
Hari ini adalah hari libur.
Jadi kesempatan bagi mereka untuk menghabiskan waktu dirumah.
Setelah sarapan, Pak Bahar dan Bu Yana memilih menyibukkan diri dengan menyiram bunga ditaman, orangtuanya sikembar sedang bersantai diruang tamu.
Dan sikembar sendiri kini mereka sedang berada di kolam renang.
Hanya Ziyan yang berenang dan Zafran memilih melihat saja karena tau sendiri kan dia tidak mau kambuh.
" Huaahh... Seru sekali... " Ziyan membasahi rambutnya dan mengibasnya.
Zafran hanya duduk ditepi kolam dan menggelantungkan kakinya di air.
Sedih juga padahal dia juga ingin berenang, bukan hanya takut tapi walau dari kecil tinggal disini ia tidak pernah sekalipun berenang dan menjadikan dirinya yang tidak bisa.
" Kau jago berenang ya.. " Tanya Zafran sambil memainkan air kolam dengan kakinya.
" Fuuff.. Dari kecil aku sering mandi disungai... " Jawab Ziyan sambil menyelamkan dirinya dan bangun kembali.
" Lalu kamu sendiri kenapa tidak ikut berenang. " Ziyan balik bertanya.
" Eeeee... Lagi gak kepengen aja. " Bohong Zafran, ya tentu gengsilah punya kolam renang dirumah tapi tidak bisa berenang.
" ais kamu, padahal seru lho... Ayo sini bareng... " Kini Ziyan berenang mendekati Zafran.
" Enggak deh kamu aja. " Tolak Zafran.
" Ih kamu seru tau.. Ayo dong. " Ziyan memaksa dan menarik tangan Zafran.
" Serius aku gak mau berenang kamu aja sana. " Zafran mempertahankan dirinya agar tidak jatuh.
Namun Ziyan tetap memaksa terus menarik Zafran.
Jangan salahkan Ziyan karena dia tidak tau dan Zafran yang tidak mau jujur.
" Aku seriuss.. "
" Ayooo... "
" Ziyan ja-
Byyuuuuurrr
Zafran jatuh karena tarikan Ziyan yang kuat.
" Cemen kamu... Padahal seru tau ahahah ayo ayoo.. " Ziyan belum menyadari kalau Zafran sudah mulai susah bernafas.
" Ziy... Hah... T-...
" Hei kamu kenapa sih ayo berenang. "
" Hah... " Zafran tak bisa mengimbangi dirinya hingga berkali-kali ia tenggelam dan banyak air kolam yang masuk ke mulutnya.
" T-tolong... Hah... "
" Heh kamu kenapa sih jangan bercanda.. Ayo berenang kamu jangan ngerjain aku ya... "
" Hah... Hah... " Nyeri didadanya mulai terasa juga pernafasannya yang tersumbat.
" Aarrh.. T-tolong.. " Sekarang Ziyan semakin curiga karena raut wajah Zafran memang serius.
Ia pun berenang mendekati Zafran dan mengambil alih tubuh kembarannya.
" Hei kamu kenapa... "
" S-sakiitt.. Arrgh.. "
Tanpa berlama lagi Ziyan membawa Zafran ketepi dan mengangkatnya keatas.
Ziyan panik melihat Zafran tersengal sengal meremas dadanya dan mengaduh sakit.
" Hah... Aarrh... "
" Hiks.. Kamu kenapa sih.. "
Ziyan mulai menangis dan berteriak memanggil semuanya.
Mereka semua datang dari arah berlawanan dan terkejut melihat pemandangan di depannya.
Sheliya yang memang tau ia mengambil tubuh putranya dan memeluk Zafran yang terus mengerang sakit.
" Aaarrgg.. S-sakkt... Hah... Hah.. "
" Tenang sayang tenang... Hiks.. Bertahan nak... Hiks.. "
Antara rasa khawatir dan penasaran kenapa Zafran bisa sampai seperti ini.
" Hiks... Maaf maa.. Hiks.. Aku yang memaksanya berenang hiks.. Hiks... Aku salah... Hiks... "
Sheliya memandang kearah suara itu dan menatap tajam putranya yang tengah menangis itu.
Sheliya lalu bangun dan mendekati Ziyan.
Plakk...
Semua terkejut saat mendapati Sheliya menampar Ziyan.
Samuel yang melihat hal itu langsung memeluk Ziyan dan memarahi istrinya.
" Kamu kenapa menamparnya haa.. " Ucap Samuel dengan nada marah.
Sedangkan Ziyan semakin menangis memegang pipinya yang perih dipelukan ayahnya.
" Sheliya jangan keterlaluan pada anakmu sendiri. " Kini Pak Bahar ikut bersuara.
" Kenapa kau sekeras ini nak.. " Tambah Bu Yana.
Sheliya tak menggubris mereka dan memerintahkan bibi Ahn untuk mengambil obat Zafran dan segelas air.
Setelah itu langsung saja ia meminumkannya pada Zafran yang sedang kesusahan.
Berangsur-angsur nafasnya mulai normal meninggalkan kesan pucat diwajah remaja kelinci itu.
" Masih sakit sayang... " Lembut Sheliya mengelus wajah Zafran.
Zafran menggeleng lemah dan tak punya tenaga untuk mengatakan semuanya.
Kembali lagi Sheliya mendekati Ziyan yang masih menangis dan memarahinya.
" Kau.. Kau hampir saja membunuh anakku. "
Deg
Ziyan terkejut mendengar kalimat seperti itu.
Bukan hanya dia tapi semua orang.
" Sheliya jaga ucapanmu. " Samuel juga ikut memarahi Sheliya dan menenangkan Ziyan yang sepertinya sakit hati.
" Jangan marahi Ziyan dia juga anakmu.. " Peringat Pak Bahar.
" Jangan lewati batas ketika memarahi seorang anak. " Ucap Bu Yana tegas.
Bukan membela Ziyan dan membiarkan Zafran tapi mereka berusaha menegur Sheliya yang bisa saja membuat Ziyan ketakutan.
Lagipula mereka tidak tau Zafran separah apa.
Ziyan berlari meninggalkan mereka menuju kamarnya sambil membawa tangis nya.
" Sebenarnya apa yang terjadi pada Zafran kenapa kamu setakut itu dan kenapa tadi dia tiba-tiba.. " tanya Samuel.
" Asal kau tau dia itu-
" Maaa... Bawa aku kekamar.. " Lirih Zafran yang sebenarnya mencegah Sheliya untuk memberi tahu semuanya.
Sheliya mengalah dan memapah Zafran menuju ke kamar meninggalkan mereka dengan perasaan curiga.
Sedangkan dikamar Ziyan.
Ia menangis sejadi jadinya dan merasa takut jika ibunya tidak menyanyangi dirinya lagi dan juga takut jikalau Zafran juga benci padanya.
" Hiks... Ibu... Ayah... Aku ingin kalian hiks... Aku ingin kalian... Hiks... Hanya kalian yang menyayangi ku dengan tulus... Hiks.. Aku ingin pulang hiks... Hiks.. Aku ingin pulang... Hiks.. Mama... Tidak menyayangi ku.. Hiks.. Aku takut mama marah... Hiks.. Aku takut.... Hiks..."
Tok tok tok...
" Papa masuk yaa.. "
Ceklek.....
Sial Ziyan lupa mengunci pintu dan sekarang papanya tau kalau dia seperti ini.
Samuel mendekati Ziyan yang tidur membelakangi nya.
Tangannya terangkat untuk mengelus surai hitam anaknya.
Sesekali tubuh kecil itu tersentak dan Samuel tau jika anak itu sedang menangis.
" Papa tau Ziyan pasti sedih tapi mama seperti itu karena terlalu khawatir.. Mama tidak benar-benar memarahi Ziyan kok.. "
" Jangan benci mama yaa.. Mama marahnya cuma sebentar nanti pasti baikan lagi ya sayang... Jangan nangis lagi.. "
Ziyan mengabaikan papanya dan terus menangis mengingat perkataan ibunya yang terngiang-ngiang dikepalanya.
" Sayang... Ayolah.. Jangan menangis lagi.. Anak papa gak boleh sedih... Sini peluk papa...."
Ziyan tak tahan dan bangun memeluk papanya menangis dipelukan sang papa bahkan sampai membasahi baju papanya dengan airmata.
" Hiks... Ziyan takut mama marah... Hiks.. Ziyan.. Takut mama.. Gak sayang lagi sama Ziyan.. Hiks.. Ini semua salah ziyan.. Ziyan... Hampir bikin Zafran celaka... Hiks... "
" Sssttt.. Udah.. Jangan nangis lagi.. Papa percaya kok kalau Ziyan gak sengaja.. "
" Ziyan juga takut Zafran akan membenci Ziyan hiks... "
" Zafran gak mungkin benci dia itu sayang banget sama kamu mana mungkin ia benci pada saudara yang sangat disayanginya. "
" Hiks... Tolong bilang pada mama dan adik... Hiks.. Ziyan minta maaf.. Hiks.. Ziyan menyesal hiks... "
" Iya nak iya... Udah jangan nangis lagi.. Hapus airmatanya... "
" Apa Zafran baik baik saja. " Tanya Ziyan yang tangisnya sudah mulai mereda.
" Sepertinya ia tadi sudah baik baik saja. "
" Tapi Zafran kenapa, kenapa dia sampai seperti itu. "
" Entahlah papa juga tidak tau.. Nanti setelah semua baik baik saja kita akan tanya dia. "
" Sekarang istirahat lah.. "
" Iya pa.. "
" Nanti siang papa bangunin ya. "
Ziyan mengangguk dan menutup matanya.
Samuel menyelimuti putranya, ia sangat iba melihat Ziyan yang dimarahi istrinya tadi.
Siang ini hanya ada Pak Bahar dan Bu Yana dimeja makan.
Sheliya masih dikamarnya Zafran bahkan membawakan makanan kesana sedangkan Samuel juga sama ia pun membawa makanan kekamar nya Ziyan karena Ziyan yang menolak makan jika bukan dikamarnya.
Setelah insiden tadi pagi rumah ini terasa sepi bahkan Samuel dan Sheliya juga saling mendiami.
Semoga perang dingin ini cepat berakhir.
Sampai sore rumah ini terasa sepi dan menjelang malam.
Saat makan malam barulah Ziyan turun ke meja makan ditemani Samuel.
Pak Bahar dan Bu Yana tersenyum akhirnya mereka tidak makan secara berdua lagi setidaknya ada dua orang yang bertambah.
" Nah akhirnya Ziyan turun juga. " Ucap Pak Bahar.
" Walau perlu sedikit pemaksaan. " Imbuh Samuel.
" Yang penting cucu nenek ikut makan bersama. "
Ziyan menanggapi mereka dengan wajah lesu ia kehilangan semangat sejak kejadian tadi.
" Apa mereka belum juga turun. " Tanya Samuel.
Pak Bahar mengerti siapa yang dimaksud dan setelahnya menggeleng pelan.
" Hah.. Ada apa dengan Sheliya kenapa dia berlebihan seperti itu. " Frustasi Samuel.
Yang dimaksud pun kunjung datang dan orang itu hanya Sheliya itu pun bukan untuk ikut makan.
Ia turun untuk mengambil air untuk Zafran.
Sheliya melewati mereka begitu saja membuat Ziyan semakin sedih.
Saat Sheliya hendak menuju ke tangga Samuel pun mencegatnya.
" Sheliya tunggu. " Tak ingin durhaka pada suami ia pun berhenti.
" Kenapa kamu seperti ini. " Sheliya diam tak berniat menjawab pertanyaan suaminya.
" Mamaaaa... " Lirih Ziyan.
Sheliya mendengar hal itu dan sungguh ia tidak bermaksud menyakiti hati anaknya tapi ia terlanjur takut akan kejadian tadi.
" Tidak kah kau kasihan terhadap anakmu kenapa kau terus mendiaminya... Bukan Zafran saja anakmu tapi Ziyan juga.. " Pak Bahar bersuara tidak berada di pihak manapun beliau hanya ingin berlaku adil.
Sheliya masih tetap diam ia pun bingung dengan dirinya sendiri.
Hingga semua atensi beralih pada seorang remaja yang berjalan terburu buru menuruni tangga dengan pakaian rapi.
" Mau kemana kamu. " Sheliya mencegat Zafran yang sudah berada di samping nya.
" Maa.. Aku keluar sebentar ya. "
" Tidak boleh.. "
" Hanya sebentar ini penting ma.. "
" Kamu masih sakit. "
" Aku susah sembuh. "
Semua bingung jelas jelas Zafran memang sudah terlihat sehat tapi kenapa Sheliya jadi protektive begini.
" Maa aku-
" Kamu bisa sakit kapan saja.. Sekarang masuk kamar kamu... Sudahi keluyuran mu mama lebih tenang jika kamu tertidur..mama lebih suka memandangi wajah tentrammu saat tertidur daripada kamu keluyuran dan bisa saja kamu kenapa napa. "
Semua orang heran melihat tingkah Sheliya yang berlebihan.
" Sheliya kamu kenapa seperti ini Zafran bisa saja risih. " peringat Samuel.
" Diam. "
" Pokoknya aku harus pergi ma.. Ini penting daa.. Maa.. Aku akan cepat kembali... " Zafran berlalu darisana mengabaikan teriakan ibunya.
" Kembali hikss.. Kamu itu sakit.. Hiks.. Mama.. Tidak mau kehilangan mu.. Hiks.. "
" Sheliya tenang Zafran itu baik baik saja dia sudah sembuh. "
" Kamu tidak tau apa apa anakku itu sakit hiks.. Dia sakit hiks... "
" Mamaaa.. Hiks.. " Ziyan ikut menangis melihat ibunya seperti ini.
" Sheliya sebenarnya ada apa kenapa kamu terlalu takut seperti ini.. " Tanya Samuel sedikit meninggikan suaranya melihat Sheliya yang terus meracau.
" Dia sakit hiks.. Dia sakit.. Hiks.. "
" Iya tapi sakit apa.. "
" Dia itu lemah.. Hiks.. Dia tidak normal seperti kita.. Hiks.. "
" Iya Sheliya sekarang katakan.. "
" Dia.................
**************
Ditempatnya Zafran.
" Sebenarnya ada apa lo ngajak kita ketemuan tiba tiba gini. " Tanya Kay.
" Kangen ya.. Iya kita tau lo itu kangen sama kita karena gak ketemu tadi sebab libur kan. " Ucap Eunseo.
" Tenang bro kita juga kangen hehe. " Sambung Jaywoo.
Zafran tersenyum mendengar ocehan sahabatnya dan memang dia bertemu dengan mereka ingin mencari ketenangan.
" Ohya kok lo sendirian kesini, Ziyan mana kok gak diajak. " Tanya Jaywoo.
" Iyani biasa selalu nempel bedua. " Sahut Kay.
" Gue- gue ada masalah tadi pagi sama dia. " Jawab Zafran.
" Hah serius!! Masalah apaan. " Tanya Eunseo.
" Apa kalian saling marah gitu. " Tanya Kay lagi.
Zafran menghela nafas menatap mereka satu persatu.
" Kalian taukan penyakit gue apa. " Kini Zafran balik bertanya.
" Iyaa.. " Jawab mereka serempak.
" Tadi pagi.... ( mulai bercerita semua yang terjadi).... "
" Begitulah... Tapi sebenarnya gue gak marah namun gue ngerasa gue lagi gak mau dulu deket dia, apa lagi gue ngerasa bersalah sebab gara gara gue dia ditampar sama mama. " Lanjutnya membuat ketiga sahabatnya menganga mendengar cerita.
" Gak ada yang patut disalahin sih diantara kalian. " Ucap Kay.
" Iya sebab Ziyan kan gak tau sedangkan mama lo khawatir banget sama penyakit lo. " Jelas Jaywoo.
" Iya setuju sih. " Tambah Eunseo.
" Gue pusing berada dirumah dan gue gak tahan diaman gini sama Ziyan. " Ngeluh Zafran membuat ketiga sahabatnya menatap iba.
" Gara gara penyakit sialan ini... Hiks.. Keluarga gue jadi berantem hiks... Kenapa gak mati aja sih gue hiks... "
" Heh ngomong apa sih lo. "
" Gak Zafran lo gak boleh nyerah.. Hiks... Kita masih mau bersama sama lo hiks.. " Eunseo ikut menangis begitu juga dengan Kay dan Jaywoo.
" Nyerah gak nyerah gue tetap bakalan mati kok... "
Grepp..
Jaywoo memeluk Zafran dan menangis bersama.
" Lo resek banget tau hikkss.. Gak usah ngomong mati bisa gak sih.. "
" Tapi gue gak tahan terus sakit sakitan... Hiks.. Seumur hidup bergantung sama obat hiks.. Selalu nyusahin orang hiks... Gue m-mau nyerah aja.. " Lirih Zafran membuat ketiganya melotot.
" Diamm udah diam mendingan lo gak usah ngomong lagi kalo gak mau gue sumpal pake tisu toilet. " Kay sungguh takut jika Zafran benar benar pergi.
Mereka menangis bersama dalam diam dan sungguh takut jika kehilangan sosok setan seperti Zafran.
" T-temenin gue yuk ketemu kakek dipenjara. "
" Apapun buat lo kita gak protes lagi asalkan lo gak ngomong mati atau nyerah lagi, janjii...!!. "
" I-iya janji.. "
Disinilah ke empat para sahabat itu berada dipenjara tempat Pak Kim Jongsuk tinggal sekarang.
" Kalian tunggu disini aja ya gue mau ngomong empat mata sama kakek gue.... "
Mereka menuruti dan Zafran pun masuk kesana sendirian.
Setelah dipersilahkan menunggu, polisi itupun membawa Pak Kim kehadapan nya lalu pergi menuju mejanya.
" Buat apa kamu kesini ha.. Mau meledek ku bocah.. "
Zafran menyunggingkan senyum.
" Aku mau minta maaf kakek atas segala kesalahan ku selama ini. "
Pak Kim sungguh terkejut dengan perbedaan bocah tengil di depannya.
" Tidak usah terkejut kakek. Aku benar-benar tulus, maafkan aku, aku tidak ingin jika suatu saat aku pergi kakek masih menyimpan dendam padaku.. Tolong terimalah mamaku sebagai menantumu.. Tolong.. "
" Ngomong apa kamu ha.. "
" Aku benar-benar tulus kek, percuma menyimpan dendam jika hal itu hanya membuat hidupmu tidak tenang, kakek benar aku memang orang yang tidak berguna selalu menyusahkan orang dengan penyakit ku... Jujur aku ingin pergi saja jika selalu menyusahkan seperti ini.. " Ucap Zafran lirih menundukkan kepalanya karena ia tengah menangis.
Melihat itu hati Pak Kim seakan iba, airmatanya pun ikut luruh dan dengan cepat beliau menyekanya.
" Jika saat itu aku telah pergi tolong kabulkan satu permintaan ku... Hiks.. Tolong jangan benci mamaku.. "
Pak Kim diam memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah imut itu di depannya.
" Sekali lagi aku minta maaf, dan maaf jika hari hari lain aku tidak bisa menjenguk mu... Aku permisi.. Jaga kesehatan mu kakek.. " Zafran beranjak darisana meninggalkan Pak Kim sendirian.
" Aku juga minta maaf nak... Hiks.. Aku yang sudah banyak salah padamu... Kau benar nak... Percuma menahan ego ku karena hal itu membuat hidupku selalu memendam dendam... Hiks.. "
" Gimana udah selesai. " Zafran mengangguki pertanyaan Jaywoo.
" Malam ini gue mau ngabisin waktu bersama para sahabat gue, bolehkann???. "
" Tentu dong, apapun itu akan kita lakuin buat sahabat setan kita... "
" Yaudah hayookkk.. "
*************