuruhmu menangis hikks...tolong jangan sedih aku sudah baik baik saja hikss..."
" Lagipula ini sudah menjadi takdir hidupku seperti ini...." Lanjut Zafran terus menghapus jejak airmata sang ibu.
" Sayang tunggu mama ya, mama akan segera kembali mama akan membeli obatmu. " Ucap Sheliya hendak bergegas namun ditahan oleh Zafran.
Zafran menggeleng tak mau ditinggalkan namun jika obatnya tidak segera ada mungkin penyakit Zafran tidak bisa sedikit terkendali.
" Sebentar sayang. " Lembut Sheliya.
" Obat itu gak akan bikin aku sembuh kan..." Lirih Zafran membuat hati Sheliya semakin teriris.
" Ssstt jangan bicara seperti itu... setidaknya obat itu bisa sedikit meredakan sakit mu naaakk.. "
" Tapi-
" Jangan jadikan putus asa sebagai pilihanmu...kamu harus tetap semangat sayang, banyak orang yang akan mendukungmu...masih banyak alasan kau tetap hidup.... semangatlah...tuhan menciptakanmu untuk berjuang bukan putus asa dengan keadaan mu.. " jelas Sheliya menangkup wajah remaja itu.
" Tapi aku selalu merepotkan kan mama... "
" Sama sekali tidak sayang, kau adalah anugerah yang paling indah untuk mama, kau dan Ziyan adalah titipan yang paling berharga, kelahiran kalian adalah momen yang paling mengharukan...mama menyayangi kalian, menyayangi mu tidak pernah sekalipun merasa terbebani dengan penyakit mu naakk.... "
" Jangan pernah berpikir kau itu payah, justru kalian adalah alasan mama untuk tetap berjuang. " Lanjut Sheliya perlahan membangkitkan semangat Zafran.
" Tunggulah disini sampai mama kembali..."
Cupp..
Sheliya mengecup kening anaknya lalu pergi darisana.
************
Disekolahnya Ziyan.
Singkatnya jam istirahat telah tiba, kini murid murid berhamburan ke kantin.
Hanya Ziyan yang tidak pergi kesana karena ia memilih membawa bekal dari rumah dan percuma saja ia kesana toh nanti ia akan jadi bahan bullian.
Namun salah justru pembulli itu masuk ke kelas berniat mengganggu Ziyan karena saat tadi tidak sempat karena keburu masuk.
" Hai gue pikir Lo udah pindah karena gak tahan lagi.... ternyata Lo masih suka juga ya jadi bahan bullian kita ahahah... " Ucap Farel duduk disamping Ziyan.
" Bro..dia kan anak yang tangguh kesayangannya guru mana mungkin ia pindah gitu aja. " Lanjut Vero.
" Kan nanti dia gak bisa caper lagi sama guru yayhahaha!! Dasar cupu. " Tambah Farel
Ziyan menghela nafas seperti biasa percuma ia melawan toh akan kalah juga karena ia tidak jago berkelahi beda seperti Zafran.
" Uhh udah gatel ni tangan yok ah maiiinn.. " usul Vero.
" Sikat aja bawa dia ke atas sana. " Perintah Ezza.
Lalu keduanya membawa Ziyan paksa pergi meninggalkan kelas.
Mereka menyeret Ziyan menuruni tangga. Satu tangga telah dilewati namun saat menaiki tangga kedua, Ziyan melawan sekuat tenaga membuat Farel dan Vero kewalahan.
Alhasil Ziyan lepas tetapi kakinya terpeleset lalu jatuh bergulingan ke bawah.
Mereka bertiga terkejut melihat Ziyan pingsan dibawah dengan kepala berdarah, mumpung tidak ada yang melihat mereka pun kabur darisana.
Namun satu orang saksi melihat mereka, dan dengan cepat ia berteriak untuk menolong Ziyan.
" Kalian sudah keterlaluan ini tidak bisa dibiarkan tapi bagaimana caranya aku memberitahu semuanya tidak ada saksi lain selain aku, dan semuanya pasti tidak akan percaya ditambah lagi mereka itu licik.....tapi bagaimana pun juga temanku harus dapat keadilan. " Batin siswa itu.
Ziyan dibawa ke rumah sakit, wali kelas Ziyan menelpon orang tua ziyan yaitu Arman dan Raina karena yang mereka tau mereka adalah orang tua Ziyan.
Langsung saja Arman dan Raina menuju rumah sakit tapi sebelum itu mereka mengabari Samuel dan Sheliya, membuat mereka sangat terkejut.
Dua pasangan itu menunggu diluar ruangan dengan perasaan sangat khawatir.
Mereka selalu mengucapkan doa untuk kesembuhan Ziyan.
Disisi lain Roni juga ikut kesana dan berniat ingin memberitahu karena dialah satu satunya saksi tadi.
Namun ia tampak ragu karena bukti yang ia bawa hanya berupa penjelasan takutnya mereka malah makin emosi.
" Aduuhhh bagaimana iniii...aku harus mengatakan kalau Ziyan seperti ini karena ulah pembulli ituu tapi aku tidak berani..tolong aku ya tuhan.. " ucap Roni.
Seseorang dibelakang Roni mendengar hal itu, tangannya mengepal kuat ingin balas dendam.
" Benarkah.. " tanya remaja berpakaian serba hitam mengenakan topi dan masker serta kacamata hitam siapa lagi kalau bukan Zafran.
Ia kesini tanpa sepengetahuan Sheliya dan makanya menyamar agar tidak ketahuan karena ia dilarang pergi sebab masih sakit.
Namun yang namanya Zafran ia takkan tinggal diam dan tak sengaja mendengar remaja ini bicara sendiri.
Roni berbalik dan nampak takut melihat orang didepannya seperti mencurigakan sekali.
" K-kamu siapa. " Tanya Roni.
" Tenanglah aku orang baik, jadi eumm apa maksudmu barusan tolong jelaskan padaku. " Mohon Zafran.
" Tolong santai saja aku bukan orang yang patut dicurigakan. " Lanjut Zafran meyakinkan Roni.
Barulah Roni memberanikan diri menceritakan semua apa yang ia lihat, Zafran mengepal kedua tangannya ternyata selama ini saudara kembarnya ini dibulli.
" Dan ini bukti lain tapi aku masih takut mengungkapnya sendirian. " Roni memberikan berupa gelang ditangan Ziyan saat ia dibawa kesini.
" Bolehkah aku membantumu. " Zafran mengambil gelang itu.
" Tapi kau siapa. " Tanya Roni.
" Tunggulah besok akan ada kejutan. " Smirk Zafran dibalik masker.
" Terimakasih kau pulanglah jangan khawatir Ziyan pasti akan mendapatkan keadilan. " Ucap Zafran sembari menepuk pundak Roni.
" Aku tidak tau siapa dirimu tapi kuharap kau tidak main main dengan ucapanmu kalau begitu aku permisi. " Pamit Roni lalu pergi darisana.
" Tunggulah besok, dan kalian para pembulli Ziyan aku akan menyiapkan sebuah hadiah karena telah berani membulli kembaranku. " Ucap Zafran menatap tajam sebuah gelang itu.
Beralih diruangannya Ziyan.
Dua pasangan itu menatap Ziyan sedih yang masih belum membuka mata dengan perban di kepalanya.
Sheliya kembali hancur melihat putranya satu lagi mendapat masalah.
Barusaja ia memberi obat untuk Zafran lalu dikabarkan Ziyan mendapatkan sebuah kecelakaan disekolahnya.
Ya tuhan andaikan penderitaan anakku dilimpahkan padaku aku akan senang hati menerimanya. Batin seorang ibu.
" Kenapa jadi seperti ini padahal tadi pagi ia baik baik saja hikss...."
" Tenanglah sayang musibah tidak akan ada yang tau. " Ucap Samuel merangkul istrinya.
Raina juga merasakan hal yang sama namun ia tidak ingin berlebihan karena sadar Ziyan telah bertemu dengan orangtua kandungnya.
Arman tau istrinya ingin sekali menangisi Ziyan memeluk dan menciumnya tapi sekarang sudah berbeda.
Mereka hanya dapat menangisi dalam diam mengurungkan niat untuk memeluk anak orang lain itu.
Zafran hanya dapat menyaksikan itu lewat celah pintu ia sungguh sakit hati melihat airmata orang tuanya dan sangat hancur ketika melihat saudaranya seperti ini karena ulah bangsat itu, ia berjanji akan menyelesaikan ini besok.
*************