Handsome Twins

Handsome Twins
bab 33 masuk ruang BK karena bola



Pagi telah tiba lagi namun hari ini Zafran sudah bersiap untuk pergi ke sekolah walaupun sudah terlambat.


Sudah tau terlambat ia masih tetap santai dan setelah Pak Kim mengintrogasi barulah ia pergi ke sekolah nya.


Sekolah mewah yang hanya para murid murid mampu yang bersekolah disana.


Memarkir motornya diparkiran yang sudah penuh.


Melangkah kah kakinya menyusuri koridor sekolah dan sampai lah ia dikelasnya.


" Hallo broo." Sapa Zafran pada tiga temannya namun hanya Jaywoo yang menjawab sedangkan Kay dan Eunseo mereka menatap Zafran penuh dendam.


" Lima menit lagi Lo telat siap siap aja bersihin lapangan. " Ucap Jaywoo.


" Walaupun gue telat waktu gue gak akan terpeleset." Jawab Zafran sambil menduduki dirinya dibangku.


" Eh Kay Eunseo, nape Lo muka jelek begitu." Tegur Zafran merasa aneh dengan sikap mereka yang tiba tiba pendiam padahal biasanya mereka yang paling heboh.


Eunseo menaikkan alisnya menatap Kay sambil mendekati Zafran.


" Hari ini lo gak sakit jiwa lagikan kayak semalam." Ujar Eunseo membuat zafran dan Jaywoo saling bertatap bingung.


" Ngomong apa sih Lo."


" Zaf Lo kebangetan ya main amnesia segala udah deh sandiwara Lo." Sambung Kay, lagi lagi Zafran menatap mereka bingung.


" Kay Eunseo Lo kenapa sih berdua." Kini Jaywoo yang berucap.


" Lo gak tau apa apa Jay, dan Lo Zafran nanti jam istirahat kita selesaikan ini oke." Ucap Eunseo lalu duduk di bangkunya diikuti oleh Kay.


" Mereka kenapa sih." Bisik Zafran pada Jaywoo.


Jaywoo mengendikkan bahu, jujur ia pun tak tau.


Singkat nya jam istirahat pun tiba langsung saja Kay dan Eunseo menarik Zafran ke lapangan diikuti oleh Jaywoo yang heran pada sikap mereka.


Sesampainya di lapangan Zafran pun mulai diintrogasi.


" Lo semalam Lo keluar kan Sama siapatu nama nya anak baru itu."


" Lee Mina bro." Ucap Eunseoo menjawab pertanyaan dari Kay.


" Ah yaa." Kay mengangguk.


" Apa sih ni anak eh kalian ngomong apa gak ngerti gue." Cibik Zafran kesal.


" Persis kayak semalam lo pura pura amnesia lagikan." Kata Eunseo mendekatkan wajahnya ke wajah Zafran.


" Amnesia amnesia apaan sih kepala gue gak kebentur gue gak amnesia dan lo bilang semalam gue keluar, eh semalam gue itu molor gak keluar kemana mana." Jelas Zafran sama sekali tidak berbohong.


" Tunggu tunggu coba ceritakan dulu apa permasalahan nya." Jaywoo mencoba menenangkan mereka.


Eunseo menghela nafas panjang mengusap rambutnya kebelakang dan melirik mereka satu persatu sebelum mengatakan.....


" Ah kelamaan lo biar gue aja yang ngomongg.." Ucap Kay menggagalkan gaya estetik Eunseo.


" Sialan." Umpat Eunseo.


" Jadi semalam gue dan Eunseo keluar pengen beli Soju ya kan." Kay memulai pembicaraan.


" Eh gila ni anak ter-


" Arghh diam dulu dengar dulu itu baru permulaan gue gak jadi kok beli itu, karena ngeliat sesuatu pemandangan yang mengejutkan." Sergah Kay memotong perkataan Jaywoo.


" Oke lanjutkan." Pinta Zafran.


" Pas kita lagi jalan ni ya ternyata kita ngeliat Zafran lagi berduaan sama Lee Mina cewe yang biasa dia bentak itu lho dan-


" Eh jangan sembarangan lo ya." Elak Zafran tak terima.


" Sssstt diam lanjutin Kay. "


" Mereka tu kayak gak ada masalah baik baik aja gitukan Terus yang bikin gue bingung lagi, ni anak yang biasa style nya badboy semalam berubah jadi goodboy."


" Lebih ke culun gitu sih apalagi gaya rambutnya." Eunseo menambahi.


" Nah kalian ini yang kebentur bukan gue, jelas jelas gue semalam gak kemana-mana." Bantah Zafran.


" Aduh Zafran mau sampai kapan sih lo gak ngaku udah deh ah semalam lo juga keterlaluan Ama gue pakek nendang gue segala sakit tau."


Zafran terdiam percuma membantah karena sepertinya dua temannya ini tetap ngotot.


" Kalian yakin itu Zafran." Tanya Jaywoo.


" Sumpah mata gue gak budek." Jawab Eunseo asal asalan.


" Buta bodoh." Timpal Kay


" Nah itu. "


" Tapi sumpah itu bukan gue gue gak mungkin bohong sama kalian." Ucap Zafran sungguh sungguh.


" Terus siapa lagi orang yang mirip banget sama lo." Tanya Eunseo.


Zafran kembali terdiam memikirkan siapa orang yang bisa mirip dengan nya.


" Pasti ada yang gak beres ini." Jaywoo ikut berpikir.


" Lo yakin yang semalam itu bukan lo, lo lagi gak ngerjain kita kan." Tanya Kay masih belum yakin.


" Sumpah gue berani sumpah." Ucap Zafran meyakinkan mereka.


" Tapi siapa orang yang mirip banget sama lo itu, yang bedanya cuma gaya penampilan." Eunseo mencoba berpikir.


" Atau itu kembaran lo." Sergah Kay tiba-tiba.


" Ahahaha kembaran pantat lo, gue itu cuma anak tunggal Kata Kakek gue."


" Lo yakin percaya gitu aja bisa jadi itu...ah lo tau sendirikan Kakek lo gimana." Tutur Jaywoo hati hati.


" Ya juga sih selama ini pak tua itu cuma bilang begitu, gak mau cerita yang lain apalagi tentang ibu gue, masuk akal juga sih kalo dia bohongin gue." Batin Zafran.


Disaat melamun tiba tiba sebuah bola basket mengenai pundak Zafran dan hal itu membuatnya marah.


Brugh.


" Akhh....WOI SIAPA ITU." Teriak Zafran membuat para pemain itu takut.


Wajar saja ia terkena bola toh ia sekarang sedang berada di lapangan.


Seketika para pemain itupun mendekati Zafran, sebagian ada yang takut sebagian lagi ada yang menatap Zafran benci karena tau dia siapa.


" Owww anak kelas sebelah rupanya... kalian bisa main gak sih??. " Tanya Zafran meremehkan mereka.


" Bisa liat gak ada orang disini." Lanjutnya.


Semua tak berani menjawab namun satu suara dari yang paling tinggi seketika membuat Zafran serasa ditantang.


" Yang salah itu bukan kami tapi kalian, kenapa kalian malah main disini." Ucap pria tinggi itu tak merasa takut sedikitpun.


" Waahh mentang mentang tinggi belagu lo ye." Balas Kay membela sahabatnya.


" Eh lampu taman berani lo ya belum tau Zafran siapa." Kini Eunseo yang bersuara.


Pria yang bernama Junghan itu tersenyum lalu mendekati mereka yang tingginya hanya sebatas dagu miliknya.


" Gue tau Zafran siapa, yang suka membuli itu kan." Ucap Junghan.


" Nah itu tau." Jawab Jaywoo dengan nada bangga.


" Sekedar pembulli aja bangga harusnya yang dibanggakan itu punya banyak prestasi, populer disekolah bukan karena ditakuti tapi karena disegani." Jelas Junghan namun membuat Zafran merasa ditantang.


" Heh emang lo punya prestasi sebanyak apa berani ceramahin gue." Sergah Zafran.


" Dia murid terpintar dikelas dan dia juga juara dua saat ikut olimpiade matematika." Bukan Junghan yang menjawab tapi salah satu teman kelasnya.


" Baru juga juara dua kan." Cibik Eunseo.


" Daripada tidak sama sekali." Balas Junghan.


" Apa untungnya sih jadi pembulli yang ada lo malah makin dimusuhi secara diam diam dan itu pasti bikin hidup lo gak nyaman kan, masih ada waktu mendingan lo berubah deh, banggain orang tua lo jangan bikin mereka kecewa karena kenakalan lo." Jelas Junghan.


Niat Junghan menasehati tapi malah ditangkap lain oleh Zafran saat Junghan menyebut orang tua dan itu malah membuatnya semakin tak terkendali.


Bugh.


" Awwwww...." Pekik anak perempuan yang ada disana termasuk Lee Mina karena ini jam kelas basket nya saat melihat Zafran secara tiba tiba menonjok pipi Junghan.


Yang lainnya juga sama terkejut.


Junghan tak terima ia pun membalas Zafran jadilah mereka berkelahi disana.


Kay, Eunseo, dan Jaywoo tak mampu melerai mereka, karena mereka sama sama kuat terlebih lagi Junghan lebih besar dari Zafran.


Bugh..


Bugh....


Bugh...


Bugh..


Perkelahian semakin membabi buta menghiraukan orang orang disana yang menyuruh berhenti ada pula sebagian yang mengkompori.


" WOI udah dong."


" Eh Zafran berhenti itu bisa bahayain lo tauuu."


" Zafran."


Zafran tak peduli pekikan dari teman temannya ia terus membalas pukulan Junghan walau ia telah mendapat lebih banyak pukulan.


Prrrriiiiiiiiiiipppppppp........


" BERHENTIIIIIIIIIIIIII.." akhirnya perkelahian itu berhenti karena kedatangan guru olahraga yang melerai mereka.


" KALIAAAANNN ANAK ANAK NAKAL...IKUT SAYA KERUANG BK." bentak Pak Choi to the point.


Zafran dan Junghan menghiraukan Pak Choi, mereka saling menatap tajam ingin membunuh.


Prrrrriiiiiipppppppppp......


" CEPAAAAAATTTT....." barulah mereka bergerak menuju ke ruang BK.


Kay, Eunseo, dan Jaywoo ingin mengikuti tapi mereka dilarang oleh Pak Choi.


" Tidak ada yang menyuruh kalian ikut..."


" Tapi Pak di-


Priiiiipppppp.....


" DIAAMMMMM...." Lalu Pak Choi itupun meninggalkan mereka mengikuti dua anak yang berkelahi tadi.


" Dasar tua udah tua suka ngebentak lagi gak takut apa dia sekarat karena suka teriak teriak..." Omel Jaywoo.


" Sabar bro sabar...." Ucap Eunseo menenangkan.


" Tuhkan kena masalah lagi si Zafran...tu anak sih..." Frustasi Kay.


DI RUANG BK....


" Apa masalah nya sampai kalian berkelahi." Tanya guru BK mengintrogasi.


" Dia duluan Pak." Ucap Junghan membela diri.


" Enak aja lo duluan yang Manas manasin gue." Elak Zafran tak terima.


" Eh gue gak Manas manasin Lo nya aja yang kepanasan.."


" Eh berani nyolot Lo ya."


" Gu-


Braaakkk..


Bapak botak itu kehilangan kesabaran sampai menggebrak meja membuat mereka kembali terdiam.


" Saya heran kalian ini udah sekolah menengah atas tapi kenapa kelakuan kalian seperti anak sekolah dasar."


Zafran dan Junghan memilih diam sesekali menatap dengan kebencian.


" Kamu Junghan, kenapa sampai berkelahi padahal kamu itu siswa yang teladan punya banyak prestasi tapi kenapa kamu berkelahi dan berakhir masuk ke ruang BK."


Junghan terdiam tak berani menyahut karena pasti setelah ini nilai nya akan terancam sedangkan Zafran diam diam menertawai dirinya.


" Lain dengan Zafran, dia itu memang anak pembuat onar sering kali berakhir disini kamu jangan sampai seperti dia yang tidak tau aturan." Kini pembicaraan Pak botak itu mengarah pada Zafran.


" Loh loh loh kok jadi ngeledekin saya sih Pak." Sergah Zafran tak terima.


" Memang benarkan kenyataannya, dan tiap kali kamu masuk kesini besoknya masuk lagi gak akan pernah berubah kamu. "


Zafran terdiam memang benar sih ruang BK sudah menjadi langganannya.


" Sebagai hukumannya, sekarang kalian bersihkan lapangan bendera."


" Apa???." Ucap mereka serentak.


" Pak gak ada hukuman lain apa." Protes Zafran.


" Keputusan sudah dikeluarkan tidak ada protes kalau tidak mau dapat hukuman jangan bikin masalah, cepat ambil sapu dan bersihkan sampah sampah disana." Final Pak botak itu.


Mau tak mau Junghan dan Zafran beranjak darisana menuju lapangan tapi sebelum itu mereka menyempatkan mengambil alat bersih.


Dilapangan mereka mulai menyapu sampah sampah yang sedikit berserekan, walaupun ada tong sampah, ada saja yang membuang sampah sembarangan termasuk Zafran sendiri.


Ketiga sahabat Zafran sempat melihat mereka dan hendak menghampiri, namun karena bel masuk berbunyi apalagi ada guru yang menghalangi jadilah dengan terpaksa mereka tak menghampiri Zafran.


Junghan telah menumpuk sampah yang ia sapu namun dengan tidak sengaja Zafran menyapu sampah ke tumpukan Junghan alhasil membuat sampah itu kembali berserakan lagi.


" Lo masih dendam ya haa." Tanya Junghan sambil membuang sapulidi ditangannya sembarang.


" Eh gue gak sengaja." Jawab Zafran melakukan hal yang sama dengan Junghan membuang sapu itu sembarang arah.


" Gak sengaja gimana lo gak liat apa tumpukan gue disana."


" Ya namanya juga manusia gak mungkin gak ada khilaf nya."


" Eh Lo...eungghh..." Geram Junghan.


" Apa apa haa." Remeh zafran semakin membuat Junghan geram.


Karena sudah geram Junghan pun menarik kerah baju Zafran, justru Zafran tak terima namun disaat ingin melawan tiba-tiba penyakitnya itu datang alhasil membuat tubuhnya bertumpu pada Junghan.


" Akhhh...." Lirihnya memegang dada kirinya.


Ia tak mau terlihat lemah didepan musuhnya tapi sungguh ia tak punya kekuatan lagi untuk tidak menyembunyikan kelemahannya.


Junghan heran karena ia belum melakukan apa pun Zafran sudah kesakitan.


" Eh Lo kenapa sih." Junghan mencoba menahan tubuh Zafran yang bertumpu padanya.


" Arrghh...." Erang Zafran.


" Eh Lo pura pura ya."


Zafran mengabaikan Junghan karena menahan kesakitan nya.


Junghan bukan orang yang jahat buktinya ia membawa Zafran duduk ditempat yang teduh terhidar dari sinar matahari.


Junghan membantu menduduki Zafran yang dengan nafas terengah engah.


" Lo kenapa sih. " Tanya Junghan penasaran.


Zafran tak menjawab ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit, tangannya tak lepas meremas dada kirinya dan sesekali menutup matanya karena tak tahan dengan rasa nyeri.


Junghan yang melihat itu memilih diam, jujur ia kasihan juga melihat Zafran kesakitan seperti ini.


" Mau ke UKS." Tawar Junghan namun dibalas gelengan lemah dari Zafran.


Lama kelamaan sakit itu berangsur angsur pulih membuat Zafran bisa bernafas normal kembali.


" Makasih ya udah nolongin gue." Lirih Zafran.


" Iya sama sama yaudah kalo gitu biar gue yang lanjut bersih bersih lo istirahat aja lagipula tinggal sedikit lagi kok."


" Tapi-


" Udah tenang aja lo istirahat aja dulu oke." Junghan beranjak darisana melanjutkan acara bersih bersih itu yang tinggal sedikit lagi.


Zafran memandangi Junghan yang sedang bersih bersih, dari kejauhan ia mengulas senyum ternyata Junghan tak sebrengsek yang ia kira.


" Ternyata tu anak baik juga, jadi ngerasa bersalah gue sama dia." Lirih Zafran tak luput dari senyumnya.


Sesekali Junghan melihat kearah Zafran memastikan keadaan nya, Zafran tersenyum begitu juga dengan Junghan yang membalas dengan senyum manisnya.


Mungkin setelah ini mereka akan berbaikan.


                         *************


Ditempat nya Ziyan.


Ia sedang membantu para pembantu menata makanan karena mengingat paman, papa serta Lee Mina akan segera pulang dari kegiatan masing masing.


Mengingat dirinya yang tidak ada kegiatan iapun menyempatkan diri untuk membantu yang ia bisa.


Benar saja suara pintu utama terbuka menampilkan tiga orang yang ia tunggu. Paman dan papanya pulang dari rumah sakit sedang kan Mina pulang dari sekolah.


Hari ini tidak ada pasien yang darurat jadi Chun Yo bisa menyempatkan diri untuk pulang kerumah.


" Wah udah pada pulang ayo duduk makanan sudah siaapp." Ucap Ziyan semangat.


Langsung saja tiga orang itu menarik kursi dan duduk diikuti oleh Ziyan.


" Waaww apakah Ziyan menjalani kesibukan dirumah dengan ini." Goda Chun Yo.


" Ah tidak paman aku hanya membantu menatanya saja." Balas Ziyan merendah diri.


" Ahaha lihatlah Kim anakmu sangat rendah hati tidak seperti dirimu yang selalu membanggakan diri."


" Hei hei kenapa jadi aku." Protes Samuel membuat semua tertawa.


" Ohya Mina bagaimana sekolah mu baik baik saja kan. " Tanya Chun Yo pada anaknya.


Mina mengangguk setelah meminum segelas air putih yang memang sudah tersedia dimeja makan.


" Tidak ada yang buruk tapi......


" Tapi apa sayang." Tanya Chun Yo.


" Aku melihat hal yang buruk tadi disekolah." Lanjut Mina.


" Hal buruk apa. " Kini Ziyan yang bertanya.


" Tentang Zafran." Jawab Mina membuat Samuel menyemburkan air yang baru sedikit diminum.


" Maaf maaf ohya hal buruk apa yang terjadi padanya." Panik Samuel namun memperlihatkan sikap tenangnya.


" Diaa.....dia tadi berkelahi disekolah."


" Apa???." Samuel syok begitu juga dengan yang lainnya.


" Kenapa berkelahi." Tanya Ziyan lagi.


" Tadi teman sekelas Mina gak sengaja melempar bola mengenai Zafran dan ia tidak terima, setelah terjadi adu mulut mereka lalu berkelahi sampai akhirnya mereka masuk ke ruang BK." Jelas Mina menurut yang ia lihat tadi.


Samuel menunduk merasa frustasi tak bisa menjaga anaknya sampai saat ini.


" Apa dia terluka." Lirih ziy6an merasa sakit saat tau saudara nya dipukuli.


" Setelah aku lihat tadi wajahnya lembam serta penampilannya berantakan sekali." Ucap Mina.


" Aku papa yang buruk aku tidak bisa menjangkau anakku walaupun sudah dekat." Kini Samuel menangis mengingat dirinya yang tak berguna. Kenapa tidak langsung saja ia masuk kerumah itu membawa mereka pergi kenapa harus menunggu lagi.


" Sabar Samuel sabar." Chun Yo berusaha menenangkan.


" Maafkan aku paman karena cerita ku membuat paman sedih." Lirih Mina merasa bersalah.


" Tidak perlu meminta maaf nak justru aku berterima kasih karena kamu telah memberitahu ku." Balas Samuel menyeka air matanya.


" Yasudah kita makan dulu ya nanti keburu dingin." Ajak Chun Yo.


Dimeja makan itu mereka menyantap makanan enak dan mewah namun tidak terasa lagi karena memikirkan seorang remaja yang nakal itu.


" Setelah ini aku akan mengajak Sheliya bertemu." Batin Samuel.


_


_


_


_


_


_


_


Sore telah tiba.


Seperti batin Samuel tadi kini ia telah bersama Sheliya ditaman.


" Tadi Zafran berkelahi disekolahnya." Lirih Samuel.


" Aku tau.." jawab Sheliya lesu.


" Aku tau setelah mendengar percekcokan antara appa mu dan anakmu." Lanjut Sheliya.


" Maksudmu...." Tanya Samuel justru membuat Sheliya menangis sesenggukan.


" Sayang kamu kenapa, kenapa menangis tolong jangan keluarkan berlian itu hati ku sakit." Ucap Samuel sambil menyeka air mata dipipi istrinya.


" Hatiku lebih sakit hiks...hiks...saat melihat appa mu menampar anakku...hikss..." Jawab Sheliya penuh amarah.


" Apa????.."


" Tadi hiks....pria itu menampar anakku karena ia membantah.....tanpa perasaan ia menampar wajah anakku yang telah dihiasi lembam....hiks...ia tega....hiks..dan bodohnya aku... bodohnya aku..hiks....aku tidak bisa melindungi anakku sendiri.. hikss.." racau Sheliya memukul dadanya sendiri.


" Sheliya hentikan jangan menyakiti dirimu sendiri....aku yang lebih bodoh disini..."


" Aku tidak berguna...." Lanjut Samuel sambil menggenggam kedua tangan istrinya.


" Aku janji secepatnya aku akan membawa kalian kabur."


" Kapan...." Tanya Sheliya datar.


" Tunggu lah aku, besok aku juga akan mencari bantuan agar aku bisa mengalahkan appa ku."


" Besok bersiap siap lah aku akan menjemputmu dan Zafran, malam ini aku akan menyusun rencana bersama sahabat ku aku akan memberitahunya dulu."


" Janji." Ucap Sheliya sambil mengangkat jari kelingkingnya dihadapan Samuel.


" Kapan aku mengingkari nya aku janji sayang." Balas Samuel sambil mengaitkan jari kelingkingnya.


" 16 tahun yang lalu kau mengingkar, kau bilang kau tidak akan meninggalkan aku tapi kau bahkan bertahun tahun menghilang dariku iya kan." Ucap Sheliya kembali membuat Samuel merasa bersalah.


Greepp..


Samuel memeluk istrinya sambil menangis.


" Maafkan aku hiks...aku berjanji membahagiakan mu tapi nyatanya aku hanya mampu membawa luka untukmu.."


" Sssstt kau suamiku jangan bicara seperti itu aku mencintaimu.."


Mereka pun melepas pelukannya.


" Besok bawalah aku dan Zafran pergi dari rumah itu dan pertemukan aku dengan anakku serta ayah dan ibuku......"


" Iya sayang dan kau juga harus menemui Arman gurumu itu."


" Ck untuk apa aku bertemu dengannya tolong jangan buat aku kesal."


Samuel tertawa tau sekali dia, istrinya pernah sakit hati pada gurunya itu karena ditinggal nikah.


" Jangan membuat aku semakin kesal eoh.." cibik Sheliya.


Samuel menghentikan tawanya.


" Kau tau siapa yang merawat Ziyan saat kau tinggalkan disana."


" Sudah pasti ayah dan ibu kan." Jawab Sheliya yakin.


" Kau salah, mana mungkin ayah dan ibu mampu merawat bayi merah waktu itu, apalagi mereka sudah tua ditambah lagi ibu yang sudah agak rabun."


" Jadi anakku dititipkan di panti asuhan maksudmu." Sergah Sheliya.


" Kenapa kau berpikir sejauh itu, justru yang merawat Ziyan adalah Arman dan istrinya. Mereka menyayangi Ziyan seperti anak mereka sendiri, tak sampai disana mereka juga menyekolahkan Ziyan membeli segala keperluannya. Dan satu hal lagi yang sangat kukagumi dari pasangan itu.... Mereka mendidik Ziyan menjadi anak yang baik, sopan, dan penurut tidak seperti kita yang pembangkang. " Jelas Samuel membuat Sheliya terdiam.


" Benarkah." Tanya Sheliya memastikan lagi.


" Untuk apa aku berbohong."


" Jadi pak Arman......


" Iya makanya kamu tidak usah mendendam lagi padanya toh sekarang kan ada aku."


" Sampai disana nanti, aku harus sangat berterima kasih pada mereka."


" Iya sayang harus."


" Ternyata masih banyak orang baik yaaa..." Lirih Sheliya.


" Jangan karena satu orang jahat kau menilai semuanya jadi jahat, dan jangan karena satu kesalahan kau melupakan semua kebaikan, hidup itu tak mungkin selalu benar namun berusahalah tidak melakukan kesalahan." Jelas Samuel yang tiba tiba menjadi bijak.


" Iya yeobo."


" Ahahaha kau tau perjuangan anakmu datang kesini untuk bertemu dengan mu..Dia sampai mati Matian mempelajari bahasa itu."


" Benarkah..."


" Iya sampai sampai dia sakit saat itu, katanya dia sudah sangat rindu padamu. "


" HEI WAKTU CEPATLAH BERPUTAR AKU INGIN MENUNGGU WAKTU BESOK, AKU INGIN BERTEMU DENGAN PUTRA KU." teriak Sheliya mengagetkan Samuel.


" Hei apa yang kau lakukan hahaha ternyata kau masih sama seperti dulu ahahaha...."


" Yeobo......" Panggil Sheliya lembut.


" Hmmm iya my honey...."


" Aku takut Zafran membenciku ketika tau kebenaran nya, secara appa mu menyembunyikan fakta yang sebenarnya dari Zafran."


" Tidak ada yang perlu kau takuti lagi karena aku sudah berada di sisimu, kita akan memberitahunya dengan hati hati oke..tidak usah khawatir... antagonis nya hanya appa ku kita pasti bisa mengalahkan nya."


Mereka pun saling berpelukan sembari melihat matahari terbenam.


Sungguh indah serasa mimpi karena suami nya telah kembali.


                       ***************