Handsome Twins

Handsome Twins
bab 37 membuka hati



" Kenapa Zafran belum bangun juga.  " Lirih Sheliya terus mengelus rambut anaknya yang masih memejamkan mata di atas ranjang persakitan.


" Sabar mungkin sebentar lagi. " Ucap Samuel terus memandangi wajah itu.


" Zafran bangunlah aku ingin bermain dengan mu..." Lesu Ziyan.


" Eeeu... Sheliya kau makanlah dulu ayo nanti kau bisa sakit eumm..." Peringat Samuel pada istrinya sedangkan mereka sudah makan selagi Sheliya melakukan pendonoran tadi, itupun mereka makan karena terdesak dengan perintah Sheliya yang menyuruh makan duluan.


Sheliya menggeleng ia kehilangan selera makan melihat anaknya yang harus menderita seperti ini.


" Aku membencinya hikss...aku tidak bisa memaafkannya..."


" Tenanglah pria tua itu sudah dimasukkan kedalam penjara. " Ucap Samuel menenangkan istrinya lagi.


" Mama kau makanlah biar kami yang menjaga adik. "


" Tidak sayang mama tidak lapar mama akan tetap menunggu adikmu sadar. " Tegas Sheliya tidak bisa digugat.


Samuel dan Ziyan saling memandang sedetik kemudian menggeleng karena tak berhasil membujuk wanita itu.


" Aku takut hikss...ketika sadar nanti Zafran marah padaku hikss....aku takut dia...tidak menerimaku-


Lagi lagi Sheliya menangis hingga Samuel terus mengucapkan kata penenang pada istrinya.


" Sssssttt yakinlah Zafran pasti mengerti dan ia akan menerima mu. "


" Euhg.." lenguhan kecil itu terdengar dari bibir mungil Zafran mengalihkan atensi mereka memandang sampai mata itu berhasil dibuka pelan.


" Kau sadar nak. " Kata Samuel.


" Akh.." Ringisnya.


" Ada apa sayang apa ada yang sakit. " Tanya Samuel melihat kernyitan didahi Zafran.


Zafran menggeleng lemah dan beralih  menatap mereka satu persatu.


" Appa......" Gumam Zafran bahkan dengan suara yang hampir tak terdengar.


" Iya sayang ini appa nak ini appa kandung mu. " Jawab Samuel sambil menggenggam tangan putranya.


" Kau masih hidup. " Tanya Zafran lagi memastikan.


" Dengar nak appa belum pernah mati cerita kakekmu hanya karangan dan lihat ini. " Samuel menarik Ziyan mendekati Zafran.


" Ini saudara kembarmu.." lanjut Samuel.


" Hai aku kembaran mu dan namaku Kim Ziyan. " Ucap Ziyan.


Zafran tersenyum ternyata dia bukan anak tunggal dan bahkan punya saudara kembar.


" Aku senang punya saudara kembar. " Lirih Zafran tak melunturkan senyum diwajah pucatnya.


" Ohya dan lihat iniii, ini adalah wanita yang telah melahirkanmu.." kata Samuel lalu menarik Sheliya mendekat pada Zafran.


Seketika wajah Zafran berubah ia teringat akan perkataan Pak Kim tadi, bukan percaya padanya namun sedikit kecewa pada Sheliya yang diam saja tak mau mengakui Zafran sebagai anak disana yang padahal ia sangat menginginkan kehadiran sosok ibu. Dan pernah waktu itu ia mengabaikan Zafran hingga ia harus merasakan yang namanya kesepian.


Zafran membuang muka tak mau melihat wajah wanita yang sebenarnya ia sangat ingin memeluk wanita itu.


Sheliya sadar kalau Zafran belum bisa menerima dirinya. Dan ia kembali menangis kesekian kalinya.


" Zafran dia adalah ibumu tolong jangan bersikap seperti itu... " Peringat Samuel.


" Tidak aku kecewa dengannya. " Sergah Zafran membuat Samuel kembali frustasi.


" Jangan sakiti hati ibu kita Zafran tolonglah Jangan membuat mama menangis. " Ucap Ziyan yang masih tak ditanggapi oleh Zafran.


" Anakku aku tau kau pantas membenci diriku hiks..tapi asal kau tau aku melakukan ini karena tidak ingin membuat dirimu dalam bahaya....mama terpaksa melakukan ini nak hiksss....." Jelas Sheliya namun Zafran masih tetap keras kepala.


" Zafran ma-


" Pergi. " Ucap Zafran sambil menepis tangan Sheliya yang hendak menyentuh dirinya.


Hati Sheliya hancur diperlakukan seperti itu ia tak tahan dan langsung keluar dari ruangan itu membawa derasnya tangisan.


" Mama tungguuu...." Ziyan tak mau melepas ibunya dan langsung mengikutinya.


Sekarang tinggallah Samuel dan Zafran diruangan ini.


Samuel mengusap seluruh wajahnya menghela nafas dan berusaha bersikap dengan kepala dingin walau hatinya sedari tadi sudah panas.


Ia juga harus memaklumi sikap Zafran yang seperti ini karena selama ini ia pasti kurang kasih sayang.


" Naaakkk...." Panggil Samuel lembut.


" Lihatlah appa atau panggil saja papa....ayo nak menghadap kemari. " Tutur Samuel.


Dengan pelan Zafran menatap ayahnya dengan mata yang berair karena sedari tadi ia menangis.


Samuel mengusap airmata itu dan memberikan senyuman untuk putranya.


" Dengarkan papa nak... Eomma mu atau panggil saja mama, dia itu sangat menyayangimu bahkan rela melakukan apapun untukmu jadi karena itulah mamamu terpaksa menyembunyikan identitasnya agar ia bisa bersama anaknya...waktu itu kau diculik oleh kakekmu dan mamamu mengejar dirimu sampai kenegri ini....ia tak rela kehilangan dirimu dan ia bersedia menjadi pengasuhmu demi bisa terus bersamamu.. jikalau kakek tau mamamu yang merawat mu, pastilah ia tak mengizinkan dan bahkan membunuh mamamu karena kau tau sendiri kan kakekmu yang tidak menyukai menantunya...jadi janganlah membuat mama menangis lagi karena sudah cukup ia menderita selama ini bahkan ia meninggalkan Ziyan disana demi tak mau kehilangan dirimu nak....tolong pikirkan baik baik berilah wanita itu waktu untuk memeluk putranya ini. " Jelas Samuel dengan kelembutan.


Sejenak Zafran terdiam dan meng iyakan seluruh penjelasan papanya.


Sungguh wanita itu memang sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun.


Hatinya tersentuh dan mulai terbuka untuk menerima sosok ibu.


" Sebenarnya mamamu melarang papa untuk memberitahu tapii mamamu lah yang mendonorkan darahnya saat kamu kehilangan banyak darah waktu dibawa kesini. " Jelas Samuel lagi mampu membuat Zafran terkejut dan menangis menyalahkan dirinya yang membuat ibunya menangis tadi.


" Kesempatan memang ada tapi alangkah baiknya kita melakukan sekarang... "


" Aku salah..hiks...aku bodoh hikss....aku menyayangi mama...hikss...tolong bawa mama kemari...hiks...hiks.. "


Syukurlah penjelasan sang ayah bisa melunakkan hati sang anak.


" Tunggulah aku akan membawa mama kesini..." Setelah itu ia berlalu darisana meninggalkan Zafran.


Ditempatnya Sheliya ditaman rumah sakit ia tengah menangis ditemani Ziyan disana.


" Mama memang bukan seorang ibu yang baik...hikss.....mama hanya bisa diam ketika melihat Zafran disiksa mama ini bodoh hikss..ma-


" Sssttt..sudah cukup maa jangan menyalahkan diri sendiri...mama adalah ibu terhebat yang Ziyan punya mama adalah orang yang kuat...aku yakin ma Zafran hanya butuh waktu untuk membuang rasa kecewanya..tolong jangan menangis lagi...aku sedih maa..." Ziyan terus menghapus airmata yang terus mengalir dari mata indah milik ibunya ia berusaha menenangkan wanita hebat ini, tak bisa membayangkan wanita yang ia cintai hancur seperti ini.


" Maa tolong hikss...jangan menangis... hiks..." Sekarang Ziyan pun telah ikut menangis.


Melihat itu Sheliya langsung memeluk anaknya bagaimana ia lupa dengan anak ini dengan terus memikirkan anak yang itu.


Sheliya punya dua anak bukan hanya satu jadi ia tidak bisa memfokuskan dirinya terhadap salah satu anak, ia tidak boleh pilih kasih.


" Maafkan mama nak mama sampai mengabaikan mu hikss.."


" Iya maa..hiks.."


Lama dalam posisi seperti itu tiba tiba kedatangan Samuel mengejutkan mereka.


" Papa ada apa papa kemari. "


" Kim kenapa kau ikut kemari kenapa kau meninggalkan Zafran sendirian disana. " Panik Sheliya sambil bangkit dari duduknya diikuti oleh Ziyan.


" Hosh..hosh... tenanglah dulu sebentar..." Samuel menarik nafas karena lelah berlari lalu menghembuskannya.


" Ada apa. " Tanya Sheliya.


" Cepatlah masuk keruang Zafran, kurasa hatinya sudah mau menerima mu..." Ucap Samuel membuat jantung Sheliya berdegup kencang.


" B-benarkah..." Tanya Sheliya penuh gembira.


Samuel mengangguk brutal.


" Iya ayo cepatlah Zafran sudah menunggu aku sudah menjelaskan semua padanya. "


" Baiklah kalau begitu aku langsung kesana. " Kata Sheliya lalu langsung lari menuju ruang Zafran.


Ziyan juga hendak mengikuti ibunya tapi tangannya keburu ditarik sang papa.


" Berikan mereka berdua waktu kita tunggu disini saja ya. "


Ziyan mengerti dan mengangguk membuat Samuel mengusak rambutnya gemas.


                     **************


Sheliya sudah berada didepan pintu ruangan  Zafran dirawat, ia membuka pintu pelan menampilkan remaja yang masih dengan posisi tidur memandang kearah jendela.


Pelan pelan ia mendekati ranjang Zafran dan Zafran pun menyadari hal itu langsung menatap kedatangan Sheliya.


Sejenak suasana agak canggung dan sedetik kemudian Zafran berusaha bangkit untuk bersandar dari tempat tidur itu.


" Akhh..." Zafran merasa perih dibagian perutnya.


" Ayo sini mama bantu..." Sheliya dengan telaten membantu tubuh Zafran untuk bersandar.


" Akkh..euh.." lagi Zafran merasa sakit karena luka itu belum benar-benar pulih dan reflek memegang perutnya.


" Jangan dipegang sayang jahitan itu belum kering. " Sheliya menyentuh tangan Zafran.


" Usshh hussyy semoga cepat sembuh yaa." Sheliya meniup luka diperut Zafran membuat ia terkekeh.


" Eomma...." Panggil Zafran lembut.


" Iya sayang..." Jawab Sheliya tak Kalah lembut.


Grepp....


" Hikss...Eomma maafkan Zafran sudah bersikap kurang ajar seperti tadiii...hiks... Zafran sayang Eomma....hikss..."


Sheliya membalas pelukan itu dan mengeluarkan airmata bahagia.


" Iya nak Eomma atau panggil saja mama juga sayang sama Zafran... Zafran anak yang baik...jangan menangis lagi hmm..."


Dengan pelan Zafran melepas pelukan itu beralih menatap Sheliya dengan wajah memerahnya karena menangis.


" Mama adalah ibu terhebat yang Zafran punya.. terimakasih atas semua pengorbanan mama terhadap Zafran..."


" Iya sayang mama akan melakukan apapun untuk anak mama.." Sheliya mengecup anaknya berkali kali membuat Zafran merasa sangat bahagia.


" Mama..." Panggil Zafran lagi.


" Aku mau mama janji kalau....mama harus menyembunyikan tentang penyakitku pada semua orang. "


" Kenapa nak. "


" Aku hanya tidak mau membuat mereka khawatir....tolong ya maa hanya kita saja yang tau.." mohon Zafran mengeluarkan jurus imutnya.


Sejenak Sheliya terdiam dan sedetik kemudian mengangguk membuat Zafran kegirangan.


" Yeeeyy terimakasih maa. "


" Tapi ingat kalau kamu merasa sakit langsung bilang pada mama jangan disembunyikan. " Peringat Sheliya.


" Siap maa. "


Beralih Sheliya melihat nampan bubur dimeja dekat Zafran, ia tau ini adalah makan siang untuk anaknya dan mengambilnya untuk menyuapi sang anak.


" Kenapa tidak bilang daritadi kalau sudah ada bubur disini sekarang Zafran makan yaa.. " Sheliya mengambil sesendok bubur lalu hendak menyuapi Zafran.


" Tidak enak Zafran tidak mau.."


" Loh biasanya Zafran kan doyan bubur selalu minta dibuatkan..."


" Tapi yang ini beda Zafran doyan makan bubur buatan mama bukan buatan rumah sakit. " Ucap Zafran sambil mengedip ngedipkan mata lucu menggoda ibunya.


" Hmmm tidak ada alasan pokoknya Zafran harus makan biar cepat sembuh yaa.. "


" Ti-


" Hallo sudah baikan ya ternyata. " Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan kedatangan Samuel dan Ziyan.


" Kalian berduaan aku cemburu.. " goda Ziyan sambil membuat mimik wajah yang sangat mengerikan membuat mereka semua tertawa.


" Ya tapi lihatlah Zafran tidak mau makan. " Adu Sheliya pada Samuel.


" Wah wah papa cepat marahi adik dia tidak mau makan ayo papa cepat karena kalau Ziyan tidak makan pasti papa marahi. " Ucap Ziyan menggoda adiknya.


" Oww tidak bisa dibiarkan ayo cepat makan kalau tidak papa tidak akan mencium mu.. "


" Iuhh papa mengerikan. " Ucap Ziyan merasa geli begitu juga dengan Zafran.


" Tapi aku tidak mau aku mual melihatnya.."


" Sayang hanya sedikit ya biar perutmu terisi. " Lembut Sheliya.


Dan ya mau tidak mau Zafran pun membuka mulutnya membuat mereka senang.


Dengan pelan zafran menelan bubur lembek itu walau sedari tadi ia mual.


Satu suap


Dua suap


Tiga suap


Dan pada suapan keempat Zafran tidak bisa menahan lagi, ia memuntahkan semuanya tepat kedalam mangkuk itu.


" Huek..huek..uh.."


Mereka semua terkejut karena benar Zafran memang mual tak bisa menaruh makanan diperutnya.


" M-maaff ma aku tidak sengaja memuntahkan disini... " Lirih Zafran merasa bersalah namun tidak sedikitpun Sheliya marah.


" Tidak apa apa nak.. apa masih mual sayang..." Tanya Sheliya sambil menaruh mangkuk itu kemeja.


" Perutku tidak nyaman hikss.....daritadi sakittt.." adu Zafran terus terang memegangi perutnya.


Semua yang berada disana merasa kasihan.


" Yasudah ya kamu tidur saja biar sakitnya hilang. " Ucap Sheliya sambil mengelus perut yang sakit itu.


" Perut jangan kau sakiti anakku cepatlah sembuh... " Kata Sheliya seperti menenangi seorang anak kecil.


" Kau tidur saja ya nak. " Ucap Samuel lalu membantu Zafran ke posisi tidur.


Zafran mulai memejamkan matanya dahinya sesekali mengernyit karena menahan sakit juga tangannya selalu memegang perutnya yang terasa tak karuan.


Mereka semua khawatir dan bisa merasakan bagaimana lemahnya seorang Zafran sekarang.


Ziyan sebagai kembaran nya juga merasakan hal yang sama, mendadak tubuhnya demam namun ia sembunyikan karena kesembuhan Zafran yang terutama sekarang.


Waktu telah berganti menjadi malam. Sekarang penghuni diruang Zafran bertambah dua orang yaitu Chun yo dan Lee Mina yang datang kesini sambil membawa beberapa keperluan.


Lee mina sudah paham akan situasi karena Chun Yo telah menjelaskan semuanya.


Ia juga kasihan melihat Zafran yang juga masih tidur belum bangun dari siang tadi padahal ia ingin sekali menyapa nya.


" Kapan Zafran dibolehkan pulang. " Tanya Chun Yo.


" Entahlah sepertinya kondisinya masih belum pulih. " Jawab Samuel lesu.


" Apa saat dia bangun tadi terjadi apa apa. " Tanya Chun Yo lagi.


" Perutnya merasa tidak nyaman dan mual tidak mau makan. " Kini Sheliya yang menjawab.


" Sebaiknya salah satu dari kalian pulanglah biar aku yang membantu. " Tawar Chun Yo dengan senang hati.


" Kau sudah banyak membantu Chun Yo tidak apa apa kami akan tetap disini menjaga Zafran. " Ucap Sheliya.


" Tapi kau kelihatan lelah kau pulanglah  bersama Ziyan biar aku dan Chun Yo disini ajak Lee Mina juga sekalian pulang. " Ujar Samuel.


" Ziyan dan Lee Mina kalian pulanglah bawa  mama ya. " Lanjut Samuel.


" Tapi aku ingin disini. " Elak Sheliya.


" Besok kau boleh kembali kesini lagi  pulanglah dan mandi juga makan.  " Peringat Samuel sekali lagi.


" Ayolah sayang kasian mereka Ziyan juga sudah terlalu lelah. "


" Tidak papa aku baik baik saja. " Ziyan berusaha kuat walaupun sebenarnya tubuhnya juga sangat lemah ditambah lagi ia demam.


" Baiklah tapi tolong jika ada apa apa cepat kabari aku. " Final Sheliya ia juga harus ingat masih ada Ziyan yang perlu ia perhatikan.


Samuel tersenyum dan mengangguk.


Dan mereka bertiga pun pulang tinggallah dua pria dewasa dan satu remaja diruang ini.


                       ***************


Singkat nya sampai lah dirumah Chun Yo, Lee Mina langsung kekamarnya setelah berpamitan pada Sheliya begitu juga dengan Ziyan yang semakin tidak tahan dengan suhu badannya.


Tinggallah Sheliya diruang tamu tak ingin dulu tidur karena perasaannya masih khawatir.


" Aku tidak seharusnya begini, masih ada Ziyan yang harus kuperhatikan... Ia juga butuh kasih sayangku.. " ucap Sheliya pada diri sendiri.


" Kenapa aku berlarut memikirkan Zafran dan selalu mengabaikan keberadaan ziyan....arrghh..aku tidak boleh seperti ini, mereka adalah anakku dan aku tidak boleh pilih kasih.... sebaiknya aku kekamar Ziyan mengecek keadaannya. " Sheliya pun berlalu dari sana beranjak menuju ke kamar Ziyan.


Didepan kamar Ziyan, Sheliya membuka pintu yang tidak dikunci menampilkan remaja yang tidur menyelimuti seluruh badannya karena kedinginan sesekali ia menangis karena tidak tahan.


Menyadari hal itu Sheliya langsung mendekati Ziyan dan mengecek kondisinya, ia sangat terkejut karena Ziyan terserang demam.


Ia merasa bersalah sampai tidak tau kalau Ziyan sedari tadi menahannya.


" Nakk kau demam sayang. " Ucap Sheliya sambil menempelkan telapak tangannya didahi Ziyan dan benar saja anak itu demam.


" Maafkan mama nak mama sampai tidak mengetahui kalau kau juga sakit nak...."


" Ssstt... sudahlah maa aku baik baik saja hanya demam biasa karena kelelahan..." Lirih Ziyan tak mau membuat ibunya khawatir.


" Tunggu mama akan mengambil kompresan untukmu. "


Sheliya menuju ke dapur mengambil baskom berisi air serta kain untuk mengompres Ziyan.


Ia kembali ke kamar Ziyan dan langsung melakukan hal itu.


" Apa perlu kita kerumah sakit sayang...."


" Tidak ma jangan, aku tidak mau membuat yang lainnya khawatir ditambah lagi dengan kondisi Zafran yang belum pulih. "


" Tapi kondisi mu juga-


" Maa tenanglah....aku baik baik saja yaaa..."


Sheliya mengecup anaknya lalu mengelus surai lembut Ziyan.


" Jangan pernah berpikir kalau mama dan papa lebih menyayangi Zafran...itu tidak pernah sayang kami menyayangi kalian dengan porsi yang sama...tidak dilebihkan dan tidak dikurangi pada salah satu.... kalian berdua adalah anak mama yang mama kandung secara bersamaan mama dan papa menyayangi keduanya...Ziyan dan Zafran itu sama. " Jelas Sheliya.


" Lalu apa mama pikir aku berpikir seperti itu...maa aku mengerti tidak usah dijelaskan lagi...aku percaya kalau kalian itu adil dan wajar saja Zafran mendapatkan lebih kasih sayang saat ini karena dia sedang sakit. " Tutur ziyan.


Sheliya tersenyum mendapati pikiran Ziyan yang dewasa tidak merasa cemburu saat saudaranya mendapatkan sedikit lebih banyak kasih sayang saat ini.


" Sekarang kita harus fokus untuk kesembuhan Zafran kau tau ma...aku sudah tidak sabar kembali ke rumah nenek disana dan bermain bersama Zafran..."


Sheliya jadi teringat akan keluarganya disana ia memang sangat sangat merindukan kedua orangtuanya.


" Iya sayang doakan saja Zafran cepat sembuh dan diizinkan pulang. "


" Pasti ma. "


" Yasudah kamu tidur gih besok kita akan menjenguk Zafran lagi....tapi kalau kamu tidak enak badan tidak usah ikut dan mama akan menjaga Ziyan disini. "


" Tidak ma aku akan ikut dan besok aku akan sembuh. " Ucap Ziyan semangat.


" Kalau begitu tidurlah dan kalau nanti butuh apa apa jangan lakukan sendiri cepat panggil mama mengerti..." Peringat Sheliya.


" Iya ma yasudah mama juga istirahat sana... "


" Hmm kau mengusir mama. " Goda Sheliya.


" Iya biar mama bisa istirahat hehe. " Nyengir Ziyan.


" Huh anak ini yasudah mama keluar dulu ya cepat sembuh sayang. " Tak lupa mengecup anaknya setelah itu ia pun keluar dari sana menutup pintu kamar Ziyan kembali.


Dan Ziyan pun kembali menutup mata masuk ke alam mimpi.


                       ***************